Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Perjanjian Darah Leluhur
Tangan Malik masih menggenggam tanganku.
Cahaya putih dari kitab kulit kayu yang masuk ke dadaku tadi masih terasa panas. Bukan panas membakar, tapi panas seperti habis minum jamu beras kencur yang sangat kuat. Seluruh tubuhku bergetar.
"Arga, tahan," bisik Malik, matanya yang coklat teduh kini berubah jadi putih bercahaya. "Perjanjiannya belum selesai. Tadi baru sumpah lisan. Sekarang perjanjian darahnya..."ucap Malik.
Keluarga Kiai Jirji yang tadi redup, sekarang sujud semua di sekeliling kami. Mereka tidak berani menatap kitab itu.
Malik membuka kembali jubahnya. Kali ini dia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil, ukurannya sebesar kotak cincin, tapi sangat tua. Kayunya hitam, diukir dengan aksara Jawa Kuno dan Arab Pegon.
"Saya tunggu momen ini 40 tahun, Arga. Sejak Mbah Suro, kakekmu, berjanji padaku di tahun 1984," kata Malik dengan suara bergetar.
Dia buka kotaknya.
Di dalamnya ada 3 benda:
Sebuah pisau kecil dari bambu runcing, ujungnya masih ada noda darah kering kecoklatan.
Selembar daun lontar kering yang sudah menguning, bertuliskan tangan dengan tinta hitam yang aneh, bukan tinta biasa, tapi seperti tinta yang bergerak-gerak sendiri.
Sebuah mangkuk kecil dari tempurung kelapa berisi air bening yang berkilauan seperti ada bintang-bintang di dalamnya.
"Apa itu?" tanyaku, suaraku hampir hilang.
Malik mengambil daun lontar itu dan menyerahkannya padaku.
Aku baca. Tulisan Pegon Jawa, tapi aku bisa mengerti karena setelah minum teh melati tadi, aku seperti bisa mengerti bahasa apa saja di kampung ini.
Isinya:
"Dengan Nama Allah Yang Maha Gaib"
Saya, Suro bin Joyo, manusia penjaga Dusun Krajan, berjanji pada hari Jumat Kliwon Suro 1984: Saya dan darah keturunan saya, laki-laki tertua, akan menjadi JEMBATAN. Menjadi kunci yang mengunci Gerbang Beringin Kembar agar Jin Kafir Banaspati dan pasukannya tidak keluar dari Alas Purwo ke dunia manusia."
"Sebagai gantinya, Malik bin Alwi dan seluruh Jin Islam Alas Purwo berjanji akan menjaga rumah, sawah, anak, dan istri keluarga saya dari kelaparan, sakit, dan gangguan Jin Kafir..."
"Jika janji ini dilanggar oleh manusia, maka Jin Islam berhak meninggalkan kampung dan kampung akan tenggelam menjadi bagian dari Alas..."
"Jika janji ini dilanggar oleh Jin Islam, maka manusia berhak membakar Pohon Beringin dan mengusir kami..."
"Perjanjian ini diikat dengan darah..."
Cap Jempol Darah: "Suro"
Di bawah tulisan itu ada cap jempol berwarna hitam kecoklatan, cap jempol darah milik kakekku yang sudah kering 40 tahun yang lalu.
"40 tahun lalu, kakekmu potong jempolnya sedikit dengan pisau bambu ini dan cap di sini," jelas Malik. "Sekarang giliranmu, Arga. Darah penjaga harus diperbarui setiap generasi. Kalau tidak, segel di Beringin Kembar akan pecah total. Dan tadi malam kamu lihat sendiri, segelnya sudah retak. Anak-anak bermata hitam itu keluar dari retakan itu..."ucap Malik.
Aku menatap pisau bambu itu. Tanganku gemetar hebat. Aku anak kota yang takut lihat darah. Disuruh potong jari sendiri? batinku.
"Harus pakai darah, Ustadz? Tidak bisa pakai tanda tangan biasa? tanyaku.
Malik menggeleng pelan tapi tegas. "Jin tidak kenal tanda tangan pulpen, Arga. Jin hanya kenal darah. Karena darah adalah nyawa. Dan perjanjian dengan Jin adalah perjanjian nyawa. Kalau kamu berani kasih darahmu, artinya kamu berani kasih nyawamu untuk kampung ini. Banaspati juga tahu itu. Makanya dia takut sama darah penjaga...."jawab Malik.
Kiai Jirji di sudut ruangan berbisik, "Tuan Arga, kami keluarga Jin Islam juga diikat dengan perjanjian yang sama. Leluhur kami juga cap darah di alam kami. Kami tidak bisa bohong...."ucap Kiai Jirji.
Aku pejamkan mata. Aku ingat wajah kakek di foto. Wajah ibu yang meninggal aneh 10 tahun lalu, katanya sakit jantung padahal sehat. Wajah Pak Min, Bu Lastri, rantang-rantang yang kembali dengan tulisan "BERTAHANLAH".
Kalau aku tidak lakukan ini, mereka semua mati.
Aku ambil pisau bambu itu. Kayunya dingin, tapi ujungnya tajam.
"Ajari saya, Ustadz... "ucapku.
Malik memegang mangkuk air bintang itu dan meletakkannya di bawah tanganku. "Tusuk ujung jari telunjuk kiri, cukup setetes saja. Teteskan ke air ini. Air ini namanya Banyu Suci, air dari sumur zam-zam ghaib di bawah masjid tua. Kalau darah penjaga asli, airnya akan menyala putih. Kalau bukan, airnya akan jadi hitam dan kamu akan ditolak...."ucap Malik lagi.
Aku tarik napas panjang dan tahan.
Creet...
Ujung bambu itu menusuk kulit telunjukku. Perihnya bukan main, lebih perih dari di suntik. Darah merah segar keluar, setetes, dua tetes.
Tetes... tetes...
Darahku jatuh ke dalam mangkuk Banyu Suci.
Satu detik hening.
Lalu...
BLARRR!
Air di mangkuk itu meledakkan cahaya putih sangat terang, sampai seluruh rumah yang tadinya remang-remang jadi seperti siang hari. Cahaya itu naik ke langit-langit, membentuk pusaran, dan dari pusaran itu terdengar suara azan dari ratusan Jin Islam di seluruh Alas Purwo.
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Pasukan Jin Islam di atap-atap rumah warga yang aku lihat tadi dengan mata baruku, semua sujud ke arah rumahku.
Air itu menyala putih!
"Darah penjaga asli!" teriak Kiai Jirji dengan tangis bahagia. "Darah Suro! Tuan Arga memang cucunya!"
Malik menangis. Air matanya bercahaya. "40 tahun saya tunggu, Suro... akhirnya cucumu pulang..."ucap Malik.
Malik mengambil jari darahku dan mencapkannya di bawah cap jempol kakekku, di daun lontar itu.
Begitu darahku menyentuh daun lontar, tulisan di daun lontar yang tadinya diam, bergerak-gerak seperti cacing, lalu membentuk nama baru di bawah nama kakekku:
"Arga bin Suro - Jumat Kliwon Suro 2026"
Daun lontar itu kemudian terbakar sendiri, tapi apinya putih, tidak panas. Abunya tidak jatuh, tapi masuk lagi ke dalam mangkuk Banyu Suci, bercampur dengan darahku.
"Minum," kata Malik, menyodorkan mangkuk itu padaku.
"Apa? Minum darah saya sendiri? tanyaku.
"Minum perjanjiannya. Setelah ini kamu resmi jadi Jembatan. Kamu akan bisa buka tutup gerbang dengan doa. Tapi kamu juga tidak akan bisa keluar dari Krajan selama 41 hari...."jawab Malik.
Aku minum. Rasanya... aneh. Tidak seperti darah. Rasanya seperti air hujan, dingin, manis, dan setelah aku telan, seluruh tubuhku seperti kesetrum.
Mataku mendelik. Telingaku berdenging keras.
Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar sesuatu yang tidak pernah aku dengar seumur hidupku.
Aku mendengar Pohon Beringin Kembar di ujung dusun menangis.
Bukan suara angin. Tapi suara tangisan. Pohon itu memanggilku. "Penjaga... Penjaga... segelku retak... tutup aku..."
Aku juga mendengar, dari arah Alas Purwo, suara raungan Banaspati yang sangat marah karena tahu perjanjian sudah diperbarui.
"ARGA!!! DARAH HARAM! KAMU AKAN MATI SEPERTI IBUMU!!!"
Rumahku bergetar hebat. Foto kakek jatuh.
Malik langsung memelukku dan membaca ayat yang sangat panjang. Cahaya putih dari tubuhnya menyelimuti aku.
"Tidak apa-apa, Arga. Sekarang kamu sudah resmi. Kamu bukan lagi manusia biasa. Kamu adalah Penjaga Kampung Jin. Perjanjian darah leluhur sudah hidup lagi di tubuhmu... "ucap Malik.
Aku melihat telunjukku. Luka tusukan bambu itu sudah hilang, tertutup, hanya menyisakan bekas titik putih kecil yang bercahaya kalau gelap.
Di luar, 20 anak bermata hitam yang tadi duduk di halaman menjerit bersamaan karena mereka tahu, mulai malam ini, mereka tidak akan pernah bisa masuk ke rumahku lagi tanpa terbakar.
Perjanjian itu selesai.
Tapi Malik berbisik di telingaku dengan suara sangat pelan, suara yang hanya aku yang dengar:
"Arga, ada satu hal yang tidak ditulis di perjanjian itu... Rahasia kematian ibumu... Ibumu juga pernah minum Banyu Suci ini... dan dia menolak jadi penjaga..."ucap Malik.
Aku membeku.