Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18: Taktik Licik di Meja Perundingan
Suasana di dalam ruang rapat utama Aristha Tower terasa bagaikan medan perang tanpa letupan senjata. Deretan kursi kulit berwarna hitam diisi oleh para pemegang saham utama, tim hukum independen, serta jajaran direksi eksekutif. Di ujung meja panjang, Reynand duduk tegap memancarkan otoritas penuh, didampingi oleh Aira yang memegang dokumen analisis risiko investasi.
Di seberang mereka, Clarissa Vance duduk menyandarkan tubuhnya dengan anggun. Jemari bertatahkan cincin zamrud miliknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca secara teratur, menciptakan irama monoton yang sengaja dirancang untuk merusak konsentrasi lawan.
"Persyaratan yang diajukan Vancorp Asia sangat tidak masuk akal, Nona Vance," pangkas Reynand, suaranya yang dalam menggema dingin di seluruh penjuru ruangan. "Anda menuntut peralihan lima puluh satu persen hak suara dalam proyek pengoperasian pelabuhan logistik internasional. Ini bukan lagi bentuk kemitraan strategis, melainkan upaya pengambilalihan secara paksa."
Clarissa mengulas senyum tipis yang sarat akan kelicikan. Ia mengibaskan tangannya pelan, mengisyaratkan asisten pribadinya untuk membagikan berkas adendum baru kepada seluruh anggota dewan.
"Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan, Tuan CEO," sahut Clarissa dengan nada bicara yang amat tenang dan terstruktur. "Vancorp tidak sedang mencoba melakukan akuisisi ilegal. Kami hanya mengamankan investasi sebesar lima puluh triliun rupiah yang kami suntikkan ke Aristha Group."
Clarissa lalu mengalihkan pandangannya ke arah para komisaris senior, memanfaatkan celah psikologis para pemegang saham yang mudah panik oleh isu finansial.
"Perlu Bapak dan Ibu komisaris ketahui," sambung Clarissa dengan intonasi bernada provokatif, "audit internal Vancorp menemukan bahwa sistem manajemen arus kas di divisi logistik Aristha Group mengalami kerentanan serius. Dan siapa yang bertanggung jawab atas verifikasi dokumen arus kas tersebut dalam tiga bulan terakhir?"
Pandangan Clarissa mendadak tertuju lurus pada Aira, memancarkan intrik sengit yang sangat personal.
"Nona Aira Anindita," bisik Clarissa dengan nada prihatin yang dibuat-buat. "Asisten pribadi sekaligus calon tunangan Tuan CEO yang tidak memiliki latar belakang sertifikasi analisis risiko keuangan internasional. Apakah bijak membiarkan dokumen bernilai triliunan rupiah diverifikasi oleh seseorang yang hanya mengandalkan kedekatan emosional dengan pimpinan?"
Ruang rapat seketika bergemuruh pelan. Beberapa komisaris senior mulai saling berbisik cemas, saling melempar pandangan skeptis ke arah Aira. Clarissa tersenyum puas di dalam hatinya. Taktik perdananya berhasil: membenturkan isu profesionalisme Aira dengan kepentingan finansial para pemegang saham.
Namun, Clarissa tidak berhenti sampai di situ. Ia mengeluarkan kartu as berikutnya—sebuah manipulasi kontrak yang telah dirancang tim hukumnya dari Eropa.
"Jika Aristha Group menolak klaim lima puluh satu persen hak suara ini," ujar Clarissa dengan nada mengancam yang dibalut kelembutan formal, "maka sesuai klausul pembatalan sepihak di halaman empat belas, Aristha Group wajib mengembalikan seluruh dana jaminan beserta penalti sebesar tiga ratus persen dalam waktu tujuh hari kerja."
Pernyataan itu bagaikan hantaman petir bagi para komisaris. Mengembalikan dana penalti triliunan rupiah dalam hitungan hari akan membekukan likuiditas Aristha Group dan memicu kemerosotan harga saham secara drastis di bursa efek.
Melihat kepanikan mulai merayap di wajah para anggota dewan, Aira tidak tinggal diam. Ia menatap berkas adendum di depannya dengan cermat, lalu membuka halaman lampiran analisis finansial yang disiapkan timnya sejak semalam.
Aira menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata Clarissa tanpa gentar sedikit pun.
"Nona Vance," buka Aira dengan suara yang tenang, jernih, dan penuh percaya diri, menyerap perhatian seluruh ruangan. "Anda menyebutkan adanya kerentanan arus kas berdasarkan audit Vancorp. Namun, jika kita cermati pasal tiga ayat dua dalam kontrak induk yang ditandatangani lima tahun lalu, audit sepihak tanpa melibatkan auditor independen pihak ketiga dianggap cacat hukum dan tidak sah."
Clarissa menyipitkan matanya, senyum di wajahnya memudar seketika.
"Selain itu," lanjut Aira sembari menggeser dokumen analisisnya ke tengah meja, "klausul penalti tiga ratus persen yang Anda sebutkan baru saja disisipkan dalam berkas adendum pagi ini—tanpa persetujuan nota kesepahaman awal. Secara hukum perdagangan internasional, tindakan menyisipkan klausul penalti secara tersembunyi seperti ini dikategorikan sebagai bentuk iktikad buruk dalam bernegosiasi."
Reynand menatap Aira dengan pendar kebanggaan yang tak tersembunyikan. Pria itu menyandarkan punggungnya, lalu menatap Clarissa dengan sorot mata membeku yang mengintimidasi.
"Gugatan iktikad buruk ini bisa kami bawa ke Badan Arbitrase Internasional detik ini juga, Clarissa," tegas Reynand tajam. "Dan itu akan menghancurkan reputasi Vancorp Asia sebelum kalian sempat mengepakkan sayap di negara ini."
Wajah Clarissa mengetat keras. Jemari bertatahan zamrudnya mengepal rapat di bawah meja. Taktik liciknya untuk memojokkan Aira dan memeras Aristha Group berhasil dipatahkan dengan telak oleh ketelitian Aira sendiri.