NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Awal Mula

Di sudut kota yang ramai, Kafe Merah berdiri kokoh dengan desain interiornya yang didominasi warna merah marun dan pencahayaan temaram. Denting cangkir bersahutan halus dengan lantunan musik jazz ber-gengsi rendah yang mengalun dari pengeras suara. Di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya, seorang wanita muda duduk anggun dengan postur tubuh tegap dan sempurna. Ia adalah Nadia, sosok Direktur Utama Nugroho Group yang disegani. Rambut hitamnya terikat rapi di belakang, sementara matanya yang tajam menatap layar tablet berukuran sedang di tangannya.

Pintu kafe terbuka, memicu gemerincing bel kecil di atas pintu. Seorang pemuda berparas sangat tampan melangkah masuk. Ia adalah Arga Dewa, sahabat karib Bimo yang terpaksa berpakaian serba mencolok sesuai rencana konyol yang mereka rancang kemarin malam. Dewa mengenakan kemeja bermotif bunga-bunga tropis berwarna kuning menyala dengan tiga kancing teratas sengaja dibuka lebar, memperlihatkan kaus dalam hitam yang ketat. Kacamata hitam berbingkai emas hinggap di hidungnya yang mancung, sementara gaya jalannya sengaja dibuat agak diseret dan dibuat-buat, persis seperti gambaran pria flamboyan yang norak.

Dewa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya terhenti pada sosok wanita yang duduk sendirian di sudut jendela, persis seperti ciri-ciri yang digambarkan Bimo. Dengan senyum lebar yang terkesan dipaksakan, Dewa melangkah mendekat.

"Permisi, apakah Anda Nona Nadia?" tanya Dewa dengan nada suara yang sengaja dibikin berat dan agak mendayu-dayu.

Nadia mengangkat wajahnya perlahan. Pandangan matanya yang dingin menyapu penampilan Dewa dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Namun, tidak ada keterkejutan atau perubahan ekspresi sedikit pun di wajah cantiknya.

"Ya, saya Nadia. Anda Bimo?" tanya Nadia datar, suaranya jernih dan sangat formal.

Dewa segera menarik kursi kayu di hadapan Nadia tanpa menunggu dipersilakan. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi hingga mengeluarkan suara berdecit yang cukup keras.

"Yup, betul sekali! Bimo yang tampan, keren, dan tiada tandingannya di kota ini," sahut Dewa seraya mengedipkan sebelah matanya dan melepas kacamata hitamnya dengan gaya yang berlebihan.

Nadia hanya meletakkan tabletnya di atas meja, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tetap menatap Dewa dengan tatapan lurus dan tanpa emosi.

"Duduk yang benar. Suara kursimu mengganggu pengunjung lain," ujar Nadia singkat dan tegas.

Dewa terkekeh, lalu sengaja bersandar santai sambil merentangkan kedua tangannya di sandaran kursi.

"Duh, santai saja kali, Nona Cantik. Kita kan mau kenalan, bukan mau ujian masuk tentara. Lagian, kafe ini punya siapa sih? Kalem aja."

Seorang pelayan kafe mendekat dengan sopan sambil membawa buku menu.

"Mau pesan apa, Mas?" tanya pelayan tersebut.

"Bawa kopi yang paling mahal di sini, ya. Yang biji kopinya dipetik pas bulan purnama kalau ada. Terus sekalian camilan apa saja yang harganya bikin kantong orang biasa jebol," jawab Dewa setengah berteriak, sengaja pamer keberadaan uang yang sebenarnya bukan miliknya.

Pelayan itu mengangguk canggung. "Baik, tunggu sebentar, Mas."

Nadia tidak menghentikan aksinya sama sekali. Wajahnya tetap datar seperti papan kayu.

"Sudah selesai pameran kelakuan tidak sopannya?" tanya Nadia santai.

Dewa agak terkejut dengan reaksi dingin wanita di depannya. Dalam hatinya, ia membatin, Anjir, ini cewek hatinya terbuat dari batu apa gimana? Harusnya dia udah ilfiel terus ngamuk-ngamuk dari tadi.

Dewa pun mencoba meningkatkan intensitas aktingnya. Ia memajukan badannya ke depan meja, menyandarkan dagunya di telapak tangan, lalu menatap Nadia dengan senyum nakal yang sengaja dibuat semiring mungkin.

"Kok bicaranya dingin banget sih, Nona Nadia? Gimana kalau selesai dari sini kita jalan-jalan? Saya tahu tempat dugem paling hits yang cewek-ceweknya cantik-cantik. Nanti kamu saya kenalin sama teman-teman saya yang keren."

"Saya tidak berminat pergi ke tempat seperti itu," jawab Nadia dingin.

"Lah, kenapa? Jangan kaku-kaku amat jadi cewek. Hidup itu cuma sekali, harus dinikmati! Lihat saya dong, bebas, banyak pacar, dan enggak pusing memikirkan urusan kerjaan yang bikin ubanan."

"Saya bekerja untuk memimpin belasan ribu karyawan di Nugroho Group, Bimo. Bukan untuk menghabiskan waktu sia-sia seperti yang kamu lakukan," potong Nadia tegas tanpa menaikkan nada suaranya.

"Ya elah, serius banget. Kamu itu masih muda, wajah cantik tapi muka cemberut terus. Nanti lekas tua loh. Apa mau saya ajarin cara bersenang-senang?" Dewa kembali tertawa lepas, sengaja membuat suaranya terdengar makin menggelegar di area kafe yang tenang itu.

Pelayan datang kembali dan menyajikan segelas espresso kental serta sepiring kue kering di meja Dewa. Dewa langsung menyeruput kopi tersebut dengan suara yang sangat berisik.

Srrrruuuupppp!

"Ah! Mantap betul," celetuk Dewa sambil menyapu bibirnya menggunakan punggung tangannya sendiri.

Beberapa pengunjung di meja sekitar mulai menengok karena risih, namun Nadia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya. Ia justru mengambil cangkir teh kamomil miliknya, meminumnya sedikit dengan sangat anggun, lalu meletakkannya kembali secara perlahan tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun.

"Penampilanmu sangat mencolok, Bimo," ucap Nadia datar.

"Kenapa? Keren kan? Kemeja ini impor langsung loh. Bermotif bunga matahari biar cerah seperti masa depan kita... eh maksudnya masa depan kamu kalau jalan sama pria sepopuler saya."

"Kemejamu terlalu banyak membuka kancing atas. Dan kombinasi warnanya sangat merusak pemandangan," balas Nadia tenang.

"Hahaha! Itu namanya gaya, Nona. Cowok keren jaman sekarang memang penampilannya harus berani. Katanya kamu itu CEO hebat, masa gaya busana modern begini saja kamu enggak paham?"

"Saya paham estetika. Dan yang kamu kenakan saat ini bukan estetika, melainkan usaha yang terlalu keras untuk menarik perhatian," sahut Nadia tajam.

Dewa tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban menohok tersebut, namun ia berusaha keras mempertahankan raut wajah menyebalkannya.

"Yah, terserah kamu mau omong apa. Yang penting cewek-cewek di luar sana banyak yang antre mau jadi pacar Bimo. Kamu beruntung loh bisa duduk satu meja sama saya hari ini."

"Beruntung?" Nadia menaikkan sebelah alisnya tipis.

"Iya dong! Dijodohkan sama anak pengusaha kaya, ganteng, humoris, terus pinter nikmatin hidup. Kurang apa lagi coba?"

"Kurang tata krama," sahut Nadia singkat.

Dewa menepuk mejanya pelan sambil tertawa paksa. "Waduh, tajam banget omongannya. Tapi jujur ya, saya itu tipe pria yang enggak bisa diatur-atur. Kalau kita nanti keterusan, kamu harus siap-siap gigit jari karena saya enggak bakal betah di rumah. Saya bakal sering keluar malam sama cewek-cewek lain."

Dewa menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi, menyilangkan kakinya tinggi-tinggi, lalu menatap Nadia dengan pandangan meremehkan. Dalam hatinya, Dewa bersorak, Nah, ini dia poin utamanya! Cewek mana coba yang mau sama cowok playboy terang-terangan begini? Pasti sebentar lagi dia berdiri terus menyiram air ke muka gue.

Nadia memiringkan kepalanya sedikit. Tatapan matanya yang sangat tenang seolah sanggup menembus semua topeng berpura-pura yang sedang dipakai Dewa saat itu.

"Kamu sudah selesai bicara tentang daftar keburukanmu?" tanya Nadia.

"Loh, saya ngomong jujur ini. Saya ini pria serba liar. Jadi, mending kamu pikir-pikir lagi deh sebelum mau dijodohkan sama saya. Saya yakin kamu pasti jijik kan lihat kelakuan saya dari tadi?"

Nadia menarik napas pendek lalu menghembuskannya perlahan dari hidung. Ia tidak terlihat marah, atau terganggu sedikit pun.

"Saya tidak peduli," kata Nadia datar.

Dewa mengerutkan dahi, kehilangan arah dari skenario yang sudah ia susun bersama Bimo.

"Hah? Gak peduli gimana maksudnya?"

"Mau kamu berpakaian seperti badut, bicara tidak sopan, atau mengklaim dirimu sebagai pria playboy di seluruh kota ini, saya sama sekali tidak peduli dengan semua hal itu," tegas Nadia dengan suara jernih dan pasti.

Dewa tertegun sejenak. Ia membetulkan posisi duduknya yang tadinya menyandar asal-asalan menjadi agak tegap karena rasa heran yang teramat sangat.

"Tunggu dulu... kamu seriusan? Cewek sejuta pesona kaya kamu masa mau sama cowok norak dan kelakuan minus kaya yang kamu lihat sekarang ini?"

Nadia menatap lurus ke dalam manik mata Dewa tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya yang anggun dan dingin.

"Penampilan dan kelakuanmu hari ini tidak ada korelasinya dengan tujuan utama saya datang ke kafe ini, Bimo."

Dewa terdiam membisu di kursinya, mencoba mencerna kata-kata dari wanita di hadapannya yang sama sekali tidak masuk ke dalam jalur rencana penyamarannya.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!