Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Jakarta
Sebulan sudah kami di Bali.
Sebulan aku hidup seperti di surga. Bangun pagi dengan suara ombak, dimasakin Mas Brayen, dielus perutku yang mulai membuncit tiap malam sambil dibacakan doa. Mas Brayen yang katanya CEO paling dingin dan bengis se-Jakarta itu, ternyata bisa begitu telaten mengoleskan lotion ke kakiku yang bengkak.
Tapi pagi ini, surga itu terasa sesak.
Hp ku bergetar. Nama Ibu sambungku muncul di layar. Biasanya aku malas angkat, tapi firasatku tidak enak.
"Halo... Isyana... Ayahmu... Ayahmu masuk rumah sakit lagi, Neng... Kritis..."
_Dug!_
Dunia ku runtuh seketika. Gelas susu hamil di tanganku hampir jatuh.
"Mas... Mas Brayen..." Suaraku bergetar, air mata langsung tumpah.
Mas Brayen yang sedang meeting online di balkon villa langsung mematikan laptopnya dan berlari ke arahku. Wajah dinginnya seketika panik melihatku menangis.
"Sayang? Kenapa? Perut kamu sakit? Hamilnya kenapa?"
Aku menggeleng sambil sesenggukan, memeluk perutku, "Mas, Ayah... Ayah sakit keras... Aku khawatir, Mas... Bisakah kita pulang ke Jakarta hari ini? Sekarang? Aku mau lihat Ayah..."
Mas Brayen langsung berjongkok, menyamakan tingginya dengan ku yang duduk lemas di sofa. Tangannya yang besar mengusap air mataku dengan ibu jarinya.
"Sayang, sebentar ya, Mas telepon dulu Dr. Ayu. Sabar ya, jangan nangis, kasihan calon anak kita. Baik?"
"Baiklah... jangan lama ya Mas..."
Mas Brayen langsung menelepon.
Tut... Tut...
"Selamat pagi Dokter, maaf saya mengganggu Dok. Saya Brayen. Saya mau konsultasi, istri saya, Isyana, mau kembali pulang ke Jakarta hari ini karena ayahnya sakit keras. Apakah aman untuk kandungan usia 1 bulannya?"
Aku mendengar suara lembut Dr. Ayu dari speaker, "Pagi juga Pak Brayen. Boleh saja Bu Isyana pulang ke Jakarta, tapi hati-hati ya Pak. Wajib gunakan kursi roda di bandara, jangan banyak jalan. Naiklah pesawat pribadi agar tidak bertemu banyak orang, menghindari stres untuk ibu hamil. Dan usahakan ketika sampai di Jakarta tidak langsung beraktivitas berat. Bila ingin langsung ke RS boleh, tapi jangan lama, segera pulang dan beristirahat. Ingat, Bu Isyana tidak boleh stres."
"Baik, terima kasih Dokter."
Mas Brayen mematikan telepon dan langsung menatapku dengan tatapan yang sangat mantap, "Nah, kamu dengar sendiri kan, Sayang? Ayo kita siap-siap kembali ke Jakarta. Mas sudah suruh pilot siapkan jet jam 11 siang ini. Kamu tidak perlu bawa apa-apa, biar semua Mas yang urus."
Aku hanya bisa mengangguk sambil memeluknya. Di saat seperti ini, sifat dingin dan bengisnya yang mengatur semuanya dengan cepat justru yang aku butuhkan.
Perjalanan Bali - Jakarta yang biasanya terasa lama, kali ini terasa seperti sekejap karena jantungku terus berdegup kencang.
Sesampainya di Jakarta, kami bahkan tidak pulang ke penthouse. Dari bandara Halim, mobil Alphard hitam kami langsung melaju ke Rumah Sakit Pondok Indah.
Dan betul. Di kamar kelas 1 itu, Ayahku terbaring tak berdaya. Selang infus di tangannya, wajahnya pucat sekali. Jauh berbeda dengan Ayah yang dulu selalu gagah menggendongku.
Aku langsung berlari kecil, duduk di sebelah Ayah dan memegang tangannya yang dingin.
"Ayah... ini Isyana... anak Ayah sudah pulang, Yah..." Suaraku pecah, aku tempelkan tangan Ayah ke perutku yang sudah membuncit. "Sebentar lagi Ayah akan jadi kakek, Yah... Lihat, ini cucu Ayah..."
Ayahku yang tadinya terpejam, perlahan membuka matanya. Matanya yang sayu itu langsung berkaca-kaca melihatku.
"Isyana...? Betulkah kamu, Nak? Kamu hamil, Nak?"
Aku mengangguk sambil menangis bahagia, "Iya Yah, 1 bulan..."
Ayahku lalu menatap ke arah Mas Brayen yang berdiri di belakangku, lalu kembali menatapku dengan khawatir. Dengan suara serak ia berbisik, "Apa kamu bahagia, Nak? Menikah dengan Nak Brayen yang terkenal dingin dan bengis itu? Ayah dengar dari orang-orang... dia kejam..."
Aku langsung menggeleng keras.
"Ya Ayah, aku sangat bahagia, Yah. Mas Brayen sangat baik, Ayah. Ayah tidak perlu khawatir aku disakiti olehnya, Ayah. Dia meratukan aku, Yah..."
Seolah mengerti, Mas Brayen pun maju. Tadi dia sempat keluar membawa buah kesukaan Ayah, apel Fuji dan anggur. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di depan Ayah, merangkul pinggangku dari belakang dengan sangat lembut, seolah ingin menunjukkan pada Ayah bahwa ia menjagaku.
Dengan suara yang sangat lembut, yang bahkan aku jarang dengar versi selembut itu, Mas Brayen berkata, "Ayah tidak perlu khawatir. Isyana sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Tidak akan ada lagi yang menyakiti nya, termasuk diri saya sendiri. Ayah mungkin menganggap saya kejam karena di dunia bisnis saya terkenal kejam dan dingin, tapi di depan Isyana saya takluk, Yah. Saya kalah telak sama anak Ayah ini."
Aku pun tersenyum di tengah air mata. Ya Allah, laki-laki sedingin ini bisa mengucapkan kalimat itu.
Ayah meneteskan air mata. Air mata seorang ayah yang lega melepas anak perempuannya.
"Terima kasih, Nak Brayen... Kau sudah mau menyayangi anak Ayah dengan setulus hati..."
"Tidak perlu sungkan, Ayah. Mulai hari ini Ayah adalah Ayahku juga. Apapun yang Ayah khawatirkan bisa Ayah ceritakan pada ku. Biaya rumah sakit, dokter terbaik, semua biar saya yang urus."
"Mas, terima kasih..." Aku spontan memeluk pinggang Mas Brayen erat. Aku merasa sangat aman.
Suasana haru itu baru berlangsung beberapa menit.
Tiba-tiba, dari luar pintu kamar...
_KREK._
Pintu terbuka kasar.
Masuklah Ibu tiriku dengan dandanannya yang menor, dan di belakangnya... Lalita. Adik tiriku yang selalu iri padaku sejak kecil.
Deg! Jantungku langsung berhenti.
Hawa di kamar kelas 1 itu seketika berubah. Dari haru menjadi dingin.
Ibu tiriku langsung pasang wajah drama, "Ya Allah, Ayah... ternyata benar Isyana sudah pulang! Kirain Ibu kamu betah di Bali lupa sama Ayahmu yang sekarat ini!"
Lalita menyusul dengan sinis, matanya melirik perutku yang buncit, lalu melirik Mas Brayen dengan tatapan genit yang membuat darahku mendidih, "Wah, Kak Isyana... perutnya sudah besar ya? Selamat ya... Akhirnya bisa juga ngasih cucu buat Ayah, padahal dulu katanya susah punya anak... Eh, Kak Brayen..."
Mas Brayen yang tadinya lembut, rahangnya langsung mengeras. Tangan yang merangkulku semakin erat, posesif.
Aku tahu... badai sesungguhnya baru akan dimulai.
---Bersambung---