NovelToon NovelToon
Kau Rebut Tunanganku, Ku Rayu Gebetanmu

Kau Rebut Tunanganku, Ku Rayu Gebetanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:38.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.

Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.

“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”

Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.

Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.

"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"

Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05

.

Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Alena belum juga bisa tertidur. Mungkin karena tadi siang dia tidur dalam waktu yang cukup lama. Gadis itu duduk di atas bersandar di atas ranjangnya dengan mata menatap ke arah layar ponsel tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Entah kenapa ia merasa akan ada sesuatu yang besar terjadi dada pada dirinya.

Karena tak juga bisa memejamkan matanya, Alena akhirnya turun ke lantai bawah dan duduk salah satu sofa panjang yang ada di ruang tengah. Kakinya dinaikkan ke atas sofa dengan posisi berbaring santai. Tidak tahu akan melakukan apa gadis itu kembali membuka ponselnya. Sesekali menghela nafas saat melihat berita tentang gagalnya pernikahannya yang masih menjadi trending topik hingga saat ini.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara mesin mobil berhenti di halaman, dan ia tahu itu adalah suara mobil papanya yang mungkin baru saja datang dari rumah sakit. Gadis itu kemudian bangkit dari posisi berbaringnya lalu duduk bersandar dengan mata masih menatap ke arah layar ponsel.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu utama yang dibuka dengan keras. Tuan Gunawan dan nyonya Miranda masuk bersamaan.

Alena hanya melirik sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya pada layar ponsel yang ada di tangannya.

Melihat sikap Alena yang seperti itu membuat rahang Tuan Gunawan mengeras. "Dasar anak tidak tahu sopan santun!" makinya kasar.

Alena menghentikan gerakan jarinya mendengar umpatan yang keluar dari mulut Papanya. Gadis itu memejamkan matanya seraya menarik napas panjang sebelum kemudian mengangkat wajahnya. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Alena hanya diam menatap ke arah kedua orang tuanya, menunggu kata-kata apa lagi yang akan keluar dari mulut mereka.

Nyonya Miranda ikut kesal melihat sikap Alena yang begitu dingin. "Berani-beraninya kamu bersikap seperti ini pada Papa dan Mama?" Ucapnya dengan ujung jari menunjuk wajah Alena. Tetapi gadis itu tetap diam.

Tuan Gunawan melangkah semakin dekat. "Apa kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan hari ini? Kamu mempermalukan keluarga kita! Nama keluarga Gunawan jadi bahan tertawaan semua orang!"

Alena yang sejak tadi hanya diam akhirnya membuka suara. "Papa hanya bicara soal nama keluarga," ucapnya lalu menoleh ke arah mamanya.

"Mama juga," lanjutnya. "Lalu kapan ada yang bertanya bagaimana perasaanku saat aku ditinggalkan sendirian di atas pelaminan? Calon suamiku meninggalkanku demi kakakku di hari pernikahan. Seluruh tamu melihatnya. Media sudah memberitakannya. Dan yang ada dalam pikiran kalian hanya perusahaan?"

Nyonya Miranda menatap ke arah Alena dengan dua tangan terkepal. "Itu karena Selena sakit!"

"Sakit?" Alena menatap ibunya lekat-lekat. "Ya… anggap saja benar. Dan semoga suatu hari dia tidak benar-benar mengalami sakit seperti yang dia katakan.”

Nyonya Miranda dan Tuan Gunawan melotot ke arah Alena mendengar kata-kata gadis itu. “Kamu menyumpahi kakakmu? Kamu masih saja menganggap kalau dia hanya pura-pura sakit? Adik macam apa kamu itu?! bentak Tuan Gunawan.

Alena hanya menghela napas pelan. Ia muak setiap hari harus memperdebatkan kebohongan itu.

Tuan Gunawan berdehem keras. "Sudahlah. Kami pulang sebentar dari rumah sakit bukan untuk berdebat." Pria paruh baya itu kemudian mengambil tempat duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan Alena.

"Dengarkan baik-baik. Papa hanya pulang sebentar, setelah ini kami harus kembali ke rumah sakit karena kakakmu masih dirawat di sana."

Alena sama sekali tidak menjawab, gadis itu hanya menatap kedua orang tuanya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Punggungnya ia sadar kan pada sandaran sofa, dengan posisi satu pahat menumpuk di atas paha lainya. Bersiap menunggu apa yang akan diucapkan oleh papanya.

"Papa sudah bicara dengan Reno. Seminggu lagi pernikahan kalian tetap dilaksanakan. Hotel tinggal menjadwal ulang, undangan baru akan disebarkan, dan masalah ini akan selesai."

Alena dia beberapa saat hingga kemudian keluar suara tawa kecil keluar dari bibirnya. Tawa yang semakin lama semakin jelas. Namun, sama sekali tidak terdengar suara bahagia dari tawa itu. Yang ada malah penuh kepedihan.

Nyonya Miranda mengernyit. "Apanya yang lucu?"

Alena mengusap sudut matanya yang bahkan tak mengeluarkan air mata. "Aku baru sadar. Sampai detik ini… tidak ada seorang pun yang benar-benar memikirkan aku. Kalian hanya memikirkan perusahaan, kerjasama bisnis, dan keuntungan."

Alena menatap kedua orang tuanya dengan tatapan yang nanar. Sorot matanya begitu penuh dengan luka. "Lalu aku? Aku ini putri kalian atau hanya alat tukar untuk menyelamatkan perusahaan?"

"Jaga ucapanmu!" bentak Nyonya Miranda.

"Itu kenyataan!" sahut Alena cepat. “Hari ini pernikahan batal, keluarga dipermalukan, perusahaan ikut terkena imbasnya, dan yang kalian salahkan hanya aku. Apa kalian tidak berpikir? Dalang yang membuat batalnya pernikahan ini adalah Selena, Putri kesayangan kalian. Tapi kenapa hanya aku yang disalahkan? Sebenarnya aku ini benar-benar Putri kandung kalian atau bukan?"

"Cukup!” Tuan Gunawan mulai kehilangan kesabaran. "Pokoknya Papa tidak mau tahu! Pernikahan itu harus tetap berlangsung minggu depan!.Itu keputusan kami! Papa tahu kamu marah, karena itu Papa akan memberikan kamu kompensasi."

Alena menggeleng pelan. "Tidak.”

"Apa maksudmu tidak?" geram Tuan Gunawan. Matanya menyorot dengan tajam, bahkan seakan bola matanya akan terlepas dari tempatnya.

"Aku tidak akan menikah dengan Reno. Masalah yang terjadi sekarang adalah ulah Selena. Kalau Papa dan Mama masih ingin mempertahankan kerja sama itu..." Alena menjeda ucapannya dan tersenyum sinis. "Nikahkan saja Selena dengan Reno."

"Kurang ajar!" bentak Tuan Gunawan sambil menghantam meja hingga vas bunga di atasnya bergetar.

"Papa sudah terlalu memanjakanmu!.Kalau kamu tetap keras kepala… Mulai hari ini Papa usir kamu dari rumah ini! Papa ingin lihat bagaimana kamu bisa hidup di luar sana!"

Ruangan kembali sunyi, Alena sama sekali tidak menjawab. Tuan Gunawan dan nyonya Miranda mengira ancaman itu akan membuat Alena menangis atau paling tidak memohon. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Alena berdiri perlahan dengan ekspresinya tetap tenang, seakan sudah menduga kata-kata itu akan keluar dari mulut papanya.

"Baik," ucapnya singkat kemudian membalikkan badan melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.

Tuan Gunawan mendengus puas. "Lihat kan? Akhirnya dia takut juga."

Nyonya Miranda ikut mengangguk. "Dasar anak keras kepala, begitu saja menunggu harus diancam dulu. Kita lihat saja pasti sebentar lagi dia turun minta maaf."

Tuan Gunawan menyadarkan tubuhnya seraya mengambil nafas panjang. “Andai saja Tuan Sebastian mau menerima Selena, kita tidak perlu berdebat dengan Alena seperti ini."

"Mama juga kesal,” sahut Nyonya Miranda. "Karena merasa dipilih membuat anak itu menjadi besar kepala.”

Sepuluh menit terlalu terhitung sejak Alena meninggalkan ruangan itu. Hingga akhirnya terdengar suara roda koper bergesekan dengan lantai membuat Tuan Gunawan dan Nyonya Miranda spontan menoleh ke arah tangga.

Mata keduanya langsung membelalak karena melihat Alena turun dengan langkah tenang dengan menyeret sebuah koper di tangannya. Sementara di bahu kirinya tersampir tas selempang kecil.

"Alena..." Nyonya Miranda spontan berdiri. "Kamu mau ke mana?" tanyanya panik karena melihat Alena berjalan ke arah pintu utama.

Alena yang hampir mencapai pintu menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "Bukankah Papa baru saja mengusirku? Kalau begitu aku memilih pergi."

"Tapi... Papa hanya—"

"Papa tidak perlu menarik ucapan Papa." Alena menyahut sebelum tuan Gunawan menyelesaikan kata-katanya. "Sebab aku menerima keputusan Papa."

Alena membalikkan badannya, menatap wajah kedua orang tuanya yang kini mulai menunjukkan kepanikan.

"Mulai hari ini… aku bukan lagi beban keluarga Gunawan. Jadi Papa juga tidak berhak memaksaku menikah demi perusahaan."

“Kurang ajar!" teriak Tuan Gunawan murka. “Kalau kamu memang berani, jangan bawa apapun yang kamu dapatkan dari keluarga Bagaskara. Tinggalkan semua fasilitas yang pernah Papa berikan termasuk kartu bank dan juga mobil.”

Alena menatap tak percaya ke arah papanya. Tapi sesaat kemudian gadis itu membuka tas yang tergantung di pundaknya lalu mengambil dompet dan kunci mobil kemudian meletakkannya di atas lantai tempat di depan kakinya. Setelah itu gadis itu melangkah menuju pintu utama, membuka pintu dan keluar tanpa menoleh ke belakang.

1
Anonim
kok kesal Pen......15
Oma Gavin
nathan.... nathan gengsi mu setinggi langit aku sumpahin orang kantor ada yg naksir alena biar kamu dapat saingan
Sri Rahayu
mau main kotor nih si Selena...mau nyuruh org mencelakai Alena... org kl berbuat jahat bisa jadi kejahatan nya akan berbalik kpd nya....semoga saja 😡😡😡
Sri Rahayu
setelah kehilangan Alena baru menyadari ternyata Alena berharga 🤪🤪🤪🤪🤪
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Sri Rahayu
cerdas jg Nathan ada gunanya Alena menandatangi surat kontrak kerja...mampukah Gunawan membayar 10 M utk mengambil Alena dari Nathan 🤪🤪🤪
Sri Rahayu
sifat dengki iri membuat Selena memusuhi adiknya sendiri
Sri Rahayu
sport jantung deh tu Selena mendengar.Alena kerja di Wijaya Group 😇😇😇😇😇
Sri Rahayu
yaeyalah kan Alena skrg aspri nya Nathan 🤪🤪🤪... dasar Reno bego 😡😡😡
Sri Rahayu
rupanya ada udang diatas bakwan, Nathan menolong Alena 🤩🤩🤩...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
cepat buang sim card mu Alena...ganti no baru biar Reno tdk bisa menghubungi mu lg...gercep Alena 😘😘😘
vj'z tri
saingan buanyakkkkk ya bro /Facepalm/
Muft Smoker
cemburu dy Lena ,, km gmn sih kurang peka gtuu😆😆😆
Nita Nita
😄😄😄😄maksudnya apa Boz🤣🤣
Hary Nengsih
lanjut
Mundri Astuti
😂😂 bisa jadi len...oi Nathan klo suka bilang...klo cinta nyatakan...ntar diambil org aja lenanya...baru tau
Oma Gavin
sadar alena boss mu lagi cemburu buta tapi ngga ngaku kalau tadi jawaban mu hilang pacar bisa habis kamu besok dikasih kerjaan yg ngga bisa istirahat 🤣
tse
Alena... Alena... kamu ko ya GA Peka sih...
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tse
ءAlena
sunaryati jarum
Bosmu itu cemburu Alena,kamu kok nggak peka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!