NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Dibalik Senyum

Naura masih terpaku di kursi makanannya lama setelah kepergian Dewa dan wanita bernama Sera itu. Kata-kata tajam yang diucapkan wanita itu tadi masih terngiang jelas di telinganya, terasa lebih menyakitkan daripada tamparan fisik sekalipun. "Kau hanya boneka sementara yang akan segera dibuang saat tujuannya tercapai." Kalimat itu menusuk tepat ke ulu hati, mengingatkan kembali pada posisi dirinya yang sebenarnya: bukan istri yang dicintai, melainkan sekadar alat penebus dosa ayahnya.

Hati Naura terasa berat, campuran antara rasa sedih, marah, dan rasa bersalah yang semakin hari semakin besar. Kebenaran tentang masa lalu ayahnya yang baru saja didengarnya dari mulut Dewa tadi pagi masih bergemuruh di kepalanya. Ia tidak menyangka bahwa di balik kemewahan dan kehormatan keluarga Zafira, tersimpan dosa besar yang begitu menghancurkan hidup orang lain. Namun, di sisi lain, ia juga merasa tidak adil. Ia tidak lahir saat kejadian itu, ia tidak tahu apa-apa, dan ia sama sekali tidak ikut campur. Mengapa ia yang harus menanggung semua rasa sakit ini?

"Apakah aku benar-benar seburuk itu di matanya?" gumam Naura pelan, air matanya kembali menetes jatuh ke atas meja makan yang berkilau. "Apakah karena darahku sama dengan darah Ayah, maka aku harus dibenci selamanya?"

Di sudut ruangan, Bi Inah berdiri diam sambil menundukkan kepala, seolah tidak berani ikut campur atau sekadar menatap nyonya mudanya yang sedang bersedih. Namun, saat melihat bahu Naura yang berguncang menahan isak tangis, wanita paruh baya itu perlahan melangkah mendekat. Wajahnya yang tua berkerut penuh rasa iba, namun ia tetap berbicara dengan suara rendah dan hati-hati.

"Nyonya... sebaiknya jangan menangis di sini," bisik Bi Inah pelan, tangannya mengelus pelan punggung tangan Naura. "Kalau Tuan Dewa tahu Nyonya menangis, beliau akan marah besar. Bagi Tuan Dewa, air mata itu tanda kelemahan, dan beliau sangat benci kelemahan. Beliau ingin melihat Nyonya bertahan, melihat Nyonya hancur perlahan karena beban rasa bersalah itu."

Naura mengangkat wajahnya, menatap mata Bi Inah yang terlihat tulus meski penuh ketakutan. "Bi Inah... katakan padaku, siapa wanita itu? Sera? Siapa dia sebenarnya?"

Bi Inah menelan ludah, melirik ke arah pintu tertutup seolah takut ada telinga yang mendengar. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab dengan suara berbisik.

"Nona Sera... dia adalah putri dari rekan bisnis utama Tuan Dewa. Keluarganya sangat berpengaruh dan kuat. Dulu, sebelum Tuan Dewa menikahi Nyonya, banyak orang yang mengatakan bahwa Nona Sera adalah satu-satunya wanita yang bisa mendekati Tuan Dewa. Dia selalu ada di sisi Tuan Dewa, di kantor, di pertemuan bisnis, di mana saja. Banyak yang mengira mereka akan menikah suatu hari nanti... sampai datang perjanjian ini."

Bi Inah berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan lagi.

"Nona Sera sangat mencintai Tuan Dewa, Nyonya. Dan dia punya kekuasaan besar di sini. Dia bukan wanita biasa. Dia cerdas, licik, dan sangat ambisius. Dan sekarang, melihat Nyonya ada di sini, menjadi istri sah Tuan Dewa... saya khawatir, Nona Sera tidak akan tinggal diam. Dia akan melakukan apa saja untuk menyingkirkan Nyonya dari jalan hidupnya."

Penjelasan itu membuat dada Naura semakin sesak. Ternyata, ia tidak hanya harus berhadapan dengan kebencian Dewa, tapi juga dengan ancaman dari wanita lain yang menganggapnya sebagai penghalang. Dunia yang ia masuki ini ternyata jauh lebih kejam dan berbahaya daripada yang ia bayangkan sebelumnya.

"Jadi saya bukan hanya penjaraannya, tapi juga penghalang bagi orang lain," batin Naura pahit. Ia mengusap kasar air matanya, berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatannya. Ia tidak boleh lemah. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun, baik Dewa maupun Sera, melihatnya jatuh dan hancur begitu saja.

"Terima kasih, Bi Inah," ucap Naura pelan, berusaha tersenyum tipis. "Terima kasih sudah memberitahu saya. Saya akan berhati-hati."

Siang itu berlalu dengan sangat lambat. Naura menghabiskan waktunya di dalam rumah besar itu, berjalan-jalan diam mengamati setiap sudut ruangan, mencoba mengenali tempat yang akan menjadi penjaranya untuk waktu yang lama. Rumah itu sangat megah, penuh barang berharga, lukisan mahal, dan perabotan antik, namun semuanya terasa dingin dan kaku. Tidak ada kehidupan, tidak ada tawa, hanya keheningan yang tebal dan rasa waspada yang selalu menyelimuti.

Sore menjelang malam, saat matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi warna jingga kemerahan, Naura duduk sendirian di teras belakang yang luas, menghadap ke taman yang indah dan kolam renang berukuran besar. Angin sore berhembus lembut menerpa wajahnya, membawa sedikit kesejukan yang sangat ia butuhkan. Di sini, di sudut rumah yang agak tersembunyi ini, ia merasa sedikit lebih lega, seolah bisa bernapas lebih bebas meski hanya sekejap.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara langkah kaki yang berirama dan tegas terdengar mendekat dari belakang. Naura menegang, ia hafal langkah kaki itu, langkah kaki yang penuh kekuasaan dan ancaman. Ia berbalik badan, dan benar saja, Dewa Angkasa Buwana berdiri di sana.

Pria itu baru saja pulang dari kantor. Ia sudah melepas jasnya, kemeja putihnya sedikit kusut namun tetap rapi, dan dasinya sudah dilonggarkan sedikit. Wajahnya terlihat lelah, namun tatapan matanya tetap tajam dan dingin seperti biasa. Di belakangnya, Raga, tangan kanan Dewa yang berbadan besar dan berwajah seram itu berdiri menjaga jarak, menunduk hormat.

Dewa berjalan mendekat perlahan, berhenti tepat di samping Naura, menatap lurus ke arah matahari yang mulai tenggelam.

"Kau tidak dikurung di kamar, ternyata," ucap Dewa tiba-tiba, suaranya datar tanpa menatap Naura. "Kau cukup berani berjalan-jalan di rumah ini."

"Saya hanya duduk di sini, Tuan Buwana," jawab Naura tenang, berusaha menjaga nada bicaranya agar tidak bergetar. "Saya tidak keluar pagar seperti yang kau larang. Saya hanya ingin melihat langit sore. Di tempat ini... hanya langit yang terlihat sama dengan tempat saya dulu tinggal."

Dewa menoleh, menatap wajah istrinya sekilas. Ada sesuatu dalam nada bicara Naura yang membuat hatinya sedikit tersentak, rasa yang aneh dan tidak ia mengerti. Rasa yang seolah ingin ia buang jauh-jauh tapi tetap saja ada. Ia melihat wajah pucat wanita itu, mata yang indah namun penuh kelelahan dan kesedihan, namun tetap memancarkan tekad yang kuat.

"Jangan pernah berharap bisa kembali ke tempat lamamu, Naura," ucap Dewa dingin, namun kali ini tidak setajam pagi tadi. "Tempat itu sudah hilang bagimu. Rumah ini satu-satunya tempatmu sekarang. Dan ingat kata-kata Sera tadi pagi... dia bukan orang yang suka berbagi. Jika kau sampai menyakiti hatinya atau menghalangi jalannya, kau akan menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada masalah denganku."

Naura menatap balik mata hitam itu, memberanikan diri untuk bertanya hal yang selama ini mengganjal di hatinya.

"Kalau begitu... mengapa kau menikahiku, Dewa? Mengapa kau mengikat dirimu denganku, jika kau punya wanita lain yang kau anggap pantas dan yang mencintaimu seperti Sera? Bukankah ini hanya menyulitkanmu sendiri? Kau bisa saja menghancurkan ayahku tanpa harus menikahi anaknya."

Pertanyaan itu membuat rahang Dewa mengeras. Ia berbalik badan, menatap Naura dengan tatapan yang kembali penuh amarah dan kebencian, seolah pertanyaan itu menyinggung luka paling dalam di hatinya.

"Aku sudah menjelaskannya padamu pagi tadi!" bentak Dewa rendah, namun penuh penekanan. "Aku menikahimu karena kau miliknya! Kau adalah bagian dari harta dan kehormatan yang dimiliki ayahmu. Dulu dia mengambil segalanya dariku, termasuk wanita yang kucintai saat itu... dan sekarang, aku mengambil segalanya darinya. Kau adalah bukti kemenanganku, Naura. Selama kau menjadi istriku, selama kau ada di bawah kakiku, aku tahu aku sudah membalas dendamku dengan sempurna. Dan Sera... dia paham posisinya. Dia paham bahwa ini semua hanya urusan bisnis dan dendam. Dia tahu hatiku sudah mati dan tidak ada lagi tempat untuk cinta."

Dewa melangkah semakin dekat, mencondongkan wajahnya hingga jarak mereka sangat dekat. Aroma tubuhnya yang khas kembali menguar, membuat jantung Naura berdebar kencang karena ketakutan dan sesuatu yang lain yang tidak ia mengerti.

"Jangan pernah berpikir ada cinta di sini, Naura. Jangan pernah berharap aku akan melembut padamu. Semakin kau berharap, semakin sakit saat kau kecewa. Dan itulah yang aku inginkan... melihatmu hancur oleh harapan kosongmu sendiri."

Naura menahan napasnya, menatap lurus ke manik mata hitam itu dengan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa tenaganya.

"Dan kau jangan pernah berpikir kau bisa mematahkan semangatku semudah itu, Tuan Buwana," jawab Naura tegas, suaranya bergetar namun jelas terdengar. "Saya ada di sini bukan karena saya mengakui dosa ayah saya, tapi karena saya ingin menyelamatkan orang tua saya. Saya akan bertahan. Saya akan tetap berdiri tegak meski kau berusaha menjatuhkan saya berkali-kali. Dan kau akan melihat... bahwa saya bukanlah wanita lemah yang bisa kau injak-injak sesuka hati selamanya."

Keheningan mencekam menyelimuti mereka berdua. Dewa terdiam, tertegun mendengar jawaban berani itu. Di dalam hatinya yang paling dalam, ada rasa kagum kecil yang ia tolak mati-matian. Ia tidak menyangka wanita ini memiliki keteguhan hati sekuat itu. Semakin Naura melawan, semakin ia tertantang, namun di saat yang sama, semakin ia merasa ada tembok di hatinya yang mulai retak sedikit demi sedikit.

Namun, harga diri dan dendamnya masih terlalu besar untuk ia akui. Dewa tersenyum miring, senyum yang penuh tantangan.

"Baiklah kalau begitu," ucap Dewa pelan. "Kalau kau ingin bertahan, mari kita lihat seberapa kuat benteng pertahananmu itu. Besok pagi, Sera akan datang lagi. Dia akan membantuku mengurus beberapa dokumen penting di rumah ini. Dan kau... kau akan melayani kami berdua. Kau akan melihat sendiri betapa dekat hubungan kami, dan betapa tidak berartinya dirimu di mataku. Aku ingin melihat sampai mana batas kesabaran dan ketegaranmu itu."

Dewa berbalik badan, memberi isyarat pada Raga untuk mengikutinya pergi meninggalkan teras itu. Sebelum melangkah jauh, ia sempat berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.

"Nikmati sisa waktumu malam ini, Nyonya Buwana. Karena mulai besok, permainan ini akan jauh lebih sulit dan lebih kejam dari yang kau bayangkan."

Naura terduduk kembali di kursi teras, napasnya terasa berat dan tidak beraturan. Tulang-tulangnya terasa lemas, namun tekadnya semakin menguat. Ancaman Dewa, kehadiran Sera, dan kebencian yang melingkupi hidupnya... semuanya menjadi satu alasan baginya untuk tetap berdiri. Ia tidak akan mundur. Ia akan menghadapi semuanya, meski harus berjuang sendirian di tengah sarang singa yang kelaparan ini.

Di sudut lain rumah itu, dari balik jendela lantai dua, sepasang mata tajam mengamati interaksi singkat mereka tadi. Sera berdiri di sana, memegang gorden dengan tangan yang mengepal kuat, wajahnya yang cantik berubah menjadi penuh kebencian dan cemburu buta. Ia melihat bagaimana Dewa berbicara dengan Naura, bagaimana tatapan mata itu, dan bagaimana wanita itu berani menjawab balik.

"Dia mulai berani, ya..." desis Sera pelan dengan senyum yang mengerikan. "Kau pikir kau bisa memenangkan hati Angkasa hanya dengan wajah polos dan ketegaranmu itu? Salah besar, gadis bodoh. Aku akan pastikan kau menyesal pernah dilahirkan, dan aku akan pastikan kau keluar dari rumah ini dengan cara yang paling menyedihkan."

Rencana jahat mulai tersusun di kepala wanita itu, rencana yang akan membuat posisi Naura semakin terancam dan berbahaya.

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!