Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Kejadian di Gala Dinner malam itu menyebar luas ke seluruh penjuru elit dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Clara Jasmine kini menjadi sinonim dari wanita yang tidak boleh disentuh. Namun, di balik segala kemewahan dan fasilitas tanpa batas itu, Clara tidak ingin hanya menjadi boneka porselen.
Pagi itu, di ruang kerja pribadinya, Clara menatap sketsa gaun di atas layar tablet. Selama lima tahun, merancang busana adalah cara satu-satunya ia bertahan hidup.
Mengetahui keinginan istrinya, Alexio tidak melarang, pria itu justru merespons dengan cara khas Van Der Berg yang berlebihan.
"Kau bebas menggunakan seluruh sumber daya perusahaan," ucap Alexio santai.
"Jadilah Head of Creative Director untuk lini Haute Couture terbaru di bawah Van Der Berg Fashion House."
Berita tentang peluncuran proyek debut global bertajuk "The Phoenix Collection" yang akan digelar bulan depan di Jakarta Fashion Week langsung mengguncang industri kreatif internasional. Dan tentu saja, hal ini memicu keputusasaan musuh lama mereka.
******
******
Di belahan bumi lain, tepatnya di sebuah mansion bergaya klasik di Jenewa, Swiss, hawa dingin musim gugur terasa semakin membekukan bagi keluarga Smith.
Tuan Smith melempar koran bisnis berbahasa Inggris ke atas meja marmer dengan tangan gemetar kalap.
"Anak pungut itu... dia benar-benar menginjak kepala kita dari seberang benua!" maki Tuan Smith murka. Sejak Alexio memboikot jaringan bisnis mereka, perusahaan keluarga Smith di Swiss nyaris lumpuh total.
Sofia, yang duduk di sofa dengan wajah pucat, menggigit kuku-kukunya panik.
"Kita tidak bisa membiarkan dia sukses, Pa! Para kompetitor Alexio di sini sudah berjanji akan menyuntikkan dana ke perusahaan kita asalkan kita bisa mencuri data desain Clara dan menyabotase debutnya di Jakarta!"
Tuan Smith mendengus sinis. "Aku sudah menyewa kelompok peretas terbaik di dark web. Saat ini juga, mereka sedang menyusup ke server utama Van Der Berg untuk mencuri seluruh sketsa The Phoenix Collection."
Tanpa keluarga Smith sadari, meretas sistem Van Der Berg adalah kesalahan paling fatal yang pernah mereka buat. Karena server tersebut tidak dijaga oleh teknisi IT biasa.
Di Jakarta, di dalam laboratorium pribadi yang dipenuhi layar monitor raksasa, sebuah alarm merah berkedip tanpa suara di salah satu layar.
*****
*****
Kembali ke Jakarta, Ken menghentikan kunyahannya pada biskuit gandum. Jari-jari kecilnya dengan kecepatan kilat mengetik di atas keyboard.
"Menarik," gumam Ken santai, membetulkan letak kacamatanya. "Key, firewall lapis keempat kita baru saja disentuh. Ada yang mencoba menembus database sketsa milik Mama."
Key, yang sedang merakit drone mini, langsung melompat dari kursinya. Mata abu-abunya berbinar penuh antusiasme yang berbahaya.
"Siapa yang cukup bodoh menantang sistem keamanan kita, Kak Ken? Lacak IP-nya. Jangan biarkan mereka mengambil satu piksel pun dari kerja keras Mama!"
"Ping server-nya memantul dari VPN di Singapura, dialihkan ke Frankfurt, lalu ke router di Amsterdam... Cih, amatir," Ken menyimpulkan dengan tenang.
"Titik kumpulnya ada di sebuah mansion di pinggiran Jenewa, Swiss."
Key tertawa renyah, tawa manis khas anak kecil yang sangat kontras dengan kalimatnya.
"Kandang Tante Sofia rupanya. Mau langsung diblokir?"
"Kalau hanya diblokir, itu tidak edukatif," Ken menyeringai tipis, meniru persis senyuman mematikan Alexio.
"Kita arahkan mereka ke dummy server. Biarkan mereka mengunduh file sketsa palsu yang sudah kususupi ransomware buatanmu."
"Tepat sekali, Kakakku yang jenius!" seru Key bertepuk tangan riang.
"Begitu keluarga Smith membuka file desain itu di komputer mereka di Swiss, virusnya akan menyebar. Seluruh data rekening, aset rahasia, hingga sistem pemanas ruangan di mansion mereka akan terkunci mati."
Ken mengangguk puas. "Layar mereka hanya akan menampilkan pesan bahwa mereka harus mentransfer dana sebesar sepuluh juta Euro ke rekening panti asuhan di Jakarta atas nama 'Clara Jasmine' jika ingin sistem mereka dibuka kembali. Eksekusi sekarang."
Hanya dengan sekali tekan pada tombol Enter, Ken membiarkan para peretas sewaan itu masuk ke dalam perangkap.
Dalam hitungan menit, di seberang benua sana, jeritan histeris Sofia dan umpatan kasar Tuan Smith menggema di seluruh penjuru mansion mereka yang mendadak gelap gulita dan membeku di tengah suhu Jenewa yang menusuk tulang.
Sementara itu di Jakarta, Ken dan Key hanya melakukan high-five di udara sambil kembali memakan biskuit organik mereka.
"Misi perlindungan koleksi Mama sukses," ucap Ken santai.
"Sekarang, mari kita bantu Mama memilih kombinasi warna untuk gaun pamungkasnya!" balas Key riang, berlari keluar laboratorium seolah mereka tidak baru saja melumpuhkan dan memeras sebuah keluarga konglomerat di Eropa demi amal.
Bersambung...
asli part ini bacanya seru