Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepedulian Nyata Lingga 21.
Pintu kamar kayu berwarna putih itu terbuka dengan derit pelan.
Stella melangkah keluar dengan tubuh yang masih terasa lemas dan kepala yang berdenyut rileks.
Rambut panjangnya dikuncir asal, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah pucatnya.
Beberapa menit yang lalu, suara lengkingan Mama Giselle memecah keheningan rumah, berseru bahwa ada tamu yang datang menjenguk.
Stella mengira itu adalah Rara, sahabat dekatnya, atau mungkin berharapnya Gibran.
Namun, begitu kakinya mencapai anak tangga teratas dan matanya menangkap siluet seorang cowok di ruang tamu, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Mata sayu Stella bertemu dengan mata tajam Lingga. Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali, memastikan bahwa cowok pendiam yang berdiri di ruang tamunya bukanlah bagian dari halusinasi demamnya.
"Ling... ga?" bisik Stella. Suaranya serak, nyaris hilang.
Lingga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Stella lurus-lurus, mengunci pandangan gadis itu.
Di balik wajahnya yang tetap terlihat tenang dan misterius, ada bongkahan es di dalam dada Lingga yang mendadak mencair, digantikan oleh rasa hangat sekaligus perih yang luar biasa melihat kerapuhan gadis di depannya.
Lingga melangkah satu tapak lebih maju, merapatkan jemarinya pada kantong plastik tersembunyi di balik badannya. Namun urung setelah ada suara dari mamanya Stella.
"Eh, Stella. Sini duduk dulu," ujar Mama Giselle, menuntun Stella ke sofa ruang tengah. Yang di ikuti oleh Lingga dari belakang.
"Kebetulan ada Lingga disini, mama tinggal ke depan sebentar ya, mau ambil paket pos."
"Hm" Stella mengangguk kepala.
Mama Gisele menatap Lingga. "Nak tolong titip Stella dulu ya"
"Iya tante" Jawab Lingga dengan senyum sopan.
Setelah Mama beranjak, keheningan yang canggung langsung menyelimuti ruangan. Stella merapatkan kardigannya, sesekali terbatuk kecil. Ia menatap Lingga yang masih berdiri mematung tak jauh darinya.
"Lo... ngapain ke sini?" tanya Stella, suaranya parau dan agak bindeng.
Lingga tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan sebuah kantong plastik kecil berisi obat penurun panas di atas meja. Tatapannya tertuju lurus pada mata Stella yang sayu dan pipinya yang merona merah karena demam.
"Titipan dari wali kelas. Tugas biologi," jawab Lingga singkat. Nadanya datar, namun tidak terdengar kasar.
"Oh. Makasih," bisik Stella. Ia mengira Lingga akan langsung pamit setelah itu. Namun, cowok itu justru melirik jam tangan hitamnya, lalu menatap ke arah dapur.
"Sudah makan?" tanya Lingga lagi. Dua kata, padat.
Stella menggeleng lemah. "Belum nafsu. Mama baru mau masak tadi."
Lingga terdiam selama beberapa detik. Ia tampak menimbang sesuatu di kepalanya, sebelum akhirnya berbalik saat melihat Mama Giselle kembali masuk ke dalam rumah.
Lingga berjalan menghampiri wanita paruh baya itu dengan sopan. "Tante Giselle," sapanya sambil sedikit membungkuk. "Boleh saya izin pakai dapur sebentar?"
Mama Giselle agak terkejut, namun langsung tersenyum ramah. "Eh? Boleh, Lingga. Mau buat apa? Biar Tante bantu."
"Nggak usah, Tante. Mau buat bubur praktis saja untuk Stella. Tadi saya lihat ada di konter dapur," ucap Lingga. Kalimat panjang pertamanya hari ini.
"Oh, bubur instan kemasan itu? Boleh, boleh. Pakai saja kompornya ya, Nak. Panci kecil ada di rak bawah," sahut Mama Giselle dengan binar mata yang hangat. Beliau cukup takjub melihat seorang cowok remaja yang terkenal dingin di sekolah, justru berinisiatif turun ke dapur demi anak gadisnya.
Lingga mengangguk pelan lalu melangkah ke dapur terbuka yang menyatu dengan ruang tengah. Stella memperhatikan punggung tegap cowok itu dari sofa. Ada rasa tidak percaya yang menggelitik hatinya. Seorang Lingga, yang biasanya mengabaikan obrolan remeh di kelas, sekarang sedang menyalakan kompor gas di rumahnya.
Gerakan Lingga di dapur terlihat sangat efisien. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Ia merobek kemasan bubur, menuangkan air dengan takaran yang pas ke dalam panci kecil, dan mengaduknya perlahan. Gerakan tangannya saat memegang sendok kayu tampak telaten. Uap hangat mulai mengepul, membawa aroma gurih kaldu ayam ke seluruh ruangan. Di bawah redupnya lampu dapur, sisi misterius Lingga perlahan melunak, digantikan oleh aura ketenangan yang meneduhkan.
Sepuluh menit berlalu, Lingga berjalan kembali ke arah Stella sambil membawa semangkuk bubur hangat yang sudah dipindahkan ke mangkuk keramik, lengkap dengan segelas air putih.
"Ayo pindah ke kamar. Di sini dingin," ujar Lingga dingin tapi sarat akan perhatian.
Stella menurut tanpa protes. Energi tubuhnya terlalu menipis untuk berdebat. Mereka berdua berjalan naik ke lantai dua. Stella perlahan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, sementara Lingga menarik kursi belajar Stella untuk duduk di sisi tempat tidur.
Lingga meletakkan nampan di meja nakas. Ia mengambil mangkuk bubur, menyendoknya sedikit, lalu meniupnya dengan sabar hingga uap panasnya berkurang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengarahkan sendok itu ke depan bibir Stella.
Stella terpaku. Jantungnya mendadak berdegup sedikit lebih cepat, mengalahkan rasa lemas akibat demamnya. Mata elang Lingga yang biasanya menatap datar dan misterius, kini menatapnya dengan kelembutan yang sangat tersamar namun nyata.
"Buka mulutnya," ucap Lingga lirih.
Stella perlahan menerima suapan itu. Bubur instan yang biasanya terasa hambar di lidah orang sakit, entah mengapa terasa begitu pas saat ini. Lingga menyuapinya dengan penuh perasaan, sabar menunggu Stella mengunyah dan menelan sebelum menyendokkan suapan berikutnya. Tidak ada obrolan, tidak ada musik. Hanya ada suara helaan napas pelan dan denting sendok yang beradu dengan mangkuk.
Dalam diam itu, Stella merasakan sesuatu yang melesap masuk ke dalam dadanya. Kehangatan. Ini bukan sekadar kehangatan fisik dari bubur atau selimutnya, melainkan kehangatan emosi yang berbeda dari apa yang pernah ia rasakan sebelumnya. Di balik tembok tinggi dan kepasifan yang dibangun Lingga di sekolah, cowok ini memiliki sisi protektif yang begitu tulus. Tindakan nyata tanpa perlu banyak retorika.
Sementara itu, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Mama Giselle berdiri mematung. Beliau awalnya berniat mengantarkan buah potong, namun langkahnya terhenti melihat pemandangan di dalam.
Dari celah pintu, Mama Giselle memperhatikan bagaimana Lingga dengan telaten mengusap sudut bibir Stella yang terkena noda bubur menggunakan tisu, lalu memberikan segelas air hangat dengan sangat hati-hati.
Tatapan mata Lingga pada Stella memancarkan rasa tanggung jawab dan kasih sayang yang matang, jauh melampaui usianya yang masih remaja.
Mama Giselle tersenyum simpul, dadanya mendadak dipenuhi rasa tenang yang membuncah. Ada getaran tak kasat mata yang tertangkap oleh naluri keibuannya. Melihat kedekatan dan ketulusan itu, Mama Giselle merasa seperti sedang melihat sosok menantunya sendiri di masa depan—seorang pelindung yang bisa ia percayai sepenuhnya untuk menjaga Stella.
Mama Giselle perlahan mundur, membiarkan dua remaja itu larut dalam keheningan hangat yang mereka ciptakan sendiri.
......................
...****************...
Tbc,