NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Hari Kiamat / Zombie
Popularitas:480
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?

Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.

Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Tapi logikanya berkerja lebih tegas lagi, kalau di dunia kiamat ini dia tidak bisa berbuat baik dengan siapapun. Akhirnya Hayden memilih menjauh. Hayden memalingkan wajah, menutup rapat matanya selama satu detik untuk membunuh sisa kepedulian yang mencoba muncul. Di dunia yang sudah mati, empati adalah parasit yang hanya akan menggerogoti peluangnya untuk bertahan hidup. Tanpa mengacuhkan jeritan histeris dan gedoran panik yang makin menjadi-jadi di luar, ia berbalik arah dan melangkah dingin menuju pintu masuk bunker bawah tanah.

Pintu baja tebal di belakangnya tertutup rapat dengan dentum berat yang kedap suara, memutus habis suara jeritan manusia dan erangan kelaparan kawanan zombie.

Namun, tepat saat Hayden duduk di depan layar monitor utama untuk memantau kehancuran di luar gerbang, sebuah sinyal frekuensi radio rahasia milik kakeknya—yang seharusnya sudah mati—mendadak aktif dan memancarkan pesan terenkripsi dari kedalaman pegunungan.

Layar konsol utama yang tadinya hanya menampilkan rekaman kamera pengawas mendadak berkedip cepat. Kode-kode biner berwarna hijau memenuhi monitor, diikuti bunyi biper melengking yang memecah keheningan bunker.

Hayden meletakkan senapannya di atas meja, melangkah cepat mendekati panel kontrol komunikasi. Sinyal radio frekuensi pendek yang terpancar dari puncak Pegunungan Hitam itu menggunakan algoritma khusus—hanya ada dua orang di dunia ini yang tahu kodenya: Hayden dan kakeknya.

Sebuah pesan suara otomatis dengan desis statis yang berat mulai berputar melalui pengeras suara ruangan.

*"Hayden... Jika kamu mendengar pesan ini, artinya protokol kiamat telah aktif dan kamu berhasil mencapai Villa Hilltop. Jangan cari jasad Kakek di tempat biasa. Kakek tidak pernah benar-benar mati karena penyakit tiga tahun lalu."*

Jantung Hayden berdegup kencang. Matanya membelalak menatap gelombang suara di layar.

*"Wabah ini bukan ketidaksengajaan. Ini adalah proyek pembersihan massal bernama 'Genesis', dan Kakek adalah salah satu perancangnya sebelum Kakek melarikan diri. Di bawah bunker tempatmu berdiri sekarang—di lantai empat yang terkunci rapat—ada sampel vaksin awal dan cetak biru penawarnya. Tapi ingat, jangan percaya pada siapa pun yang mengaku dari fasilitas medis 'Aegis'."*

Pesan suara itu mendadak terputus oleh suara ledakan nyaring dari pangkalan asal sinyal, digantikan oleh nada stasioner panjang.

Hayden berdiri terpaku di tengah bunker yang dingin. Rasa bersalah karena membiarkan orang-orang di luar gerbang tadi tewas perlahan menghilang, berganti dengan amarah yang membakar dada. Kakek yang selama ini ia hormati sebagai pahlawan ternyata adalah salah satu dalang di balik kehancuran dunia.

Tanpa membuang waktu, Hayden berjalan menuju sudut tergelap di bunker. Di sana, di balik rak senjata yang berat, terdapat sebuah pintu baja lain yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sebuah pemindai retina berkedip merah dalam kegelapan, menunggu untuk diverifikasi.

Hayden mendekatkan matanya ke pemindai. Sinar laser merah menyapu retina matanya dalam hitungan detik.

*Bip. Akses Diterima.*

Suara kait baja berat beradu terdengar nyaring saat pintu rahasia itu terbuka perlahan, mengungkapkan tangga melingkar yang menukik jauh ke dalam kegelapan. Udara dingin berbau zat kimia dan logam lembap langsung menusuk hidungnya.

Dengan senapan terkokang di dada dan senter taktis menyala, Hayden menuruni anak tangga satu per satu. Lantai empat bunker ini sama sekali tidak pernah diceritakan kakeknya. Tempat ini bukan sekadar gudang penyimpanan, melainkan sebuah laboratorium biologis tingkat tinggi yang sepenuhnya terisolasi.

Di tengah ruangan, di dalam tabung kaca anti-peluru bermedium pendingin cair, mengapung tiga tabung silinder berisi cairan berwarna biru menyala—sampel awal vaksin 'Genesis'. Di sampingnya, sebuah komputer server kuno terus menyala, menampilkan peta koordinat global dengan puluhan titik merah yang berkedip.

Hayden mendekati meja kerja utama. Di atasnya tergeletak sebuah buku catatan bersampul kulit hitam milik kakeknya dan sebuah *flashdisk* enkripsi titanium.

Saat Hayden membuka buku catatan tersebut, selembar foto lama jatuh ke lantai. Foto itu memperlihatkan kakeknya berdiri bersama tiga orang pria berjas rapi di depan lambang sebuah organisasi: **Aegis Corporation**. Namun, mata Hayden tertahan pada salah satu pria di dalam foto itu.

Wajah pria itu sangat familiar—pria berlinggis yang baru saja ia biarkan tewas diserang kawanan zombie di luar gerbang beberapa menit lalu.

Di bawah foto itu, kakeknya menuliskan catatan dengan tinta merah yang gemetar:

*"Aegis menyusupkan agen terbaik mereka untuk merebut vaksin ini jika kiamat dimulai. Pria bernama Marcus ini akan berpura-pura menjadi penyintas biasa. Jangan pernah biarkan dia masuk, atau semuanya akan hancur."*

Pikiran Hayden berputar hebat. Pria berlinggis tadi bukan penyintas malang yang membawa keluarganya—itu adalah Marcus, agen Aegis yang sengaja membawa anak kecil sebagai umpan emosional untuk menembus pertahanan Villa Hilltop.

Tiba-tiba, suara dentuman keras menggelegar dari lantai atas. Seluruh ruangan bunker bergetar hebat, dan sistem peringatan darurat berbunyi nyaring dengan lampu merah berputar.

*"Peringatan! Pintu gerbang utama telah diledakkan dari dalam menggunakan bahan peledak plastik. Penyusup terdeteksi di lantai dasar."*

Melalui layar monitor cadangan di laboratorium bawah tanah, Hayden melihat Marcus—yang seharusnya sudah mati diterkam zombie—kini berdiri tegak di halaman villa. Ia menyapu darah palsu di wajahnya, memegang detonator jarak jauh, sambil menginstruksikan pasukannya yang sebenarnya baru saja tiba dengan helikopter siluman tanpa suara.

Hayden mengepalkan tangannya, menggenggam erat tabung vaksin dan buku catatan kakeknya. Rasa bimbang di hatinya lenyap seketika, digantikan oleh naluri bertahan hidup yang makin tajam.

1
Coco
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!