NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Sidang Di Kandang Singa

Gedung Pengadilan Tinggi Ambon itu tinggi sekali, catnya putih bersih, pilarnya besar-besar seperti kaki gajah. Di depan gedung ada patung timbangan emas yang sangat besar, simbol keadilan. Tapi bagi lima warga Langgur yang baru datang dari kampung dengan sandal jepit dan karung goni, patung itu terlihat seperti monster yang mau menimbang nyawa mereka.

Jam delapan pagi, sidang akan dimulai. Ruang sidang nomor tiga, lantai dua.

Di dalam ruang sidang yang dingin ber-AC itu, sudah penuh dengan orang-orang berdasi. Di kursi penggugat, duduk Pak Hendra dan Dion dengan jas hitam mahal, di samping mereka duduk tiga orang pengacara dengan koper kulit besar yang di atasnya tertulis huruf emas. Salah satu pengacaranya bahkan bule, rambutnya pirang, bicara bahasa Inggris cepat.

Di kursi tergugat, hanya ada lima warga Langgur dengan baju yang masih bau laut dan karung goni berisi batu hitam. Mereka terlihat sangat kecil dan miskin di ruangan megah itu.

Hakim masuk, semua orang berdiri. Hakim itu seorang bapak tua dengan kacamata tebal, wajahnya datar tidak menunjukkan perasaan.

"Sidang kasus sengketa lahan Langgur, Tual, dengan nomor perkara 123/PDT/2026, dibuka," kata hakim dengan suara berat.

Pengacara bule itu langsung berdiri. Dia bicara bahasa Inggris, lalu diterjemahkan oleh pengacara satunya lagi.

"Klien kami PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA adalah perusahaan resmi yang sudah bayar pajak miliaran ke negara. Sedangkan mereka," pengacara itu menunjuk ke arah Ara dan kawan-kawan dengan jari yang menghina, "hanya warga ilegal yang tinggal di tanah negara tanpa sertifikat! Batu hitam yang mereka bawa itu palsu! Dibuat oleh dukun kampung! Mereka pakai ilmu hitam untuk tipu Tetua Adat di Tual!"

Penonton di ruang sidang yang kebanyakan teman-teman Pak Hendra langsung tertawa mengejek.

Pak RT Unus yang tidak bisa bahasa hukum, bingung dan hanya bisa berkata, "Tidak, Pak Hakim! Tanah itu tanah leluhur kami! Ada batu buktinya!"

Hakim melirik ke karung goni itu dengan tatapan jijik. "Bukti apa? Coba keluarkan."

Ara dengan tangan gemetar mengeluarkan Batu Tulis Leluhur dari karung goni. Batu hitam besar itu diletakkan di atas meja bukti. Tapi aneh, di ruang sidang yang terang benderang ini, batu itu tidak menyala sama sekali, tidak keluar asap, tidak ada cahaya emas. Hanya batu hitam biasa yang kotor, bahkan ada lumutnya.

Pengacara bule itu tertawa keras. "Lihat! Hanya batu kali biasa! Batu seperti ini banyak di sungai! Ini penipuan!"

Dion berdiri dan menambahkan dengan suara keras biar semua orang dengar, "Mereka ini penipu! Mereka pura-pura kesurupan! Kemarin di Tual mereka pakai jin! Sekarang di Ambon jinnya tidak berani muncul karena di sini ada hukum negara!"

Ara panik. Dia memeluk batu itu dan berbisik pelan, "Van, muncul dong, Van... Tolong kami, Van..."

Tapi tidak ada jawaban. Batu itu tetap dingin dan mati.

Paman Tua Theo yang dari tadi diam, akhirnya berdiri. Dia membuka tas plastik kresek hitam yang dia bawa dari Langgur, isinya bukan dokumen, tapi tanah. Tanah coklat dari bawah pohon mangga raksasa.

"Pak Hakim, ini bukan batu biasa. Ini tanah dari Langgur. Tanah ini yang bicara. Kalau tanah ini tanah negara yang kosong, kenapa di tanah ini ada tulang leluhur kami? Ada kubur moyang kami? Perusahaan mereka mau bangun resort di atas kuburan moyang kami!"

Hakim diam. Dia menyuruh petugas mengambil tanah itu.

Saat petugas itu membawa tanah itu mendekati meja hakim, tiba-tiba, listrik di seluruh gedung pengadilan mati total! Lampu AC mati, kipas mati, ruang sidang gelap gulita!

Penonton panik berteriak.

Di tengah kegelapan itu, dari batu hitam di meja bukti, keluar cahaya emas yang sangat terang! Jauh lebih terang daripada cahaya di Tual kemarin! Cahaya itu memenuhi seluruh ruang sidang!

Dari cahaya itu, Revan muncul! Tidak lagi sebagai asap putih, tapi sebagai manusia utuh! Dengan jaket hitamnya yang robek, dengan wajahnya yang pucat tapi marah, dengan darah yang masih mengalir dari kepalanya!

Revan muncul di tengah ruang sidang Pengadilan Tinggi Ambon!

Semua orang bisa melihatnya sekarang! Bukan hanya warga Langgur, tapi hakim, pengacara bule, Pak Hendra, Dion, semua penonton, semua bisa melihat Revan!

"AKU REVAN! AKU MATI DI LANGGUR! AKU DIKUBUR DI TANAH ITU! TANAH ITU BUKAN TANAH KOSONG! TANAH ITU ADA DARAHKU!" teriak Revan dengan suara yang menggema sampai ke seluruh gedung pengadilan, membuat kaca-kaca jendela bergetar!

Pengacara bule yang tadi sombong, langsung jatuh pingsan! Pak Hendra juga jatuh dari kursinya! Dion yang paling dekat dengan Revan, pipis di celana karena ketakutan, dia mundur-mundur sampai mentok ke tembok!

Hakim yang tadinya datar, sekarang wajahnya pucat pasi, kacamata tebalnya jatuh.

Revan berjalan mendekati Dion yang sudah terkencing-kencing di pojok tembok. Revan mengangkat tangannya, dan dari tangan Revan keluar akar-akar pohon mangga yang besar, akar itu melilit kaki Dion!

"Jangan ambil tanah kami! Jangan bakar rumah kami lagi!" kata Revan pelan tapi setiap orang di ruangan itu mendengarnya jelas.

Tiba-tiba, dari luar gedung, terdengar suara petir yang sangat keras, padahal hari terang. Suara petir itu membuat listrik menyala lagi.

Cahaya emas menghilang. Revan menghilang kembali masuk ke dalam batu hitam.

Ruang sidang kembali terang. Semua orang masih dalam keadaan shock. Dion masih duduk di pojok dengan celana basah, menangis seperti anak kecil. Pengacara bule masih pingsan di lantai.

Hakim yang sudah mengambil kacamata nya yang jatuh, dengan tangan gemetar memukul palu.

"SKORS! SIDANG DI SKORS SATU JAM! RUANG SIDANG DI STERILKAN!"

Warga Langgur yang lima orang itu saling berpelukan. Ara memeluk batu hitam itu sambil menangis, tapi tangis bahagia.

"Terima kasih, Van... Kamu selamatkan kami lagi..."

Di luar gedung pengadilan, burung gagak hitam besar yang tadi bertengger di atas gedung, tiba-tiba jatuh mati ke bawah, dengan mata merahnya yang pecah.

Teror di Ambon dibalas dengan teror yang lebih besar dari Langgur. Kandang singa itu sudah diobrak-abrik oleh hantu kampung.

Satu jam kemudian, sidang dilanjutkan. Tapi kali ini, tidak ada lagi yang berani tertawa mengejek warga Langgur. Semua orang diam dan menatap batu hitam itu dengan takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!