Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Surat Yang Tidak Nyasar Lagi
Beberapa hari kemudian, suasana di PT Arunika Jaya terasa sedikit berbeda. Tidak ada yang mencolok. Tidak ada pengumuman resmi lewat email atau meeting mendadak. Tapi ada sesuatu yang berubah, pelan-pelan, seperti angin yang bergeser tanpa suara. Orang-orang masih datang tepat waktu, masih sibuk dengan laporan, masih mengeluh soal deadline, tapi ada semacam kelegaan kecil yang mulai terasa di koridor.
Poster besar yang selama ini terpampang di dekat lift masih ada di tempatnya. Tulisan tebal berwarna hitam “DILARANG JATUH CINTA DI KANTOR” masih sama seperti dulu. Hanya saja, di bagian bawahnya, muncul tambahan kecil yang ditulis dengan spidol hitam. Tulisannya agak miring, seolah ditambahkan tergesa-gesa tapi tetap terbaca jelas:
“Asal tidak mengganggu pekerjaan.”
Bayu berdiri di depan poster itu sambil menyeringai lebar. Tangannya memegang gelas kopi yang sudah agak dingin, tapi dia tidak peduli.
“Anjir… ada update!” katanya sambil menunjuk tulisan tambahan itu. “Lo liat nggak, Fajar? Ini perubahan sejarah. Poster yang dulu kayak ngeri banget, sekarang ada catatan kaki-nya.”
Fajar yang berdiri di sampingnya hanya menggaruk kepala, wajahnya masih agak bingung. Dia menatap poster itu lama, seolah mencoba memastikan apakah matanya tidak sedang menipu.
“Gue juga heran…” gumamnya pelan. “Kemarin masih kaku banget. Direktur bahkan nggak mau dengar kata ‘perasaan’. Sekarang… gini? Ada tambahan begini?”
Bayu menepuk bahu Fajar pelan.
“Mungkin lo bikin dia mikir. Atau mungkin dia lagi iseng. Siapa tahu.”
Sinta lewat di belakang mereka sambil membawa tumpukan dokumen yang cukup tebal. Rambutnya tetap rapi, kemeja putihnya tidak punya kerutan, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di wajahnya. Ia sempat berhenti sejenak di depan poster, menatap tulisan tambahan itu, lalu tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya.
“Mungkin direktur berubah pikiran,” katanya pelan, suaranya hampir seperti bisikan. Lalu dia melanjutkan langkahnya tanpa menunggu jawaban.
Fajar dan Bayu saling pandang. Tidak ada yang berani berkomentar lebih jauh. Mereka hanya mengangguk kecil, lalu berpisah untuk kembali ke meja masing-masing. Tapi sepanjang hari itu, Fajar sesekali melirik ke arah poster. Seolah takut tulisan tambahan itu akan hilang begitu saja.
Di ruang direktur, suasana tetap tenang seperti biasa. Cahaya matahari masuk dari jendela besar yang menghadap ke gedung-gedung tinggi. Meja kayu gelap yang biasanya penuh dengan laporan, map, dan dokumen penting, kali ini terlihat lebih lega. Di atasnya hanya ada selembar kertas yang sudah agak kusam di bagian pinggirnya. Kertas itu adalah salinan surat yang dulu salah kirim.
Kirana duduk di kursinya, memegang kertas itu dengan hati-hati. Jari-jarinya menyusuri setiap baris tulisan tangan yang dulu membuatnya bingung. Dia membaca ulang kalimat-kalimat sederhana itu, perlahan, seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah dia pelajari di sekolah bisnis atau di rapat dewan direksi.
“Untukmu yang selalu terlihat kuat, tapi mungkin diam-diam lelah…”
Kirana berhenti di kalimat itu. Matanya terpejam sejenak. Dia ingat bagaimana dia selalu terlihat kuat di depan semua orang. Bagaimana dia menolak cuti, menolak libur, menolak bahkan untuk sekadar duduk diam tanpa memikirkan target. Tapi di dalam, kadang dia memang lelah. Lelah yang tidak pernah dia akui.
“Jadi… beginikah rasanya?” bisiknya pelan, hampir tidak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Matanya terangkat, menatap ke luar jendela. Langit cerah. Awan putih bergerak pelan. Gedung-gedung di kejauhan tampak biasa saja, tapi entah kenapa hari itu terasa lebih lega. Ada ruang kosong di dadanya yang tiba-tiba terasa ingin diisi.
“Fajar…” namanya terucap pelan, hampir seperti percobaan. Seperti seseorang yang baru belajar mengucapkan kata yang asing.
Untuk pertama kalinya sejak dia menduduki kursi direktur, Kirana tersenyum kecil. Senyum yang sangat tipis, hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat aura dingin di ruangan itu sedikit mencair. Dia meletakkan surat itu kembali ke atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Untuk beberapa detik, dia membiarkan dirinya diam. Tidak memikirkan angka. Tidak memikirkan target. Hanya diam.
Sementara itu, di pantry kantor, Fajar sedang menuang kopi ke gelas kertas. Bau kopi panas memenuhi ruangan kecil itu. Dia sempat menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa canggung yang masih tersisa sejak kejadian beberapa hari lalu. Setiap kali dia teringat wajah Kirana saat membaca surat itu, perutnya langsung bergejolak. Campuran malu, takut, dan sesuatu yang lain yang belum bisa dia sebutkan.
Tiba-tiba pintu pantry terbuka.
Kirana masuk.
Keduanya terdiam. Pandangan mereka bertemu untuk sepersekian detik, lalu sama-sama menoleh ke arah lain. Suasana langsung menjadi canggung. Hanya suara mesin kopi yang masih berdengung pelan dan deru AC yang pelan. Fajar hampir menumpahkan kopinya. Kirana berdiri di dekat rak gelas, seolah tiba-tiba lupa apa yang ingin dia ambil.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa lebih panjang dari seharusnya.
Kirana yang akhirnya berbicara duluan. Suaranya tetap tenang, tapi ada sedikit keraguan di dalamnya. Seperti seseorang yang sedang mencoba melangkah di tanah yang belum pernah dia injak.
“Kalau… surat itu… ditulis ulang… untuk orang yang tepat…”
Fajar berkedip. Tangannya masih memegang gelas kopi yang belum sempat diminum. Uap panasnya naik pelan di antara mereka.
“Maksudnya…?” suaranya sedikit serak.
Kirana menatapnya lurus. Tidak ada senyum di wajahnya, tapi juga tidak ada ketegasan yang biasanya membuat orang menunduk. Matanya tenang, hampir lembut.
“Kali ini… jangan salah kirim.”
Fajar terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat. Dia menatap Kirana beberapa detik, mencoba membaca apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Apakah itu perintah? Saran? Atau… undangan?
Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya terangkat. Dia tersenyum. Senyum yang tulus, meski masih sedikit gugup.
“Baik, Bu Direktur.”
Kirana tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil, lalu mengambil gelas air di rak dan keluar dari pantry tanpa mengucapkan apa pun lagi. Langkahnya tetap tegap, tapi ada sesuatu yang berbeda. Pintu pantry tertutup pelan di belakangnya.
Tapi sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Fajar sempat melihat sesuatu.
Senyum kecil itu kembali muncul di wajah Kirana. Sangat tipis. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat dada Fajar terasa hangat.
Dia berdiri diam di pantry, masih memegang gelas kopinya yang sudah mulai dingin. Di luar, suara keyboard dan langkah kaki pegawai kembali terdengar seperti biasa. Tapi untuk Fajar, semuanya terasa sedikit berbeda.
Dan untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa surat yang dulu salah kirim… mungkin tidak sepenuhnya salah. Mungkin, justru karena salah kirim, surat itu akhirnya sampai ke tempat yang seharusnya.
Di meja direktur, salinan surat itu masih tergeletak. Kirana kembali duduk di kursinya, menatap kertas itu sekali lagi, lalu menyimpannya di laci paling atas. Bukan di tempat sampah. Bukan di antara laporan yang akan dimusnahkan.
Di laci yang jarang dia buka.
Seolah dia ingin menyimpannya… untuk dibaca lagi nanti.