Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Suasana mansion itu berubah tegang sejak beberapa dokter datang hampir bersamaan.
Beberapa peralatan medis segera dipasang di kamar utama yang luas dan hangat itu.
Annisa terbaring lemah di atas ranjang besar dengan wajah pucat pasi. Selimut tebal menutupi tubuhnya, namun jemarinya masih terlihat dingin.
Emran Richard berdiri tidak jauh dari ranjang sambil memperhatikan proses pemeriksaan tanpa berkata apa pun. Sorot matanya dingin dan sulit ditebak.
Sementara, Han berdiri di belakang dengan wajah tegang. Beberapa menit kemudian, dokter utama akhirnya melepaskan stetoskopnya sambil menghela napas pelan.
“Kondisi pasien cukup buruk.” Kalimat itu langsung membuat suasana kamar terasa semakin berat.
Emran mengangkat pandangannya perlahan.
“Apa penyebabnya?”
Dokter membuka hasil pemeriksaan singkat yang baru dilakukan.
“Pernapasannya terganggu.” Dokter melirik alat monitor di samping ranjang. “Pasien punya riwayat asma dan kondisinya sempat kambuh.”
Han langsung mengernyit khawatir.
Dokter kembali melanjutkan, “tekanan darahnya juga sangat rendah.”
Tatapan Emran perlahan berubah tajam, tetapi dokter belum selesai.
“Selain itu...” nada suaranya mulai terdengar ragu, “lambung pasien juga bermasalah.”
Emran menatap dokter lurus. “Maksud Anda?”
Dokter terdiam sesaat sebelum menjawab jujur, “Kemungkinan besar pasien sudah lama makan tidak teratur.”
“Bahkan...” dokter kembali melihat hasil pemeriksaan, “dari kondisi lambungnya, kami memperkirakan pasien belum makan dengan benar selama dua hari terakhir.”
Ucapan itu membuat tangan Emran perlahan mengepal. Rahangnya mengeras, aura dingin pria itu langsung memenuhi ruangan hingga beberapa dokter ikut menunduk gugup.
Han sendiri tampak terkejut.
“Dua hari?” gumamnya pelan tak percaya.
Sementara, di atas ranjang, Annisa hanya terbaring lemah dengan napas pelan melalui alat bantu oksigen kecil. Wajahnya terlihat sangat tenang saat tertidur. Tetapi, justru itu yang membuat hati Emran terasa semakin sesak. Wanita yang dulu begitu dicintai dan dijaga oleh ayahnya, kini hidup sampai tidak makan selama dua hari.
Setelah para dokter selesai melakukan pemeriksaan, suasana kamar perlahan menjadi lebih tenang. Hanya suara alat monitor yang terdengar pelan di tengah ruangan mewah itu.
Salah satu dokter menutup map hasil pemeriksaan lalu menatap Emran Richard dengan hati-hati.
“Kami sudah memberikan penanganan awal, Tuan.”
Emran mengangguk tipis.
“Dia harus istirahat total.” Dokter kembali melirik Annisa yang masih tertidur lemah. “Kondisi fisik dan mental pasien sama-sama buruk.”
Penuturan terakhir itu membuat sorot mata Emran perlahan menggela. Berarti selama ini Annisa bukan hanya sakit secara fisik. Pria itu perlahan menoleh menatap wajah pucat wanita di atas ranjang. Seolah sedang mencoba memahami bagaimana wanita yang dulu begitu dicintai ayahnya bisa berubah menjadi serapuh ini.
Dokter-dokter akhirnya berpamitan keluar setelah memberi beberapa instruksi pada perawat pribadi mansion tersebut. Kini hanya tersisa Emran dan Han di dalam kamar.
Han berdiri canggung di dekat pintu sementara Emran masih belum bergerak dari samping ranjang.
“Tuan...” panggil Han pelan.
Emran tidak langsung menjawab. Tatapannya jatuh pada tangan Annisa yang dipenuhi lecet kecil dan bekas kasar.
“Aku pikir...” suara Emran akhirnya terdengar rendah, “dia hidup bahagia.”
Han, terdiam. Selama bertahun-tahun, mereka semua memang berpikir seperti itu. Karena Annisa memilih Haikal sendiri. Annisa yang rela meninggalkan keluarganya demi pria itu. Namun, kenyataannya wanita itu justru hancur perlahan.
Emran perlahan duduk di sisi ranjang. Tangannya terangkat pelan, ragu beberapa detik sebelum akhirnya menyentuh rambut Annisa yang masih sedikit lembab. Tatapannya melembut untuk pertama kalinya malam itu.
“Lima tahun...” gumamnya lirih. Lalu sorot matanya perlahan berubah dingin kembali.
“Kalau mereka membuatmu seperti ini...” suara Emran rendah penuh penekanan, “aku pastikan mereka membayar semuanya.”
Di balik pintu kamar, Han hanya bisa diam sambil menelan ludah pelan. Saat Emran mulai marah demi seseorang, kehancuran orang itu tinggal menunggu waktu.
Pintu kamar perlahan tertutup setelah dokter dan perawat selesai menangani Annisa. Suasana koridor mansion terasa sunyi dan dingin.
Han berdiri sedikit membungkuk di depan pintu saat Emran Richard keluar dari kamar dengan wajah datar. Semakin tenang ekspresi tuannya, semakin buruk suasana hatinya saat ini.
Emran melangkah pelan menyusuri koridor sambil melepas sarung tangan kulit hitamnya. Lalu, tanpa menoleh, pria itu berkata dingin,
“Periksa semua data Haikal dan keluarganya.”
Han langsung mengangkat kepala sedikit.
“Data?”
“Semua.” Langkah Emran tidak berhenti. “Aktivitas mereka selama seminggu terakhir.”
Han langsung terdiam.
“Aku ingin semua data itu dalam semalam.”
Untuk pertama kalinya, Han tampak ragu.
“Tuan...” suaranya terdengar hati-hati. “Dalam semalam mungkin agak sulit.”
Langkah Emran akhirnya berhenti, pria itu menoleh perlahan. Sorot matanya tajam menusuk.
“Apa kau keberatan?”
Han langsung menunduk lebih dalam. “Tidak, Tuan.”
Ia buru-buru melanjutkan, “Saya hanya membutuhkan sedikit waktu tambahan.”
Han lalu mengangkat kepala sedikit dan berkata mantap, “besok malam semua data milik Haikal akan ada di tangan Anda.”
Emran hanya berdeham pelan sebagai jawaban sebelum kembali berjalan meninggalkan koridor. Begitu tiba di lantai bawah, beberapa pelayan mansion langsung berdiri rapi membentuk barisan.
Semua menundukkan kepala hormat. Emran berhenti di tengah ruang utama yang luas dan mewah.
“Dua orang berjaga di depan kamar.”
“Baik, Tuan.”
“Kalau Annisa bangun...” nada suaranya sedikit melunak, “lapor pada saya saat itu juga.”
“Baik, Tuan.”
Pria itu kembali memberi instruksi,
“Besok pagi siapkan makanan sesuai seleranya.”
Para pelayan sedikit terkejut. Karena selama ini tidak pernah ada wanita yang diperlakukan seistimewa ini oleh tuan mereka.
“Utamakan bubur.” Emran melirik sekilas ke arah lantai atas. “Kondisi lambungnya sedang buruk.”
“Baik, Tuan.”
Semua langsung menunduk hormat. Namun, di barisan paling belakang, dua pelayan wanita saling melirik diam-diam. Lalu salah satu dari mereka berbisik sangat pelan,
“Itu wanita yang dulu menolak Tuan Emran kan?”
Pelayan satunya mengangguk kecil.
“Iya ... yang lima tahun lalu.”
“Kok sekarang bisa dibawa pulang ke sini?”
Mereka tertawa kecil pelan tanpa sadar. Dan di saat bersamaan, langkah kaki Emran tiba-tiba berhenti.
Suasana mansion langsung membeku. Pria itu perlahan berbalik. Sorot matanya tajam dan dingin menatap dua pelayan tersebut.
Seketika wajah keduanya pucat pasi.
“T-Tuan...”
Emran menatap mereka tanpa ekspresi. Lalu, dengan suara rendah yang membuat seluruh ruangan terasa menekan, pria itu berkata,
“Kalian berdua dipecat,”
Kedua pelayan itu langsung membelalak panik.
“Tuan maafkan kami!”
“Kami tidak bermaksud—”
“Keluar sekarang!” Nada suara Emran tetap tegas dan tidak menerima permohonan apapun. Tak ada ruang untuk memohon. Seluruh pelayan lain langsung menunduk lebih dalam dengan jantung berdebar.
Sementara, Emran kembali berjalan pergi tanpa sedikit pun menoleh lagi.