NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalur Tikus

"Pesan apa yang ditinggalkan di rumah aman?!" bentak Aris.

Penjaga itu gemetar, lalu menyerahkan selembar kain usang yang dibawanya. Begitu kain itu terbuka, rahang Aris mengeras. Itu bukan kain kafan kusam seperti sebelumnya. Kain ini berwarna merah darah, membungkus sebutir talas hutan yang sengaja dihancurkan hingga remuk, memancarkan bau busuk yang menyengat.

Di atas kain itu, tertulis sebuah pesan pendek menggunakan arang: “Wanita tua itu lemah. Perjanjian orang kota adalah racun. Darah Hadiningrat tetap harus tumpah di kaki Gunung Kelam.

”Adiwangsa Hadiningrat bangkit dari kursi goyangnya dengan wajah murka, sementara Hendra tampak kebingungan sekaligus cemas. Namun, Aris segera menyadari situasi yang jauh lebih mengerikan.

Ini bukan lagi sekadar kasus penculikan tunggal. Ada faksi baru dari Desa Talas yang telah menyusup ke dalam kota. Mereka adalah kelompok radikal desa yang menolak mentah-mentah jalur negosiasi damai yang ditawarkan oleh wanita tua berambut putih.

Faksi baru ini tidak menginginkan surat tanah atau keadilan hukum. Mereka hanya menginginkan kematian Nirmala untuk menuntaskan dendam kuno tahun 1959.

Dan yang lebih buruk, nyawa Januar yang kini masih tertawan di dalam desa berada dalam bahaya besar jika faksi radikal ini berhasil mengambil alih kekuasaan dari sang wanita tua.

"Sialan!" umpat Aris sambil meremas surat penyerahan tanah di tangannya. Jam di pergelangan tangannya baru saja bergerak, tetapi aturan mainnya kini telah berubah total.

"Aris! Apa yang terjadi?!" tuntut Adiwangsa dengan suara bergetar.

"Kau bilang anakku sudah aman!""Ada musuh dalam selimut di desa itu, Tuan Hadiningrat," jawab Aris sambil berbalik menuju pintu keluar. Dia mengambil senter National besi miliknya dari atas meja.

"Faksi radikal mereka mengambil alih permainan. Jika saya tidak bergerak sekarang, bukan hanya anak Anda yang mati, tapi rekan saya juga akan dihabisi. "Aris berlari keluar dari istana kolonial tersebut, memacu mobi tua miliknya kembali menuju kaki Gunung Kelam.

Aris menginjak pedal gas membiarkan raungan mesin tuanya memecah keheningan fajar di sepanjang jalan menuju kaki Gunung Kelam. Di sampingnya, surat penyerahan tanah adat yang ditandatangani Adiwangsa tergeletak berlumuran debu dasbor.

Dia tahu, jika faksi radikal itu berhasil membawa Nirmala melewati gerbang utama Desa Talas, tamat sudah. Namun, sebagai seorang detektif yang paham medan, dia ingat ada satu jalur penyelundupan kuno, sebuah jalur tikus berbatu yang memotong punggungan bukit, jalur tercepat bagi penculik untuk membawa mangsanya tanpa terlihat dari jalan utama.

Dia mematikan lampu utama mobilnya beberapa ratus meter sebelum titik penyergapan agar kehadirannya tidak terendus. Udara dingin dan kabut tebal kembali mengepung saat Aris melompat keluar dari mobil, mengambil senter National besi dan mencabut pistol revolver dari pinggangnya.

Persetujuannya dengan wanita tua untuk tidak membawa senjata besi ke dalam desa tidak lagi berlaku di sini; faksi baru ini sudah melanggar aturan main, dan dia harus siap menghadapi skenario terburuk.

Aris menyelinap di antara rimbunnya pohon pakis. Napasnya teratur, matanya yang tajam menyapu semak-semak. Telinganya menangkap suara yang dicarinya. Langkah kaki terburu-buru terdengar mendekat.

Cahaya obor minyak tanah yang bergoyang-goyang memantulkan bayangan panjang di tanah berlumpur. Dari balik kabut, muncul tiga orang pria bertubuh kekar. Berbeda dengan warga desa sebelumnya, mereka tidak mengenakan topeng kayu menangis, melainkan topeng kayu berbentuk wajah iblis bertaring berwarna merah tua.

Di pundak pria yang paling depan, sesosok tubuh kecil berselimut kain karung goni tampak meronta-meronta lemah,itu Nirmala.

"Berhenti di tempat!" bentak Aris, melompat keluar dari balik pohon jati besar sambil mengarahkan moncong revolvernya tepat ke arah dada pria pembawa goni. Cahaya senter National miliknya langsung mengunci wajah bertopeng iblis tersebut.

Ketiga pria faksi radikal itu terkejut dan langsung mengambil posisi siaga. Pria di baris belakang mencabut sebilah clurit panjang yang mengilat tajam tertimpa cahaya senter, sementara pria di tengah yang memegang obor menggeram rendah.

"Orang kota sialan," umpat pria pembawa clurit dengan suara parau penuh kebencian.

"Kau seharusnya mati di kota bersama kertas-kertas hukummu. Anak ini adalah tebusan untuk tanah kami yang terbakar!"

"Saya punya surat penyerahan tanah yang sah dari Adiwangsa Hadiningrat di dalam mobil!" gertak Aris, jarinya tetap kokoh di atas pelatuk revolver.

"Kalian bisa mendapatkan tanah kalian kembali secara terhormat tanpa harus mengorbankan anak kecil! Turunkan anak itu, atau peluru ini yang akan bicara!"

Pria bertopeng iblis yang menggendong Nirmala melirik ke arah temannya yang memegang clurit. Mereka tampaknya mulai goyah mendengar tentang surat tanah tersebut, namun pria yang memegang obor justru maju dengan niat membunuh yang jelas di matanya.

"Jangan dengarkan dia! Orang kota selalu berdusta!"

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!