NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:662
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Kos Bu Ratna

BAB 8

Suara jangkrik di sawah sebelah gang bersahut-sahutan, nyaring dan pantang menyerah, seperti orkes malam yang tidak dibayar lembur. Angin Desa Kertajaya membawa bau tanah basah bercampur bau gorengan sisa warung yang sudah tutup.

Di bawah lampu neon jalan yang berkedip-kedip malas hidup-mati-hidup-mati seperti lampu disko rusak tiga manusia berdiri mematung di depan gerbang besi berkarat milik kos Bu Ratna.

Raka, Bayu, dan Dimas.

Tiga pejuang hidup yang sudah kalah sebelum bertempur.

Raka menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya kering kerontang seperti keset sumur. Matanya menatap celah pintu pagar yang tidak dikunci rapat celah kecil yang menganga seperti mulut yang mengundang sekaligus mengancam lalu beralih menatap perempuan di sampingnya.

Perempuan bergaun ungu panjang yang menjuntai sampai hampir menyentuh tanah berdebu. Dagunya terangkat tinggi, punggung tegak, aura kebangsawanan memancar terang. Terlalu terang.

Terlalu bersih untuk berdiri di depan kos-kosan dengan cat tembok belang dan jemuran kolor yang melambai di atas.

Zahmira.

"Kenapa kalian berhenti?" tanya Zahmira dingin. Matanya melirik Raka, sebelah alisnya terangkat setinggi harapannya terhadap tempat ini. "Katanya tempat ini adalah tempat tinggal kalian sementara.

Kenapa sekarang malah terdiam seperti patung sawah? Apakah kalian berubah pikiran ingin tinggal di sawah saja?"

Bayu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, wajahnya menyeringai meringis. Keringat dingin sudah membasahi pelipisnya padahal belum masuk. "Begini, Mbak Zahmira... Tempat ini memang benar kos kami. Markas besar. Istana nomor empat. Tapi masalahnya... penguasa mutlak di sini bukan bangsa jin dari alam gaib. Beliau adalah manusia fana berdarah dingin bernama Bu Ratna."

Nama itu disebut seperti mantra terlarang.

Zahmira mengerutkan kening, tampak tidak peduli, bahkan sedikit terhina harus takut pada nama manusia. "Manusia fana? Kenapa aku harus takut pada manusia biasa? Di duniaku, manusia sejenis itu bahkan tidak layak dijadikan pengawal pintu gerbang istanaku. Paling mentok jadi pembersih debu singgasana."

"Wah, jangan sombong dulu, Mbak Putri," potong Dimas dengan nada datarnya yang khas, kedua tangan dilipat di dada. Wajahnya datar, tapi matanya sudah siaga level perang dunia ketiga. "Bu Ratna itu beda kasta. Senjata andalannya bukan pedang pusaka atau sihir pengendali angin puting beliung. Senjata beliau adalah catatan iuran bulanan yang dicatat di buku tulis sampul cokelat yang sudah buluk, pulpen yang tintanya seret, dan suara melengkingnya yang bisa merontokkan bulu domba dalam radius seratus meter. Sekali beliau teriak 'WOY ANAK KOS!', ayam tetangga bisa gagal bertelur seminggu."

Raka memejamkan mata sebentar. Membayangkan daster hijau lumut legendaris itu saja sudah membuat lututnya lemas.

Zahmira mendengus pelan, tatapannya menyapu bangunan kos berlantai dua yang tampak suram di balik gerbang. Cat dindingnya sudah mengelupas di sana-sini seperti kulit yang kena panu. Beberapa jemuran pakaian tampak tergantung sembarangan di lantai atas ada yang kaos kutang, ada yang handuk yang sudah berubah warna jadi abu-abu misterius. Dari lantai dua terdengar suara TV tetangga yang nonton sinetron dengan volume pol-polan.

"Tempat sekumuh ini dipimpin oleh perempuan pemilik tempat ini yang begitu kalian takuti? Sungguh tontonan yang menyedihkan," gumam Zahmira, bibirnya mengerucut menahan jijik. "Di alamku, kandang kuda pangeran saja lebih wangi dari ini."

"Bukan takut, Mbak, tapi cari aman. Strategi bertahan hidup," ralat Raka buru-buru menengahi, tangannya terangkat seperti mau menenangkan harimau.

"Dengar, kita harus masuk tanpa menarik perhatian siapa pun. Terutama Bu Ratna. Kalau beliau sampai melihat kita bertindak aneh misalnya kami bertiga tiba-tiba minggir seolah membukakan jalan untuk seseorang yang tidak kasat mata, ngomong sendiri, nunduk-nunduk hormat ke angin kosong beliau pasti langsung curiga. Curiganya bukan kita kesurupan, Mbak. Curiganya kita stres karena belum bayar kos tiga bulan. Bisa-bisa kita bertiga langsung diusir malam ini juga tanpa boleh bawa kasur. Tidur di pos ronda kita."

Zahmira melipat kedua tangannya di dada dengan anggun, tapi matanya menyala tidak suka. "Lalu, apa rencana cerdas kalian agar aku bisa masuk tanpa terdeteksi oleh wanita pemilik rumah itu? Apakah kalian ingin aku merayap seperti pencuri? Atau berguling seperti babi hutan?"

"Bukan merayap, Mbak. Tapi jalan ninja," bisik Bayu, tiba-tiba berubah serius memberikan instruksi layaknya komandan pasukan khusus yang hendak menyusup ke sarang musuh, padahal pasukan khusus kos ini cuma bermodal sandal jepit swallow. "Begini formasi-nya. Dimas di depan jadi penunjuk jalan, mata elang. Raka di samping kanan, pengawas kanan-kiri.

Dan Mbak Zahmira di tengah-tengah kita bertiga. Jadi kalau ada yang ngintip dari jendela, yang kelihatan cuma kita bertiga jalan dempet. Aman."

Zahmira menatap Bayu dengan tatapan jijik luar biasa, dari ujung rambut sampai ujung sandal jepitnya yang putus sebelah. "Aku, seorang putri bangsawan dari alam gaib, keturunan darah biru dari tujuh lapis langit, berjalan membungkuk di tempat kumuh ini demi menghindari seorang perempuan pemilik rumah? Harga diriku di mana?"

"Bukan menghindari, Mbak. Ini... adaptasi budaya lokal," timpal Raka, suaranya sudah memelas tingkat dewa. "Di sini namanya sopan santun kalau lewat depan rumah orang nunduk dikit. Anggap saja ini ritual penghormatan alam manusia. Tolong kerjasamanya sebentar saja. Besok pagi kita bisa cari cara lain setelah urusan perut dan cicilan kos agak longgar. Saya janji, besok saya belikan es teh."

Mendengar kata "perut", Zahmira melirik sekilas ke arah Bayu yang perutnya sempat berbunyi keroncongan sangat tidak sopan di rumah tua tadi. Bunyi kruuuuk yang panjang dan memilukan.

Tanpa memperpanjang perdebatan yang melelahkan dan menguras harga diri kebangsawanannya, Zahmira akhirnya mengibaskan tangan kanannya pelan tanda mengalah. Gerakannya tetap anggun, bahkan saat mengalah.

"Baiklah. Lakukan cara kalian yang memalukan itu. Tapi ingat satu hal," ujarnya tajam, menatap ujung gaun ungunya, "Jangan biarkan ujung gaunku menyentuh lantai yang kotor ini. Gaun ini ditenun dari benang sutra bayangan bulan. Kalau terkena debu kos kalian, aku akan mengutuk kalian jadi kodok sawah."

"Siap, Mbak. Kodok siap!" sahut Bayu cepat.

Raka menghela napas lega, napas yang tertahan sejak tadi. Perlahan-lahan, iya mendorong pintu gerbang besi itu terbuka selebar mungkin.

Kiiittt...

Suara derit besi berkarat menggema di malam yang sunyi. Melengking, panjang, menyayat hati. Seperti jeritan gerbang neraka yang minta di-oli.

Membuat jantung Raka, Bayu, dan Dimas berdegup kencang secara bersamaan. Dug! Dug! Dug!

Mereka menahan napas, mematung, menoleh serempak ke arah jendela kamar utama di dekat pos jaga tempat di mana Bu Ratna biasanya memantau gerak-gerik anak kos yang pulang lewat jam malam dengan mata elangnya dari balik gorden bunga-bunga.

Syukurlah. Lampu kamar Bu Ratna tampak padam. Gelap. Tidak ada tanda-tanda kemunculan daster hijau lumut legendaris miliknya yang kalau sudah muncul, aura mencekamnya bisa bikin sinyal HP hilang.

"Aman... aman... lampu mati," bisik Dimas, keringatnya sudah mengalir di pelipis.

"Jangan ngomong dulu. Jalan. Jalan cepat," bisik Raka.

Dengan langkah teramat hati-hati seperti maling ayam profesional, Dimas memimpin jalan masuk ke halaman kos. Kaki-kakinya jinjit. Diikuti oleh Zahmira di tengah yang meski disuruh nunduk, tetap jalan dengan anggun seperti model di catwalk lumpur serta Raka dan Bayu yang berjaga di sisi luar, sengaja memberi ruang kosong di tengah seolah-olah ada orang di antara mereka.

Lorong kosan yang remang-remang di terangi bohlam kuning 5 watt yang hampir mati itu terasa sangat panjang malam ini. Bau sabun colek, bau mie instan, dan bau kaos kaki basah bercampur menjadi parfum khas kos putra.

Mereka berhasil melewati tangga utama yang kayunya berderit setiap diinjak, dan berjalan merapat di dinding lantai dua menuju kamar nomor empat kamar sempit berukuran tiga kali tiga meter yang menjadi benteng pertahanan terakhir mereka bertiga. Satu-satunya tempat di dunia yang masih menerima mereka tanpa syarat.

Raka merogoh saku celananya dengan tangan sedikit bergetar, mengeluarkan kunci gembok kamar yang sudah berkarat, lalu memasukkannya ke lubang kunci secara perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik. Tangannya gemetar bukan karena takut hantu, tapi takut kunci jatuh dan membangunkan satu kos.

Ceklek.

Setelah putaran kecil yang mulus, pintu kayu kamar nomor empat pun terbuka lebar.

Bruk!

Begitu pintu terbuka, Bayu langsung melompat masuk paling duluan, menyalakan saklar lampu kamar yang langsung memancarkan cahaya putih agak silau dari bohlam neon murah 15 watt.

"Aman... Kita selamat malam ini," gumam Bayu lemas, langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur busa tipis di sudut ruangan yang sudah kempes di bagian tengah karena terlalu sering diduduki. Iya menatap langit-langit kamar yang dihiasi sarang laba-laba kecil dan cicak yang menatap balik dengan tatapan menghakimi.

Dimas menyusul masuk sambil menutup pintu kamar rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Ceklek dua kali. Iya meletakkan kunci di atas meja plastik kecil di dekat pintu, napasnya masih ngos-ngosan.

Zahmira melangkah masuk dengan anggun ke dalam kamar nomor empat tersebut. Selendang ungunya berkibar pelan meski tidak ada angin.

Iya berdiri di tengah ruangan, menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar dengan tatapan horor yang sulit disembunyikan. Lebih horor dari melihat medan perang.

Matanya menatap kasur busa tipis milik Bayu yang seprainya sudah tidak jelas motif awalnya, tumpukan kertas lamaran kerja yang ditolak serta lembar catatan buruh harian milik Raka yang berserakan di atas meja dengan coretan angka-angka menyedihkan, serta gantungan baju di balik pintu yang dipenuhi kaus oblong pudar dan jaket kusam milik mereka bertiga yang aromanya... ah, sudahlah.

"Jadi..." suara Zahmira terdengar pelan namun menusuk, memecah keheningan kamar sempit itu yang hanya ditemani dengung kipas angin kecil yang sudah miring. "Inilah tempat kalian bertahan hidup? Sebuah kotak sempit yang bau apak dan penuh dengan kain-kain buruk? Di mana singgasanaku? Di mana dayang-dayangku?"

Raka hanya bisa tersenyum kecut, menyandarkan punggungnya di daun pintu yang catnya sudah mengelupas. Senyum pasrah seorang anak kos yang sudah tidak punya harga diri lagi untuk diperjuangkan.

"Selamat datang di istana nomor empat, Mbak Zahmira," katanya lirih. "Anggap saja rumah sendiri meskipun agak sempit, nggak ada pelayan yang bawain teh hangat, dan AC-nya cuma kipas angin yang kalau dipencet nomor tiga malah bergetar seperti mau lepas landas. Tapi di sini, kita aman dari Bu Ratna. Untuk malam ini."

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!