Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu semua orang sudah berkumpul di meja makan. Kila yang baru saja keluar dari kamar Mama Lidya langsung bergabung dengan mereka, masih dengan rambut yang sedikit berantakan karena tidur memeluk Mama semalaman.
"Pagi Ma, pagi Kak Elvar," ucap Kila menyapa dengan senyum lebar.
"Pagi, cantik," jawab Mama Lidya dan Kak Elvar kompak.
"Oiya, Kak Elvar jadi kan nemenin aku hari ini? Janji loh kemarin," tanya Kila pada kakaknya sambil menarik kursi.
"Jadi dong. Emangnya tuan putri mau ngapain hari ini? Sebutin aja," jawab Kak Elvar.
"Hmm kayaknya aku mau ke pantai deh, Kak, boleh nggak? Kangen main air," kata Kila dengan mata berbinar.
"Boleh dong. Apa sih yang nggak buat adek Kakak yang cantik ini," goda Kak Elvar.
"Hehehe, asyikkk," kata Kila bersemangat sambil terus melahap nasi goreng buatan Bibi.
"Oiya Ma, Papa belum pulang?" tanya Kila tiba-tiba, keceplosan. Dia baru sadar dia salah ngomong. Kak Elvar langsung menatapnya tajam dari seberang meja, seolah memberi isyarat bahwa pertanyaan itu salah dan berbahaya.
Mama Lidya tampak sedikit terkejut, sendoknya berhenti di udara. "Ehh belum, sayang. Papa Adrian masih di luar kota. Mungkin nanti sore Papa udah pulang kok."
"Hmm, baiklah," jawab Kila pelan, tidak berani menatap Mama Lidya karena merasa bersalah sudah mengungkitnya.
"Kalau begitu, Mama berangkat ke kantor dulu ya, takut macet. Kalian hati-hati ya," kata Mama Lidya mengalihkan pembicaraan dengan cepat, berdiri.
"Iya Ma, hati-hati di jalan," ucap Kila sambil mencium punggung tangan Mama, begitu pun Kak Elvar.
**_
"Udah siap belum?!" terdengar suara teriakan Kak Elvar dari bawah, sudah setengah jam menunggu.
"Iya... iya bentar, aku pakai sepatu dulu!" jawab Kila dari atas sambil memakai sneakers putihnya dengan tergesa.
Setelah siap, Kila berlari menuruni tangga marmer itu dengan lompatan kecil.
"Eh eh! Awas! Jangan lari nanti jatuh! Tangga licin!" kata Kak Elvar khawatir melihat Kila berlari seperti anak kecil.
"Hehehe nggak kok Kak, kan udah gede," kata Kila setelah berhasil sampai di bawah dengan selamat, ngos-ngosan.
"Dasar, kamu tuh masih kecil tau. Nih buktinya kamu baru sampai ketek Kakak," kata Kak Elvar sembari membandingkan tinggi badannya dengan Kila, berdiri tegak. Kila memang terlihat sangat kecil kalau dibandingkan dengan Kak Elvar yang tingginya seperti tiang listrik, 180cm lebih.
"Ihhh rese banget, kenapa sih semua orang bilang aku kayak anak kecil?" kata Kila dengan wajah cemberut, memajukan bibirnya.
"Semua orang? Emang ada yang bilang gitu selain Kakak?" kata Kak Elvar dengan ekspresi seperti sedang menginterogasi, alisnya naik.
"Iya, ada tuh om-om labil," jawab Kila ceplas-ceplos.
"Hah? Om-om? Om-om mana yang berani bilang adek gue kecil?" tanya Kak Elvar langsung siaga.
"Ehh bukan om-om sih, soalnya seumuran sama Kakak. Masih muda."
"Siapa sih? Bikin penasaran aja. Ganteng nggak? Gantengan mana dibanding Kakak?" celoteh Kak Elvar kepo maksimal.
"Apaan sih, kepo banget. Dia itu dosen baru di kampus," jawab Kila, wajahnya mulai memerah.
"Ohhh, terus-terus?" Kak Elvar makin mendekat.
"Apanya yang terus-terus? Mau parkir mobil? Udah ah, ayo jalan keburu panas nanti," kata Kila sambil berjalan cepat menuju pintu keluar, menyembunyikan rona merah di pipinya. Jantungnya berdebar menyebut Pak Rhaegar.
_*_
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di pantai pribadi yang memang jaraknya tak jauh dari rumah keluarga mereka. Kila langsung membuka sepatunya dan mulai bermain air dengan riang.
"Kak sini, ikut main air!" ucap Kila pada Kak Elvar yang berada agak jauh darinya, duduk di atas pasir sambil memegang dua kelapa muda.
"Nggak ah, kamu aja yang main, Kakak liatin dari sini. Nanti celana Kakak basah," jawab Kak Elvar.
"Ih nggak seru banget sih! Sini cepetan!"
Kila pun melanjutkan interaksinya dengan air laut. Rasanya segar sekali ketika air jernih menyentuh kakinya. Angin pantai menerpa rambutnya. Hari itu dia merasa sangat senang, seolah dia bisa melupakan sejenak masalah yang terjadi belakangan ini, masalah Mama dan Papa. Setelah puas bermain air sampai bajunya setengah basah, dia pun menyusul Kak Elvar yang sedang duduk menunggu sambil menikmati minuman dingin.
"Gimana? Udah puas main airnya?" kata Kak Elvar sambil menyodorkan minuman pada Kila dan memberikan handuk kecil.
"Hehehe, udah puas Kak, puas banget malah. Enak banget airnya!" kata Kila sembari meminum kelapa mudanya dengan sedotan.
"Yaudah, terus habis ini mau kemana tuan putri?"
"Hmm kemana ya?" kata Kila bingung, menggigit sedotan.
"Malah nanya balik!" celoteh Kak Elvar.
"Aku nggak nanya kali Kak, aku tuh lagi mikir. Mikir keras nih," kata Kila sambil memegang dagu sok serius.
"Gaya banget, sok mikir lagi, kayak punya pikiran aja, hahaha," celoteh Kak Elvar lagi membuat Kila cemberut. Tapi bukannya merasa bersalah, Kak Elvar malah mencubit gemas pipi Kila yang basah.
"Ihh sakit tau Kak. Yaudah habis ini kita nge-mall ya? Boleh kan?"
"Hmm boleh dong."
"Yeayyy, makasih Kak Elvar!"
"Sama-sama, cantik."
"Ya udah aku ganti baju dulu Kak soalnya basah, Kakak tunggu di mobil aja, nanti aku nyusul ke sana," kata Kila sembari mengambil baju ganti dari tas dan menuju ke toilet umum pantai yang bersih.
"Oke, Kakak tunggu di mobil," kata Kak Elvar sembari berjalan menuju tempat di mana mobil sportnya terparkir.
_**
Setelah berganti pakaian, Kila pun menyusul Kak Elvar ke parkiran mobil.
"Silahkan naik, tuan putri," kata Kak Elvar sembari membukakan pintu mobil dengan gaya gentleman lebay.
"Hahaha apaan sih Kak? Gaya banget. Lagi latihan ya? Supaya kalau udah punya pacar nggak kaku-kaku banget, hahahaha," kata Kila meledek sambil masuk.
"Dasar, sama-sama jomblo tuh jangan menghina," katanya sambil menoyor pelan kepala Kila.
"Hehehe iya... iya sorry," kata Kila masih tertawa kecil.
Kak Elvar pun melajukan mobil menuju mall terbesar di kota itu.
"Oiya gimana di kampus? Lancar-lancar aja kan? Nggak ada yang gangguin kamu kan?" tanya Kak Elvar yang masih fokus menyetir, nada protektifnya keluar.
"Iya Kak, lancar kok. Aman semua."
"Kamu nggak ada rencana gitu? Pindah ke sini? Biar deket sama Kakak sama Mama," tanya Kak Elvar lagi.
"Nggak ah Kak, aku udah nyaman banget di sana. Di rumah aku sendiri. Tenang gitu," jawab Kila.
"Ohhh kamu suka ya kalau jauh-jauh dari Kakak? Atau jangan-jangan kamu udah punya pacar makanya nggak mau pindah? Makanya dibela-belain tinggal jauh?" goda Kak Elvar.
"Ih ngaco, mana ada aku punya pacar. Nggak ada!"
"Masa sih kamu nggak punya pacar? Secantik ini nggak punya pacar? Nggak percaya Kakak."
"Emang nggak punya. Kakak sendiri, kenapa nggak punya pacar? Kan ganteng katanya," Kila balik ngeledek.
"Kakak tuh sibuk jadi nggak sempat pacaran. Kerjaan numpuk."
"Bilang aja nggak laku, hahahaha," ledek Kila ngak.
"Sembarangan kalau ngomong, Kakakmu ini ganteng, mana ada cewek yang nggak mau sama Kakak? Antre kali," kata Kak Elvar dengan PD tingkat dewa.
"Ihh PD banget," kata Kila memalingkan pandangannya ke luar jendela mobil. Pandangannya menjelajah setiap sudut tempat yang mereka lewati. Seketika, datang sesuatu yang indah membangkitkan ingatannya tentang sosok laki-laki yang akhir-akhir ini menyita perhatiannya. Ya, bayangan Bapak Dosen lagi-lagi kembali terlintas dalam ingatannya. Senyumnya di mobil waktu hujan.
"Kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri kayak orang gila?" kata Kak Elvar membuyarkan lamunannya.
"Hah? Apa? Kenapa Kak?" kata Kila terbata-bata karena kaget, langsung salah tingkah.
"Kamu kenapa sih, kayak orang nggak waras aja senyum-senyum sendiri, serem tau. Mikirin siapa?"
"Siapa juga yang senyum? Aku nggak senyum kok," kata Kila sembari menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi, padahal telinganya merah.
Kak Elvar hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum kecil melihat tingkah aneh adiknya. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Yeayyy akhirnya sampai juga," kata Kila bersemangat saat turun dari mobil.
"Kayaknya semangat banget, emangnya mau beli apa sih?"
"Hmm nggak tau juga sih mau beli apa, hehehe," jawab Kila cengengesan.
"Ya udah ayo masuk."
"Let's go," kata Kila sembari menggandeng tangan Kak Elvar berjalan memasuki mall yang dingin.
Setelah berada di dalam mall, mereka memutuskan untuk makan dulu sebelum memulai kegiatan shopping. Saat sedang makan tiba-tiba ponsel Kak Elvar berdering keras.
Kak Elvar mengangkatnya, wajahnya langsung serius. "Halo? Iya... sekarang? Nggak bisa besok? Oke oke, aku kesana sekarang."
"Maaf ya, Kil, kayaknya Kakak nggak bisa nemenin kamu belanja," kata Kak Elvar setelah menutup telepon, wajahnya penuh rasa bersalah.
"Kenapa Kak?" tanya Kila penasaran, sumpitnya berhenti.
"Ada urusan mendadak di kantor dan nggak bisa diwakilkan, jadi Kakak harus ke kantor sekarang. Penting banget, Kil."
"Yahhh masa aku belanjanya sendiri, Kak? Kan janjinya seharian," jawab Kila sedikit kecewa, bibirnya manyun. Janji itu lagi-lagi tidak ditepati. Sama seperti Mama Lidya.
"Iya, maaf ya, lain kali Kakak temenin lagi, beneran. Janji deh janji lagi," kata Kak Elvar mengelus kepala Kila.
"Yaudah nggak apa-apa, aku belanja sendiri aja," jawab Kila tersenyum pada Kakaknya, meski hatinya kecewa. Dia sudah terbiasa ditinggal.
"Makasih ya, udah ngertiin Kakak. Kamu emang adek paling baik."
"Iya, santai aja lagian aku udah gede, udah biasa sendiri."
"Iya iya adek Kakak udah gede. Oiya ini pakai kartu Kakak aja buat belanja, gesek aja sepuasnya," kata Kak Elvar sembari memberikan Kila kartu kredit hitamnya.
"Jangan nyesel ya Kak, kalau aku beli banyak, hehehe. Aku kuras nih."
"Iya pakai aja sampai puas. Yaudah Kakak pergi dulu, kamu hati-hati ya. Kalau udah selesai langsung telepon Kakak, nanti Kakak jemput lagi."
"Iya, Kakak juga hati-hati di jalan."
Setelah Kak Elvar pergi dengan tergesa, Kila pun mulai berbelanja sendiri. Dia melihat toko yang menjual pakaian laki-laki, dia tiba-tiba teringat sahabatnya Elvano dan memutuskan untuk membeli sesuatu untuknya, sebuah kemeja. Setelah selesai, dia pun berniat untuk keluar dari toko itu, namun urung. Matanya tertuju pada sebuah dasi sutra berwarna navy yang elegan di etalase.
"Wahhh keren banget, kayaknya cocok deh kalau dipakai Bapak Dosen," gumam Kila sambil terus memandangi dasi itu, bayangan Pak Rhaegar memakai dasi itu terlintas. Ganteng banget pasti. Tapi kemudian dia tersadar dan menggeleng keras.
"Apa-apaan sih aku, ngapain juga mikirin dia. Nggak waras!" kata Kila memukul kepalanya sendiri pelan berusaha membuang pikiran tentang laki-laki itu. Dia pun berlalu meninggalkan toko itu dan lanjut ke tempat lain dengan jantung berdebar.
Setelah puas berbelanja dengan dua paper bag di tangan, dia memutuskan untuk pulang dan menunggu Kak Elvar menjemput. Saat dia berjalan santai menuju pintu keluar mall, langkahnya terhenti mendadak. Paper bag di tangannya hampir jatuh.
Dia melihat sosok yang sangat dia kenali, sosok yang kursinya kosong di meja makan tadi pagi. Sosok yang katanya sedang meeting di luar kota. Sedang berjalan bersama dengan seorang wanita muda yang tampak asing baginya, cantik dan modis. Wanita itu bergelayut manja di lengan sosok itu dengan mesra, tertawa-tawa.
Jantung Kila berdegup kencang, kakinya lemas, napasnya sesak.
"Papa???"
ayok ada dibaca🤭