NovelToon NovelToon
Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Fantasi / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.

Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Suara derit engsel pintu yang bergeser pelan terdengar bagaikan dentang lonceng kematian di telinga Shania. Udara di dalam kamar tidur utama yang luas itu mendadak berubah drastis, menjadi begitu tipis dan berat hingga seolah menolak untuk dihirup oleh paru-parunya.

Martha, pelayan paruh baya yang masih berlutut di sampingnya, seketika membeku. Tubuh wanita tua itu bergetar ketakutan, bukan karena panik, melainkan karena rasa hormat yang teramat mutlak yang telah mendarah daging kepada pemilik mutlak kediaman ini. Martha buru-buru merangkak mundur, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya hampir menyentuh lantai marmer, tidak berani sedikit pun mengangkat pandangan.

Shania, yang masih terjebak dalam cengkeraman teror masa lalunya, mendongakkan kepala dengan gerakan kaku yang patah-patah.

Dari balik celah pintu yang terbuka lebar, sosok itu melangkah masuk.

Damian Valerius.

Sang Jenderal Agung Kekaisaran. Pria yang dalam novel digambarkan sebagai mimpi buruk bagi musuh-musuh kekaisaran, sekaligus algojo bermata es yang kelak akan mengeksekusi Aurelia dengan cara paling brutal.

Pria itu berdiri di ambang pintu dengan tinggi tubuh yang mendominasi ruangan. Damian mengenakan seragam militer hitam pekat berkerah tinggi yang disematkan lencana emas kebesaran marga Valerius. Mantel panjang berat berbulu serigala kelam tersampir di bahunya, membawa serta hembusan angin malam yang dingin dari luar kastil. Yang membuat darah Shania mendadak membeku bukan hanya aura intimidasi luar biasa yang dipancarkan oleh tubuh atletis itu, melainkan bau amis darah segar yang masih menguar samar dari sarung pedang dan jubah sang Jenderal—bukti nyata bahwa pria itu baru saja turun dari medan pertempuran berdarah sebelum memutuskan langsung kembali ke kediamannya.

Rambut perak kelamnya sedikit berantakan, membingkai wajah pahatan sempurna dengan rahang tegas yang mengeras. Sepasang mata setajam pedang bermata dua, berwarna abu-abu badai yang dingin, menyapu ruangan dengan tatapan sinis dan penuh perhitungan.

Damian menghentikan langkahnya tepat beberapa langkah di dalam kamar. Alis tebalnya sedikit berkerut. Seumur hidup pernikahannya dengan Aurelia—sebuah pernikahan politik yang dipaksakan oleh pihak istana—ia tidak pernah mendapati kamar ini dalam keadaan sunyi senyap saat kepulangannya.

Biasanya, pada detik pertama ia menginjakkan kaki di kediaman ini, Aurelia akan menyambutnya dengan lemparan vas bunga, jeritan histeris karena cemburu buta, atau makian kasar yang menuduhnya berselingkuh dengan para wanita bangsawan di ibu kota. Damian sudah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi drama kekanak-kanakan yang melelahkan itu. Ia bahkan sudah bersiap untuk mengabaikan istrinya dan langsung berjalan menuju ruang kerjanya.

Namun, pemandangan yang tersaji di hadapannya saat ini berhasil meredam langkah kakinya.

Aurelia—wanita arogan yang biasanya berdiri dengan dagu terangkat tinggi, mengenakan gaun paling mewah, dan menatapnya dengan kilat kebencian yang meluap-luap—kini tengah tersungkur di lantai dingin. Pakaian tidur sutranya kusut, rambut panjangnya berantakan menutupi bahu, dan tubuhnya meringkuk dalam keputusasaan yang tidak dibuat-buat.

Manik mata abu-abu Damian menyipit tajam. Ia mengamati setiap detail kecil dari tubuh yang bergetar hebat di hadapannya. Getaran itu nyata. Isakan napas yang tersengal-sengal, air mata yang membasahi pipi pucat itu, serta giginya yang berkerotok ketakutan hingga menghasilkan suara gemeretak yang halus di tengah keheningan kamar.

Sandiwara apa lagi ini? batin Damian dingin.

Sebagai komandan pasukan garis depan yang terbiasa menghadapi berbagai intrik licik kaum bangsawan dan tipu muslihat para mata-mata musuh, Damian tidak langsung mempercayai apa pun yang dilihat oleh matanya. Bagi seorang Jenderal yang hidup di atas tumpukan mayat, kepalsuan adalah senjata yang jauh lebih berbahaya daripada pedang beracun. Ia menduga ini adalah siasat baru Aurelia untuk menarik perhatiannya, sebuah bentuk manipulasi psikologis agar dirinya merasa bersalah karena mengabaikan sang istri selama berbulan-bulan di medan perang.

Namun, ada satu hal ganjil yang mengganggu analisis dingin Damian: mata itu.

Biasanya, kemarahan atau kebencianlah yang menyala di balik manik mata Aurelia setiap kali mereka bertatap muka. Tetapi hari ini, di dalam mata hijau terang milik wanita itu, tidak ada amarah. Yang ada hanyalah teror mutlak. Ketakutan yang begitu murni, seolah-olah ia baru saja melihat malaikat maut mencabut nyawanya sendiri. Ketakutan seorang mangsa yang berhadapan langsung dengan pemangsanya di ujung tanduk.

Di sisi lain, Shania merasa isi perutnya seperti diaduk-aduk oleh badai. Otaknya berteriak histeris, menyuruhnya segera bangkit dan melarikan diri, namun syaraf-syaraf di sekujur tubuhnya menolak untuk mendengarkan. Kaki lemasnya kehilangan seluruh kekuatannya.

Melihat sosok sang Jenderal berjalan semakin mendekat ke arahnya—langkah tegap sepatu lars militer yang menghantam lantai marmer menghasilkan suara ketukan berat yang berirama bagaikan detak jarum jam kematian—pertahanan terakhir Shania runtuh sepenuhnya.

Didorong oleh kepanikan yang mencapai puncaknya, Shania tidak lagi memedulikan harga diri, martabat, atau status kebangsawanan Aurelia Valerius. Ia meluncur dari posisinya, merangkak maju dengan putus asa di atas lantai marmer yang dingin, lalu menjatuhkan diri dalam sujud total di hadapan kaki sang Jenderal.

Dahi Shania menempel erat pada permukaan lantai yang membeku. Seluruh tubuhnya gemetar hebat hingga giginya terus berkerotok tanpa bisa dikendalikan. Tangannya yang dingin mencengkeram ujung mantel hitam Damian dengan cengkeraman putus asa, seolah-olah secarik kain itu adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai yang menenggelamkannya.

"Hamba mohon... ampunilah hamba, Yang Mulia..." suara Shania keluar dalam bisikan parau, pecah, dan bergetar hebat hingga nyaris tidak bisa dikenali. Air mata penyesalan dan ketakutan mengalir deras menetes ke atas sepatu lars hitam Damian. "Jangan bunuh hamba... hamba mohon, jangan penggal kepala hamba... Hamba tidak akan mengganggu Anda lagi... hamba akan pergi... hamba akan pergi jauh dari sini..."

Suara isak tangis yang tertahan itu terdengar begitu memilukan, memantul di dinding-dinding kamar yang megah. Shania benar-benar bersujud di bawah kaki pria yang dalam ingatannya adalah algojo pembunuhnya. Setiap helaan napasnya diiringi doa-doa putus asa agar nyawanya diampuni.

Martha yang masih bersujud di sudut ruangan membelalakkan mata tidak percaya. Nyonya besarnya... memohon ampun dengan cara yang begitu merendahkan diri di hadapan Tuan Jenderal? Ini adalah pemandangan paling tidak masuk akal yang pernah disaksikan oleh pelayan tua itu selama mengabdi di kediaman Valerius.

Damian berdiri mematung di tempatnya.

Alisnya semakin menaut dalam. Ia menatap ke bawah, memandangi sosok wanita yang kini bersujud di hadapannya dengan gestur penyerahan mutlak. Tidak ada jejak arogansi. Tidak ada kalimat makian. Yang ada hanyalah tubuh bergetar hebat dan permohonan ampun yang diulang-ulang dengan suara gemetar penuh teror.

Kata-kata "jangan penggal kepala hamba" bergema di kepala Damian, menyisakan tanda tanya besar yang mencurigakan. Dari mana wanita itu mendapatkan gagasan tentang pemenggalan kepala? Apakah ada seseorang di istana yang membisikkan ancaman terhadapnya selama ia pergi? Ataukah ini semua hanyalah teater murahan dari seorang wanita gila yang mencoba mempermainkan kewarasannya?

Rasa curiga yang pekat bergejolak di dalam dada Damian, berbenturan dengan kebingungan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya selama memimpin ribuan prajurit di medan perang.

Dengan gerakan lambat namun penuh otoritas mutlak, Damian membungkukkan sedikit tubuhnya. Tangan bersarung tangan kulit hitam miliknya terulur ke bawah. Jemari kekarnya mencengkeram dagu Shania secara paksa, memaksa kepala wanita itu untuk mendongak ke atas agar manik mata mereka saling bertumpu secara langsung.

Cengkeraman itu begitu kuat hingga membuat Shania terpekik tertahan. Dagunya terasa sakit, namun ia tidak berani melawan. Ia terpaksa memaksakan matanya yang basah oleh air mata untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata abu-abu badai milik Damian yang memancarkan dingin yang membekukan jiwa.

Pria itu mencondongkan wajahnya, mendekat hingga jarak di antara mereka terpangkas habis, dan membisikkan satu kalimat interogasi dengan suara rendah yang terdengar begitu mematikan di telinga Shania:

"Siapa yang memberitahumu tentang cara kematianmu, Aurelia?"

1
Murni Dewita
finish
Dian Utami
shania petakut thor harus nya pemberani
Ketoprak Encok: huhuhu.... makasih koreksinya kak
total 1 replies
Renjana
👣
mampir diceritaku juga ya😊
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
gantung thor
Murni Dewita
gantung thor double up donk
Ketoprak Encok: sip kak
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!