Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.
Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.
Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?
subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Zahra 2
Sepasang kelopak mata itu perlahan terbuka lebar. Zahra kini tersadar setelah tidur semalaman. Netranya memindai setiap sudut ruangan hingga berhenti pada kedua sosok yang sedang duduk di atas sajadah sambil berdebat yang entah apa yang sedang didebatkan.
Zahra melihat Umminya menangis, dan sang Abi yang berusaha untuk menjelaskan.
"Ummi," lirihnya. Hawa dan Adam langsung menoleh kepada Zahra.
Mereka berdua pun langsung menghampiri Zahra. Ummi Hawa mengusap air matanya lebih dulu sebelum berjalan.
"Abi, Umi ...."
"Biar Abi panggilkan Dokter." Abi Adam berlalu keluar untuk memanggil dokter yang menangani Zahra, karena sudah beberapa kali memencet bel mereka tidak juga datang.
Kini Zahra hanya ditemani umminya, tatapan gadis itu begitu nanar dan sayu. "Ummi ...."
"Iya sayang, Zahra butuh apa? Mau makan Nak?"
Zahra menggeleng pelan, lalu menatap Umminya sangat dalam. "Ummi maafin Zahra, maafin Zahra Ummi," ucapnya dengan pandangan kosong.
Punggung Hawa kembali bergetar. Digenggamnya tangan Zahra dengan erat, yang terus ia cium berkali-kali. Ummi Hawa masih takut jika Zahra akan mengulanginya lagi, mengulangi cara mengakhiri hidupnya.
"Zahra, jangan ulangi lagi, ya Nak? Jangan pernah ulangi lagi." Isak Hawa, Zahra ikut menangis.
"Ummi Zahra ...."
"Ummi tahu Nak, Ummi dan Abi sudah tahu."
Tangisan Zahra semakin pecah ketika kedua orangtuanya sudah tahu dirinya hamil. Hawa, terus menggenggam tangan putrinya, tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu. Kekecewaan Zahra semakin terlihat ketika ia meremas kuat kain sprei nya.
Selama ini Zahra hanya memendamnya sendiri, semua berawal ketika satu minggu yang lalu ketika Zahra merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Ia merasa selalu pusing juga mual tetapi obat lambung yang selama ini ia konsumsi tidak berpengaruh. Hingga pada akhirnya Zahra cemas, dan ia diam-diam membeli alat testpack kehamilan yang dibelinya secara online.
Alat testpack itu datang kemarin sore, Zahra langsung memakainya. Tidak membutuhkan waktu lama dua garis merah pun muncul pada benda tipis itu, membuat Zahra syok hingga ia tidak bisa berpikir. Zahra, tidak rela dalam rahimnya tertanam benih dari pria bejad itu.
Ya, dua bulan yang lalu kejadian naas menimpa dirinya. Seseorang melakukan itu padanya, merenggut kehormatannya dan masa depannya. Hingga, Zahra tidak ingin lagi hidup dan memilih mengakhirinya.
"Kenapa Ummi, kenapa Ummi nggak biarin Zahra mati saja. Zahra, sudah bikin malu Ummi percuma Zahra hidup Umi."
"Tidak, Nak, tidak. Kamu tidak boleh lakukan itu, ini ujian ... ini bukan kemauan mu Nak." Hawa sambil menggeleng.
"Lalu ini kemauan siapa Ummi? Kemauan Allah? Tapi kenapa, Zahra bahkan belum menikah kenapa dia menitipkan sesuatu dalam diri Zahra yang tidak akan pernah Zahra terima. Seharusnya dia tahu Zahra itu sakit Ummi, Zahra menderita, seharusnya dia itu menghukum orang yang sudah bikin Zahra hamil, bukan Zahra yang dihukum Ummi ..."
"Zahra tenang Nak."
"Zahra gak mau bayi ini Ummi, Zahra nggak mau!"
"Zahra!"
Zahra memukul perutnya dengan histeris. Beruntung dokter datang tepat waktu sehingga Zahra, disuntik kan obat penenang selang beberapa menit ia teriak, akhirnya setelah diberi obat itu Zahra sedikit tenang dan tidur kembali.
Hawa dan Adam terlihat sedih melihat keadaan putrinya yang sekarang. Mereka hanya bisa menangis tanpa melakukan apa-apa.
"Ummi akan beritahu Yusuf Abi, Mas Yusuf harus pulang dia harus tahu tentang Zahra."
Adam hanya bisa menyetujui. Yusuf adalah keluarganya, dan dia pun orang yang bertanggungjawab atas musibah yang Zahra terima, yang terjadi dua bulan yang lalu. Paman Zahra itu harus tahu apa yang terjadi pada keponakannya.
Keesokan paginya mereka pun datang.
Yusuf dan istri yang berada di Korea langsung terbang ke tanah air setelah mendengar kondisi Zahra malam itu. Karena bagaimanapun Yusuf sebagai pamannya merasa bersalah atas musibah yang menimpa keluarga adiknya.
Asma, mengganti pelukan suaminya untuk Hawa. Sementara Yusuf menghampiri Adam, yang hatinya seolah kuat padahal ingin sekali menangis.
“Bagaimana keputusan yang akan kamu ambil Adam? Cepat lambat kandungan Zahra akan membesar, kita harus segera menikahkan Zahra.”
“Tapi dengan siapa Mas?” sanggah Asma istrinya. “Tidak akan ada laki-laki yang mau menikahi wanita hamil, apa laki-laki lain mau bertanggungjawab sementara kita saja tidak tahu siapa yang menghamilinya.”
Yusuf membuang nafasnya kasar, sementara Adam ia hanya beristighfar sambil menatap nanar ke depan.
“Gugurkan saja kandungannya," celetuk Hawa. Tentu semua orang sangat terkejut mendengar keputusan Hawa.
“Istighfar, Hawa!” Tegur Asma pada kakak iparnya. Hanya itu yang terlintas dalam benak Hawa. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini, hanya itu jalan keluar satu-satunya agar orang-orang tidak mengolok-oloknya.
“Itu sama saja kita membunuh bayi yang tidak berdosa,” tutur Adam setelah sekian lama diam.
Hawa melirik Adam sinis. Lantas bicara “Lalu apa yang mau kamu lakukan Mas? Membiarkan Zahra melahirkannya? Orang-orang akan melihat perut putrimu membesar. Mereka akan membicarakan Zahra anak pemimpin pondok pesantren An-Nur hamil tanpa suami? Lalu apa yang akan kamu katakan Mas?"
Adam hanya diam.
"Kamu mau bilang jika Zahra hamil karena di perkosa? Apa mereka akan percaya."
Tidak ada yang bisa menjawab, sekalipun itu Asma, tidak ada yang dapat memberi jawaban atau saran karena tidak ada saran yang terbaik. Ini semua sudah takdir, tapi kenapa takdir itu yang terjadi kepada Zahra putri mereka.
Tiba-tiba Zahra tersadar, ia membuka matanya perlahan dan mendengar samar pembicaraan mereka. Setitik air matanya turun perlahan.
“Kita harus mencari laki-laki yang akan kita nikahkan dengan Zahra.” Zahra mendengar pamannya bicara.
“Tidak perlu dicari, bukankah Zahra sudah ada calonnya. Tinggal mempercepat pernikahannya saja," ungkap Abi Adam.
“Maksud Abi, Guz Azmi?" tanya Ummi. Tentu saja pertanyaan itu terdengar oleh Zahra.
Zahra langsung bangun dari tidurnya.
“Abi apa Abi akan menikahkan Zahra dengan Gus Azmi?”
Zahra menggeleng tidak percaya, bagaimana bisa laki-laki lain bertanggungjawab atas kehamilannya.
Gus Azmi, dia memang lelaki yang sudah mengkhitbahnya tapi Zahra putuskan sebulan yang lalu karena masalahnya. Zahra sengaja menghindari Azmi ia malu karena sudah menjadi wanita kotor. Tapi sekarang laki-laki itu akan dijadikan kambing hitam untuk menikahinya.
“Azmi sudah tahu apa yang terjadi kepadamu Nak, dia siap dan akan menerima janin yang ada dalam rahimmu. Azmi siap menjadi suami dan ayah untuk anakmu nanti Zahra.”
“Tidak Abi, Zahra tidak mau. Ini bukan anak Gus Azmi, Zahra tidak mau Abi!”
“Tapi kamu tidak punya pilihan lain Zahra, kamu harus menikah.”
Flashback Off
Dari sanalah semua berawal. Ingatan Zahra dari masa lalu mulai memudar, titik air matanya jatuh perlahan. Mungkin ... jika Abi Adam tidak memohon kepada Azmi dulu, Bu Maryam tidak akan datang sore itu ke rumahnya. Dan tidak akan pernah terlontar kata hina dari mulut Bu Maryam.
TBC ...
Maaf ya telat upload 🙏
jangan lupa like, komen, vote nya ya
Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.
jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏