Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 2
"Berapa kali lagi kamu berjanji akan memperbaiki semuanya, Vin? Jika aku sudah tak ada lagi artinya untuk kamu. Saat kamu minta maaf dan besoknya kamu akan kembali ingkar demi Shela! Lalu apa artinya aku dan cincin ini? Hanya simbol? Hanya lambang? Aku tak butuh Vino! Aku tak butuh pendamping yang masih memprioritaskan wanita lain, terlepas dia adalah sepupumu!"
"Kiara... Aku mohon..."
Di tengah usahanya memohon, saku celana Vino kembali bergetar hebat. Kali ini bukan hanya sekali dua kali ponsel itu bergetar bertubi-tubi, diselingi nada dering nyaring yang terus menuntut perhatian. Nama Shela kembali terpampang di layar, tak memberi jeda sedikit pun.
Vino terpaku. Matanya terbagi antara menatap Kiara dengan penuh penyesalan dan melirik sakunya yang terus bergetar. Gelisah yang luar biasa melingkupi dadanya, dia tahu jika tidak diangkat, Shela akan terus menelepon atau bahkan melakukan hal yang nekat, tapi dia juga tahu Kiara sedang menatapnya.
Kiara melirik ponsel di saku Vino, lalu menatap manik mata pria itu untuk terakhir kalinya. Senyum tipis yang sarat akan kekecewaan terukir di bibirnya.
"Angkatlah, Vino," ucap Kiara sangat pelan, hampir berupa bisikan.
"Dia tidak bisa menunggu, dan aku... sudah selesai menunggu."
Degh.
Sebelum Vino sempat membalas atau menahannya, Kiara berbalik arah. Dia tidak berteriak, tidak menangis, dan tidak melempar cincin di jarinya. Dia hanya melangkah pergi dengan tenang namun pasti, membawa seluruh martabat dan rasa sakitnya masuk kembali ke dalam gedung kantor.
"Kiara! Tunggu, Ki!"
Ponsel di sakunya masih bergetar hebat tanpa henti, memekakkan telinga dan mengocok perutnya dengan rasa bersalah. Vino berdiri mematung selama dua detik yang menyiksa. Rasa cemas pada Shela dan ketakutan akan kehilangan Kiara bertarung hebat di kepalanya.
Namun melihat punggung Kiara yang semakin menjauh dan hampir menghilang di balik pintu kaca lobby, kesadaran menghantam Vino seperti gada berat. Bahkan Kiara mengurungkan niatnya untuk makan di luar dan memilih kembali ke kantor.
Jika hari ini aku membiarkannya pergi, aku akan kehilangan dia selamanya.
Dengan gerakan kasar dan penuh emosi, Vino merogoh sakunya, menarik keluar ponsel itu, lalu tanpa ragu menekan tombol Power lama-lama hingga layarnya mati total. Suara getaran yang mengganggunya seketika lenyap.
"Kiara! Dengarkan aku dulu!"
Vino berlari kencang memotong area depan lobby, mengabaikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya. Dia mengejar Kiara yang baru saja mendorong pintu kaca, bertekad menyusul wanita itu sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Pintu kaca lobby terbuka pelan saat Kiara mendorongnya, namun sebelum pintu itu benar-benar tertutup rapat, sebuah tangan menahannya dengan panik.
"Kiara, tolong!" Vino menyeruak masuk, napasnya memburu, terengah-engah setelah berlari. Wajahnya yang biasa rapi kini tampak berantakan, pancaran matanya menyiratkan keputusasaan yang amat sangat.
Kiara menghentikan langkahnya di tengah area lobby yang dingin ber AC. Dia berbalik memandang Vino tanpa ekspresi. Tidak ada amarah, tidak ada air mata, hanya tatapan kosong yang justru jauh lebih menakutkan bagi Vino dibanding makian.
"Ponselku sudah kumatikan, Kiara!" Vino mengangkat ponsel genggamnya yang kini berlayar hitam pekat, menunjukkannya pada Kiara seolah itu adalah bukti pengorbanan terbesarnya.
"Aku matiin! Aku nggak angkat telepon Shela lagi. Aku pilih kamu, Ki. Tolong... kasih aku kesempatan satu kali lagi."
Beberapa karyawan yang berada di lobby mulai melirik berbisik-bisik, namun Kiara sama sekali tidak terpengaruh oleh perhatian orang-orang. Tatapannya tertuju pada ponsel mati di tangan Vino.
"Kamu mematikan ponselmu bukan karena kamu sadar, Vino," suara Kiara terdengar mengalun tenang namun merajam tepat di ulu hati.
"Kamu mematikannya cuma karena kamu panik aku tinggalkan. Tiga bulan ini, berapa kali kamu mengabaikan aku demi dia? Dan baru sekarang, saat aku sudah benar-benar lelah, kamu pura-pura peduli?"
"Nggak, Kiara! Aku benaran sadar!" Vino berusaha maju, hendak mengikis jarak, namun langkahnya terhenti saat Kiara mengangkat satu tangannya, menyuruhnya diam di tempat.
"Jika hari ini kamu mematikan ponselmu demi aku, besok saat dia menangis lagi, kamu akan menghidupkannya kembali dan minta maaf padanya," lanjut Kiara datar.
"Kamu tidak bisa memilih, Vino. Dan aku menolak untuk jadi pilihan kedua di dalam hubungan yang seharusnya menjadikan aku yang utama dan satu-satunya."
"Kiara..." Suara Vino bergetar, air mata yang tertahan akhirnya menetes membasahi pipinya.
"Aku tunangan kamu... kita sudah merencanakan masa depan kita... Bahkan tanggal pernikahan kita sudah di tentukan."
"Pikirkan lagi masa depan itu," bisik Kiara pelan, menunjuk dadanya sendiri.
"Di sini sudah tidak ada kamu lagi. Kamu yang menghancurkannya sendiri, sedikit demi sedikit, setiap kali kamu berpaling pada Shela. Jika kamu lebih menjadikan dia prioritas, nikahi saja dia sekalian!"
Kiara kemudian berbalik arah, berjalan menuju deretan turnstile gate menuju area lift khusus karyawan. Dia menempelkan ID cardnya, dan pembatas besi itu terbuka dengan bunyi bip yang nyaring.
"Kiara! Jangan masuk, Kiara! Kiara!" Vino mencoba mengejar, namun petugas keamanan gedung yang bertubuh tegap dengan sigap langsung menghadang langkah Vino.
"Maaf, Pak. Yang tidak berkepentingan atau tidak memiliki access card dilarang masuk ke area lift," cegah petugas keamanan itu dengan tegas namun sopan.
"Pak, tolong Pak! Itu tunangan saya!" Vino berteriak frustrasi, mencoba menerobos namun dorongan petugas keamanan membuatnya tertahan di luar pagar pembatas.
Dari balik pembatas besi, Kiara berdiri sebentar menunggu pintu lift terbuka. Dia menoleh sedikit, menatap Vino untuk terakhir kalinya, menatap pria yang dulu pernah sangat dia cintai, kini tampak begitu asing dan menyedihkan di matanya. Sudah cukup dia selalu mengalah dan memberi kesempatan juga maaf saat Vino kembali mengecewakanya karena wanita lain.
Pintu lift berdenting terbuka. Kiara melangkah masuk, membalikkan badan menghadap keluar. Saat pintu lift perlahan bergerak menutup, pandangan mereka saling terkunci untuk yang terakhir kalinya, sampai akhirnya paras Kiara hilang sepenuhnya di balik pintu besi yang tertutup rapat.
Vino terduduk lemas di lantai lobby yang dingin, memandangi pintu lift yang kini membawa pergi wanita yang baru saja ia sadari adalah hal terpenting dalam hidupnya yang kini telah hilang untuk selamanya.
Saat dia berjalan gontai menuju mobilnya yang terparkir di ujung jalan, pikirannya berputar hebat.
'Bagaimana bisa semuanya hancur hanya dalam hitungan menit?' batinnya.
Dia teringat malam sebelumnya, saat dia tertawa bersama Shela di dalam mobil sambil menikmati es krim, menganggap rengekan gadis itu manis dan menggebu-gebu, sementara di tempat lain, wanita yang dia janjikan masa depan sedang mendorong sepeda motor sendirian di tengah derasnya hujan dan petir. Bahkan kedinginan menunggu dirinya datang menjemput. Dan sialnya Kiara melihat itu semua.
"Kenapa aku malah mau menuruti keinginan Shela untuk pergi menghilangkan rasa takutnya dengan membeli es krim? Di saat Kiara benar-benar membutuhkanku? Bodoh kamu Vino... Bodoh!" Upatnya pada diri sendiri.
Rasa penyesalan yang terlambat itu datang menghantamnya begitu telak, membuat dadanya sesak hingga sulit bernapas.
Tiba di dalam mobil, Vino membanting pintu. Keheningan kabin terasa membungkamnya. Dia menatap ponsel mati di genggamannya. Dengan jemari yang gemetar, dia menekan tombol Power untuk menyalakannya kembali. Seperti yang di katakan oleh Kiara dia pasti akan menyalakannya kembali demi Shela.
Begitu layar menyala, puluhan notifikasi langsung menyerbu masuk. Pesan demi pesan, panggilan tak terjawab dari Shela, semuanya membanjiri layarnya tanpa henti.
Shela: Kak Vino di mana sih?!
Shela: Aku udah nungguin dari tadi lho! Kenapa HPnya dimatiin?!
Shela: Kakak jahat banget sih, aku kan sendirian di sini, perutku sakit! Jemput sekarang!
Shela: Apa Kak Kiara meminta kakak untuk mematikan ponsel?
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,