Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.
Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.
Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.
Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.
Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
#BERSAMA ALTIN#
Musik klub malam itu cukup keras untuk menyembunyikan apa saja. Rahasia, bisnis... kekerasan.
Altin bersandar di bar, matanya menyapu ruangan dengan awas. Ia tidak benar-benar minum, gelas di tangannya hanya kedok.
Pikirannya ada di tempat lain: makan malam minggu depan, kesepakatan yang sudah diteken, nama yang ia sandang sejak jauh sebelum punya pilihan.
Ia tahu akan menikah. Ia tahu soal pertemuan, soal formalitas, soal kakak laki-laki calon istrinya yang akan datang meresmikan semuanya, soal setiap detail politik dari persatuan itu. Yang tidak ia tahu... siapa perempuan itu sebenarnya.
Dorongan pelan di bahunya menyeretnya kembali ke kenyataan. Altin tak menoleh. Dorongan kedua, lebih keras. Ia menarik napas panjang dan meremas gelasnya sampai buku jarinya memutih.
"Jangan malam ini..." gumamnya pada diri sendiri, tapi itu bukan hal yang bisa ia putuskan sendiri.
"Budek, ya?" Suara itu penuh provokasi.
Kali ini ia menoleh. Tiga pria, wajah-wajah yang ia kenal, orang-orang yang salah. Altin memiringkan kepala sedikit, matanya dingin.
"Aku tidak tertarik."
Mereka menyeringai. Pukulan pertama datang tanpa peringatan. Altin bereaksi dengan naluri, mengelak, membalas, kepalannya mendarat tepat di wajah si penyerang.
Orang kedua maju. Altin menangkis, memutar badan, menghantam perutnya. Tapi mereka bertiga, dan mereka memang menunggu saat ini.
Satu pukulan di tulang rusuk membuat ritmenya buyar, satu lagi mengenai wajahnya dan membuat segalanya bergetar sesaat. Ia berusaha menyeimbangkan diri, berusaha membalas...
Tapi ia mulai lamban, kelelahan. Sebuah tendangan menjatuhkannya ke lantai, dan kali ini ia tak sanggup bangkit. Sepatu bot menekan dadanya, lalu pukulan-pukulan datang.
Satu.
Dua.
Tiga.
Tanpa jeda, tanpa ampun. Rasa darah memenuhi mulutnya, pandangannya mulai goyah, segalanya menjauh seakan ia ditarik pergi dari tempat itu.
Ia berusaha bernapas, berusaha melawan, tapi tubuhnya tak menurut. Lalu terdengar bunyi kering yang membelah udara. Sesuatu berubah. Beban di tubuhnya lenyap.
Altin berkedip, memaksa matanya tetap terbuka, dan saat itulah ia melihatnya, di tengah kekacauan... perempuan itu seperti tak termasuk di tempat ini.
Seorang perempuan.
Tinggi.
Anggun.
Luar biasa cantik.
Tapi bukan hanya soal kecantikan. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang berbahaya. Gerakannya cepat, terlalu cepat. Salah satu pria roboh bahkan sebelum sempat bereaksi. Yang lain mencoba kabur tapi tak sempat, dan yang ketiga bahkan tak sempat memahami apa yang sedang terjadi.
Semuanya selesai dalam hitungan detik. Hening. Musik bar terus mengalun, jauh, seolah datang dari dunia lain.
Altin tergeletak di lantai, tubuhnya remuk, tapi matanya terpaku padanya, tak mampu berpaling.
Seakan semua yang ada di sekitarnya lenyap. Yang tersisa hanya dia: caranya bergerak, posturnya, kehadirannya, dan wajah itu, terlalu sempurna untuk berada dalam pemandangan seperti ini.
Perempuan itu mendekat, setiap langkahnya mantap dan terkendali. Ketika ia berhenti di dekatnya, Altin merasakan sesuatu yang asing mencengkeram dadanya. Bukan rasa sakit.
Sesuatu yang lain, yang tak bisa ia namai. Perempuan itu berlutut, memeriksa luka-lukanya dengan tenang, seakan semua ini bukan hal luar biasa.
Altin mencoba bicara, tapi tak ada yang keluar. Pikirannya terlalu kacau, matanya masih terpaku padanya, dan kemudian semuanya gelap.
Ketika ia sadar, keheningannya berbeda. Tak ada musik, tak ada teriakan, hanya suara-suara pelan yang ia kenali.
Altin membuka mata perlahan. Rumahnya, sofa, aroma yang akrab. Tapi perhatiannya tak lama tertahan di situ.
Perempuan itu ada di sana, duduk di meja, mengobrol dengan orang tuanya seolah sejak dulu ia memang bagian dari tempat itu. Seolah ia bukan baru saja melintasi malam seperti badai yang senyap.
Altin tak bisa memahaminya, dan tak perlu. Sebab saat itu ia tidak berpikir, ia hanya memandang.
Setiap detail tampak lebih jelas dalam cahaya rumah: kulitnya, garis wajahnya, caranya bergerak bahkan ketika diam. Mustahil berpaling.
Ibunya, Hana, berbicara, ayahnya juga, tapi Altin tak mendengar apa pun. Tak ada yang sampai kepadanya. Seakan dunia menyusut menjadi satu perempuan itu. Perempuan itu berdiri, gerakannya sederhana, tapi mustahil diabaikan.
Altin menahan napas tanpa sadar. Perempuan itu berjalan beberapa langkah, melewati ruang tamu, dan sekejap pandangan mereka bertemu.
Tak ada kata, tak ada reaksi jelas, tapi itu cukup. Sesuatu tertinggal. Sesuatu yang tak sanggup Altin jelaskan. Lalu perempuan itu pergi, seolah tak pernah ada di sana.
Pagi datang membawa ketenangan yang aneh. Altin terbangun dengan tubuh berat, setiap ototnya mengingatkan pada malam sebelumnya.
Tapi bukan rasa sakit yang memenuhi benaknya, melainkan dia. Ia duduk perlahan, masih berusaha merapikan pikirannya.
Tak lama Hana masuk ke kamar sambil membawa nampan.
"Kamu harus makan," katanya tenang.
Altin bahkan tak melirik makanannya.
"Siapa dia?"
Pertanyaan itu meluncur langsung, tanpa basa-basi. Hana meletakkan nampan di atas lemari, memandangnya sejenak sebelum menjawab.
"Namanya Era."
Nama itu jatuh ke udara dengan bobot tersendiri. Altin diam, bukan karena kaget. Ia sudah tahu, ia sudah menduga akan bertemu dengannya.
Makan malam sudah ditentukan, kesepakatan sudah ada, semuanya sudah diputuskan. Tapi...
Ia mengusap wajah, masih berusaha menyatukan bayangan di kepalanya dengan perempuan malam kemarin.
Keduanya bukan hal yang sama. Tak mungkin sama.
"Dia datang lebih awal ke kota untuk mengurus beberapa hal," lanjut Hana, tetap tenang. "Dia minum di bar tempatmu berada, bersama dua temannya, lalu melihatmu."
Altin menghela napas pendek, bersandar di sofa, dan terdiam beberapa detik menatap kehampaan.
Tapi itu bukan kehampaan. Itu bayangan, kenangan, wajah itu, kehadiran itu, kecantikan yang rasanya tidak nyata.
Jantungnya berdebar lebih kencang tanpa peringatan, dan untuk pertama kalinya sejak tahu soal pertunangan itu, semuanya tak lagi sekadar kesepakatan. Kini ia punya bentuk, punya bobot, punya sepasang mata yang tak bisa ia lupakan.
Altin memejamkan mata sesaat. Ia tahu makan malam itu tetap akan berlangsung, ia tahu semuanya akan berjalan sesuai rencana.
Tapi satu hal pasti: tak ada yang akan sederhana. Sebab perempuan yang akan ia nikahi jauh lebih dari yang pernah ia bayangkan.