Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Home tour
Sekarang Devan membawa Aira berkeliling untuk mengenalkan setiap sudut rumah mewahnya. Niat Devan sederhana. Supaya Aira paham tata letak rumah dan tidak tersesat di tempat semegah ini.
Di lantai satu terdapat dua kamar, satu milik Maria dan satunya lagi kamar tamu. Tepat di samping bangunan utama, terhampar taman asri yang tertata rapi, lengkap dengan kolam renang luas yang jernih di dekatnya.
"Wah, tamannya cantik banget! Enak banget ini kalau dipakai santai sambil ngopi sore-sore." cetus Aira terkagum-kagum.
"Iya, Sayang. Kalau kamu mau renang kapan saja juga tinggal masuk ke kolam." sahut Devan santai.
"Pengen sih... tapi aku nggak bisa renang." aku Aira polos.
Devan tersenyum tipis. "Nanti aku ajarin sampai bisa, Sayang."
Lantai satu juga dilengkapi dapur, ruang makan, dan ruang keluarga yang nyaman. Begitu naik ke lantai dua, fasilitasnya makin gila. Selain tiga kamar, termasuk kamar tamu tambahan ada ruang baca, gym pribadi, ruang karaoke, hingga bioskop mini.
"Beneran serba ada, ya! Kalau gini sih nggak usah repot-repot ke bioskop luar kalau cuma mau nonton." ujar Aira geleng-geleng kepala.
Devan menatap Aira hangat. "Baguslah, nanti kita bisa movie date berduaan di sini tanpa ada yang mengganggu."
Aira cuma bisa terpana melihat kemewahan ini. Bahkan saat melihat lemari baju, isinya sudah seperti butik dengan jajaran pakaian merek ternama.
Lalu, Devan mengajaknya ke lantai tiga. Di sinilah kamar utama berada, langsung terhubung dengan ruang kerja Devan. Tapi yang paling membuat Aira melotot adalah keberadaan kolam renang pribadi di area rooftop!
"Di sini ada kolam renang lagi, Sayang. Jadi kalau mau renang yang benar-benar privat tanpa kelihatan siapa pun, bisa di sini." bisik Devan.
Aira menganga lebar. Baru kali ini dia melihat rumah yang punya private pool langsung di lantai atas. Devan benar-benar berada di level sultan yang berbeda.
Setelah puas diajak house tour, Aira memutuskan untuk bergegas ke dapur. Dia sejujurnya bingung harus melakukan apa di rumah suaminya. Sejak melangkah masuk, dia tidak dibiarkan menyentuh pekerjaan rumah sedikit pun karena semua sudah ditangani oleh asisten rumah tangga.
Terbiasa sibuk, Aira malah merasa canggung. Akhirnya, dia memilih memasak untuk Devan, dan sang suami pun dengan setia menemaninya di dapur.
"Kamu mau masak apa, Sayang?" tanya Devan sambil memperhatikan gerak-gerik istrinya.
"Mas mau dimasakin apa?" Aira balik bertanya.
"Mmm... lagi pengen makan perkedel sama gulai salmon, deh." jawab Devan tersenyum.
Mendengar permintaan itu, hati Aira mendadak mencelos. Dia teringat saat Devan dulu tinggal di rumah keluarganya. Devan selalu disuguhi makanan seadanya sambal ikan asin, tahu, tempe, dan sayur bening sebab ibunya hampir tak pernah memasak daging untuk Devan.
Tanpa buang waktu, Aira langsung mengolah bahan. Walau belum pernah memasak salmon, dia sudah lihai membuat gulai ayam. Lagi pula, isi kulkas Devan super lengkap, mirip minimarket pribadi.
"Oh iya, Mas. Tadi Karin ngirim pesan. Katanya kita disuruh datang ke acara wedding-nya lusa." celethuk Aira di sela aktivitas memasaknya.
"Iya, nanti kita datang, Sayang. Menurutmu, kita bagusnya ngasih kado apa buat adikmu?" tanya Devan yang masih memikirkan kado terbaik untuk adik iparnya.
Aira mendengus pelan. Sejujurnya dia sudah terlanjur gedek setengah mati pada Karin dan ibunya.
"Nggak usahlah, Mas. Ngapain bawa kado segala? Kemarin kan Aira sudah ngasih uang sumbangan yang jumlahnya nggak sedikit." jawab Aira agak sewot.
"Nggak apa-apa, Sayang. Masa kita datang tangan kosong?" Devan menenangkan.
Aira menatap Devan dengan mata berkaca-kaca. Hatinya luluh melihat kebaikan suaminya. Padahal selama Devan tinggal bersama keluarganya dulu, Devan selalu diremehkan dan diinjak-injak. Tapi cowok ini sama sekali tidak menyimpan dendam.
"Kamu baik banget sih, Mas... Padahal keluargaku dulu jahat banget sama kamu." bisik Aira pelan.
Devan mengusap lembut rambut Aira. "Sudahlah, Sayang. Nggak perlu merasa bersalah begitu. Kita doakan saja semoga suatu saat mereka sadar."
Aira mengangguk, lalu menenggelamkan wajahnya dalam pelukan hangat Devan. Dia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
Sementara Aira sedang menikmati kebahagiaannya bersama Devan, suasana berbeda justru terjadi di rumah ibunya.
Siska dan suaminya, Beni, baru saja pulang kerja. Mereka dibuat kaget begitu melihat Karin duduk di ruang tamu dengan kondisi berantakan, wajah sembap, dan air mata yang terus mengalir.
"Karin, kamu kenapa menangis begitu? Mau nikah kok malah begini?" tanya Siska heran.
"Iya, biasanya calon pengantin itu bahagia, bukannya malah meratapi nasib." timpal Beni ikut bingung.
Bu Ismi yang duduk di samping Karin langsung menyambar dengan nada berapi-api. "Kalian nggak tahu! Tadi Ibu sama Karin nggak sengaja mergokin Bagas lagi berduaan sama selingkuhannya di kafe!"
Mendengar itu, Siska dan Beni terperanjat.
"Terus gimana nasib nikahan adik kamu ini, Siska?! Nggak mungkin dibatalkan, bisa jatuh harga diri Ibu! Mau ditaruh di mana muka Ibu?! Mana uang kita sudah ludes habis-habisan buat persiapannya!" omel Bu Ismi panik setengah mati.
Karin yang mendengar teriakan ibunya makin jerit-jerit menangis. "Huaaaa!"
"Hah?! Beneran Bagas ketahuan selingkuh?!" Siska masih tak percaya.
"Kurang ajar! Bisa-bisanya dia selingkuh padahal acara tinggal hitungan hari!" Beni mengepalkan tangan, emosi dengan kelakuan calon adik iparnya.
Siska menatap Karin kasihan. Bagaimanapun, dia iba melihat adiknya hancur. Rasanya menyakitkan membayangkan pernikahan di depan mata rusak begitu saja.
"Terus reaksi Bagas gimana pas kepergok? Dia ada minta maaf, nyesel, atau berusaha ngejar Karin nggak?" tanya Siska, berharap hubungan adiknya masih bisa diselamatkan.
Bu Ismi melipat tangan di dada dengan muka masam. "Boro-boro nyesel! Dia aja nggak ada niat ngejar Karin sama sekali! Malah terang-terangan milih selingkuhannya itu!"
"Wah, gila! Harusnya tadi langsung digampar aja cowok begitu biar kapok!" seru Beni geram.
"Sudah! Tadi Ibu juga udah nampar dia, saking kesalnya!" sahut Bu Ismi kencang.
Karin makin meraung-raung, "Tapi Karin cuma cinta sama Mas Bagas, Bu... Huaaaa!"
"Karin nggak mau ya kalau nikahan ini batal! Karin bisa malu setengah mati!" teriak Karin di antara isolasi tangisnya.
"Astagfirullah, Karin! Harusnya kamu itu bersyukur!" tegur Pak Bambang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Rupanya sedari tadi Pak Bambang sengaja menyimak pertengkaran di ruang tamu. Dadanya mendadak sesak mengetahui calon menantunya ketahuan berselingkuh. Namun, Pak Bambang berusaha menahan diri dan bersikap kepala dingin.
"Kamu dikasih lihat kebusukan calon suamimu sebelum akad itu petunjuk! Mendingan batalin saja nikahannya, nggak usah dilanjut!" tegas Pak Bambang.
Bu Ismi langsung menyolot tak terima. "Bapak enak banget ya kalau ngomong! Kita ini udah keluar duit banyak! Nggak mungkin main batalin gitu aja, mau ditaruh di mana muka kita?!"
Padahal di depan Bagas tadi, Bu Ismi sok gagah mengancam bakal membatalkan pernikahan. Tapi begitu sampai rumah, niatnya langsung ciut.
"Lagian Ibu tadi pakai acara ngomong batalin segala di depan Mas Bagas! Kalau Mas Bagas anggap itu beneran gimana, Bu?! Karin nggak mau batal nikah sama Mas Bagas! Karin sayang banget sama dia!" raung Karin makin tantrum.
Pak Bambang menggelengkan kepala, makin geregetan melihat kelakuan anak dan istrinya. "Bapak kan udah bilang dari awal! Jangan pernah booking atau bayar apa-apa sebelum pihak laki-laki kasih uang seserahan! Masuk akal nggak, posisi manajer tapi nggak ngasih uang seserahan alasannya sibuk? Sibuk selingkuh maksudnya?!"
Dada Pak Bambang rasanya mau meledak. Anak dan istrinya ini memang sama-sama kepala batu dan selalu merasa paling benar.
"Sudah lah, Pak! Enggak usah pakai ngomel segala, kasihan Karin-nya!" bela Bu Ismi sengit.
Seketika mata Pak Bambang menatap tajam ke arah istrinya.
"Halah! Dulu waktu Aira diselingkuhi Bagas sama Karin, Ibu ada kasihan sama Aira? Enggak, kan?!" tembak Pak Bambang nyelekit. "Ibu pikir Aira nggak hancur dikhianati pacarnya sendiri yang ditikung adiknya? Malah sekarang Bagas selingkuh sama orang lain! Ingat ya, Bu, Aira itu anak Ibu juga!"
Pak Bambang beralih menatap Karin yang merana. "Gimana rasanya dikhianati, Karin? Sakit, kan? Nah, rasa sakit itulah yang dirasakan kakakmu waktu kamu ngerebut pacarnya!"
**DEG!**
Kata-kata Pak Bambang menghujam tepat di dada Karin. Wajahnya makin pias, tangisnya makin pecah hysterical. Siska berusaha merangkul adiknya yang makin hilang kendali itu.
"Mungkin ini yang namanya karma, Karin. Kamu menanam angin, ya memanen badai." lanjut Pak Bambang tanpa ampun.
"Bapak, cukup!" bentak Bu Ismi tak tahan melihat Karin makin terpojok. "Omongan Bapak itu sudah sangat menyakiti hati Karin!"
Pak Bambang menatap dingin istri dan anaknya. "Kalau kita nggak mau disakiti, ya jangan nyakiti orang lain! Orang yang kita sakiti mungkin diem aja dan nggak membalas, tapi Tuhan nggak tidur, Bu."
Pak Bambang menghela napas berat, mencoba menurunkan intonasi suaranya. "Saran Bapak, mending kamu batalkan saja pernikahan ini, Karin. Bersyukur kebusukan Bagas ketahuan sekarang. Kalau kalian sampai nikah, hidupmu bakal jauh lebih menderita!"
"Nggak bisa main asal batal gitu aja, Pak! Enak aja, kita udah rugi banyak!" sentak Bu Ismi kekeh.
"Uang bisa dicari lagi, Bu! Nanti pasti diganti sama Yang Di Atas." timpal Pak Bambang tenang.
"Nggak bisa! Kecuali kalau si Bagas mau ganti rugi semua biayanya!" sahut Bu Ismi ngotot.
Sebenarnya, ada alasan besar kenapa Bu Ismi panik setengah mati. Demi mewujudkan wedding impian anak kesayangannya, Bu Ismi nekat menggadaikan sertifikat rumah ke bank tanpa sepengetahuan Pak Bambang! Makanya, batal nikah adalah mimpi buruk yang paling ditakutinya.
"Kalau dibatalkan, keluarga kita yang bakal nanggung malu, Pak. Lagian undangan sudah terlanjur disebar semua." Siska ikut menimpali dengan raut cemas.
Beni mengusap wajahnya kasar. "Duh, makin pusing aku mikirnya..."
Pak Bambang menatap istrinya heran. "Apa Ibu tega membiarkan Karin nikah sama laki-laki brengsek model begitu?"
Bu Ismi cuma bisa menggelengkan kepala pasrah, lalu akhirnya membuka kartu.
"Masalahnya... Ibu udah terlanjur sekolahin sertifikat rumah kita ke bank buat biaya nikahan Karin, Pak..."
**DUARRR!**
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Pak Bambang langsung membatu.
**BERSAMBUNG**