Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 11
Lamar dan Andika tidak langsung memutar kunci kontak untuk kembali ke kawasan industri Cypress Flats. Suara raungan gahar Chopper Scorpio hitam mengkilat milik Andika perlahan dimatikan, menyisakan denting hawa panas dari blok mesin 225cc yang baru menyala. Kevin mengambil tiga kaleng bir dingin dari lemari pendingin di sudut bengkel, melempar dua di antaranya ke arah Lamar dan Andika.
Sambil menyandarkan badannya pada meja kerja beroli, Lamar membuka kaleng birnya dan menghela napas panjang. Asap rokok dan bau bensin berpadu tebal di dalam garage La Puerta yang sepi itu.
"Kau tahu, Kev..." Lamar memulai percakapan, matanya menatap nanar ke arah kaleng bir di tangannya. "Satu minggu terakhir ini jalanan Los Santos benar-benar berubah jadi neraka buat kami."
Kevin menaikkan sebelah alisnya sambil mengelap tangannya dengan kain lap. "Ada apa sebenarnya, Mar? Saya dengar Red Dragon Club di Pacific Bluffs rata tanah semalam, lalu ada ledakan di jalan tol beberapa hari lalu. Ada perang geng besar?"
Lamar meneguk birnya kasar, lalu menceritakan semuanya secara mendetail. Ia membeberkan bagaimana kelompok mereka berhasil menguasai jalur distribusi amunisi beromzet ratusan juta rupiah, yang rupanya menyenggol monopoli milik Ying Long—sindikat Cina paling berbahaya di kota ini. Lamar menceritakan tentang Lee Dong yang murka, serangan menyergap di pantai yang menghancurkan mobil Andika, hingga puncaknya: kematian tragis sahabat terbaik mereka dari Liberty City, Little Jacob (L.J.).
"Mereka mengepung SUV milik L.J. di parkiran Bahama Mamas," suara Lamar memberat, menahan gejolak amarah. "L.J. tewas ditembak bertubi-tubi di dalam mobilnya sendiri. Dia bahkan tidak sempat menarik senjatanya, Kev."
Mendengar penuturan itu, raut wajah Kevin mendadak berubah serius dan prihatin. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
"Turut berduka untuk L.J., kawan," ujar Kevin pelan. "Saya tahu betapa berharganya dia di kru kalian. Tapi berurusan dengan Lee Dong dan orang-orang Tionghoa Chinatown itu... mereka memang tidak punya belas kasihan kalau sudah urusan uang."
Kevin mengambil tegukan birnya, lalu menatap Lamar dan Andika secara bergantian dengan mata menyipit.
"Tapi bicara soal Lee Dong... kalian tahu tidak kalau bos tua itu punya satu titik lemah paling besar?" tanya Kevin dengan nada berbisik.
Andika, yang tadinya diam sambil mengelus tangki Chopper hitamnya, langsung menoleh tajam. "Maksudmu?"
"Lee Dong punya anak tunggal bernama Tuu Lee," cerita Kevin secara detail. "Bocah itu baru berusia 19 tahun. Dia anak manja, sok keras, dan sama sekali tidak peduli urusan bisnis atau perang berdarah ayahnya. Kerjaannya setiap malam cuma berpesta, main wanita, dan menghamburkan ratusan juta uang hasil peluru Lee Dong."
Mendengar nama Tuu Lee, Lamar dan Andika mendadak saling bertatap mata. Kilatan ide yang sama langsung tepercik di benak mereka berdua.
"Di mana bocah itu biasa nongkrong, Kevin?" tanya Lamar cepat, memajukan badannya. "Kasih tahu saya tempat secara detail!"
Kevin tersenyum tipis, memahami ke mana arah pikiran dua kawannya ini. "Tuu Lee itu anak sok kaya yang suka pamer. Hampir setiap malam dia ada di Eclipse Club di kawasan Downtown. Tempatnya ada di lantai atas bangunan komersial dekat Rockford Hills. Bocah itu biasa memesan area VIP paling ujung dekat balkon, dikelilingi wanita bayaran dan dikawal cuma dua orang bodyguard pribadi yang sama manjanya. Dia selalu bawa sedan BMW mewah milik ayahnya."
"Eclipse Club... area VIP paling ujung..." ulang Andika pelan, merekam setiap detail informasi dari Kevin ke dalam kepalanya.
Lamar dan Andika kembali saling tatap. Tanpa perlu mengeluarkannya dalam bentuk kata-kata, tatapan mata di antara dua pria itu sudah menyampaikan pesan yang sangat jelas: Shen mungkin sudah mati di Cypress Flats, tapi dalang utama pembunuh L.J. masih bernapas bebas. Dan menculik atau memberi 'kejutan' pada anak kesayangan Lee Dong adalah cara paling efektif untuk meruntuhkan mental bos Ying Long tersebut sampai ke dasar tanah.
"Terima kasih untuk informasinya, Kevin," ujar Andika sambil meneguk habis birnya, memancarkan aura dingin yang siap beraksi kembali.
Terima kasih banyak untuk informasinya, Kevin! Dan terima kasih juga untuk motor keren ini!" seru Andika sambil menyalami Kevin erat-erat.
"Sama-sama, kawan. Hati-hati di jalan, situasi kota sedang panas!" balas Kevin menepuk bahu mereka berdua.
Andika dan Lamar segera berpamitan. Lamar melangkah masuk ke dalam mobilnya, sementara Andika memutar kunci kontak Chopper Scorpio hitam mengkilat miliknya. Dengan menekan tombol starter, mesin 225cc kustom itu menyalak gahar. Raungan knalpot blar-blar bergema gagah mengiringi langkah mereka meninggalkan dealer La Puerta.
Dua kendaraan itu melaju beriringan membelah keheningan malam Los Santos. Lamar memimpin di depan dengan mobilnya, sementara Andika menempel ketat di belakang, menikmati deru angin malam yang menerpa jaket kulitnya di atas Chopper baru. Dengan informasi segar mengenai Tuu Lee yang kini ada di genggaman, napas pertempuran mereka terasa makin menyala.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka tiba di kawasan industri Cypress Flats. Lamar menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang besi gudang amunisi mereka, disusul Andika yang mematikan mesin Chopper-nya dengan sekali sentakan.
Kreeek...
Saat pintu besi diputar dan digeser sedikit—
CKLAK!
Dari balik kegelapan dalam gudang, Franklin yang tadinya sedang berbaring santai sambil menghisap rokok di atas peti amunisi kayu yang besar, sontak melompat kaget! Dengan refleks kilat, ia mencabut pistol Glock dari balik pinggangnya dan mengarahkannya tepat ke arah pintu.
Di samping peti amunisi, Chop—anjing rottweiler gagah milik Franklin—terbangun dan langsung menggonggong nyaring, berdiri bersiap menerkam!
"Woah! Tahan, Frank! Ini kami!" teriak Lamar cepat sambil mengangkat kedua tangannya.
Franklin menarik napas lega yang sangat panjang, menurunkan pistolnya perlahan, lalu menepuk kepala Chop untuk menenangkannya.
"Oh dog! Kalian membuatku sangat kaget, bangsat!" maki Franklin sambil terkekeh pelan, mengusap dadanya. "Saya kira sisa anak buah Lee Dong datang lagi buat serbuan susulan."
Franklin kemudian melangkah keluar dari kegelapan gudang. Matanya mendadak tertahan, menatap takjub pada sepeda motor Chopper kustom hitam mengkilat yang berdiri gagah di samping Andika.
"Ancur Cok... ini motor siapa?" tanya Franklin dengan mata berbinar-binar. "Keren sekali, bajingan!"
"Ini motor baru saya, Frank. Scorpio modif Chopper dari tempat temannya Lamar," jawab Andika bangga sambil mengelus tangki hitam glossy motornya.
"Gila, ini benar-benar keren!" puji Franklin sambil mengelilingi Chopper tersebut dan menepuk jok kulit tunggalnya. "Garang sekali bodinya. Nanti kalau semua masalah kita sama Lee Dong dan Ying Long sudah selesai tuntas, kau harus ikut saya keliling pantai. Kita mengendarai motor bersama-sama menembus jalanan Los Santos!"
"Siap, Frank! Itu urusan gampang nanti!" balas Andika tersenyum lebar.
Lamar yang tak sabar langsung menyela dengan wajah penuh antusias. "Sabar dulu soal jalan-jalan naik motor, Frank! Kami membawa kabar dan informasi super segar dari Kevin tentang anak tunggal Lee Dong!"
Franklin langsung menegakkan badannya, menatap Lamar dan Andika dengan raut wajah yang kembali serius. "Info apa?