Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Malam Pernikahan Yang Dingin.
Sebentar yang Ravin janjikan pada Sera, nyatanya tidak terbukti. Hingga pukul satu dini hari, pria itu belum juga kembali ke hotel.
Sera mencoba menghubungi nomor ponsel sang suami, namun pria itu sama sekali tidak menjawabnya.
Pergi kemana kiranya Ravin hingga meninggalkan Sera di malam pernikahan mereka?
Ada urusan penting apa, yang membuat pria itu begitu cemas dan menghilang tanpa kabar seperti ini?
“Kak, apa kakak baik - baik saja?”
Sebaris kalimat tanya itu Sera kirim setelah panggilan yang ketiga kalinya tak juga di jawab oleh sang suami.
Gadis itu pun menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Pikiran buruk pun mulai menghantui benaknya.
“Apa terjadi sesuatu di kantor Artha Group?” Monolog gadis itu.
Tangan Sera dengan lincah berselancar di atas layar ponselnya. Mencari tau, apakah ada berita mengenai perusahaan sang suami di platform media sosial.
“Tidak ada apapun.” Ucap Sera kemudian.
“Lalu dia kemana? Apa mungkin—
Sera tidak melanjutkan ucapannya. Terlintas bayangan, dimana seorang pria meninggalkan istrinya di malam pernikahan demi bertemu dengan kekasihnya.
“Tidak. Kak Ravin tidak mungkin seperti itu. Dia tidak memiliki hubungan dengan gadis lain selain aku. Bahkan dengan —
Sera kembali menjeda ucapannya. Gadis itu teringat dengan seorang gadis yang pernah dekat dengan Ravin.
Rania.
Gadis yang di kabarkan menjadi kekasih Ravin semasa kuliah, namun tak mendapatkan restu dari orang tua pria itu karena perbedaan setatus sosial mereka.
Dimana Rania merupakan putri dari salah satu asisten rumah tangga keluarga Arthadipa. Dan gadis itu pun di kirim ke luar kota, karena dianggap mengganggu konsentrasi belajar Ravin.
Dan setelah itu, tak terdengar kabar lagi jika Ravin menjalin hubungan dengan wanita lain hingga perjodohan mereka terjadi.
“Tidak. Kak Ravin pasti sedang mengurus urusan pekerjaan. Bukan bertemu dengan seorang wanita.” Sera berusaha untuk tetap berpikir positif tentang sang suami.
Sera pun memilih untuk merebahkan tubuhnya. Ia sudah sangat lelah. Dan memaksa dirinya tetap terjaga menunggu kedatangan Ravin, namun pria itu tak kunjung pulang.
“Semoga kamu baik - baik saja, kak.” Ucap Sera sebelum benar - benar memejamkan matanya.
Ia menatap sendu setiap rangkaian bunga yang menghiasi sudut kamar, serta balon warna merah muda yang menggantung di udara.
Kebahagiaan yang baru saja gadis itu rasakan, kini harus berganti kegelisahan.
Sera tak pernah sekalipun membayangkan dirinya akan ditinggalkan, apalagi tepat di malam pernikahan mereka.
“Apa ini merupakan awal yang buruk untuk pernikahan kami? Semoga saja tidak, Tuhan. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama pria yang aku cintai.”
Padahal ia sudah membayangkan akan melewati malam pertama yang penuh kehangatan dengan Ravin. Tetapi, Sera justru kedinginan seorang diri di kamar hotel itu.
.
.
.
Entah pukul berapa sang suami kembali? Saat Sera bangun di pagi hari, Ravin sudah ada disampingnya. Tidur tengkurap, menggunakan sebuah kaos putih, namun masih memakai celana panjang hitam yang dipakai saat resepsi mereka semalam.
“Dia pulang jam berapa?” Gumam Sera. Gadis itu mengamati wajah sang suami.
“Biarkan saja dulu. Dia pasti sangat kelelahan.” Sera turun dari atas ranjang dengan sangat pelan, agar tidak menganggu tidur sang suami.
Gadis itu kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat itu kembali ke dalam kamar, Ravin pun telah terjaga.
“Selamat pagi, kak.” Sapa Sera.
Ravin yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, kemudian menoleh ke arah sumber suara.
“Pagi, Ra. Kamu sudah selesai?” Pria itu menyimpan ponselnya di atas nakas. Lalu bangkit dari atas ranjang.
Sera menganggukkan kepalanya.
“Aku mandi sebentar. Keluarga kita sudah menunggu di bawah untuk sarapan bersama.” Ucap pria itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Sera masih berdiri di tempatnya. Ia menatap bayangan sang suami yang telah menghilang di balik pintu kamar mandi.
Ravin tak membahas masalah semalam. Pun tidak meminta maaf karena membuat Sera menunggu.
Apa pria itu tidak merasa bersalah telah membiarkan Sera menunggu seorang diri? Bahkan di malam pernikahan mereka?
Lima belas menit kemudian, Ravin pun keluar dari dalam kamar mandi. Ia melihat sang istri sudah rapi dengan menggunakan gaun santai berwarna merah muda, dengan panjang di atas lutut dan berlengan pendek.
“Kakak mau pakai baju apa?” Tanya Sera yang berniat menyiapkan pakaian sang suami.
“Kaos putih dan celana bahan saja.” Ucap Ravin sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Sera memberikan apa yang suaminya minta. Tak lupa juga dengan dalamannya, meski ini untuk pertama kalinya gadis itu memegang barang pribadi seorang pria.
“Aku ganti sebentar.” Ucap Ravin yang kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Sera mengerutkan keningnya. Kemudian mengedikan bahu pelan. Mungkin Ravin belum terbiasa dengan kehadiran dirinya.
Apalagi mereka menikah karena hasil perjodohan.
Setelah selesai berganti baju, Ravin pun mengajak Sera pergi ke restoran hotel. Orang tua mereka telah menunggu disana.
“Nah, akhirnya. Pengantin baru kita datang juga.” Ucap Sena Mahendra — adik laki - laki Sera, yang duduk di sebelah kanan mama Safina.
Semua orang yang ada di meja makan — mama Irene, papa Rajendra, mama Safina dan papa Bayu, dengan kompak menoleh ke arah pintu masuk restoran.
“Selamat pagi, semuanya.” Sapa Ravin ketika sampai di meja makan. Pria itu menarik sebuah kursi untuk di tempati oleh sang istri.
“Selamat pagi, semua.” Timpal Sera yang kemudian duduk di atas kursi yang Ravin siapkan. Pria itu pun mengambil tempat di samping kirinya.
“Mama kira kalian tidak akan turun.” Celetuk mama Irene.
“Kenapa tidak, ma? Jarang ‘kan kita bisa sarapan bersama seperti ini?” Tanya Ravin sembari mengoleskan selai kacang di atas permukaan roti. Kemudian meletakkan di atas piring sang istri.
“Terima kasih, kak.” Ucap Sera pelan.
“Loh, kenapa kamu yang di layani, Sera? Harusnya kamu yang menyiapkan makanan untuk Ravin.” Tegur papa Bayu.
Belum sempat Sera membuka mulutnya, sang suami sudah lebih dulu berbicara.
“Tidak apa - apa, pa. Sera masih lelah. Dia perlu banyak asupan untuk mengisi ulang tenaganya.” Ucap pria itu.
Sera pun menoleh ke arah sang suami. Pria itu bicara dengan tenang dan santai. Menggiring opini, seolah - olah mereka telah menghabiskan malam yang melelahkan.
Sera pun hanya mampu membalas dengan senyum tipis dan sedikit kaku.
“Maklum pak Bayu, pengantin baru.” Timpal mama Irene.
Papa Rajendra tidak memberikan pendapat apapun. Ia kesulitan berbicara sejak terkena penyakit stroke.
Begitu pula dengan mama Safina. Wanita paruh baya itu tak memberikan tanggapan apapun. Namun ia mengamati raut wajah sang putri.
‘Kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu, Sera. Mama hafal betul dengan mimik muka kamu itu. Apa Ravin tidak memperlakukan kamu dengan baik semalam?’