NovelToon NovelToon
TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TUJUH BELAS

## Bab 17: Notifikasi yang Tidak Sengaja Terlihat

Kamis malam itu, seperti biasa, Bayu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sepulang kerja, meninggalkan ponselnya tergeletak di atas meja nakas seperti kebiasaannya selama ini. Aku sedang merapikan tempat tidur ketika ponsel itu bergetar, menampilkan notifikasi pesan singkat di layar yang sempat menyala sebelum kembali gelap.

Aku tidak bermaksud mengintip, hanya kebetulan melirik sekilas karena posisi ponsel yang memang berada tepat di depan pandanganku. Namun sekilas itu cukup untuk membuatku membaca sebagian notifikasi yang muncul: *"Bang, anak aku nanya-nanya terus kapan..."*—kalimat yang terpotong karena layar kembali gelap sebelum aku sempat membaca kelanjutannya, dan nama pengirimnya hanya tertera sebagai "Kantor - Wulan", tersamar di antara puluhan kontak kerja lain yang biasa masuk ke ponsel Bayu.

Aku terdiam sejenak, mengernyitkan dahi. *Anak siapa?* pikirku, mencoba mengingat-ingat apakah ada rekan kerja Bayu yang punya anak kecil dan cukup dekat hingga bisa mengirim pesan pribadi semacam itu. Tidak ada satu pun nama yang bisa kuingat dengan jelas, tapi aku juga tidak terlalu ingat detail rekan-rekan kerja Bayu, mengingat aku memang jarang bertemu langsung dengan mereka.

---

"Mas, tadi pas kamu mandi, ada yang chat. Namanya Wulan, kayaknya dari kantor. Katanya anaknya nanya-nanya sesuatu," kataku, begitu Bayu keluar dari kamar mandi, mencoba terdengar sesantai mungkin meski ada rasa penasaran kecil yang menggantung di benakku.

Wajah Bayu sekilas berubah, sebuah keterkejutan kecil yang buru-buru ia sembunyikan dengan senyum. "Oh, itu Wulan, admin di kantor mitra proyek. Anaknya emang deket sama aku, soalnya aku sering bawain oleh-oleh kalau lagi survei ke daerah situ. Anak kecil kan gampang deket kalau sering dikasih perhatian."

"Oh gitu," aku mengangguk, penjelasan itu terdengar cukup masuk akal—Bayu memang dikenal sebagai orang yang ramah dan mudah akrab dengan siapa saja, termasuk anak-anak kecil di lingkungan kerjanya. "Baik banget sih kamu, sampe deket gitu sama anak orang."

"Ah, biasa aja, Yu. Kasian aja kalau lihat anak kecil, jadi suka bawain jajan atau mainan kecil-kecilan," jawab Bayu, tersenyum, meski senyum itu, jika saja aku lebih jeli memperhatikan, tampak sedikit lebih kaku dari biasanya—seperti seseorang yang baru saja berhasil menghindari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan.

---

Aku tidak melanjutkan pertanyaan lebih jauh malam itu, memilih untuk mempercayai penjelasan sederhana yang diberikan Bayu. Namun, entah kenapa, rasa penasaran kecil itu tidak sepenuhnya hilang, mengendap di sudut pikiranku bersama dengan kejanggalan-kejanggalan kecil lain yang belakangan ini mulai bermunculan—foto dan gelang bayi di lemari, tarik tunai yang tidak jelas peruntukannya, kekakuan Feri saat pertama kali bertemu denganku, dan sekarang, sebuah nama baru: Wulan.

Malam itu, sambil berbaring di sisi Bayu yang sudah tertidur lebih dulu, aku menatap langit-langit kamar, mencoba merangkai kembali kejadian-kejadian kecil itu dalam kepalaku. Satu per satu, jika dipikirkan sendiri-sendiri, semuanya memang terdengar wajar dan bisa dijelaskan. Tapi entah kenapa, ketika dikumpulkan menjadi satu, ada semacam pola samar yang mulai terbentuk—pola yang belum cukup jelas untuk kusebut sebagai kecurigaan serius, namun juga tidak bisa lagi kuabaikan begitu saja seperti sebelumnya.

*Mungkin aku emang kebanyakan mikir,* batinku, mencoba menenangkan diri sendiri. *Bayu orangnya emang baik sama siapa aja, wajar kalau deket sama anak kecil orang lain.*

Namun, di sudut hati yang lain, ada sebagian kecil dari diriku yang mulai bertanya-tanya, mengapa belakangan ini semakin banyak nama-nama baru yang muncul dalam kehidupan Bayu yang tidak pernah kudengar sebelumnya, dan mengapa setiap kali nama-nama itu muncul, selalu ada sedikit keterkejutan di wajahnya sebelum akhirnya berhasil ia sembunyikan dengan penjelasan yang terdengar masuk akal.

---

Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan yang sedikit berbeda dari biasanya—bukan curiga sepenuhnya, namun ada semacam kewaspadaan kecil yang mulai tumbuh dalam diriku, membuatku, tanpa benar-benar kusadari, mulai lebih memperhatikan detail-detail kecil dalam interaksi sehari-hari dengan Bayu yang sebelumnya luput dari perhatianku.

Di kantor, aku sempat membuka kembali spreadsheet pengeluaran rumah tangga yang sudah beberapa minggu ini kususun secara diam-diam, menambahkan catatan kecil di sampingnya: *tarik tunai rutin, alasan: kebutuhan proyek—perlu konfirmasi lebih lanjut.* Sebuah catatan sederhana yang, tanpa kusadari, menjadi salah satu benih pertama dari proses panjang yang, dalam beberapa waktu ke depan, akan membawaku pada kebenaran yang jauh lebih besar dan lebih menyakitkan dari yang pernah bisa kubayangkan.

Malam itu, seperti biasa, aku dan Bayu melewati waktu bersama dengan cukup hangat, meski di dalam hatiku, benih kecurigaan yang mulai tumbuh sejak menemukan foto dan gelang bayi beberapa minggu lalu, kini bertambah satu lagi—sebuah nama, Wulan, yang entah kenapa terus terngiang di kepalaku, menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya terhubung dengan potongan-potongan kejanggalan lain yang, cepat atau lambat, akan membentuk gambaran utuh yang tidak bisa lagi kuabaikan.

---

*Bersambung ke Bab 18*

1
Heny
Sampai disini baca nya blm ketahuan
Thewie
bosan
Thewie
terlalu bertele2 Thor ceritamu, jadi membosankan pembaca🙏
Thewie
oala Bayu Bayu.. masih naek motor aja binik dua. KLO naek mobil gimana lagi lah kau laki2 keparat
Thewie
lanjut thor
Thewie
no coment yu. nunggu kebohongan suamimu terbongkar aja🤭
Nuna_Pena: 🤭🤭🤭 sabar yaaa
total 1 replies
Thewie
bangkai lama2 y kecium baunya. percayalah wanita yg tersakiti akan jadi wanita paling kejam sejagat raya
Nuna_Pena: bener banget. kalau sudah capek sabar,sekali meledak lelaki menyesal
total 1 replies
Thewie
dr Pulau Natuna mampir ya thor
Nuna_Pena: MasyaAllah. makasi sudah mampir.
total 1 replies
Ma Em
Selidiki Ayu jgn cuma nanya doang sama Bayu jgn bodoh kamu jadi istri percaya banget sama laki apapa tanya Bayu mana ngaku si Bayu sama kamu .
Ma Em
Ayu ini bodoh atau gimana sih masa tdk ada kecurigaan sama sekali sama Bayu terlalu percaya sama laki , nanti setelah Ayu tau kebenaran nya tentang Bayu yg sdh punya istri lagi bahkan sdh punya anak baru mati si Ayu bodoh itu .
Thewie: bodoh mmg Bun si ayu ini
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!