"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: VARIABEL YANG HILANG
POV: DAMIAN XAVIER
Malam di Jakarta biasanya terasa seperti hamparan lampu yang tak bermakna bagiku. Namun malam ini, kegelapan di luar jendela kantor lantai lima puluh ini terasa mencekam, seolah-olah kabut hitam sedang merayap masuk untuk mencekikku. Aku duduk di balik meja obsidianku, menatap sebuah map cokelat yang baru saja diletakkan Marco dengan tangan sedikit gemetar.
"Katakan," perintahku pendek. Suaraku parau, seperti gesekan logam yang berkarat.
Marco berdeham, menyesuaikan letak kacamatanya yang sedikit miring. "Qinanti Arisanti. Sebelas tahun yang lalu, tepat tiga hari setelah pertunangan kalian yang batal, dia terdeteksi keluar dari bandara internasional menuju Singapura, lalu menghilang dari radar global. Dia menggunakan identitas palsu yang sangat rapi untuk bermukim di sebuah kota kecil sebelum akhirnya kembali ke Jakarta enam bulan lalu sebagai kurator seni independen."
Aku membuka map itu. Jariku berhenti pada selembar kertas fotokopi akta kelahiran. Aku melakukan perhitungan cepat di kepalaku. Tanggal lahir Leo dan Lea adalah delapan bulan setelah Qinanti menghilang dari hidupku.
Rahangku mengeras. Mataku memanas karena amarah yang bercampur dengan rasa bersalah yang menghunjam jantung. Sebelas tahun yang lalu, saat aku membiarkannya pergi karena harga diriku yang terluka, ternyata dia sedang membawa nyawa dariku di dalam rahimnya. Dia kabur dalam kondisi hamil muda. Dia berjuang sendirian, melahirkan di tempat terpencil, sementara aku di sini memaki namanya setiap malam.
"Delapan bulan setelah dia pergi, mereka lahir," desisku, lebih pada diriku sendiri. "Dia membawa ahli waris Vipera ke dalam pelarian, Marco. Dia menyembunyikan putra dan putriku di tempat yang tak tersentuh radar sementara aku mencari mereka ke ujung dunia seperti orang gila."
"Ada satu hal lagi, Tuan," Marco ragu sejenak. "Mengenai Leo. Dia... dia tidak sekolah di sekolah umum. Dia mengambil program akselerasi mandiri. Tes IQ terakhirnya menunjukkan angka yang... mengerikan untuk anak seusianya."
Aku teringat tatapan bocah itu di lorong galeri tadi siang. Mata abu-abu gelap itu—warna mata yang hanya dimiliki oleh garis keturunan pria Xavier. Cara dia mengamati ubin yang longgar, cara dia menghitung waktu polisi tiba dengan ketenangan seorang jenderal perang. Dia bukan sekadar pintar. Ada sesuatu di balik matanya yang terasa... sangat tua. Sangat berpengalaman.
Dan Lea... kembarannya yang memegang boneka itu... dia bisa membaca mikro-ekspresi pembunuh bayaran profesional hanya dengan melihat pori-pori kulit mereka yang berkeringat.
"Mereka bukan anak biasa," gumamku. Aku berdiri, berjalan ke arah jendela kaca besar yang menghadap kelap-kelip kota yang kejam. "Mereka adalah variabel yang tidak pernah aku masukkan ke dalam perhitungan hidupku. Dan Qinanti... dia sudah mencuri sepuluh tahun masa kecil mereka dariku."
Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Aku meraba saku jas yang kupakai di galeri tadi. Sebuah benda kecil terasa di sana. Aku menariknya keluar—sebuah kancing dekoratif yang tampak biasa, tapi memiliki tekstur yang sedikit berbeda saat diraba.
Aku meletakkannya di atas meja, lalu mengambil pemindai frekuensi dari laci. Alat itu berbunyi nyaring seketika.
"Pelacak?" Marco terbelalak. "Bagaimana bisa—"
"Leo," jawabku singkat. Sebuah tawa kering yang hambar namun penuh kekaguman keluar dari tenggorokanku. "Bocah itu menaruh pelacak padaku saat dia berpura-pura 'membantuku' tadi. Dia sedang mengawasiku sekarang. Dia tidak hanya tahu siapa aku, dia sedang memetakan lokasiku."
Bukannya marah, aku justru merasakan percikan adrenalin yang sudah lama tidak kurasakan. Darah dagingku, seorang anak berusia delapan tahun, baru saja melakukan infiltrasi pada pemimpin organisasi mafia terbesar di negara ini tanpa aku sadari sedikit pun.
"Dia ingin tahu siapa aku," ucapku sambil menatap kancing pelacak itu dengan seringai tipis. "Baiklah, Jagoan. Jika kau ingin bermain, Papa akan menunjukkan padamu cara bermain yang sebenarnya."
Aku mengambil mantelku, gerakanku mantap dan penuh tujuan. "Siapkan mobil. Kita tidak perlu melacak mereka lewat satelit. Biarkan pelacak ini membawaku langsung ke pintu depan rumah mereka. Aku ingin melihat wajah Qinanti saat ia menyadari bahwa masa persembunyiannya sudah resmi berakhir malam ini."
POV: LEO (Jiwa Sang Jenderal)
Dunia ini hanyalah sebuah papan catur yang sangat besar, dan malam ini, aku baru saja menempatkan Benteng di depan Raja lawan.
Aku duduk di kursi meja makan apartemen kami yang remang-remang, menatap layar tablet yang menampilkan titik merah yang bergerak mendekati koordinat kami. Di sampingku, Lea sedang menyesap susu hangatnya dengan ekspresi yang sangat tenang, seolah-olah kami tidak sedang menunggu seorang bos mafia yang bisa membakar gedung ini dalam sekejap.
“Kak, singanya sudah sampai di lobi. Detak jantungnya stabil, tapi tekanan langkah kakinya menunjukkan tingkat obsesi yang tinggi,” suara Lea bergema di pikiranku lewat Shadow Talk. Sebagai mantan Profiler FBI, dia adalah pendeteksi ancaman paling akurat yang pernah kukenal.
“Bagus. Biarkan dia naik,” jawabku datar. “Mama sedang apa?”
“Mama sedang berusaha tidak menangis sambil mengemas baju kita. Dia pikir lari ke stasiun kereta jam dua pagi adalah opsi yang logis. Sangat tidak efisien,” Lea menghela napas.
Aku bangkit berdiri. Tubuh delapan tahun ini memang menyebalkan. Aku merindukan tinggi badanku yang dulu, saat aku bisa menatap mata lawan bicaraku dari posisi sejajar. Tapi tak apa, gravitasi intelektualku jauh lebih berat daripada massa tubuhku.
“Mama,” aku memanggil dengan nada yang sengaja kubuat sedikit lebih lembut, agar tidak memicu serangan panik padanya.
Qinanti muncul dari kamar, wajahnya pucat pasi. Tangannya memegang paspor dan beberapa lembar uang. “Leo, Lea, kita harus pergi sekarang. Mobil sewaan sudah menunggu di bawah.”
“Sudah terlambat, Ma,” ucapku, sambil menunjuk ke arah pintu depan. “Dia sudah berada tepat di depan pintu.”
Wajah Mama menjadi seputih kertas. Dia mundur selangkah, menabrak meja makan. Tepat saat itu, bel apartemen berbunyi. Ding dong. Suaranya yang melengking terasa seperti dentuman meriam bagiku.
“Jangan buka pintunya,” bisik Mama dengan suara gemetar.
Aku mengabaikannya. Aku melangkah menuju pintu dengan ketenangan seorang jenderal yang akan menerima tamu diplomatik. Lea mengikutiku, memegang boneka kelincinya—senjata penyamarannya yang paling ampuh.
Aku membuka pintu.
Damian Xavier berdiri di sana. Aura kekuasaan yang dipancarkannya begitu pekat hingga oksigen di koridor apartemen murah ini seolah-olah ikut tersedot habis. Dia menatapku, matanya yang abu-abu gelap mencari-cari sesuatu di wajahku.
"Sepuluh tahun, Qinanti," suaranya rendah, bergema di koridor yang sepi. "Dan kau pikir dinding apartemen murah ini cukup kuat untuk menyembunyikan dosamu dariku?"
Dia mencoba melangkah masuk, namun aku merentangkan tanganku kecilku, menghalangi jalan masuknya.
"Papa telat dua menit, tiga puluh detik dari estimasi perjalananku jika Papa menggunakan rute jalan tikus lewat Gatot Subroto," ucapku, menatapnya lurus ke mata. "Sangat tidak efisien untuk seorang Marsekal—maksudku, seorang pemimpin Vipera."
Damian tertegun. Aku bisa melihat keterkejutan yang murni di pupil matanya. Dia tidak menyangka akan disambut dengan audit logistik oleh anak berumur delapan tahun.
"Apa kau memanggilku 'Papa'?" tanyanya, suaranya sedikit goyah.
"Pernyataan tersebut bersifat deklaratif berdasarkan data genetika dan riset algoritmik yang kulakukan dua tahun lalu," jawabku dingin. "Tapi sekarang, Papa tidak diizinkan masuk sebelum menyerahkan senjata Glock-17 yang Papa selipkan di balik jas sisi kanan. Aku tidak ingin ada variabel kekerasan di ruang tamu Mama."
Damian menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Di satu sisi, ada amarah yang membara karena otoritasnya ditantang, namun di sisi lain, aku melihat percikan kebanggaan yang meluap. Dia menyadari bahwa dia tidak sedang berhadapan dengan anak kecil, melainkan dengan versinya yang lebih sempurna.
“Kak, dia sedang mengalami lonjakan adrenalin dan dopamin secara bersamaan. Dia sangat bangga padamu,” bisik Lea melalui Shadow Talk.
"Berikan senjata itu pada Marco, Papa," ucap Lea sambil melangkah maju ke sampingku. Dia memiringkan kepalanya dengan imut. "Dan Papa juga harus mematikan sinyal jam tangan pelacak Papa. Kami sudah tahu Papa di sini, kami tidak butuh sepuluh mobil hitam Papa mengepung gedung ini dan membuat Mama ketakutan. Benar, 'kan?"
Damian menghela napas panjang. Dia menyerahkan pistolnya ke Marco yang berdiri di belakangnya dengan wajah melongo.
"Tunggu di luar," perintah Damian pada Marco.
Dia melangkah masuk ke apartemen kami. Pandangannya langsung tertuju pada Mama yang berdiri membeku di tengah ruangan. Aku menutup pintu dan menguncinya.
"Qinanti..." gumam Damian.
Mama menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir di pipinya. "Damian... tolong jangan ambil mereka. Aku mohon..."
"Ambil mereka?" Damian tertawa getir. "Bagaimana aku bisa mengambil mereka saat mereka sudah lebih dulu menaklukkanku di galeri tadi siang?"
Aku berjalan menuju kursi kerjaku yang kecil dan duduk di sana, melipat tangan di depan dada. "Mari kita bicarakan syarat dan ketentuannya, Papa. Mama tidak akan pergi ke mana-mana, dan Papa tidak akan menyentuhnya tanpa izin kami. Sebagai gantinya, aku akan memberikan Papa solusi untuk kebocoran logistik di dermaga utara yang sudah membuat klan Vipera merugi miliaran rupiah bulan ini."
Damian mematung. Dia menatapku dengan ngeri. "Bagaimana kau tahu tentang dermaga utara?"
Aku hanya tersenyum tipis—senyum yang dulu kugunakan sebelum menghancurkan benteng musuh. "Aku tidak hanya menaruh pelacak di jas Papa tadi siang. Aku juga melakukan ping ke server Papa. Keamanan Papa... sangat menyedihkan. Itu perlu diaudit total."
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku mengamati dinamika di ruangan ini dengan sangat teliti. Ini adalah tarian psikologis yang sangat indah. Damian Xavier sedang berperang dengan egonya sendiri. Dia ingin memerintah, tapi dia juga sangat ingin dicintai oleh anak-anak yang baru saja ditemukannya.
Aku berjalan menuju Mama dan memeluk pinggangnya. "Mama, Papa sudah menyerahkan senjatanya. Dia tidak berbahaya sekarang. Dia hanya pria besar yang bingung."
Mama menatapku dengan bingung, lalu menatap Damian. Aku bisa merasakan sisa-sisa cinta yang masih membara di bawah tumpukan trauma dan rasa takut Mama. Tugas pertamaku sebagai profiler adalah menjembatani retakan ini.
"Duduklah, Papa," ucapku sambil menunjuk sofa kain kami yang sudah agak kusam. "Papa terlihat sangat lelah setelah sepuluh tahun mencari kami di tempat yang salah."
Damian duduk. Tubuhnya yang besar terlihat sangat kontras dengan sofa mungil kami. Dia tampak seperti raksasa yang terjebak di rumah kurcaci. Matanya terus mengikuti setiap gerak-gerik Leo yang sedang mengetik sesuatu di tabletnya.
"Kenapa kau pergi, Qinanti?" tanya Damian, suaranya kini melunak, hampir terdengar seperti permohonan. "Kenapa kau menyembunyikan mereka dariku?"
Mama menghapus air matanya, mencoba menegakkan punggungnya. "Karena aku tahu duniamu, Damian. Aku tidak ingin anak-anakku tumbuh menjadi pembunuh seperti ayahnya."
“Strategi pertahanan Mama sangat emosional. Dia mencoba memicu rasa bersalah Papa,” pikirku.
“Tidak akan berhasil sepenuhnya pada tipe kepribadian seperti Damian,” balas Leo lewat Shadow Talk. “Biar aku yang mengambil alih.”
Leo meletakkan tabletnya di atas meja, tepat di depan Damian. Layarnya menampilkan peta sebaran intelijen musuh-musuh klan Vipera yang sudah dikerucutkan oleh algoritma Leo.
"Papa," ucap Leo dengan nada otoriter. "Mama lari bukan hanya karena Papa kejam, tapi karena Papa tidak kompeten dalam menjamin keselamatannya sebelas tahun lalu. Papa membiarkan Baron masuk ke lingkaran dalam Papa, dan itu hampir membunuh Mama saat dia hamil kami."
Damian terperangah. Rahangnya mengeras. "Bagaimana kau bisa tahu tentang Baron?"
"Aku tahu segalanya yang bisa diakses oleh satelit dan kabel fiber optik," jawab Leo datar. "Jika Papa ingin kami kembali ke mansion Papa, Papa harus memberikan kendali penuh atas sistem keamanan Vipera kepadaku. Tidak boleh ada lagi variabel luar yang bisa menyentuh Mama."
Aku tersenyum tipis di balik boneka kelinciku. Leo sedang melakukan hostile takeover terhadap klan mafia ayahnya sendiri. Dan Damian... alih-alih marah, aku melihat binar kegembiraan di matanya. Pria ini haus akan tantangan, dan dia baru saja menemukan lawan yang sepadan di dalam diri anaknya sendiri.
"Deal," ucap Damian. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Leo. "Tapi ada satu syarat. Kalian harus mulai memanggilku 'Papa' tanpa istilah teknis di depannya."
Leo terdiam sejenak, seolah sedang menghitung nilai transaksi dari permintaan tersebut. "Dua puluh persen kasih sayang ekstra untuk Mama, dan aku akan mempertimbangkan permintaan itu."
Aku hampir tertawa melihat wajah Damian yang kaku itu perlahan-lahan melembut. Dia mengulurkan tangannya yang besar dan menepuk kepala Leo—tindakan yang membuat Leo sedikit berjengit karena tidak terbiasa disentuh.
"Kalian benar-benar monster kecil," gumam Damian dengan nada bangga yang tak tertahankan.
Aku mendekat dan duduk di samping Damian di sofa, menyandarkan kepalaku di lengannya yang penuh otot. Aku bisa merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Dia sedang berjuang menahan air mata syukur.
“Operasi Infiltrasi Tahap 1: Berhasil,” ucapku dalam hati.
“Bersiaplah, Lea. Besok kita akan pindah ke mansion. Papan catur yang lebih besar sedang menunggu,” balas Leo.
Malam itu, di apartemen kecil yang sempit, sang Raja Mafia baru saja menyadari bahwa mahkotanya telah berpindah tangan ke dua bocah berusia delapan tahun. Dan anehnya, dia tidak merasa keberatan sama sekali.