Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Sementara matahari sore memandikan sudut-sudut kota asal dengan kehangatan dan kebebasan yang dirasakan Aurora, seribu kilometer di utara di balik dinding beton sebuah benteng tua di negara sebelah udara terasa sangat dingin, pekat, dan amis.
Aroma tembaga membanjiri lorong-lorong sempit basemen benteng tersebut. Suara tembakan tunggal berkaliber besar bergetar hebat, memantul di dinding batu yang lembap dan disusul oleh dentang selongsong peluru yang jatuh ke lantai teraso.
Gabriel berdiri di tengah ruangan remang-remang, merendahkan moncong senjatanya yang masih mengepulkan asap tipis. Di hadapannya, tubuh pemimpin faksi pemberontak negara tetangga pria yang dulu pernah bersumpah setia pada dinasti Moretti terkulai kaku dalam genangan darahnya sendiri.
Dua belas orang petinggi kelompok pengkhianat itu telah dieksekusi satu per satu dalam kurun waktu tiga jam terakhir. Pembantaian itu berlangsung tanpa ampun, tanpa proses peradilan, dan tanpa sedikit pun ruang untuk negosiasi. Gabriel Moretti kembali ke wujud aslinya: iblis pemangsa yang tak mengenal batas belas kasihan saat takhta dan jalur bisnis internasionalnya diusik.
"Bereskan tempat ini," perintah Gabriel dingin seraya menyerahkan senjatanya yang panas kepada Marco.
Ia menyapu noda darah yang menciprat ke kerah kemeja hitamnya dengan ujung jemari yang santai, seolah-olah baru saja menyelesaikan tugas administratif biasa.
"Tuan," Marco melangkah mendekat dengan nada rendah, melirik ke arah sudut ruangan yang tertutup pintu besi tebal. "Anak gadis dari pemimpin pengkhianat ini... sesuai dengan tradisi hukum lama dunia bawah di wilayah utara, dia telah diamankan. Pasukan kita menangkapnya saat mencoba melarikan diri ke perbatasan."
Gabriel menghentikan langkahnya. Mata hitamnya yang segelap malam berkedip pelan, memancarkan kilatan kebuasan yang belum sepenuhnya padam oleh darah para korban malam ini.
Hukum lama dunia bawah di wilayah utara memang kejam: keluarga pengkhianat yang kalah harus menyerahkan seluruh harta dan keturunannya kepada sang penakluk. Gadis itu seorang anak dari penguasa mafia lokal yang dibantainya kini menjadi bagian dari harta rampasan perang.
"Bawa dia ke mansion pribadi di distrik atas," ucap Gabriel datar tanpa ada riak emosi. "Aku yang akan menanganinya sendiri."
---
Mansion megah bergaya arsitektur klasik di distrik atas negara tetangga itu kini menjadi markas rahasia sekaligus tempat peristirahatan Gabriel selama mengeksekusi operasi internasional ini.
Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari ketika Gabriel melangkah masuk ke dalam kamar utama yang berukuran luas. Di tengah peraduan yang dilapisi selimut beludru gelap, seorang gadis muda duduk gemetar. Ketakutan terpancar jelas dari matanya yang sembap; pakaian mewahnya koyak di beberapa bagian, dan gelang besi perak memborgol salah satu pergelangan tangannya ke tiang tempat tidur.
Gadis itu adalah putri tunggal dari raja mafia yang baru saja dieksekusi oleh Gabriel beberapa jam lalu.
Gabriel melangkah mendekat tanpa suara, melepaskan jas hitamnya dan melemparkannya ke atas sofa kulit. Matanya menyapu tubuh gadis itu dengan pandangan dingin, menilai dan meneliti barang rampasan barunya tanpa sedikit pun kehangatan yang pernah ia tunjukkan pada Aurora di puri utama.
Bagi Gabriel, gadis ini bukanlah seseorang yang memiliki tempat khusus di hatinya. Gadis ini adalah simbol penaklukan mutlak sebuah mainan baru yang hadir untuk memuaskan hasrat dan naluri dominasinya di tanah asing ini. Kelembutan yang sempat ia pelajari dan curahkan kepada Aurora seolah tak pernah ada di tempat ini. Di sini, di bawah naungan pertempuran utara, Gabriel tetaplah penjahat kelam yang bertindak sesuka hatinya.
Gadis itu mencoba mundur ketakutan saat Gabriel duduk di tepi tempat tidur, namun cengkeraman tangan kokoh Gabriel di rahangnya menghentikan semua perlawanan.
"Jangan menangis," bisik Gabriel dengan suara berbariton rendah yang mematikan, menatap lurus ke mata gadis yang gemetar itu. "Ayahmu menjual jiwanya saat mengkhianatiku. Dan kau... kau adalah harga yang harus dibayar untuk dosanya."
Malam itu, di dalam mansion mewah di negara sebelah, Gabriel meluapkan seluruh dorongan keliaran dan hasratnya tanpa hambatan. Ia menjadikan putri sang pengkhianat sebagai selir barunya di tanah asing tersebut sebuah mainan baru yang ia gunakan untuk melampiaskan hasrat fisik dan dominasinya di tengah malam-malam berdarah perang mafia.
Ia memperlakukan mainan barunya itu sesuai selera dan kehendaknya, menikmati sensasi penaklukan atas darah keturunan musuhnya. Tidak ada bisikan maaf, tidak ada perlakuan lembut seperti yang pernah ia berikan pada Aurora saat fajar menyingsing di puri asal. Di tempat ini, ia sepenuhnya menjadi penguasa yang memuaskan nafsunya tanpa rasa bersalah.
Dan semua ini... berlangsung sepenuhnya di luar pengetahuan Aurora.
---
Tiga minggu berlalu sejak Gabriel menginjakkan kaki di negara tetangga.
Rencana awal yang tadinya hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk penumpasan musuh, kini disengaja diperpanjang oleh Gabriel. Urusan diplomasi darah dan pengambilalihan aset memang rumit, tetapi alasan sebenarnya dari lamanya ia berada di sana adalah keberadaan mainan barunya yang memberi kepuasan tersendiri baginya di kala malam tiba.
Gabriel menikmati kehidupannya ganda ini. Di satu sisi, ia menyukai dinamika kekuasaan baru di negara tetangga ini; di sisi lain, ia memiliki selir rampasan yang bisa ia gunakan kapan saja tanpa perlu khawatir akan batasan emosional.
Namun, keterikatannya pada Aurora tidak pernah hilang sepenuhnya. Wataknya yang gila akan kontrol dan rasa memiliki tetap membuatnya menjalankan ritual malamnya tanpa terlewat satu hari pun.
Tepat pukul sembilan malam, Gabriel duduk di kursi kerja mahoni di mansion utara. Kemeja mewahnya sedikit terbuka, dan dari celah pintu kamar yang sedikit renggang, bayangan gadis selir barunya yang terbaring lelah di atas peraduan masih terlihat jelas.
Gabriel menyulut sebuah cerutu tebal, membiarkan asap abu-abu membubung ke udara sebelum meraih ponsel khususnya. Ia menekan tombol panggilan internasional menuju puri di negara asalnya.
Panggilan terhubung pada dering kedua.
"Halo... Gabriel?" suara Aurora mengalun lembut melalui speaker. Nada suaranya kini jauh berbeda dari dulu ada kehangatan dan sedikit rasa cemas yang tak bisa disembunyikan oleh wanita itu.
Gabriel memejamkan mata, menyesap cerutunya dalam-dalam seraya bersandar di kursi kulitnya. Wajah dinginnya mengukir senyum tipis sebuah senyuman manipulatif dari seorang penjahat kawakan yang pandai menyimpan rahasia kelamnya.
"Bagaimana harimu hari ini, Cara mia?" tanya Gabriel dengan nada suara yang sengaja diatur begitu hangat, penuh perhatian, dan sarat akan kerinduan palsu.
"Hari ini aku mengunjungi museum seni di pusat kota," jawab Aurora pelan di ujung telepon. "Kota di sini sangat indah... Tapi bagaimana dengan keadaanmu di sana? Suara tembakan yang kudengar kemarin... apakah situasi di sana masih berbahaya?"
Gabriel terkekeh pelan, sebuah suara tawa rendah yang menenangkan. "Situasi di sini cukup rumit, Aurora. Musuh-musuh di perbatasan utara ternyata lebih keras kepala dari perkiraanku. Aku harus menyelesaikan pembersihan jaringan ini sampai ke akar-akarnya agar mereka tidak pernah bisa menyentuhmu."
"Apakah... apakah kau akan lama di sana?" tanya Aurora lagi, ada jeda samar yang menunjukkan keraguan sekaligus kepedulian yang mulai tumbuh di hatinya untuk pria itu.
"Mungkin sedikit lebih lama dari rencanaku, Cara mia," jawab Gabriel tenang, matanya melirik dingin ke arah pintu kamar tempat selir barunya berada. "Urusan di sini menuntut kehadiranku. Tapi jangan khawatirkan aku. Nikmatilah kebebasanmu di sana. Belilah apa pun yang kau inginkan."
"Baiklah... jaga dirimu di sana, Gabriel," bisik Aurora sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.
Gabriel menurunkan ponsel dari telinganya, menatap layar hitam yang mati itu dengan pandangan datar. Tidak ada rasa penyesalan atau rasa bersalah yang melintasi benaknya. Bagi seorang pria yang dibesarkan di dalam dunia mafia yang licik dan berdarah, pemisahan antara rasa memiliki pada Aurora dan pemuasan nafsu pada mainan barunya adalah hal yang wajar.
Ia menaruh ponselnya di atas meja, berdiri dari kursi kerjanya, dan melangkah kembali ke dalam kamar utama untuk menghabiskan malamnya bersama selir rampasannya.
Di kota asal, Aurora mungkin mulai membuka hatinya dan memercayai kelembutan palsu sang iblis seraya menikmati kebebasan di sangkar emasnya. Namun wanita itu sama sekali tidak menyadari bahwa di seberang perbatasan, Gabriel Moretti masihlah iblis yang sama pria berhati dingin yang sedang menikmati permainan barunya di dalam kegelapan yang tak tersentuh oleh kebenaran.