NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidak Mbah Solo dan Mafia Bule yang Ciut Nyali

Minggu pagi di kediaman Hapsburg yang seharunya tenang mendadak berubah menjadi simulasi bencana alam skala nasional.

Penyebabnya bukan karena ada serangan balasan dari kartel Eropa, melainkan sebuah panggilan telepon berdurasi lima belas detik yang diterima Tania saat sedang memotong daun bawang di dapur.

"Tania, Ibu wis neng Stasiun Bogor. Ki mampir sedela ngeterake jadah tempe karo kerupuk kulit. Sepuluh menit meneh Ibu tekan rumahmu."

KLIK.

Tania membeku. Pisau dapur di tangannya hampir saja terlepas. Wajahnya yang biasanya sangar saat menghadapi ratusan preman, kini pucat pasi melebihi warna tembok dapur.

"M-Mbah Warsi..." bisik Tania dengan suara bergetar. "Ibu mau datang..."

Xander yang sedang santai membaca koran sambil menyesap kopi hitamnya memiringkan kepala. "Ibumu? Mertuaku yang dari Solo itu? Bukankah itu berita bagus, Sayang? Kita bisa menyambutnya dengan upacara jajar kehormatan dan pesta barbeku."

Tania mendadak membalikkan badan, melompat dan mencengkeram kerah kaus Xander dengan kedua tangannya, mengguncang-guncang tubuh raksasa suaminya itu.

"MAS XANDER, KITA DALAM BAHAYA TINGKAT TINGGI!" jerit Tania panik. "Ibu itu sepuluh kali lebih galak dari aku! Beliau itu mantan guru Srimulat dan pembina PKK tingkat provinsi! Kalau beliau lihat ada senjata tajam, kemeja taktis, atau sarang mafia di rumah ini, kita semua bakal disuruh sujud sukur di atas pecahan genting!"

Xander yang pernah selamat dari tiga ledakan bom mobil dan belasan upaya pembunuhan, seketika ikut tertular kepanikan masif saat melihat istrinya ketakutan.

"DIRGA! FREYA! KODE MERAH!" teriak Xander menggelegar ke seluruh penjuru rumah. "BERSIHKAN SEMUA SENJATA! SEMBUNYIKAN DI BALIK SEPTIC TANK!"

Dalam waktu kurang dari tujuh menit, sebuah transformasi ekstrem terjadi di kediaman Hapsburg:

Seluruh senapan serbu, crossbow, dan bom asap dimasukkan ke dalam brankas kedap udara bawah tanah.Dirga melepas jas taktisnya, menggantinya dengan sarung motif kotak-kotak dan peci hitam yang sedikit miring, bertransformasi menjadi marbot masjid lokal.Freya melepas pisau-pisaunya, mengenakan daster kain santung dan celemek, menyapu teras depan dengan sapu lidi sambil pura-pura menyanyikan lagu Kelinci Ucul.Xander dipaksa melepaskan kaus ketatnya. Tania memakaikannya kemeja batik Solo motif Sidomukti yang agak kebesaran dan melilitkan sarung Cap Gajah Duduk di pinggang suaminya."Mas, dengar," panggil Tania sambil merapikan tatanan rambut suaminya yang berantakan. "Nanti kalau Ibu datang, jangan menatap matanya terlalu tajam. Kalau dia bicara bahasa Jawa, kamu cukup mengangguk, tersenyum, terus bilang 'Mboten, Mbah' atau 'Inggih, Mbah'. Paham?"

Xander menelan ludah keras-keras, merapikan ikatan sarungnya yang terasa melorot. "A-aku paham, Tania. Tapi... apakah ibumu benar-benar lebih berbahaya daripada Kaelen?"

"Kaelen cuma bisa mencabut nyawa orang, Mas," bisik Tania dramatis. "Tapi Ibuku bisa mencabut harga dirimu sebagai laki-laki cuma pakai satu lirikan mata."

TIN! TIN!

Suara klakson taksi terdengar di depan pagar.

Xander berdiri kaku di samping Tania di ambang pintu depan, napasnya tertahan. Pintu taksi terbuka, dan turunlah Mbah Warsi—seorang wanita sepuh berusia 68 tahun bertubuh mungil, mengenakan kebaya Jawa klasik, kain jarik, dan konde rapi. Tangan kirinya menenteng keranjang anyaman bambu besar berisi oleh-oleh.

Mbah Warsi melangkah masuk ke halaman. Matanya yang tajam di balik kacamata ganda menyapu seluruh area rumah dengan ketelitian seorang inspektur jenderal.

"Sugeng rawuh, Mbah..." sapa Dirga sambil menundukkan kepala dalam-dalam saat membukakan pintu pagar.

Mbah Warsi menghentikan langkahnya, menatap Dirga dari atas sampai bawah. "Lho, kamu ini pembantu baru? Kok bahumu tegap banget kayak tiang listrik? Sering angkut beras, ya?"

"I-inggih, Mbah... hobi saya angkut beras..." cicit Dirga, seorang assassin elit yang kini keringat dinginnya menetes hingga ke peci.

Mbah Warsi berjalan naik ke teras. Tania langsung maju, menyalami dan mencium tangan ibunya dengan sangat khidmat. Dea ikut menyusul, memeluk neneknya dengan manja.

"Mbah Putri!" sapa Dea ceria.

Wajah kaku Mbah Warsi seketika mencair menjadi senyuman hangat saat melihat cucu kesayangannya. "Aduh, putriku yang ayu... Makin pinter ya di sekolah? Ra kayak ibumu seng biyen senengane memanjat pohon mangga tetangga."

"Ibu, ah..." protes Tania pelan.

Lalu, pandangan Mbah Warsi berganti lurus ke arah pria bule raksasa setinggi 190 cm yang berdiri kaku di sebelahnya. Xander, Sang Dominus Umbrae, mencoba memasang senyum terbaiknya. Namun karena terlalu tegang, senyumannya justru terlihat seperti orang yang sedang terkena serangan angin duduk.

Mbah Warsi melipat tangannya di dada, berjalan melingkari Xander, meneliti setiap senti dari suami menantunya itu.

"Xander," panggil Mbah Warsi dengan bahasa Indonesia berlogat Solo yang sangat kental. "Kamu ini bule kok sarungan tapi badannya sebesar lemari dua pintu? Kamu kalau tidur di kasur, kasurnya melengkung, tidak?"

"I-inggih, Mbah... Mboten..." jawab Xander panik, langsung mengeluarkan dua kata sakti yang diajarkan Tania sekaligus.

Tania menepuk jidatnya pelan di belakang ibunya.

Mbah Warsi mengernyitkan alis. "Inggih apa mboten? Yang benar yang mana? Ibumu ini ngajarin bahasa Jawa gimana, toh?"

"Maksudnya Mas Xander, kasurnya aman-aman aja kok, Bu," potong Tania cepat, merangkul lengan ibunya. "Ayo masuk, Bu. Adem di dalam. Tania bikin teh nasgitel kesukaan Ibu."

Selama dua jam berikutnya, kediaman Hapsburg berada di bawah rezim pendudukan Mbah Warsi. Wanita sepuh itu memeriksa setiap sudut rumah. Ia mengomeli Tania karena lipatan sprei kurang rapi, memuji Dea yang pintar bikin kopi, dan terus-menerus mengawasi Xander.

Xander dipaksa duduk bersila di atas karpet ruang tamu. Karena kakinya yang terlalu panjang dan ototnya yang kaku, duduk bersila adalah siksaan yang jauh lebih berat daripada diinterogasi oleh Interpol. Bagian bawah sarungnya berkali-kali tersingkap, membuat Tania harus bolak-balik merapikannya sambil melotot.

"Xander," panggil Mbah Warsi dari meja makan sambil mengunyah tempe bacem. "Sini."

Xander langsung melompat berdiri tegak bagaikan prajurit dipanggil komandan. "Siap, Mbah!"

"Sini, duduk." Mbah Warsi menunjuk kursi di sebelahnya. Xander melangkah kaku lalu duduk dengan sangat sopan, merapatkan kedua lututnya.

Mbah Warsi menatap Xander lekat-lekat, lalu menyodorkan sebuah piring berisi ulekan sambal mentah dan tempe goreng. "Kamu ini kan bule. Bisa makan sambal Jawa tidak? Laki-lakinya Tania itu tidak boleh ada yang manja sama cabai."

Tania dari arah dapur meringis, bersiap untuk intervensi karena tahu suaminya lebih terbiasa makan steak dan pasta Eropa.

Namun, Xander tidak mau memalu-malukan istrinya di depan sang mertua. Demi menjaga kehormatan keluarga dan rasa cintanya pada Tania, Xander mengambil sepotong tempe, mencolek sambal mentah yang warna merahnya sangat pekat itu dalam jumlah banyak, lalu memasukkannya ke dalam mulut tanpa ragu.

Xander mengunyah.

Dua detik pertama... rasa gurih dan terasi terasa di lidahnya.

Detik ketiga... sebuah ledakan panas luar biasa seolah menghantam syaraf-syaraf otaknya. Rasa pedas cabai rawit lokal membakar tenggorokannya bagaikan lahar dingin. Keringat sebesar biji jagung seketika meletus di jidat bulenya. Matanya yang biru mendadak berair dan memerah.

Namun, Xander menahan napas, menelan tempe itu bulat-bulat, lalu tersenyum tegar meski jiwanya rasanya baru saja melayang ke langit ketujuh.

"E-enak sekali, Mbah... Mantap..." ucap Xander dengan suara serak menahan derita.

Mbah Warsi menatap Xander selama beberapa detik, lalu... sebuah senyuman puas terukir di wajah sepuhnya. Ia menepuk-nepuk bahu kekar Xander dengan bangga.

"Nah! Ini baru menantunya Ibu!" puji Mbah Warsi gembira. "Gagah, penurut, makan sambal juga berani! Ibumu tidak salah pilih suami, Tania!"

Tania yang menonton dari kejauhan bernapas lega luar biasa. Ia menyodorkan segelas besar air kelapa muda ke tangan Xander yang gemetar, menatap suaminya dengan pandangan penuh rasa cinta dan terima kasih. Xander mengalirkan air kelapa itu ke tenggorokannya bagaikan menemukan oase di tengah padang pasir.

Sore harinya, saat Mbah Warsi sedang beristirahat di kamar tamu, sebuah insiden kecil terjadi di depan rumah.

Dua orang penagih utang keliling (debt collector) berbadan kekar dengan jaket kulit hitam memarkirkan motornya di depan pagar. Mereka mencari pemilik rumah lama yang ternyata belum melunasi tunggakan pinjaman.

"WOI! KELUAR LU!" teriak salah satu penagih utang sambil menggedor pagar besi dengan keras. "JANGAN SEMBUNYI LU YA!"

Dirga dan Freya yang sedang berjaga di halaman langsung memasang kuda-kuda, siap mematahkan leher kedua orang itu dalam lima detik.

Namun, pintu depan lebih dulu terbuka. Xander keluar, masih mengenakan kemeja batik dan sarung Cap Gajah Duduknya. Langkah kakinya yang berat membuat lantai teras sedikit bergetar.

Kedua penagih utang itu tersentak kaget melihat bule raksasa berwajah kejam keluar dari dalam rumah. Wajah Xander yang masih sedikit merah akibat kepedasan sambal membuat auranya terlihat sepuluh kali lebih menakutkan dari biasanya.

"Ada masalah apa di rumahku?" tanya Xander dengan suara bariton yang berat dan bergema.

"E-eh... ini, Pak... kita mau menagih utang atas nama Pak Hendra..." kata salah satu penagih utang, nyalinya seketika menciut melihat ukuran lengan Xander.

Sebelum Xander sempat membalas, dari balik punggungnya, Mbah Warsi muncul sambil menenteng sebuah sapu lidi.

"SIAPA YANG TERIAK-TERIAK DAPAN RUMAHANNYA CUCUKU?!" bentak Mbah Warsi, suaranya melengking nyaring mengalahkan klakson mobil.

Wanita tua itu berjalan menerobos Xander, maju ke depan pagar, dan tanpa ragu memukulkan sapu lidi itu ke helikopter helm yang dipegang penagih utang.

TAK! TAK! TAK!

"Nggak punya sopan santun! Orang tua lagi tidur siang malah diganggu! Pak Hendra udah pindah dari dua tahun lalu, Goblok!" omel Mbah Warsi bahasa Jawa campur Indonesia, membuat kedua penagih utang berbadan kekar itu mundur ketakutan, kewalahan menangkis sabetan sapu lidi seorang nenek-nenek.

"M-maaf, Nenek! Maaf! Kita salah alamat!" jerit salah satu penagih utang panik. Mereka buru-buru naik ke motor dan tancap gas meninggalkan tempat itu sambil terbirit-birit.

Mbah Warsi merapikan kenduran kondenya, membuang ludah ke samping, lalu berbalik kembali ke teras dengan santai. "Anak muda zaman sekarang... cuma menang badan besar tapi kelakuan kayak ayam sayur."

Xander, Dirga, dan Freya hanya bisa berdiri terpaku mematung di teras, melongo melihat aksi eksekusi brutal menggunakan sapu lidi tersebut.

Xander perlahan menoleh ke arah Tania yang berdiri menyandar di pintu sambil tersenyum geli.

"Tania..." bisik Xander dengan rasa takjub yang mendalam. "Sekarang aku sadar... darah prajurit yang mengalir di tubuhmu dan Dea... semuanya berasal dari wanita tua itu."

Tania tertawa renyah, menggandeng lengan suaminya. "Kan sudah aku bilang, Mas. Di dunia ini ada hierarki kekuasaan. Di bawah ada mafia, di atasnya ada tentara, di atasnya lagi ada aku... tapi pelindung tertinggi dari segala pelindung adalah Mbah-Mbah dari Solo."

Xander tersenyum hangat, memeluk pinggang istrinya rapat-rapat. Malam itu, di bawah naungan Kediaman Hapsburg yang kini dipenuhi aroma tempe bacem dan kerupuk kulit, sang mantan raja dunia bawah menyadari satu hal: kehidupan normal di Indonesia memang penuh ketidakdugaan yang konyol, namun kehangatan keluarga inilah yang membuat seluruh perjuangan hidupnya bernilai sepenuhnya.

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!