Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.
Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.
Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?
subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Haesung
"Abang! Abang!" teriak Semi yang berlarian menuju kamar Arsyad. Arsyad, langsung mematikan layar komputernya setelah mendengar suara Semi. Entah, apa yang sedang Arsyad kerjakan dengan komputer itu.
Brukk!
Pintu dibanting keras oleh Semi. Arsyad, turun dari kursi belajarnya lalu menghadap sang adik.
"Salam dulu Adek, ingat! Adab mau bertamu," tegur Arsyad menjengkelkan.
"Adek bukan tamu Abang," bantah Semi.
"Iya, bukan tapi tetap saja adab itu harus dijaga. Kamu kan masuk kamar orang lain." Arsyad berkata sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.
Semi membuang napas. "Iya, deh maafin Adek. Tapi Abang harus ikut Adek, sekarang!"
Sontak Arsyad menurunkan tangannya. "Mau kemana?"
"Ayo ikut saja." Semi menarik tangan Arsyad keluar dari kamarnya.
kedua bocah itu berlari keluar rumah, yang berhenti tepat di depan teras. Tidak hanya mereka, semua santri dan santriwati yang melihat pun terkesima, mereka terpana dengan objek di depannya yang begitu langka.
Seorang pemuda tampan, keluar dari mobilnya. Dia berdiri di depan mobilnya sambil terus melirik semua orang. Namun, pria itu tidak begitu heran karena itu sudah terbiasa bagi seorang publik figur seperti dirinya. Tapi mereka semua tidak ada yang tahu jika dirinya seorang aktris top, terkecuali si kembar kecil Arsyad dan Semi.
"Abang-Abang, cubit aku Abang!"
"Aww! Sakit tahu!" Semi menggerutu sambil mengusap tangannya.
"Kata kamu suruh cubit," protes Arsyad.
"Ya, tapi gak keras juga," gerutu Semi yang memasang wajah murungnya."
"Siapa sih? Sampai di kerumunin gitu." Arsyad berkata sambil berkacak pinggang. Badannya tegak menatap ke arah pria asing yang berdiri di depan mobil.
"Ih ... Abang!" teriak Semi sekaligus menarik tangan Arsyad. "Abang lupa, ya ... Dia itu Haesung yang aku bilang. Oppa Korea yang suka nyanyi itu lo." Semi menggoyang-goyangkan pinggulnya. Dengan gaya lucu dan gemas ia memonyongkan bibir seolah sedang menirukan idolanya.
Arsyad menatap datar sang adik, lalu melirik lagi ke arah pria yang tampak cuek. Tidak berselang lama seorang wanita juga turun dari mobil itu, mereka dari bangsa yang sama tapi wanita itu terlihat akrab dengan Ummi Hawa.
Ummi Hawa menyambutnya dengan baik, memeluk sampai menggandeng wanita itu menuju rumah. Tampaknya wanita itu juga sudah mengenal baik Ummi Hawa. Tapi Arsyad heran, dia tidak pernah melihat wanita itu berkunjung ke pesantren An-Nur.
"Mereka siapa? Kok Nini sangat akrab." Arsyad menatap kedua wanita itu penuh selidik. Arsyad turun dari kursi berjalan mengikuti Ummi Hawa.
Sementara Semi, bocah itu fokus pada lelaki Korea tadi. Dia berlari ke arah pria itu yang hendak masuk ke dalam mobil.
"T-tunggu!" teriak Semi yang langsung menghadang jalan pria itu sambil meregangkan tangannya.
Mata pria itu menurun, kening mengkerut, menatap Semi dengan heran.
"Baru kali ini ada penggemar bocah," gumam Haesung.
Mata Semi terbelalak seketika. Mulutnya menganga lebar, tidak menyangka jika idolanya pasih dalam berbicara menggunakan bahasanya.
"Wah, Oppa ternyata bisa berbahasa negaraku, ya? Anyeong ... Oppa!"
Haesung tercengang. Langkahnya mundur setelah merinding mendengar Semi bicara.
"Anyeong? Kamu bisa bahasa Korea bocah?"
"Of course ..." Lagi-lagi Pria itu dibuat takjub. Bibirnya tertarik sedikit, tingkah Semi membuatnya ingin tertawa.
"Tadi kamu berbicara bahasaku, sekarang berbicara English. Apa kamu ingin pamer?" Pria itu menunduk, berjongkok di hadapan Semi. Dengan satu tangan bertumpu pada lututnya.
"Aku tahu siapa kamu Mr."
"Mr?" Haesung mengerutkan kening. "Wah, bocah ini semakin buat aku penasaran saja. Tapi ... wajahnya mirip denganku? Tidak— maksudku, mirip seperti warga negaraku," gumam Haesung melalat perkataannya tadi.
Haesung memperhatikan Semi, bocah itu menarik napas panjang sambil menggerakkan kedua tangannya mengikuti aliran napasnya. Setelahnya Semi tersenyum, lalu menari dan bernyanyi.
( Anggap aja Semi sedang bernyanyi. Yang bisa dengar hanya Haesung hehe ...)
Mata Haesung membola, mulutnya menganga. Tidak percaya dengan pemandangan di depannya. Semi bocah 4 tahun dengan pasih dan lantang menyanyikan lagunya.
"Woah!"
Haesung bertepuk tangan.
"Baru kali ini ada penggemar sekecil dirimu. Keren!" Haesung mengacungkan kedua jempolnya. Tingkah Semi membuatnya tertarik.
Semi yang dipuji tentu sangat senang, sampai berjingkrak. Tapi setelahnya, dia menyimpan telunjuk pada bibirnya. "Ssst ... Mr. Jangan bilang-bilang kalau tadi aku nyanyi, ya? Mama sama Nini dan Aki tidak tahu. Ini rahasia ... Ok?"
Haesung tertegun sebelum akhirnya mengangguk.
"Ok. Karena kamu sudah menyanyikan laguku, aku akan menjaga rahasiamu."
"Bagus! Setuju," balas Semi.
"Siapa namamu?" Haesung penasaran juga dengan nama anak itu.
"Namaku Semi Aruna, usiaku 4 tahun. Aku punya saudara kembar namanya Arsyad. Mamaku ..."
"Eits .... Stop!" tahan Haesung. "Kamu tidak sedang interview, jadi jangan terlalu banyak memperkenalkan keluargamu cukup kamu saja."
"Memangnya Mr tidak penasaran dengan Mamaku? Dia cantik Lo, pintar, dan bisa bahasa Korea juga."
Haesung terkekeh. "Secantik apapun ibumu, dia tetap sudah punya dua anak," gumam Haesung sambil mengalihkan pandangan. Karena baginya wanita yang sudah punya anak tidak muda lagi.
"O, ya. Semi jangan panggil Mr lagi. Panggil saja ...."
"Paman Haesung," sanggah Semi.
"No! Paman terlalu tua." Tolak Haesung sambil menggeleng.
Semi berpikir sejenak, sambil menekan telunjuknya di bawah dagu. Matanya berputar kiri kanan, dengan bibir monyongnya. Sedetik wajahnya berbinar, mulutnya terbuka lebar setelah mendapat ide.
"Uncle saja bagaimana?" tanya Semi dengan mata berkedip.
Haesung tersenyum. Dia mengangguk membenarkan. Entah, kenapa Semi membuatnya terus nyaman dan tertawa, padahal Haesung sama sekali tidak tertarik apalagi menyukai anak kecil.
"Min Ho!"
Haesung menoleh, seorang wanita yang tadi pergi bersama Hawa memanggilnya. Wanita itu berdiri di depan teras rumah Hawa, sambil melambai ke arah Haesung.
Haesung mendongak dengan tubuh sedikit tegak. Lantas mengangguk.
"Uncle itu siapa? Kok panggilnya beda?" tanya Semi, melirik tajam ke arah wanita itu.
"Itu Mami Uncle, nama Uncle memang Min Ho — Park Min Ho. Haesung itu nama panggung uncle." Kata Haesung dengan senyumnya.
"Ouh ... Begitu. Jadi, kalau idol top seperti uncle itu harus punya nama panggung? Berarti semua nama idol top itu palsu dong."
Haesung terkekeh. Dia mengusap lembut kepala Semi.
"Tidak semuanya. Tapi kebanyakan mereka memakai nama panggung," jelas Haesung membuat Semi mengangguk.
"Uncle, mau kesana dulu." Ucap Haesung sambil berdiri.
"Ke rumah aku?" Tunjuk Semi pada dirinya. Haesung mengerutkan kening.
"Itu rumah aku Uncle. Kalau begitu aku akan ikut bersamamu. Ada yang ingin aku tunjukkan."
Haesung hanya diam saja ketika tangannya dituntun Semi menuju rumah Hawa.
"Assalamualaikum," ucap Semi setelah tiba di teras.
Ibu Haesung tersenyum, dia menatap kagum pada Semi. Anehnya, dia merasa dekat—tidak asing dengan anak itu. Cukup aneh, karena mereka baru saja bertemu.
"Halo, kamu lucu sekali." Puji Ibu Haesung sambil mencubit pipi Semi.
"Namanya Semi Aruna, dia cucu saya," ujar Ummi Hawa yang tiba-tiba muncul. Ibu Haesung semakin senang setelah tahu jika itu cucu dari temannya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Semua orang menoleh kepada Zahra, yang baru saja pulang dari kampus.
"Mama!" teriak Semi.
Haesung tertegun menatap Zahra begitupun sebaliknya.
***
Anyeong! Jangan lupa dukungannya ya 🤗
Saranghae ❤️ gomawo 😘
Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.
jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏