Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB AKHIR
Tiga hari setelah kejadian di rumah sakit, Raka sudah diperbolehkan pulang, meski masih perlu kontrol rutin untuk memastikan pemulihannya berjalan baik. Wulan membawa anak itu kembali ke Kalitirto, kali ini benar-benar sendirian, tanpa lagi ada Bayu yang menemani atau menanggung biaya hidupnya—sebuah konsekuensi yang harus ia terima penuh atas kebohongan besar yang selama ini ia jaga demi kelangsungan hidupnya sendiri.
Di rumah, suasana antara Ayu dan Bayu jauh dari kata membaik. Bayu berulang kali mencoba menjelaskan, mencoba meminta pengertian, mencoba meyakinkan Ayu bahwa dirinya juga korban dari kebohongan besar Wulan soal status ayah biologis Raka.
"Yu, aku juga dibohongin dari awal soal ini. Aku kira Raka anak aku, makanya aku ngerasa punya tanggung jawab buat dia," kata Bayu, duduk di hadapan Ayu yang sejak pulang dari rumah sakit tampak jauh lebih pendiam dan penuh perhitungan dalam setiap kata yang ia ucapkan.
"Aku ngerti kok, Mas, kalau soal itu kamu juga korban," jawab Ayu, tenang, meski nada suaranya menyimpan ketegasan yang tidak bisa ditawar lagi. "Tapi itu bukan satu-satunya masalah di sini."
"Terus apa lagi, Yu? Aku udah putus semua komunikasi personal sama dia, aku udah coba benerin semuanya," Bayu mencoba membela diri, meski jauh di dalam hatinya sendiri, ia mulai menyadari bahwa alasan itu semakin terasa rapuh setiap kali diucapkan.
---
"Kamu bilang udah putus komunikasi personal, Mas," Ayu mengeluarkan ponselnya sendiri, menunjukkan riwayat notifikasi yang selama ini diam-diam ia perhatikan dari ponsel Bayu setiap kali sempat. "Tapi kenapa masih ada notifikasi masuk dari dia, dan kamu masih buka pesannya, meski nggak dibales? Aku lihat sendiri, Mas, dari cara kamu buru-buru nutup layar tiap kali ada notifikasi masuk."
Bayu terdiam, tidak mampu membantah kenyataan itu. Memang benar, meski ia sudah berusaha keras untuk tidak lagi membalas pesan Wulan, rasa penasaran dan sisa-sisa ikatan emosional yang belum sepenuhnya bisa ia putus, membuatnya masih sering membuka dan membaca pesan-pesan yang masuk, meski hanya sekadar membaca tanpa membalas.
"Itu... itu cuma karena aku khawatir soal Raka, Yu. Meski bukan anak aku, aku udah kadung sayang sama dia," Bayu mencoba menjelaskan, meski penjelasan itu sendiri terdengar semakin lemah di telinganya sendiri.
"Mas," Ayu menghela napas panjang, menatap suaminya dengan tatapan yang sudah tidak lagi menyimpan amarah membara seperti sebelumnya, melainkan sebuah ketegasan dingin yang justru terasa jauh lebih menakutkan. "Masalahnya bukan Raka anak siapa. Masalahnya, kamu masih aja nggak bisa benar-benar lepas dari sana. Selalu ada aja alasan buat kamu tetep buka pintu itu, meski sekecil apa pun."
---
"Aku udah kasih kamu kesempatan kedua, Mas. Aku udah coba percaya lagi, coba mulai dari awal lagi," lanjut Ayu, suaranya mulai bergetar, namun kali ini bukan karena keraguan, melainkan karena kesedihan atas keputusan yang sudah lama ia pikirkan matang-matang sejak malam di rumah sakit itu. "Tapi kejadian kemarin nunjukkin, apa pun alasannya, kamu tetep nggak bisa benar-benar berhenti terikat sama masa lalu itu. Dan aku nggak bisa terus-terusan hidup dalam ketidakpastian kayak gini, Mas."
"Yu, tolong, jangan gini. Aku janji, kali ini beneran, aku bakal blokir semua kontak dia, aku bakal—" Bayu mencoba memohon, namun Ayu mengangkat tangannya, menghentikan kalimat itu sebelum berlanjut lebih jauh.
"Nggak, Mas. Aku udah cukup dengar janji-janji. Bukan berarti aku nggak percaya kamu bisa berubah, tapi aku juga udah capek jadi orang yang terus-terusan berharap perubahan itu bener-bener terjadi, sementara aku sendiri kehilangan diriku yang dulu, yang selalu percaya penuh tanpa pernah ragu," jawab Ayu, air matanya mulai menetes, namun suaranya tetap tegas, tidak tergoyahkan oleh permohonan yang, ia tahu, sudah terlalu sering ia dengar sebelumnya.
"Jadi... kamu mau kita cerai?" tanya Bayu, suaranya pecah, menyadari bahwa kali ini, keputusan Ayu benar-benar sudah bulat, jauh berbeda dari kemarahan sesaat yang bisa mereda seiring waktu seperti sebelumnya.
---
Ayu mengangguk pelan, meski hatinya sendiri terasa hancur mengucapkan keputusan itu. "Iya, Mas. Aku udah mikirin ini matang-matang. Ini bukan keputusan yang aku ambil karena amarah sesaat, tapi karena aku sadar, apa pun yang kamu bilang, apa pun penjelasan yang kamu kasih, ujung-ujungnya kamu tetep nggak bisa benar-benar milih aku sepenuhnya. Selalu ada bagian dari kamu yang masih nyisain ruang buat Wulan, meski cuma lewat notifikasi kecil yang menurutmu nggak penting."
"Aku sayang kamu, Yu," ucap Bayu lirih, air matanya sendiri mulai mengalir, menyadari bahwa penyesalannya kini datang terlambat untuk bisa mengubah keputusan yang sudah bulat di hati istrinya.
"Aku juga pernah sayang banget sama kamu, Mas. Mungkin masih sayang, kalau boleh jujur," jawab Ayu, suaranya melembut sesaat, sebelum kembali tegas. "Tapi rumah tangga itu bukan cuma soal sayang. Itu soal kepercayaan, soal komitmen penuh, soal berani benar-benar menutup pintu buat siapa pun selain pasangan kita sendiri. Dan kamu, sampai detik terakhir pun, masih belum bisa ngasih itu ke aku sepenuhnya."
Malam itu, di ruang tamu yang sama tempat mereka dulu membangun begitu banyak kenangan indah sepanjang lima tahun pernikahan, Ayu akhirnya mengucapkan keputusan yang telah ia pertimbangkan dengan seluruh kekuatan hati dan pikirannya—keputusan untuk mengakhiri pernikahan yang, meski penuh kenangan manis di awal, ternyata dibangun di atas fondasi yang terlalu rapuh untuk terus dipertahankan, hancur oleh kebohongan yang, pada akhirnya, tidak pernah benar-benar bisa ditutup rapat selamanya.
Ayu bangkit, berjalan menuju kamar untuk mulai mengemasi barang-barangnya sendiri, meninggalkan Bayu yang duduk terpaku di ruang tamu, menyaksikan runtuhnya segala sesuatu yang telah ia bangun—dan hancurkan sendiri—selama bertahun-tahun, sebuah kehancuran yang, pada akhirnya, murni menjadi hasil dari pilihan-pilihannya sendiri, tanpa bisa lagi ia salahkan pada siapa pun selain dirinya sendiri.
---
**TAMAT*