Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pagi itu, area parkir utama Universitas Columbia yang biasanya dipenuhi oleh hiruk-pikuk mahasiswa mendadak berubah menjadi panggung perhatian.
Sinar matahari pagi yang cerah memantul sempurna pada bodi mulus mobil sport Pagani Huayra berwarna hitam legam milik Kaetos Ashford.
Raungan mesinnya yang khas dan menggelegar saat memasuki pelataran kampus sudah cukup untuk membuat lusinan pasang mata menoleh secara serentak.
Namun, bukan kemewahan mobil itu yang membuat suasana seketika membeku.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah perjalanan kuliah mereka, pintu sebelah penumpang Pagani Huayra itu terangkat ke atas.
Dari dalam mobil, sebuah kaki jenjang berdibalut sepatu sneakers putih yang bersih melangkah turun.
Parrie Rose keluar dari mobil mewah tersebut, merapikan tali tas punggungnya dengan helaan napas panjang yang berusaha menetralkan gemuruh di dadanya.
Hari ini, setelah segala dinamika, rahasia, dan kehangatan yang mereka lewati di meja makan keluarga Ashford kemarin, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk berhenti bersembunyi. Mereka memutuskan untuk memperlihatkan pada dunia—bahwa mereka bersama.
Kaetos turun dari pintu pengemudi.
Pria tampan itu mengitari bodi mobil tanpa memedulikan kasak-kusuk mahasiswa di sekitarnya yang mulai berbisik histeris.
Dengan gerakan yang begitu alami dan terbiasa, Kaetos meraih jemari Parrie, menggenggamnya erat, lalu menyelipkan jemarinya di antara jemari gadis itu.
Tepat beberapa meter di seberang mereka, sebuah mobil sedan merah mewah baru saja terparkir.
Pintu pengemudinya terbuka, dan keluar sosok Irysh dengan penampilan glamor seperti biasa. Irysh baru saja selesai memperbaiki riasan bibirnya di dalam mobil. Namun, begitu manik matanya menangkap pemandangan Kaetos yang menggandeng tangan Parrie secara terbuka di tengah pelataran parkir, matanya seketika membelalak sempurna.
TAK! TAK! TAK!
Irysh melangkah dengan heboh, menekan cengkeraman high heels tingginya pada aspal pelataran parkir dengan ritme yang cepat dan nyaring, membelah kerumunan mahasiswa.
"Wah, sialan kau, Kaetos Ashford!" seru Irysh heboh tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
"Walaupun aku sudah menduganya sejak awal soal hubungan kalian yang terang-terangan penuh kode dan tatapan cinta... tetap saja! Kau berhutang cerita padaku, Parrie! Kenapa kau bisa mau bersama pria tembok kaku seperti Kaetos ini?!"
Parrie merona hebat, menyembunyikan senyum malunya di balik bahu Kaetos. Namun Kaetos hanya mendengus santai, justru semakin mengencangkan genggaman tangannya pada Parrie.
"Dia bersamaku karena aku jauh lebih baik daripada pria mana pun di kampus ini, Irysh," sahut Kaetos dingin namun penuh percaya diri.
"Percaya diri sekali kau, Tuan Muda!" cibir Irysh sambil berkacak pinggang.
Belum sempat Parrie membalas ucapan sahabatnya, suara langkah kaki tegap lainnya mendekat.
Kendrick dan Marvel—dua sahabat karib Kaetos—berjalan menghampiri mereka.
Kendrick yang tadinya sibuk menyesap kopi kalengnya mendadak menghentikan langkah, menyipitkan mata menatap leher Kaetos yang sedikit terbuka di balik kerah kemejanya.
"Oh, shit!" seru Kendrick tiba-tiba dengan mulut pedasnya yang tanpa filter. "Kae... lehermu merah! Bercak gigitan apa itu?! Kau habis diserang vampir atau habis bertarung di ranjang?!"
Parrie rasanya ingin menghilang dari muka bumi detik itu juga. Wajahnya membakar hangat hingga ke ujung telinga.
Marvel yang berada di sebelah Kendrick tak kalah heboh. Pria itu bertepuk tangan heboh dengan tawa menggema.
"Wah, wah! Aku turut bahagia akhirnya sahabatku yang kaku ini gol juga! Ternyata di balik wajah temboknya, kau sangat agresif ya, Kae—"
PLAK!
Suara tempeleng keras menggelegar di udara.
Tanpa peringatan, Irysh tiba-tiba melayangkan buku tebal yang dipegangnya lurus menampar mulut Marvel dengan telak.
"Aww! Sialan, Irysh! Kenapa kau memukul mulutku?!" ringis Marvel sambil mengelus bibirnya yang terasa panas dan nyeri.
Irysh mengibaskan tangannya santai, menatap Marvel dengan pandangan merendahkan dari balik kacamata hitamnya.
"Oh, sorry... tanganku sedikit licin."
"Licin tengkorakmu!" amuk Marvel tidak terima. "Kau sengaja menampar mulut tampanku dengan buku tebal itu!"
"Lagian mulutmu itu seperti selokan tidak beratap, Marvel!" sembur Irysh, memasang wajah jijik.
"Pagi-pagi begini sudah membahas soal gol dan urusan ranjang orang lain! Sangat tidak berpendidikan!"
Marvel tertawa sinis, melangkah mendekati Irysh hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
"Oh, hei, Nona Suci! Jangan berlagak seperti perawan polos di depan umum! Kau bicara seolah-olah kau tidak tahu apa-apa soal urusan ranjang!"
Irysh menyilangkan dadanya, menatap Marvel miring. "Tentu saja aku tahu! Tapi setidaknya aku tahu tempat untuk membahasnya! Tidak seperti dirimu—pria kanebo kering yang cuma besar di mulut!"
Kata-kata Irysh seketika menyenggol harga diri Marvel sebagai seorang pria.
"Apa kau bilang?! Kanebo kering?!" seru Marvel dengan mata membelalak, tidak terima disebut demikian.
"Irysh! Jangan melupakan sejarah! Kau berbicara seolah-olah kau tidak pernah merasakan bagaimana performaku di atas ranjang masa lalu kita!"
Parrie seketika menutup mulut mereka karena terkejut, sementara Kaetos hanya menghela napas berat, sudah sangat terbiasa dengan kegilaan dua sahabatnya itu.
"Masa lalu itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku!" balas Irysh tak mau kalah, menekankan vokalnya.
"Performamu? Ha! Kau itu cuma pandai bual di awal! Di ranjang kau kaku dan tidak ada variasi sama sekali! Dasar kanebo kering!"
"Bukan aku tak berhasrat, Irysh!" potong Marvel berang dengan nada membela diri yang membumbung tinggi. "Tapi aku takut kau mati mengenaskan di atas ranjang, sialan! Kau itu tubuhnya kecil seperti papan! Harusnya kau beruntung dan berterima kasih aku tidak memaksa dan menghantammu setiap hari!"
"Mati mengenaskan?!" Irysh tertawa mengejek, suaranya naik satu oktav. "Kau pikir aku selemah itu?! Yang ada aku yang bosan menunggu kau menyelesaikan permaiananmu yang lambat itu! Kau yang harusnya sadar diri, Marvel!"
"Sialan kau, perempuan gila!"
"Kau pria tidak berguna!"
"Cukup!" sela Kendrick sambil memijat pelipisnya yang mendadak pening melihat percekcokan mesum di pelataran parkir kampus.
"Kalian berdua bisakah tidak membongkar aib masa lalu ranjang kalian di depan seluruh mahasiswa?! Lihat sekeliling kalian!"
Marvel dan Irysh refleks menoleh ke sekeliling.
Benar saja, puluhan mahasiswa yang melintas kini menghentikan langkah mereka, menonton adu mulut panas nan vulgar antara dua sejoli yang dulu pernah menjalin hubungan itu.
Irysh mendengus keras, merapikan gaunnya dengan penuh keanggunan yang dipaksakan. "Terserah! Aku mau masuk kelas. Parrie, ayo!"
Irysh langsung menarik tangan Parrie yang masih syok, meninggalkan area parkir dengan langkah seribu, meninggalkan tiga pria yang berdiri di samping mobil sport.
Marvel masih menggerutu sambil mengusap bibirnya yang terkena pukulan buku.
"Awas saja perempuan itu... akan kubuat dia meminta ampun suatu hari nanti."
Kaetos menatap Marvel dingin, lalu mengusap lehernya yang sempat disinggung Kendrick tadi. "Kau mengurus mantanmu, Marvel. Jangan sampai mengganggu ketenangan Wanitaku."
"Mantan gila itu yang memulainya duluan, Kae!" seloroh Marvel frustrasi.
Kendrick hanya terkekeh pelan sambil merangkul bahu Kaetos.
"Abaikan Marvel. Tapi serius, Kae... melihatmu bergandengan tangan dengan Parrie secara terbuka hari ini... aku senang kau akhirnya menemukan bahagiamu."
Kaetos menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman langka yang sangat jarang diperlihatkannya pada dunia. Tangannya mengepal di dalam saku celana, merasakan kehangatan bekas genggaman Parrie yang masih tertinggal di jemarinya.
"Ya," jawab Kaetos pelan namun mantap. "Dan aku tidak akan pernah melepaskannya lagi."