Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Beberapa hari setelah sesi konseling pertama, ada perubahan kecil yang mulai terlihat dari Juned. Ia mentransfer uang bulanan lebih awal dari biasanya, jumlahnya pun sedikit lebih besar dari yang biasa Anyara terima.
"Ra, ini buat kamu beli baju sama kebutuhan lain. Maaf ya, selama ini aku terlalu pelit," ucap Juned suatu pagi, menyerahkan amplop berisi uang tunai, tambahan dari transferan yang sudah masuk.
Anyara menerima amplop itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada bagian kecil dari dirinya yang merasa senang akhirnya diperhatikan. Tapi di sisi lain, ada suara lain yang bertanya-tanya, apakah perubahan ini tulus, atau sekadar usaha terakhir untuk mempertahankan pernikahan yang sudah retak.
"Makasih, Mas," jawab Anyara singkat, tidak menunjukkan reaksi berlebihan.
Ratih yang kebetulan lewat, ikut berkomentar. "Bagus itu, Juned, akhirnya sadar juga. Dari dulu Ibu bilang, istri itu jangan dipelitin, tapi kamu nggak pernah dengerin."
Juned hanya tersenyum kaku, tidak membantah, meski dalam hati mungkin ia sadar bahwa perubahan sikapnya kini justru mendapat dukungan dari ibunya sendiri—sesuatu yang dulu tidak pernah terjadi ketika Anyara meminta hal yang sama.
Siang harinya, Anyara memutuskan untuk pergi berbelanja baju baru, ditemani oleh Ratih yang tiba-tiba menawarkan diri untuk ikut.
"Ayo, Ibu temenin. Biar Ibu juga bisa kasih saran, mumpung lagi ada uang lebih," ucap Ratih dengan semangat yang tidak biasa.
Di toko baju, Ratih dengan antusias membantu memilihkan beberapa pilihan untuk Anyara, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lakukan.
"Ini bagus, Anyara, warnanya cocok sama kulit kamu," ucap Ratih, menyodorkan sehelai blus berwarna dusty pink.
"Makasih, Bu," jawab Anyara, mencoba blus itu di ruang ganti.
Ketika keluar dari ruang ganti, Ratih tersenyum lebar. "Wah, cantik banget! Kenapa selama ini kamu nggak pernah dandan kayak gini?"
Anyara tersenyum tipis, menahan diri untuk tidak menjawab dengan sindiran—karena selama ini, dandan seperti ini adalah kemewahan yang tidak pernah bisa ia jangkau dengan uang belanja seadanya yang selalu Juned berikan.
"Nggak sempet aja, Bu," jawabnya singkat.
Ratih terdiam sesaat, seperti menyadari sesuatu. "Anyara... maafin Ibu ya. Ibu baru sadar, selama ini kamu emang dibatesin banget sama Juned, sementara Ibu malah sering dikasih apa aja yang Ibu mau."
"Nggak apa-apa, Bu," jawab Anyara, meski dalam hati ia menghargai kejujuran itu, sesuatu yang jarang sekali ia dengar dari mertuanya sebelum semua kebenaran ini terbongkar.
Sore harinya, sepulang belanja, Anyara sempat berhenti sebentar di sebuah kafe kecil untuk beristirahat, sementara Ratih menunggu di mobil. Tanpa sengaja, ponselnya bergetar—pesan dari Hans.
"Mbak, kebetulan saya lagi di sekitar sini. Kalau ada waktu sebentar, boleh ketemu?"
Anyara ragu sejenak, mengingat Ratih sedang menunggu tidak jauh dari sana. "Maaf, Pak, saya lagi sama mertua. Nggak bisa lama-lama."
"Oh, nggak apa-apa. Kapan-kapan aja kalau gitu. Btw, gimana kabar setelah sesi konseling kemarin?"
"Lumayan, Pak. Suami saya mulai berubah, ngasih uang lebih, mertua juga jadi lebih perhatian."
"Itu bagus, Mbak. Tapi tetep hati-hati, jangan sampe perubahan itu cuma sementara doang buat nutupin rasa bersalah."
Anyara membaca pesan itu, menyadari kebenaran di baliknya. Ia memang mulai merasakan perubahan positif, tapi entah kenapa, kewaspadaan yang ditanamkan Hans membuatnya tetap berhati-hati untuk tidak terlalu cepat percaya bahwa semuanya sudah benar-benar membaik.
"Iya, Pak. Saya juga masih jaga jarak sedikit, belum yakin sepenuhnya."
"Bagus, Mbak. Jangan buru-buru maafin semuanya cuma karena ada perubahan sesaat."
Malam itu, di meja makan, suasana keluarga terasa lebih hangat dibanding beberapa minggu terakhir. Juned bercerita tentang harinya di kantor, Ratih menimpali dengan cerita arisan tadi siang, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Anyara merasa dilibatkan dalam obrolan keluarga tanpa merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.
Tapi di tengah kehangatan itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Juned yang tergeletak di meja, terlihat sekilas oleh Anyara—nama pengirimnya bukan lagi "Sayang", melainkan nomor baru yang belum tersimpan, dengan notifikasi singkat yang sempat terbaca: "Mas, kok tiba-tiba ilang kabar?"
Juned buru-buru menyambar ponselnya, mematikan layar dengan gerakan yang terlalu cepat untuk terlihat wajar.
Anyara menatapnya sekilas, tidak berkomentar apa-apa, tapi dalam hati, kewaspadaan yang sempat mereda karena perubahan sikap Juned belakangan ini, kembali menguat—mengingatkannya pada pesan Hans tadi sore, bahwa perubahan sesaat tidak selalu berarti perubahan yang sesungguhnya.