Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2 : Pintu Yang Bernapas
Pintu itu terbuka sedikit.
Celahnya hanya sekitar 15 senti, tapi dari celah itu keluar hawa dingin yang tidak wajar. Padahal di luar, di hutan, udaranya lembab dan pengap. Dari dalam pintu ini, udaranya dingin seperti AC, dan bau tanah basah yang sudah lama tidak kena matahari.
"Elina..."
Bisikan itu lagi. Kali ini lebih jelas. Suara Kak Dion. Padahal Kak Dion ada di pos 3 di atas bukit, jaraknya hampir 2 kilometer dari sini.
Elina yang jatuh dan tangannya menyentuh pintu langsung menarik tangannya. Telapak tangannya kotor, tapi bukan kotor tanah. Ada lendir tipis berwarna hitam kecoklatan yang menempel.
"Jangan disentuh!" Arga langsung menarik Elina mundur. Sebagai anak Mapala, dia langsung sadar ada yang salah dengan kompasnya.
"Kompas gue muter terus dari tadi! Kita salah jalur! Ini bukan jalur pos 4!"
Bima yang dari tadi sok berani, sekarang diem. Dia melihat sekeliling. Pita kuning yang seharusnya jadi penanda jalur, tidak ada sama sekali. Jalan setapak yang mereka lewati tadi, yang harusnya tanah keras bekas injakan peserta lain, sekarang tertutup akar-akar kecil yang masih basah, seperti baru tumbuh beberapa menit lalu.
"Kita balik aja. Balik ke pos 3," kata Maira, suaranya mulai gemetar tapi masih berusaha tenang.
Mereka berlima berbalik.
Dan jalan yang tadi mereka lewati... hilang.
Di belakang mereka bukan lagi jalan menurun yang tadi mereka turuni. Di belakang mereka adalah dinding pohon. Pohon-pohon berbatang hitam dengan daun lebar yang rapat sekali, tumbuh merapat seperti pagar. Tidak ada celah untuk lewat.
"GILANG! LO INJEK APA TADI?!" Bima panik, menatap Gilang yang ada di paling belakang.
Gilang pucat. "Gue... gue nggak nginjek apa-apa... gue cuma denger ada yang manggil nama gue dari kiri... gue noleh..."
Arga langsung paham. "Bapak penjaga pos bilang apa? KALAU DENGER YANG MANGGIL NAMA JANGAN DITOLEH! LO NOLEH YA?!"
Gilang mengangguk pelan.
Saat Gilang menoleh ke arah yang memanggil namanya, dia sudah melanggar aturan pertama hutan larangan. Dan hutan itu merespon. Jalan pulang ditutup.
Satu-satunya jalan yang terbuka sekarang hanya pintu kayu di tengah pohon beringin raksasa itu. Pintu yang terbuka sedikit dan berbisik.
Dari dalam pintu, sekarang terdengar bukan hanya bisikan. Terdengar suara ramai. Seperti suara basecamp. Ada suara orang ketawa, ada suara gitar, ada suara Kak Dion teriak lewat TOA. Suara normal. Suara dunia mereka.
Seolah-olah di balik pintu itu adalah jalan pintas kembali ke basecamp.
Elina yang penakut, karena mendengar suara basecamp, langsung merasa aman.
"Itu suara basecamp! Ayo masuk lewat situ aja!"
"JANGAN!" Maira menahan Elina. Tapi Elina sudah terlanjur mendorong pintu itu lebih lebar karena dia pikir itu jalan keluar.
KREEEKKK...
Pintu kayu tua itu terbuka lebar.
Di baliknya bukan basecamp.
Di baliknya adalah kegelapan. Kegelapan yang lembab. Dan di dalam kegelapan itu, ada puluhan mata. Bukan mata yang bersinar. Tapi cekungan-cekungan hitam tanpa bola mata, yang semuanya menatap ke arah mereka.
Dan bau anyir langsung menyergap hidung mereka.
Tapi sebelum mereka sempat mundur, tanah di bawah kaki Elina yang berdiri paling dekat dengan pintu, ambles.
Elina terperosok, kakinya masuk ke dalam tanah lunak yang tiba-tiba menjadi seperti lumpur hisap.
"ELINA!!!" Maira langsung menangkap tangan Elina.
Tanah itu tidak hanya menghisap Elina. Akar-akar kecil keluar dari tanah dan melilit kaki Elina, menariknya masuk ke dalam kegelapan pintu.
Bima, Arga, dan Gilang langsung ikut menarik Elina. Mereka berlima tarik-tarikan dengan akar-akar itu.
Saat mereka tarik-tarikan, dari dalam kegelapan pintu, muncul satu tangan. Tangan kurus, panjang, kukunya hitam, kulitnya seperti kulit kayu yang lapuk. Tangan itu tidak menarik Elina. Tangan itu... menyentuh kening Gilang yang ada di paling belakang.
Gilang langsung diam. Matanya melotot.Bekas sentuhan tangan itu meninggalkan bekas hitam seperti luka bakar berbentuk jari di keningnya. Gilang pingsan.
"GILANG!" Bima teriak.
Karena fokus mereka terpecah ke Gilang yang pingsan, pegangan mereka ke Elina lepas sedikit. Akar-akar itu langsung menarik Elina lebih kencang, setengah badannya sudah masuk ke dalam pintu.
Maira tidak punya pilihan. Dia melihat Gilang sudah pingsan, Elina hampir hilang, dan pintu itu semakin terbuka lebar seperti mulut yang siap menelan.
Maira membuat keputusan gila.
"MASUK SEMUA! JANGAN BIARIN ELINA SENDIRIAN!"
Maira melompat masuk ke dalam kegelapan pintu sambil masih memegang tangan Elina.
Bima kaget, tapi dia ketua regu. Dia tidak bisa membiarkan anggotanya masuk sendirian. Dia menggendong Gilang yang pingsan di punggungnya dan ikut melompat masuk.
Arga yang terakhir, menatap pintu itu dengan ngeri. Dia tahu ini jebakan. Tapi dia tidak bisa meninggalkan teman-temannya. Dengan kompas yang masih berputar di tangannya, Arga ikut masuk.
Begitu Arga masuk...
BRAKKK!
Pintu itu menutup sendiri. Keras. Kayu bertemu kayu. Dari luar, pintu itu kembali menjadi batang pohon beringin biasa, tidak ada celah, tidak ada pintu. Seolah-olah tidak pernah ada.
Dari dalam, mereka berlima jatuh ke tanah lunak yang berdenyut.
Gelap. Bau anyir. Dan di atas mereka, akar-akar berpendar kuning kehijauan meneteskan cairan kental.
Tes... tes... tes...
Mereka sudah berada di dalam perut hutan. Dan di sekeliling mereka, senter Bima yang menyala menyapu puluhan sosok Pramuka lain yang duduk kosong, kaki mereka menyatu dengan tanah.
Mereka syok luar biasa dengan apa yang mereka lihat.
Mereka bukan peserta pertama yang masuk ke Gerbang Kelima.
***
***