Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Rendra terdiam sejenak. Matanya yang tajam menatap lembut ke dalam manik mata Nara, seolah sedang menelusuri kembali masa-masa yang sudah lama dia simpan rapat-rapat di dalam hati.
"Sudah sejak lama..." jawab Rendra pelan, suaranya terdengar berat namun penuh makna. Dia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan rahasia terbesarnya selama ini.
"Tepatnya sejak tiga tahun yang lalu."
Nara terkejut, matanya membelalak sedikit. "Tiga tahun? Maksud kamu..."
Rendra mengangguk perlahan, jemarinya masih setia mengusap pipi wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Iya... saat Arga pertama kali memperkenalkan kamu sebagai pacarnya, dan bilang kalau kamu adalah calon istri yang akan dia nikahi."
Rendra tersenyum tipis, senyum yang bercampur rasa pahit dan manis di saat yang bersamaan.
"Saat itu aku melihat kamu masuk ke dalam kafe, tersenyum sopan dan sangat anggun. Jantungku... rasanya berhenti berdetak sedetik, Ra. Seolah ada petir yang menyambar tepat di dadaku. Itu yang namanya cinta pada pandangan pertama."
"Tapi saat itu juga aku tahu posisiku. Aku tahu batasanku. Kamu adalah milik sahabatku sendiri. Kamu adalah calon istri Arga. Jadi apa yang bisa aku lakukan selain menelan rasa ini sendirian?"
Rendra menghela napas panjang, menatap jauh ke dalam mata Nara.
"Aku memilih untuk diam. Aku pikir hanya dengan melihatmu dan mendengar suaramu saja itu sudah cukup. Aku pikir perasaan ini akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, hingga aku memutuskan untuk pergi ke London setelah kalian berdua menikah, dengan harapan aku bisa melupakan kamu yang sudah menjadi milik orang lain."
"Tapi nyatanya?" Rendra tertawa getir, "Justru semakin lama perasaan ini semakin kuat. Setiap kali aku mengingat kamu, setiap kali aku mengingat suaramu, atau bahkan setiap kali aku membayangkan hal-hal kecil tentangmu... rasa itu semakin tumbuh subur di dalam hatiku dan menyiksaku. Aku jadi orang paling egois di dunia, Ra. Aku bahagia melihat kamu bahagia, tapi di saat yang sama aku sakit karena tahu kebahagiaan itu bukan aku yang memberikannya."
"Selama tiga tahun itu aku menahan diri. Aku menjaga jarak aman. Aku berusaha bersikap biasa saja di depan kalian, padahal di dalam sini..." Rendra menunjuk dadanya sendiri, "Didalam sini hancur berkeping-keping setiap kali melihat kalian berpegangan tangan."
"Sampai akhirnya aku melihat kamu begitu terpuruk dan terluka karena perselingkuhan Arga. Aku tidak bisa lagi membohongi diriku, dan aku tidak bisa membiarkan kamu terus menderita dalam pernikahan yang tidak bahagia itu."
Rendra menggenggam kedua tangan Nara erat, menatapnya dengan penuh ketulusan.
"Jadi jangan pernah berpikir perasaan ini main-main, atau sesaat. Cinta ini sudah tumbuh sejak lama, Ra. Sudah tertanam sangat dalam di hatiku, jauh sebelum kita berani mengakui apa yang sebenarnya kita rasakan."
Air mata Nara kembali jatuh, tapi kali ini air mata haru. Dia tidak pernah menyangka bahwa pria di hadapannya ini sudah menyimpan rasa sedalam itu selama bertahun-tahun. Menyembunyikannya dengan sangat baik di balik topeng dingin dan wibawanya sebagai seorang CEO.
"Ren..." isak Nara pelan, dadanya sesak namun terasa begitu hangat. "Kamu bodoh sekali... kenapa kamu diam saja selama itu? Penderitaan kita bisa jadi lebih singkat kalau kamu jujur sejak awal,"
Rendra tersenyum lembut, lalu menarik tubuh Nara kembali ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh.
"Karena saat itu aku menghargai Arga sebagai sahabatku. Dan aku menghargai pilihanmu. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda. Sekarang, aku tidak akan melepaskan kamu lagi."
Tidak lama kemudian, ponsel Rendra berbunyi. Pesan masuk memberitahu bahwa mobil dan sopirnya sudah siap di depan gedung.
"Mobil sudah datang," ucap Rendra sambil melepaskan pelukannya, tangannya turun dan kembali menggenggam tangan Nara erat. "Ayo, aku antar kamu sampai ke pintu mobil."
Kali ini Nara tidak menolak lagi. Dia membiarkan dirinya digiring oleh pria itu keluar dari ruangan, melewati koridor, dan menuju lobi. Sesampainya di depan gedung, mobil hitam itu sudah terparkir rapi. Sopir pribadi Rendra segera turun dan membukakan pintu belakang dengan sopan.
Rendra berhenti di samping pintu mobil. Dia menatap Nara lama, seakan enggan melepaskan keberadaannya.
"Masuklah. Istirahat yang cukup. Jangan pikirkan masalah berat-berat dulu," pesan Rendra lagi.
Nara mengangguk patuh. "Iya... kamu juga jangan terlalu lelah, Ren."
Sebelum masuk, Nara sempat menatap Rendra sekali lagi, lalu dengan gerakan cepat yang tak disangka, dia merentangkan tangannya dan memeluk pinggang pria itu sebentar saja. Hanya sekejap, cukup untuk mengucapkan terima kasih dan rasa sayang tanpa kata.
"Aku pulang, Ren..." bisiknya.
Rendra terpaku sejenak, lalu tersenyum tipis dan mengusap punggung Nara. "Hati-hati, Sayang."
Nara masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup, memisahkan keduanya. Rendra berdiri mematung, menatap mobil itu melaju perlahan menjauh, hingga akhirnya hilang ditelan kemacetan kota.
Dia menghela napas panjang, lalu menyalakan rokoknya. Asap mengepul, menutupi sebagian wajahnya yang kini kembali berubah dingin dan serius.
-
-
-
Suasana ruang tengah malam itu terasa membeku. Hanya ada cahaya lampu kuning yang remang-remang menerangi ruangan, namun tidak cukup untuk menghangatkan suasana yang sedingin es diantara mereka berdua.
Arga duduk di sofa dengan wajah pucat dan tatapan lemah. Di hadapannya, Nara berdiri tegap dengan kedua tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya, menahan getar yang ada disana. Wanita itu menatap lurus ke mata suaminya, matanya tajam namun penuh dengan keputusasaan yang sudah mencapai puncaknya.
"Mas..." suara Nara terdengar pelan namun tegas, tidak ada keraguan sedikitpun. "Aku sudah memutuskan. Aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan."
Arga terkejut, seolah ada palu besar yang menghantam kepalanya saat mendengar kalimat itu. Tubuhnya lemas seketika, dia mencondongkan tubuh ke depan, kedua tangannya terulur ingin menyentuh tangan Nara namun ditahan oleh tembok dingin yang dipancarkan wanita itu.
"Ra... k-kamu bilang apa?" suara Arga pecah, matanya membelalak lebar tak percaya. "Cerai? Kamu bercanda kan? Apa karena mamaku meminta kita untuk satu kamar lagi? Karena mamaku meminta cucu dari kita? Maafkan aku Ra, aku janji aku akan berubah. Aku akan perbaiki semuanya."
Arga berbicara terbata-bata, panik setengah mati. Dia tidak pernah menyangka istrinya akan berani mengucapkan kata seberat itu.
"Tidak Mas, ini bukan cuma karena soal itu," potong Nara tegas, dia mundur selangkah menjauhkan jarinya. "Ini soal hati yang sudah mati. Ini soal kepercayaan yang sudah hancur berkeping-keping dan tidak bisa lagi direkatkan."
Nara menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya.
"Selama ini kita pura-pura bahagia, Mas. Kita pura-pura harmonis di depan orang lain, di depan Mama, di depan Papa. Tapi kenyataannya? Kita berdua sama-sama kesepian. Kita saling menyakiti. Dan aku... aku sudah tidak sanggup lagi berpura-pura."
"Tapi kita suami istri, Ra!" bentak Arga pelan, emosinya mulai meledak campur aduk dengan rasa takut kehilangan. "Kita sudah saling berjanji. Apa salahku sampai kamu tega membuangku begitu saja?! Karena pria itu?! Karena dia, iya?!"
"Jangan salahkan siapapun, Mas," jawab Nara dingin. "Yang salah adalah kita yang tidak pernah cocok dari awal. Yang salah adalah ego kita masing-masing. Dan sekarang, aku ingin mengakhiri semua penderitaan ini."
"Aku tidak akan pernah memberi izin!" Arga berdiri tegak, wajahnya merah padam. "Aku tidak akan pernah menandatangani surat cerai itu! Selama aku masih bernapas, kamu tetap istriku! NARA ISTRIKU!"
Dengan gerakan kasar dan penuh amarah, Arga menarik tangan Nara paksa. Nara terkejut dan berusaha meronta sekuat tenaga, tapi kekuatan fisiknya jauh kalah dibanding suaminya yang sedang dilawan rasa cemburu dan ego yang meledak-ledak.
"Lepas! Mas lepas! Sakit!!" jerit Nara panik, kakinya terseret-seret menuju kamar utama mereka yang dulu pernah menjadi saksi kebahagiaan, kini berubah menjadi tempat yang begitu menakutkan.
Sesampainya di dalam kamar, Arga mendorong tubuh Nara dengan keras hingga wanita itu terhempas jatuh di atas kasur. Sebelum Nara sempat bangkit kembali, Arga langsung menindih tubuhnya, menahan kedua tangan wanita itu di atas kepala dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram dagu Nara dengan kasar, memaksa istrinya menatap matanya yang penuh dengan nafsu dan kegilaan.
"Kamu pikir kamu bisa lari dariku begitu saja, hah?!" desis Arga di wajah Nara, napasnya memburu dan panas. "Kamu pikir dengan meminta cerai, kamu bisa bahagia dengan pria lain?! Jangan mimpi!"
Tubuh Nara gemetar ketakutan. Dia bisa menahan Arga dengan kata-kata, tapi dia tidak berdaya saat pria ini menggunakan kekerasan fisik.
"Mas... tolong... jangan lakukan ini... aku mohon..." isak Nara lemah, berusaha menolak dengan sisa tenaga yang ada. "Ini bukan cinta, Mas! Ini pemaksaan! Ini kejam!"
"DIAM!" bentak Arga, wajahnya tampak menyeramkan. Matanya menatap tubuh Nara yang bergetar itu dengan tatapan lapar dan posesif. "Kamu itu milikku! Tubuhmu, rahimmu, semuanya milikku! Selama kita masih terikat pernikahan, aku berhak melakukan apapun yang aku mau!"
Arga menundukkan wajahnya, menghirup aroma tubuh Nara dengan rakus, seolah ingin menandai wilayahnya agar tidak ada orang lain yang berani mendekat.
"Dokter bilang kamu sangat subur kan?" ucap Arga dengan nada rendah yang terdengar sangat mengerikan dan menjijikkan bagi Nara.
"Kalau begitu..." Arga menyeringai, lalu tangannya mulai meraba kasar tubuh istrinya sendiri. "Malam ini aku akan menanamkan benihku di rahim kamu!"
-
-
-
Bersambung...