NovelToon NovelToon
Sang Perebut Takdir Istri Kontrak Sang Taipan

Sang Perebut Takdir Istri Kontrak Sang Taipan

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Reinkarnasi / Balas Dendam / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Gena Jim

Dikhianati dan ditikam dari belakang oleh kekasih sekaligus rekannya sendiri, Laras—pembunuh bayaran paling ditakuti di dunianya—mati sambil bersumpah membalas. Tapi maut bukan akhir. Sebuah "kesempatan kedua" melemparkan jiwanya menembus waktu, ke dalam tubuh seorang wanita di abad ke-21: Kirana, istri kontrak yang lemah, hamil, dan dihina, menikah dengan taipan sedingin es yang menganggapnya sampah.

Suaminya, Raka Prawira, mengira ia masih perempuan cengeng yang dulu membiusnya demi mengikat pernikahan. Keluarga kandung Kirana memerasnya. Ibu mertuanya menganggapnya pemburu harta. Dan di balik imperium bisnis megah keluarga Prawira, tersembunyi dunia penyelundupan senjata, pengkhianatan, dan persaingan warisan berdarah.

Sayang sekali bagi mereka semua—perempuan yang kini menghuni tubuh itu bukan lagi Kirana yang mereka kenal. Ia seorang ahli racun, strategi, dan pertumpahan darah. Satu per satu, mereka yang pernah menginjaknya akan belajar satu pelajaran mahal: tak ada yang mengkhianati wanita ini lalu hidup untuk menceritakannya.

Dari ruang rapat hingga baku tembak di jalan tol, dari perang dingin pernikahan kontrak hingga gairah yang perlahan membakar—saksikan sang perebut takdir mengubah hidup yang seharusnya menghancurkannya menjadi takhta miliknya sendiri.

Sanggupkah sang taipan yang tak pernah mencintai siapa pun bertahan dari perempuan paling berbahaya yang pernah tidur di ranjangnya... apalagi setelah jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gena Jim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Sang wujud berwajah serius mengamati interaksi pertama kedua orang itu, dan sebuah senyum terbentuk di bibirnya.

"Kau terhibur? Kurasa memilih gadis itu bukan pilihan yang bagus."

Ia mengangkat alis menatap perempuan cantik di sampingnya.

"Aku punya mata yang jeli untuk urusan begini. Kau lihat saja nanti, keduanya bakal jatuh cinta setengah mati untuk selamanya."

"Mmm, semoga begitu."

RAKA:

Aku keluar dari rumah sakit dengan kepala berdenyut hebat, lalu menuju mobilku yang seperti biasa dibukakan salah satu anak buahku. Aku masuk tanpa berkata apa pun.

"Semua baik, Tuan?"

Tanya Santo, sopir yang sudah mengabdi seumur hidupku.

"Kau tahu, kalau soal istriku, tak ada yang baik... Perempuan itu menguji kesabaranku yang tinggal sedikit."

Aku mengembuskan napas berat, mencoba sedikit rileks, tapi rasanya mustahil.

"Tinggal setahun lagi kontraknya, Tuan. Bertahanlah sebentar lagi, dan Anda sudah bisa bercerai."

"Kami sedang menantikan anak, sekarang jadi lebih rumit. Andai saja perempuan sialan itu tak membiusku hari itu... Semua pasti lebih mudah."

Gumamku sambil memejamkan mata, berusaha berpikir jernih.

"Kita ke kantor saja, entah bagaimana aku butuh pengalihan."

"Baik, Tuan."

Kata Santo sambil menjalankan mobil, sementara ke benakku terlintas ekspresi Kirana tadi... Kenapa ia tampak berbeda?

KIRANA:

Sang dokter dengan ramah menjelaskan bahwa aku harus istirahat total selama beberapa hari akibat kecelakaan itu.

Ia bicara soal "tingkat stres", soal "USG", dan istilah-istilah yang di telingaku terdengar seperti ilmu hitam... Ya, pasti ia mau menyihirku.

Aku tak paham separuh dari yang ia katakan, tapi aku mengangguk dengan pandangan hilang ke arah kedua tanganku sendiri... Tangan yang halus dan lembut, tanpa satu pun bekas luka pertempuran... Ini luar biasa, mirip tangan seorang bangsawan.

"Nyonya Prawira, Anda mendengarkan saya? Kesejahteraan bayi Anda bergantung pada ketenangan Anda."

Perempuan berjas putih itu mendesak.

Bayi? Itukah "makhluk" yang disebut-sebut pria tampan di surga tadi?

Kusentuh perutku secara naluriah. Sedikit membuncit, dan ada sesuatu di dalam diriku yang bergejolak... Semacam naluri melindungi, naluri yang tak pernah kurasakan di kehidupan lampauku. Sungguh ganjil.

"Aku akan baik-baik saja."

Potongku tegas.

"Aku cuma mau keluar dari tempat ini... Baunya seperti kematian dan kelemahan."

Sang dokter mengerjap kaget mendengar nadaku. Pasti Kirana yang dulu akan menangis atau merengek minta perhatian, tapi aku hanya menginginkan sebuah senjata dan peta dari abad aneh yang kalau tak salah ini abad ke-21?

Perempuan itu akhirnya meninggalkanku sendiri. Dengan hati-hati aku bangkit dari ranjang, mengabaikan pening ringan.

Aku berjalan ke jendela besar, dan yang kulihat membuatku terpana: kereta-kereta logam yang bergerak tanpa kuda, gedung-gedung yang menyentuh awan, dan cahaya berkilauan di mana-mana... Ini menakjubkan!

"Wah... Jadi beginilah masa depan."

Bisikku pada diri sendiri.

Karena penasaran, aku mengamati diriku di cermin yang tergantung di dinding. Wajah Kirana Tanaya tampak bak malaikat, berkulit porselen dan bermata indah... Dengan wajah ini, aku bisa jadi ratu dunia ini, hehe.

"Dengar baik-baik, Kirana."

Kataku pada bayanganku dengan senyum sedingin es.

"Aku tak tahu kehidupan macam apa yang kau jalani, atau kenapa pria itu, ya, suamimu yang bernama Raka, menatapmu seperti kau sampah. Tapi itu sudah berakhir... Tak ada lagi yang boleh menginjak wajah porselen indah ini."

Mataku tertumbuk pada meja samping ranjang, tempat sebuah benda persegi tipis yang berkilau.

Kuambil dengan hati-hati. "Telepon", kata ingatan pinjamanku, dan saat kusentuh layarnya, muncul sebuah foto yang tampak nyata... Foto Kirana dan Raka. Ia tak tersenyum, kaku seperti prajurit yang dipaksa berpose bersama musuhnya.

"Kontrak pernikahan, ya?"

Gumamku, mengingat kata-kata yang mengambang di benak baruku.

"Kalau begitu bersiaplah, Raka Prawira, sebab perempuan yang kau bius... Maaf, perempuan yang membiusmu sudah tak ada di sini... Kini kau punya seorang ahli racun dan pengkhianatan di ranjangmu sendiri... Mmm, lagi pula kau tampan sekali... Persis seleraku."

Ketukan keras di pintu memutus lamunanku, dan aku langsung berbaring.

"Masuk."

Ucapku dengan suara lembut, dan pintu terbuka. Seorang gadis muda masuk mendorong troli besi, dan kulihat beberapa hidangan hijau yang aneh.

"Makan siang Anda, Nyonya Prawira."

Katanya tanpa menatapku, dan aku mengernyit melihat tak ada satu pun yang tampak layak makan.

"Apa itu?"

"Yang selalu Nyonya santap... Ini menu hari ini."

Aku mendengus, menatap gadis itu lekat.

"Tatap mataku."

Dengan tubuh menegang, ia mengangkat pandangan, dan aku tersenyum.

"Nona manis, bisa tolong bawakan aku sesuatu yang bisa dimakan? Daging apa saja, sup... Ah, tidak, kelinci panggang saja, kurasa aku lebih suka kelinci."

Gadis itu menatapku ngeri.

"Nyonya, Anda tahu saya butuh pekerjaan ini. Tolong jangan pecat saya."

"Aku takkan memecatmu, cukup lakukan yang kuminta."

"Tapi... daging kelinci... Nyonya, daging seperti itu tidak dikonsumsi."

"Ah, begitu... Kalau begitu bawakan saja daging yang biasa dikonsumsi... Semua jenis, tolong... Dan bawa pergi ini."

"Baik, Nyonya!"

Katanya lalu bergegas pergi, dan aku tersenyum bahagia.

"Oh, jadi begini rasanya menjadi seorang bangsawan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!