Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : KANDANG SINGA
Aroma karat dan lembap menyergap indra penciuman begitu pintu gudang pelabuhan utara itu terbuka selebar dua inci. Chen menarik napas pendek, menahan getaran di ujung jemarinya yang tersembunyi di balik saku jaket.
Di luar sana, angin malam Kota Yucheng berembus liar, membawa deru ombak Pelabuhan Utara yang menghantam dinding dermaga beton tanpa henti. Udara terasa berat, dipenuhi sisa-sisa mesiu dan ketegangan yang mengambang di kegelapan. Chen tahu betul di mana ia berada sekarang—sebuah kandang singa tempat Vane dan faksi konservatif menunggu untuk mengoyaknya hidup-hidup tanpa belas kasihan.
Namun, rasa takut itu ditekan jauh-jauh ke dasar hatinya, digantikan oleh dinginnya logika yang bekerja cepat di balik kepala. Ingatan fotografisnya berputar ulang, merekam setiap detail denah gudang yang sempat ia lihat dari fail digital di The Crown Tower. Di ruangan utama tempat ia disekap, terdapat dua jalur ventilasi udara di atas dinding barat dan satu pintu darurat berantai di sisi selatan yang tidak tersambung dengan sistem pengamanan utama.
"Jangan bergerak terlalu jauh dari jangkauanku," bisik sebuah suara berat di sampingnya, memecah keheningan yang mencekam.
Shen Mo berdiri separuh langkah di depannya; tubuh tegap pria itu menjadi perisai hidup yang menutupi separuh tubuh Chen dari arah koridor gelap. Mata tajam Shen Mo menyusur setiap sudut ruangan dengan kewaspadaan tingkat tinggi, jemarinya tidak pernah lepas dari gagang senjata di balik mantel panjangnya.
"Aku tidak butuh pengasuh, Shen Mo," balas Chen tanpa menoleh, meski dadanya bergemuruh merasakan kehangatan perlindungan yang selama ini dirahasiakan pria itu selama tujuh tahun.
"Kau bukan sedang diasuh, Chen. Kau sedang diselamatkan," tukas Shen Mo dingin; sudut bibirnya terangkat tipis. "Dan di tempat ini, aturan mainnya kukendalikan sepenuhnya."
Suara langkah kaki berat mendadak menggema dari ujung lorong. Tiga orang anak buah Vane muncul dari balik bayang-bayang, mengenakan jaket taktis hitam dengan lencana simbol faksi konservatif di dada kiri mereka. Salah seorang dari mereka, pria berparut di pipi kanan bernama Rian, tertawa sinis sambil memainkan belati lipat di telapak tangannya.
"Ternyata sang raja bawah tanah benar-benar datang sendiri untuk menyerahkan nyawanya," ejek Rian, langkahnya terhenti sepuluh meter dari mereka. "Dan membawa serta anak kecil ingusan yang sudah mengacaukan seluruh sistem keuangan kita."
Chen tidak membuang waktu untuk membalas provokasi murahan itu. Matanya langsung memindai gestur tubuh Rian—cara berdirinya sedikit timpang ke kiri, menandakan cedera lama di lutut, sementara pengawal di sebelah kanannya memegang senjata dengan cengkeraman yang terlalu longgar.
Tanpa aba-aba, Shen Mo melesat maju bagaikan bayangan hitam. Dalam satu detik, kepalan tangan bersarung kulit milik Shen Mo telah menghantam rahang pengawal pertama hingga tubuh pria itu terpental membentur tumpukan peti kemas kayu.
"Habisi mereka!" teriak Rian panik.
Pengawal kedua mencoba mengangkat laras senjatanya, namun Chen bergerak lebih cepat. Mengandalkan postur tubuhnya yang kecil, Chen merunduk, lalu meluncurkan tendangan akurat tepat ke arah lutut kiri Rian yang memang sudah rapuh.
Bugh!
Rian menjerit tertahan; tubuhnya tersungkur ke lantai semen yang dingin. Belati di tangannya terlepas, berdering nyaring saat membentur beton. Ujung sepatu bot Shen Mo sudah menginjak pergelangan tangannya dengan tekanan penuh.
"Di mana fail arsip ayahku?" suara Shen Mo merendah, dingin, dan penuh ancaman.
"Kau... kau tidak akan pernah menemukannya," desis Rian, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. "X... orang itu sudah memindahkan semuanya ke tempat yang tidak bisa disentuh oleh kekuasaanmu, Shen Mo!"
Mendengar nama "X", otot-otot di leher Shen Mo mengeras. Nama itu adalah duri dalam daging yang telah menghancurkan masa lalu mereka semua.
"Siapa X?" bentak Shen Mo.
Sebelum Rian sempat menjawab, sebuah suara tembakan memecah udara gudang.
Dor!
Peluru menembus dinding seng di atas kepala mereka. Dari kegelapan pintu utara, selusin orang bersenjata lengkap muncul mengepung. Lampu sorot besar menyala tiba-tiba, mengubah ruangan remang-remang itu menjadi arena eksekusi.
"Penyergapan," geram Shen Mo. Ia menarik lengan Chen merapat ke balik pilar beton tebal. Desing peluru menghantam dinding semen, menciptakan percikan api.
Chen tidak panik. Otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. Matanya menangkap panel kontrol listrik utama di sudut timur laut—sistem lama yang masih manual.
"Shen Mo! Panel listrik di sudut timur laut! Putuskan sekring utamanya sekarang juga!" teriak Chen di tengah desing peluru.
Tanpa ragu, Shen Mo menarik pelatuk, melepaskan tiga tembakan beruntun untuk melumpuhkan penembak jitu di atas balkon, lalu memberondongkan peluru ke arah panel listrik yang ditunjuk Chen.
Bum!
Percikan api biru menyembur hebat. Seluruh lampu sorot mati total. Kegelapan pekat menyelimuti ruangan, diiringi teriakan kebingungan musuh.
"Pegang tanganku," suara Shen Mo terdengar dekat di dalam gelap, menggenggam jemari kecil Chen dengan erat.
Mereka menyusup ke dalam lorong rahasia, meninggalkan musuh yang panik di belakang. Napas Chen memburu saat mereka berhasil keluar melalui celah ventilasi sempit menuju dermaga belakang yang dingin. Angin laut malam berembus kencang.
Shen Mo menghentikan langkahnya sejenak sebelum ponsel satelit di saku mantelnya bergetar keras.
Sebuah pesan singkat masuk, menampilkan deretan koordinat GPS dan satu kalimat pendek yang membuat darah Shen Mo membeku seketika:
Kalian terlambat, permainan baru saja dimulai di lantai paling atas The Crown Tower.