Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Pedagang itu gemetar kesenangan menerima uang sepuluh juta untuk barang murahannya. Saka hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan dua orang di depannya ini.
Sepuluh juta melayang sia-sia untuk sebuah barang rongsokan seharga lima puluh ribu rupiah. Tapi Saka memilih diam dan terus memainkan perannya sebagai orang bodoh.
"Wah Bos Rio memang hebat sekali, guci itu pasti sangat berharga nilainya." Saka ikut memuji dengan nada yang terdengar sangat polos dan tulus.
Rio menoleh ke arah Saka lalu tersenyum sangat sombong. "Makanya lo belajar sama gue Ka, biar mata lo kebuka mana barang bagus mana barang rongsok."
"Iya Bos, saya mah apa atuh cuma orang bodoh yang nggak ngerti apa-apa soal barang antik." Saka membalas sambil nyengir lebar menutupi rasa gelinya.
Pandangan Saka kemudian beralih menyapu barang-barang lain di lapak tersebut dengan sengaja. Matanya tiba-tiba terpaku pada sebuah piring kayu kusam yang tergeletak sembarangan di sudut karpet.
Piring itu tertutup tanah dan debu hingga bentuk aslinya hampir tidak terlihat sama sekali. Namun mata Saka menangkap sesuatu yang sangat luar biasa dari piring tersebut.
Sebuah pendaran cahaya keemasan yang sangat menyilaukan memancar kuat dari piring kusam itu. Cahaya itu berputar-putar membentuk pola aliran energi mistis yang terasa sangat hangat.
[Benda Pusaka Terdeteksi oleh Sistem.]
[Piring Kayu Gaharu Berdarah: Benda ritual kuno peninggalan kerajaan masa lalu yang sangat sakral.]
[Status: Mengandung energi Qi yang sangat murni dan membawa keberuntungan mutlak bagi pemiliknya.]
[Nilai estimasi di pasar lelang: Tiga Miliar Rupiah.]
Napas Saka seakan berhenti sejenak melihat rentetan tulisan di layar transparan itu. "Tiga miliar, ini gila, apakah sistem ini benar-benar nyata." Batinnya berteriak histeris tak percaya.
Tangan Saka gemetar hebat menahan gejolak emosi di dadanya yang bergemuruh. Jika ini benar, uang tiga miliar bisa langsung melunasi operasi ibunya hari ini juga dan mengubah hidupnya selamanya.
Saka harus mendapatkan barang itu sekarang juga bagaimanapun caranya. Tapi dia tidak boleh terlihat terlalu menginginkannya agar harganya tidak dinaikkan oleh pedagang licik di depannya ini.
Saka berjalan perlahan mendekati sudut lapak itu dengan gaya acuh tak acuh. Dia berjongkok santai lalu mengambil piring kayu kusam itu dengan tangan kanannya.
"Pak, piring butut ini buat tempat makan kucing saya di rumah boleh nggak." Tanya Saka dengan wajah yang sengaja dibuat memelas seperti pengemis.
Pedagang tua itu melirik sekilas ke arah tangan Saka lalu langsung mencibir. "Itu barang rongsokan dari gudang saya, nggak tau kayu apaan, seratus ribu deh ambil aja sana."
"Aduh Pak kemahalan, saya cuma punya uang dua puluh ribu sisa buat ongkos angkot pulang nanti sore." Saka menawar memelas sambil menunjukkan dua lembar uang sepuluh ribuan yang lecek dari sakunya.
Rio yang melihat tingkah Saka itu langsung tertawa keras sambil memegangi perutnya. "
Bwahahaha,
woi Saka lo ngapain beli piring rombeng begitu, kurang kerjaan banget lo."
"Buat makan kucing Bos, kasihan kucing garong saya di rumah makannya cuma pakai alas koran bekas." Jawab Saka dengan wajah polos tanpa dosa seolah dia sangat bodoh.
"Gila ya lo, dua puluh ribu mending buat lo makan siang woi, dasar gembel nggak punya otak." Kevin ikut menimpali sambil menggelengkan kepalanya merasa heran.
"Udah kasih aja Pak dua puluh ribu, kasihan nih kacung saya otaknya makin miring mikirin utang." Ucap Rio sengaja merendahkan Saka di depan umum agar dia terlihat hebat.
Pedagang itu mendecak kesal lalu merampas uang lecek dari tangan Saka dengan kasar. "Yaudah sana ambil cepat, bikin sempit lapak saya saja barang rongsok begitu."
Saka langsung memasukkan piring kayu itu ke dalam tas kresek kecilnya dengan hati-hati. Hatinya bersorak kegirangan hingga rasanya dia ingin melompat tinggi saat itu juga.
"Terima kasih Pak, kucing saya pasti senang sekali pakai piring bagus ini." Ucap Saka sambil membungkuk berkali-kali untuk menutupi senyum licik di bibirnya.
"Udah ayo balik, panas banget di sini gue mau ngadem di kafe cari minum." Perintah Rio sambil berjalan mendahului mereka dengan gaya angkuh.
Saka kembali mengangkat dua tas belanjaan besar milik Rio ke atas bahunya. Anehnya beban di tangannya terasa sangat ringan sekarang karena hatinya dipenuhi harapan baru yang sangat besar.
"Kalian boleh tertawa puas sekarang, Rio, Kevin." Batin Saka sambil menatap punggung kedua orang itu dengan tajam.
"Tunggu saja sampai waktu lelang tiba nanti, aku akan memastikan kalian menangis darah melihat piring rombeng ini." Lanjutnya dalam hati sambil menyeringai tipis.
Saka kembali memasang wajah bodoh andalannya dan berlari kecil menyusul Rio menjauh dari pasar. Tidak ada satupun orang yang sadar bahwa hari ini, sang Raja Fengshui akhirnya telah terbangun dari tidurnya yang panjang.