NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANCAMAN DIPINTU GERBANG

“Sertifikat induk tanah rumah utama?”

Gumam Aura pelan dengan kening berkerut tipis. Matanya menatap layar ponsel yang masih memancarkan pendar cahaya dari pesan singkat yang dikirimkan Aris tepat setelah lelang proyek pelabuhan berakhir.

Hendra yang mengamati perubahan raut wajah istrinya seketika menoleh. Pria matang itu merapatkan duduknya di dalam kabin mobil Rolls-Royce, merangkul bahu Aura dengan protektif seraya melirik ke arah layar ponsel tersebut.

Begitu membaca isi pesan dari Aris, mata cokelat gelap Hendra seketika memicing tajam. Aura dingin dan berwibawa khas penguasa puncak terpancar kuat dari wajah tegasnya.

“Aris cuma menggertak, Sayang,” cetus Hendra tenang namun berbobot. Tangannya mengusap jemari lentik Aura dengan lembut. “Lahan kediaman utama Fahreza seluas dua belas hektar itu dibeli langsung oleh perusahaan sepuluh tahun lalu, lengkap dengan seluruh dokumen sertifikat hak milik yang tersimpan di brankas hukum kita.”

Aura mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. Ketajaman intuisinya sebagai komisaris utama membuat pikiran kritisnya terus berputar cepat.

“Mas... sepuluh tahun lalu waktu lahan itu dibeli, Aris kan baru masuk ke divisi aset perusahaan,” tutur Aura mengingatkan dengan suara jernih. “Waktu itu Paman Danu yang memegang kendali pengurusan sertifikat tanah lewat notaris keluarga, kan?”

Hendra diam sejenak. Sorot matanya berubah makin pekat saat ingatan sepuluh tahun lalu kembali terlintas di kepalanya. Pria berusia empat puluh tiga tahun itu mengepalkan tangannya di atas pangkuan.

“Kamu benar,” bisik Hendra dengan suara beratnya. “Paman Danu dan Aris yang mengurus balik nama sertifikat itu dari pemilik lahan lama.”

Rolls-Royce Phantom hitam yang mereka tumpangi perlahan berhenti sempurna di depan selasar utama kediaman Fahreza. Dua pengawal pribadi membukakan pintu belakang dengan penuh hormat.

Hendra membimbing Aura turun dari mobil, merangkul pinggang istrinya dengan amat erat seolah tak ingin membiarkan bahaya sekecil apa pun mendekati Ratu dalam hidupnya. Mereka melangkah masuk melewati pintu ganda kayu jati yang megah, disambut oleh kehangatan interior marmer rumah utama.

“Pak Biantoro,” panggil Hendra tegas pada kepala pengawal yang berdiri menunduk di serambi.

“Ya, Pak Hendra?”

“Hubungi tim hukum utama sekarang juga. Minta mereka siapkan seluruh arsip sertifikat induk tanah kediaman ini dan temui saya di ruang kerja sepuluh menit lagi.”

“Baik, Pak!” Pak Biantoro segera berbalik dan menjalankan perintah dengan cepat.

Aura menatap suaminya penuh perhatian. Ia mengusap dada bidang Hendra, memberikan ketenangan alami yang selalu sanggup melunakkan amarah sang taipan.

“Mas... jangan emosi dulu ya,” bisik Aura lembut. “Rendra sudah tidur di kamar atas. Kita periksa dokumennya tenang-tenang.”

Hendra menatap wajah cantik istrinya, binar kelembutan seketika menggantikan aura membunuh di matanya. Pria itu membungkuk sedikit, mengecup kening Aura secara mesra.

“Saya tidak bisa tenang kalau ada cacing seperti Aris yang mencoba mengusik rumah yang kita tinggali bersama anak kita, Aura,” sahut Hendra tulus.

Sepuluh menit kemudian di ruang kerja utama lantai dua kediaman Fahreza.

Suasana ruangan berinterior kayu mahoni itu diliputi ketegangan yang pekat. Tiga pengacara senior dari divisi hukum Fahreza Group berdiri kaku di depan meja kerja, sementara Hendra duduk tegap di kursi kulitnya dengan Aura yang setia mendampingi di sampingnya.

Map tebal berstempel resmi kementerian pertanahan terhampar di atas meja.

Ketua tim hukum, seorang pria paruh baya berkacamata tebal, mengusap keringat dingin di dahinya sebelum memberanikan diri membuka suara.

“Bagaimana hasilnya?” cecar Hendra dingin, suaranya menekan bagaikan gumpalan es.

Ketua tim hukum menelan ludahnya yang terasa kering. “Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Hendra... Setelah kami melakukan pengecekan silang ke database pertanahan nasional lima menit lalu... apa yang dikatakan Saudara Aris ternyata memang benar.”

Dahi Aura berkerut tipis, sementara raut wajah Hendra seketika memadat bagaikan karang.

“Maksud kamu apa?” bentak Hendra rendah namun sarat akan ancaman mutlak.

“Sepuluh tahun lalu, saat transaksi pembebasan lahan ini dilakukan...” terang pengacara itu dengan suara gemetar, “Paman Danu dan Aris tidak mendaftarkan sertifikat induk atas nama PT Fahreza Utama, melainkan menggunakan perusahaan cangkang atas nama perseroan pasif milik Aris pribadi!”

Aura menahan napasnya sejenak. Ketajaman analisisnya seketika menyambungkan seluruh benang merah intrik ini!

Paman Danu dan Aris ternyata sudah menyiapkan jebakan ini sejak sepuluh tahun lalu sebagai 'kartu truf' cadangan jika suatu hari nanti posisi mereka ditumbangkan dari dinasti Fahreza!

“Artinya...” suara Aura mengalun tenang namun tajam, “secara hukum pertanahan, lahan kediaman utama tempat kita berdiri saat ini... berada di bawah kepemilikan perseroan milik Aris?”

“Benar, Nyonya Aura,” jawab pengacara itu pasrah. “Dan karena Aris sudah bebas dari penjara serta memegang kendali penuh atas perusahaan cangkang itu kembali bersama Wijaya Group... dia secara hukum memiliki hak untuk mengajukan sengketa lahan atau mengeksekusi pengosongan fisik atas kediaman ini.”

Hendra memukulkan telapak tangannya ke atas meja mahoni hingga menimbulkan dentuman nyaring yang menggelegar di seluruh sudut ruangan!

“Leluasa sekali anak kurang ajar itu berpikir bisa mengusir saya dari rumah saya sendiri!” murka Hendra, matanya berkilat memancarkan amarah pembunuh yang sangat pekat.

Aura dengan cepat memegang tangan kokoh suaminya, meremas jemari tegap Hendra untuk menenangkan amarah pria itu. Ketenangan Aura yang luar biasa bagaikan perisai tak tertembus di tengah badai.

“Mas... tenang,” tutur Aura selembut sutra. “Aris sengaja ngelakuin ini buat bikin kamu emosi dan mengambil langkah gegabah. Dia mau pakai media buat membakar skandal kalau Fahreza Group menempati lahan ilegal.”

Hendra menatap istrinya. Binar kejengkolan di matanya perlahan terkendali begitu melihat ketenangan mutlak dari Ratu dalam hidupnya. Pria matang itu menghembuskan napas panjang, menarik tangan Aura lalu mengecup punggung tangannya dengan erat.

“Lalu apa rencana kamu, Sayang?” tanya Hendra dengan suara beratnya yang menawan.

Aura menyunggingkan senyuman tipis yang sangat anggun dan mematikan. Matanya yang jernih memancarkan kecerdasan kelas atas.

“Aris pikir dia memegang kartu as,” bisik Aura halus. “Tapi dia lupa... transaksi pembebasan lahan sepuluh tahun lalu itu menggunakan dana alokasi dari kas utama Fahreza Group. Kalau dia berani menggunakan sertifikat itu buat menekan kita, kita bisa tuntut dia atas tuduhan tindak pidana penggelapan aset perseroan tingkat dua yang ancaman hukumannya sepuluh tahun penjara tanpa remisi.”

Hendra menatap Aura dengan pandangan terpukau yang teramat dalam. Rasa bangga dan cinta meluap-luap di dada sang taipan. Pria berusia 43 tahun itu terkekeh rendah—sebuah tawa seksi yang menggetarkan dadanya.

“Kamu benar-benar wanita yang luar biasa, Ratu saya,” puji Hendra tulus. “Setiap jebakan yang mereka buat selalu kamu ubah jadi gantung diri buat mereka sendiri.”

Aura tertawa merdu, merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat suaminya.

Namun, sebelum tim hukum sempat diperintahkan untuk menyusun draf gugatan balasan, suara langkah kaki terburu-buru dari Pak Biantoro kembali terdengar di luar pintu.

Pak Biantoro melangkah masuk dengan raut wajah yang sangat panik.

“Pak Hendra! Nyonya Aura!” seru Pak Biantoro tegang.

Hendra mengerutkan keningnya. “Ada apa lagi, Pak Biantoro?”

Pak Biantoro menunjuk ke arah jendela luar. “Di luar gerbang utama... Aris bersama puluhan pengacara Wijaya Group dan beberapa awak media massa baru saja datang secara mendadak! Mereka membawa surat penetapan eksekusi sengketa lahan dan menuntut bertemu dengan Nyonya Aura sekarang juga!”

Aura dan Hendra saling bertukar pandang. Permainan nekat Aris ternyata bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan!

Hendra berdiri tegap dari kursinya, merangkul pinggang Aura dengan protektif dan dingin.

“Ayo kita temui mantan narapidana itu, Ratu saya.”

Di luar gerbang besi tempa kediaman utama Fahreza.

Pendar sorot kamera pers dan lampu-lampu kendaraan membelah kegelapan malam usai gerimis. Belasan wartawan berebutan mengambil gambar di depan gerbang yang dijaga ketat oleh barisan pengawal pribadi bersetelan hitam.

Aris berdiri paling depan di tengah kerumunan pengacara Wijaya Group. Dalam balutan jas abu-abu gelapnya, raut wajah Aris tampak sangat dingin dan percaya diri. Di sampingnya, Pak Wijaya tersenyum culas seraya menopang tangan pada tongkat peraknya.

Pintu gerbang kecil terbuka.

Hendra Fahreza melangkah keluar dengan wibawa mutlak seorang taipan puncak, didampingi Aura yang tampil begitu anggun dan tenang dalam balutan gaun kasual sutra berwarna krem. Kehadiran pasangan paling berkuasa itu seketika membuat kerumunan wartawan riuh!

“Pak Hendra! Apakah benar lahan kediaman utama ini berdiri di atas tanah milik perusahaan Aris Pratama?!”

“Nyonya Aura! Bagaimana tanggapan Anda mengenai gugatan pengosongan lahan ini?!”

Sorotan lampu kilat kamera membahana.

Hendra tidak mengindahkan para wartawan. Mata cokelat gelapnya terkunci lurus pada sosok Aris. Hendra melangkah mendekat, berdiri tegap membentengi Aura di sampingnya.

Aris melangkah dua titik ke depan, mengulas senyuman tipis yang amat dingin pada mantan kekasih dan ayahnya.

“Selamat malam, Pak Hendra... Nyonya Aura,” sapa Aris dengan suara parau yang amat berat. “Maaf saya harus datang malam-malam begini bersama rekan-rekan media. Tapi saya cuma mau menyerahkan surat pemberitahuan klaim fisik atas tanah rumah ini secara resmi.”

Pak Wijaya menyerahkan sebuah map berkas hukum kepada wartawan di sekitarnya, memamerkan bukti sertifikat atas nama perusahaan cangkang milik Aris.

Aura melangkah satu titik ke depan di samping Hendra. Wanita anggun itu tidak sedikit pun gentar atau panik. Ia menyunggingkan senyuman paling manis namun mematikan di bibirnya, menatap Aris yang berdiri jumawa di hadapannya.

“Kamu tampak bangga sekali malam ini, Aris,” ujar Aura dengan suara selembut sutra yang jernih dan terdengar jelas oleh seluruh awak media.

Aris membetulkan posisi dasinya, menatap Aura dengan pandangan menantang. “Hukum berdiri di atas bukti tertulis, Aura. Sertifikat ini membuktikan kalau kamu dan Papa cuma menumpang di atas tanah milik perusahaanku.”

Hendra terkekeh rendah—sebuah suara dingin yang membuat bulu kuduk para wartawan merinding.

“Menumpang?” repetisi Hendra datar. “Kamu lupa dari mana uang yang dipakai buat membeli tanah ini sepuluh tahun lalu, Aris?”

Aris menyilangkan kakinya dengan tenang. “Transaksi sepuluh tahun lalu sudah kedaluwarsa secara hukum perdata, Pak Hendra. Yang diakui negara adalah nama yang tertera di sertifikat ini.”

Aura memiringkan kepalanya sedikit, merapatkan jemarinya di lengan tegap Hendra. Ketajaman intuisinya kini siap melayangkan pukulan telak terakhir.

“Sertifikat perdata memang tertera atas namamu, Aris...” tutur Aura halus dengan nada penuh keanggunan. “Tapi bukti alokasi transfer kas utama Fahreza Group sebesar delapan puluh miliar rupiah sepuluh tahun lalu masih tersimpan rapi di brankas induk kami. Dan menurut Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang dan Penggelapan Aset Perseroan...”

Aura menggantung kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata Aris dengan kilat kemenangan mutlak.

“Seseorang yang mendaftarkan aset perseroan atas nama pribadi menggunakan uang perusahaan tanpa persetujuan dewan komisaris... diancam pidana penjara maksimal dua belas tahun tanpa batas kedaluwarsa.”

Seketika, raut wajah percaya diri di wajah Aris membeku kaku! Senyuman culas Pak Wijaya di sampingnya seketika luntur tanpa sisa!

Para wartawan di sekitar mereka langsung heboh dan riuh mendengar penjelasan hukum yang dilontarkan oleh sang Komisaris Utama!

Aura melangkah satu titik lebih dekat pada Aris, berbisik halus di depan wajah mantan kekasihnya yang kini pucat pasi bagaikan mayat.

“Kamu baru saja bebas bersyarat minggu lalu, Aris...” pancing Aura dengan senyuman paling mematikan. “Apakah kamu mau balik ke sel tahanan Cipinang malam ini juga cuma gara-gara sertifikat tua ini?”

Aris mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuhnya gemetar hebat menahan malu, kemarahan, dan ketakutan yang kembali menghantam jiwanya. Rencana 'kartu truf' yang ia agung-agungkan bersama Pak Wijaya lagi-lagi dihancurkan secara total dan tragis oleh kecerdasan Aura hanya dalam hitungan detik!

Pak Wijaya yang panik melihat reaksi para wartawan cepat-cepat menarik lengan Aris.

“Aris! Cepat masuk ke mobil! Kita bicara sama pengacara sekarang!” bisik Pak Wijaya tegang.

Aris menatap Aura dengan mata yang memerah penuh dendam dan kekalahan yang mendalam, sebelum akhirnya dipaksa berbalik dan melangkah terburu-buru masuk ke dalam mobil sedan mewahnya di bawah pendar lampu kilat kamera wartawan yang terus menyorotnya.

Mobil Wijaya Group melaju pergi meninggalkan gerbang dalam kehancuran reputasi yang luar biasa.

Hendra merangkul pinggang Aura dengan protektif, menatap para wartawan dengan wibawa mutlak sang taipan puncak.

“Masalah sertifikat ini sudah diserahkan ke tim hukum kami. Fahreza Group tetap berdiri tegak dan tak tersentuh,” tegas Hendra dingin, sebelum membimbing istrinya berjalan kembali masuk ke dalam kediaman utama.

Satu jam kemudian di kamar utama lantai dua.

Suasana kamar terasa begitu hangat dan tenang. Pendar lampu dinding keemasan memantulkan cahaya lembut di atas lantai kayu jati. Hujan gerimis tipis kembali turun di luar jendela, menciptakan simfoni alami yang menenangkan.

Aura berdiri di dekat jendela kaca besar, membelai perutnya yang sudah tidak lagi membuncit usai melahirkan Rendra lima tahun lalu, menikmati ketenangan malam.

Hendra melangkah keluar dari ruang rias hanya mengenakan piyama hitam panjang. Pria berusia 43 tahun itu berjalan dari arah belakang, melingkarkan kedua tangannya yang kokoh di pinggang mulus sang istri. Kehangatan dada bidang Hendra menyelimuti punggung Aura, membawa aroma wangi sandalwood yang sangat memabukkan.

Aura menyandarkan kepalanya di dada bidang Hendra, merasakan detak jantung suaminya yang teratur dan penuh rasa aman.

“Mas... makasih ya,” bisik Aura lembut, memegang jemari tegap suaminya.

Hendra menanamkan kecupan-kecupan hangat di leher jenjang Aura, membuat desiran hangat menjalar di sepanjang tubuh sang istri.

“Saya yang harus bilang terima kasih, Ratu saya,” balas Hendra dengan suara beratnya yang seksi. “Kamu selalu tahu cara meremukkan musuh-musuh kita dengan sangat anggun.”

Hendra memutar tubuh Aura agar menghadap sepenuhnya ke arahnya. Pria matang itu menatap bibir merah istrinya dengan binar rasa cinta dan gairah abadi yang tak pernah padam. Hendra menundukkan kepala, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, intim, dan penuh rasa memiliki.

Aura memejamkan matanya, merangkulkan kedua tangannya di leher tegap Hendra, membalas ciuman suaminya dengan seluruh kehangatan jiwanya.

Namun, di tengah kehangatan ciuman mesra mereka di kamar utama yang hening, ponsel pribadi Hendra yang tergeletak di atas meja nakas mendadak berdering nyaring. Panggilan darurat dari pos penjagaan sekolah internasional tempat putra mereka—Rendra—bersekolah tertera di layar.

Hendra menghentikan ciumannya pelan, mengusap bibir merah Aura sebelum meraih ponsel tersebut dan mengangkatnya.

“Selamat malam, Pak Hendra!” suara kepala keamanan sekolah Rendra terdengar sangat panik dan gemetar di balik telepon. “Mohon maaf mengganggu malam-malam... Kami baru saja memeriksa rekaman CCTV sekolah untuk kegiatan besok pagi... Seorang pria tidak dikenal bersetelan jas abu-abu baru saja tertangkap kamera mendaftarkan diri sebagai wali penjemput khusus atas nama Mas Rendra!”

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!