Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berburu di Hutan Darah Besi
Kegemparan di Alun-Alun Awan Tembaga perlahan mereda seiring tenggelamnya matahari, namun rumor tentang kejadian siang tadi menyebar seperti api liar tertiup angin gunung. Banyak yang menduga Wang Hao terkena serangan balasan dari karma buruknya sendiri, sementara beberapa murid senior berbisik tentang kemungkinan adanya tetua sekte yang menghukum pemuda itu secara diam-diam.
Tentu saja, tidak ada satu pun yang mengarahkan pandangan curiga pada seorang pelayan fana berbaju lusuh yang menyapu pelataran.
Di dalam gubuknya yang gelap dan dingin, Lin Ye duduk bersila. Ia memejamkan mata, memindai kondisi tubuhnya. Otot-ototnya terasa padat bagai untaian kawat baja, dan aliran darahnya menderu dengan tenaga kehidupan yang kental. Di pusat Dantian-nya, Kuali Penelan Bintang berputar pelan. Kuali itu kini memiliki dua untaian cahaya redup yang melingkari permukaannya: satu berwarna merah gelap yang berasal dari Racun Api Belerang, dan satu lagi berwarna biru pucat dari Sumsum Es Hitam.
"Kekuatanku telah kukuh di Tingkat Kelima Alam Pengumpulan Qi," gumam Lin Ye, membuka matanya yang memancarkan ketajaman setajam pedang. "Tapi ini tidak cukup. Proses Pencucian Sumsum membutuhkan jumlah energi yang melipatgandakan dirinya di setiap tingkat. Pil limbah tingkat rendah dan hawa es pasif dari tambang sudah tidak bisa lagi memuaskan rasa lapar Kuali ini."
Ia menyentuh dadanya, merasakan getaran halus dari pusaka primordial tersebut. Kuali itu terasa kosong, memancarkan resonansi yang menuntut "makanan" yang lebih murni, lebih buas, dan lebih padat.
Lin Ye menoleh ke arah jendela reyotnya. Jauh di sebelah barat Gunung Qingyun, terbentang lautan pepohonan raksasa yang tampak hitam pekat di bawah cahaya bulan. Itu adalah Hutan Darah Besi, wilayah terluar dari Pegunungan Seratus Ribu Binatang Iblis.
Bagi murid sekte luar tingkat rendah, hutan itu adalah wilayah terlarang di malam hari. Di sana bersemayam binatang-binatang buas yang telah bermutasi menyerap Qi spiritual langit dan bumi. Binatang iblis tingkat satu saja memiliki kekuatan fisik yang mampu mencabik-cabik kultivator manusia di Tingkat Ketiga Alam Pengumpulan Qi.
Namun bagi Lin Ye, yang tidak mengandalkan Qi spiritual melainkan kekuatan fisik murni, hutan itu adalah perjamuan raksasa yang menyajikan daging, darah, dan Inti Iblis.
"Jika aku tidak mengambil risiko, aku akan terjebak menjadi pelayan selamanya," putus Lin Ye dengan nada dingin tanpa emosi.
Ia mengganti jubah abu-abunya dengan pakaian serba hitam ketat yang ia jahit sendiri dari kain bekas kantong teh spiritual. Ia mengikat rambut panjangnya, menyembunyikan wajahnya di balik kain gelap, dan menyelipkan sebilah belati besi berkarat—satu-satunya senjata yang bisa ia curi dari tumpukan barang rongsokan dapur—di balik sabuknya.
Saat lonceng tengah malam berdentang dari Puncak Utama, Lin Ye bergerak. Ia melesat keluar dari jendela gubuknya layaknya hantu malam. Kecepatannya kini sungguh mengerikan. Kakinya bertumpu pada dahan-dahan pohon bambu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, menentang gaya tarik bumi dengan daya ledak otot Tingkat Kelima.
Dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, Lin Ye telah melewati batas formasi pelindung sekte luar dan menjejakkan kakinya di tanah berlumpur Hutan Darah Besi.
Seketika, hawa sekitar berubah drastis. Udara di sini terasa sangat berat, dipenuhi oleh bau anyir darah busuk dan daun kering. Suara auman hewan buas sesekali memecah keheningan dari kejauhan, membuat bulu kuduk manusia biasa akan berdiri. Namun, darah Lin Ye justru mendidih. Kuali Bintang di Dantian-nya bergetar penuh semangat, mencium aroma esensi kehidupan liar di sekitarnya.
Lin Ye menajamkan panca inderanya. Pendengarannya yang jauh melampaui manusia menangkap suara retakan ranting kering sekitar tiga ratus tombak di arah timur. Ada suara napas yang berat, kasar, dan diselingi suara mengunyah tulang.
Ia merendahkan postur tubuhnya, merayap menembus semak berduri tanpa menimbulkan riak udara, dan perlahan mendekati sumber suara.
Dari balik pohon ek raksasa, Lin Ye mengintip ke sebuah area terbuka. Di bawah siraman cahaya bulan purnama yang pucat, seekor monster sedang berpesta memakan bangkai rusa spiritual.
Makhluk itu adalah Serigala Besi Bermata Merah. Ukurannya sebesar anak sapi liar, dengan bulu sekeras jarum baja berwarna abu-abu gelap. Mata merahnya menyala dalam kegelapan, memancarkan kehausan akan darah yang tak ada habisnya. Ini adalah Binatang Iblis Tingkat Satu Puncak, setara dengan kultivator Tingkat Keempat akhir. Kekuatan rahangnya diketahui bisa mematahkan pedang besi kualitas menengah milik sekte luar.
Napas Lin Ye melambat. Denyut jantungnya ia tekan hingga titik paling minim. Ia mengukur jarak, menakar celah serangan, dan menimbang daya tahan fisik lawannya. Belati besi rongsokan di pinggangnya tidak akan berguna untuk menembus bulu baja serigala itu. Ia harus menggunakan tangan kosong.
Mati karena terlalu ragu, atau hidup karena lebih buas dari binatang, batin Lin Ye.
Serigala Besi itu tiba-tiba berhenti mengunyah. Telinganya berkedut hebat. Naluri binatangnya mendeteksi ancaman tak kasatmata. Ia mengangkat kepalanya yang berlumuran darah, matanya yang menyala merah menatap lurus ke arah semak tempat Lin Ye bersembunyi. Mulutnya terbuka, memperlihatkan taring-taring yang setajam belati, dan geraman rendah yang menggetarkan dada keluar dari tenggorokannya.
Ia telah menyadari keberadaan Lin Ye.
Lin Ye tidak menunggu serigala itu menerkam. Seperti anak panah yang lepas dari busurnya, tubuh Lin Ye meledak ke depan. Tanah lumpur di bawah kakinya terlempar ke udara akibat pijakan tenaga fisiknya yang brutal.
Wuuusss!
Melihat manusia kecil yang berani menyerangnya, Serigala Besi itu melolong marah. Ia melompat menyongsong Lin Ye, cakar depannya yang sebesar piringan batu mengayun ke arah leher Lin Ye, membawa aliran Qi liar yang membelah udara.
Lin Ye tidak menghindar. Di saat cakar serigala itu tinggal sejengkal dari wajahnya, Lin Ye menunduk tajam. Tangan kanannya mengepal kuat, mengumpulkan seluruh tenaga dari tulang, otot, dan meridiannya. Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya menyuntikkan hawa dingin ekstrem sisa Sumsum Es Hitam ke dalam tinjunya.
"Pecah!" geram Lin Ye.
Pukulan telak Lin Ye menghantam tepat di rahang bawah serigala itu dari arah bawah.
BAM!
Suara benturan daging dan tulang yang memekakkan telinga bergema di hutan. Kekuatan fisik Alam Tingkat Kelima, ditambah dengan momentum lari Lin Ye, menciptakan daya hancur yang melebihi lima ribu kati.
Rahang bawah Serigala Besi itu remuk seketika. Tubuhnya yang besar seberat ratusan kati terpental ke atas. Namun, yang lebih mengerikan bukanlah benturan fisiknya, melainkan hawa Yin ekstrem yang menempel pada pukulan Lin Ye.
Seketika, lapisan es biru menyebar dari rahang serigala yang hancur, membekukan aliran darah di kepalanya. Lolongan serigala itu terhenti dengan suara tersedak yang menyedihkan.
Serigala itu jatuh berdebum ke tanah berlumpur. Ia mencoba bangkit, tapi racun es telah melumpuhkan separuh urat sarafnya. Matanya yang merah kini memancarkan rasa takut yang amat sangat, rasa takut yang sama seperti mangsa yang bertemu dengan predator puncak.
Lin Ye tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Ia melesat maju, menginjak punggung serigala itu dengan lututnya untuk menguncinya, lalu mengangkat kepalan tangan kanannya tinggi-tinggi.
Brak! Brak! Brak!
Tiga pukulan maut menghantam pelipis serigala itu berturut-turut. Tengkorak keras Serigala Besi akhirnya retak dan amblas, mengakhiri hidup binatang buas tersebut secara instan. Darah segar menyemprot keluar, menodai lengan dan wajah Lin Ye.
Napas Lin Ye sedikit memburu. Ia berdiri dan melihat kedua tangannya. Punggung tangannya sedikit lecet akibat berbenturan dengan bulu keras serigala, namun lukanya sangat dangkal dan mulai menutup dengan sendirinya.
"Fisikku memang luar biasa. Kultivator Tingkat Kelima biasa akan membutuhkan keterampilan pedang kelas menengah dan selusin jurus Qi untuk membunuh serigala ini. Aku hanya butuh empat pukulan," senyum buas perlahan terukir di wajah Lin Ye.
Namun, pekerjaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Lin Ye meletakkan kedua telapak tangannya di atas bangkai serigala yang masih hangat. Ia memejamkan mata dan memandu Sutra Kekosongan Penelan Bintang.
Tiba-tiba, Kuali Bintang di Dantian-nya berputar dengan kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika kuali itu menyukai racun elemen, maka terhadap darah dan daging makhluk hidup, kuali itu menunjukkan kerakusan iblis kelaparan.
Daya hisap kosmik yang mengerikan meledak dari telapak tangan Lin Ye.
Bzzzt... Ssshhh...
Bangkai Serigala Besi itu mulai bergetar. Darah, Qi Iblis, dan esensi sumsum tulang di dalam tubuh binatang itu ditarik keluar secara paksa. Garis-garis energi merah menyala mengalir dari bangkai tersebut, masuk ke dalam pori-pori lengan Lin Ye, lalu melesat langsung menuju kuali di Dantian-nya.
Bukan hanya darahnya, sebuah batu bundar seukuran kelereng berwarna merah darah—Inti Iblis dari serigala tersebut—yang berada di dalam kepalanya, langsung melebur menjadi cairan energi murni yang tersedot habis ke telapak tangan Lin Ye.
Prosesnya sangat cepat. Hanya dalam waktu belasan tarikan napas, tubuh Serigala Besi yang besar, berotot, dan gagah itu menyusut drastis. Dagingnya mengempis, darahnya mengering, bulunya rontok dan berubah menjadi abu kelabu. Yang tersisa di atas tanah hanyalah kerangka tulang putih yang ditutupi oleh kulit kering layaknya mumi yang telah berusia ribuan tahun.
Lin Ye mendongak, membuka matanya yang kini memancarkan cahaya merah pekat yang perlahan memudar menjadi hitam normal.
Sebuah gelombang energi yang luar biasa kuat dan panas meledak dari Dantian-nya, menyebar ke seluruh tubuhnya. Energi iblis liar dari serigala itu telah digiling dan disucikan sepenuhnya oleh Kuali Bintang, diubah menjadi sari pati penempa tulang murni tanpa sedikit pun efek samping hewani.
Otot-otot Lin Ye berkedut menyerap nutrisi besar-besaran tersebut. Tubuhnya terasa nyata bertambah satu lapis lebih berat, satu lapis lebih kuat. Jarak antara Tingkat Kelima dan Tingkat Keenam kini telah memendek dengan sangat drastis.
"Ini..." Lin Ye memandangi tangannya dengan napas tertahan. "Menyerap esensi kehidupan jauh lebih cepat daripada memurnikan pil limbah. Ini adalah jalan pintas kultivasi yang sangat gila, sangat menantang surga... dan sangat terkutuk."
Ia menatap sisa-sisa mayat serigala yang berbentuk keropos itu. Jika ada tetua sekte yang melihat bangkai ini, mereka tidak akan menyimpulkannya sebagai ulah binatang buas lain. Mereka akan mengira ada penganut aliran sesat kultivasi iblis tingkat tinggi yang menyusup ke wilayah sekte untuk berlatih ilmu darah.
Lin Ye segera menyadari bahayanya. Ia tidak boleh meninggalkan bukti semacam ini.
Ia menendang kerangka keropos serigala itu kuat-kuat. Karena esensinya sudah terhisap habis, tulang belulang itu rapuh seperti kayu lapuk. Krak! Kerangka itu langsung hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Lin Ye kemudian menggali tanah menggunakan sepotong dahan keras dan mengubur serpihan kulit serta tulang tersebut dalam-dalam di bawah akar pohon, menutupi jejaknya dengan daun kering.
Setelah memastikan tidak ada aroma yang tertinggal selain bau bangkai rusa, Lin Ye kembali melesat menembus malam, kembali ke gubuknya sebelum regu peronda subuh mulai berkeliling.
Dua hari kemudian, Hutan Darah Besi menjadi gempar.
Bukan karena penemuan bangkai serigala, melainkan serangkaian kejadian hilangnya binatang iblis secara misterius. Tiga ekor Beruang Batu tingkat dua dan belasan Serigala Besi lenyap tanpa jejak dari wilayah kekuasaan mereka. Para murid sekte luar yang berburu di area tersebut menemukan fakta yang membingungkan: tidak ada jejak pertarungan Qi spiritual yang besar, hanya pohon-pohon yang tumbang akibat benturan fisik brutal, serta genangan debu putih aneh yang terkubur terburu-buru di bawah tanah.
Rumor baru pun lahir.
"Kudengar, sesepuh sekte dalam sedang memelihara binatang gaib pelahap tulang di hutan luar," bisik seorang murid di ruang makan.
"Bukan! Kakak seniorku dari balai penegak hukum mengatakan itu adalah ulah ahli kultivasi aliran iblis yang sedang bersembunyi!"
Di sudut ruangan, sedang memakan bubur encernya dengan tenang, Lin Ye hanya mendengarkan kasak-kusuk itu dalam diam. Wajahnya tetap datar seperti danau yang membeku, tidak menunjukkan emosi apa pun.
Sementara Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya berputar dengan rasa puas, dan kekuatan fisik Lin Ye telah secara resmi menembus dinding penghalang Tingkat Keenam Alam Pengumpulan Qi.