NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Rahasia masa lalu

Ardiansyah menggeleng. "Awalnya tidak. Tapi Joko menggunakan cara kotor. Dia menjebak ibumu dalam sebuah situasi yang membuat seolah-olah mereka telah melakukan kesalahan besar. Demi menjaga nama baik dan kehormatan, ibumu terpaksa menikah dengannya. Padahal saat itu, ibumu sedang mengandungmu, Salwa. Kau adalah anakku. Kau adalah buah cinta kami berdua."

Darah Salwa terasa berhenti mengalir. Tubuhnya gemetar hebat. "Jadi... jadi anda... anda ayah kandung saya? Dan laki-laki yang selama ini saya panggil Ayah itu... Orang yang mengaku saudara jauh ibu ? Dan dia menikahi Ibu hanya demi harta?"

"Benar," jawab Ardiansyah tegas, matanya berkaca-kaca namun tetap memancarkan kemarahan yang tertahan lama. "Dan kejahatan mereka tidak berhenti di situ. Setelah menikah, mereka sadar bahwa aku tidak menyerahkan hartaku begitu saja. Karena marah dan kecewa, serta takut rahasia itu terbongkar, mereka membuangku jauh-jauh , memfitnahku, dan membuatku seolah hilang ditelan bumi. Selama bertahun-tahun aku berjuang di sana, membangun kembali kekayaanku dari nol, bertekad untuk kembali dan membongkar semua kebenaran."

"Dan saat aku akhirnya kembali, aku mendengar kabar buruk. Kau, anakku, gadis kecil yang selalu aku impikan wajahnya, ternyata diperlakukan seperti pembantu di rumahmu sendiri. Kau disiksa, kau dijadikan sasaran kemarahan mereka. Dan yang paling membuatku hampir gila... kejadian buruk yang menimpamu dulu... kekerasan yang kau alami... itu bukan kecelakaan. Itu rencana Joko. Dia sengaja membiarkan hal itu terjadi, bahkan dia yang mengaturnya, agar kau dianggap rusak, tidak berharga, dan agar kau tidak bisa menuntut hakmu atas harta warisanku jika nanti aku kembali."

Salwa menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata kembali mengalir deras, bukan lagi karena kesedihan, tapi karena rasa jijik dan marah yang luar biasa. Jadi, trauma yang menghantuinya selama ini, rasa sakit fisik dan batin yang ia derita... itu semua adalah rencana kejam orang-orang yang ia anggap keluarga?

"Dan pernikahanmu dengan Yogie?" Ardiansyah melanjutkan suaranya yang makin berat. "Itu pun rencana mereka. Mereka tahu Yogie adalah anak orang kaya dan berkuasa. Mereka menjodohkanmu dengan harapan bisa mengeruk keuntungan dari keluarga Yogie. Tapi ternyata... mereka tidak tahu bahwa Yogie punya alasan sendiri. Yogie sebenarnya tahu sedikit tentang masa lalu ini, tapi sayangnya dia mendapat versi cerita yang terbalik dari Joko. Dia disuruh menikahimu hanya untuk menceraikanmu di malam pertama, untuk benar-benar mematikan harga dirimu selamanya, dan memastikan kau hancur total sehingga tidak ada lagi nilai bagimu di mata dunia."

Salwa terisak hebat, dadanya sesak napas. "Jadi... semua ini... semua rasa sakit ini... semua ini direncanakan? Ibu... Ibu tahu semua ini? Ibu tahu saya anak anda , dan Ibu diam saja saat mereka menghancurkan hidup saya?"

Ardiansyah mengangguk sedih. "Ibumu lemah, Salwa. Dia terjebak dalam ketakutan dan perasaan bersalah selama puluhan tahun. Dia menjadi boneka di tangan Joko. Dia membiarkanmu dijadikan tumbal demi keselamatan dan kenyamanan dirinya sendiri."

Ardiansyah berdiri berjalan mendekati meja, menatap Salwa lekat-lekat dengan sorot mata penuh tekad.

"Dan malam ini... saat kau diusir, saat kau dibuang seperti sampah di tengah hujan... aku ada di sana. Aku mengawasimu. Aku tidak akan membiarkan mereka menghabisi nyawamu atau membiarkanmu binasa di jalanan. Karena kau darah dagingku, Salwa. Kau satu-satunya hartaku yang paling berharga di dunia ini."

Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Salwa.

"Sekarang kau sudah tahu semuanya, Nak. Kau sudah tahu siapa musuh sesungguhnya. Bukan hanya Yogie, tapi juga mereka yang kau panggil Ayah dan Ibu. Mereka adalah monster yang menyembunyikan wajah mereka di balik topeng keluarga. Mereka yang merampas masa kecilmu, merampas kehormatanmu, dan merencanakan kehancuranmu."

Salwa mengangkat wajahnya, menghapus air matanya dengan kasar. Di matanya yang merah padam itu, kini bersinar api kemarahan yang jauh lebih besar dan lebih panas dari sebelumnya. Kebencian yang tadinya tertuju pada dua orang, kini melebar, mendalam, dan mengakar kuat.

"Jadi..." suaranya bergetar namun penuh ketajaman. "Semua kejahatan ini bermula dari keserakahan dan kejahatan mereka?"

"Ya," jawab Ardiansyah tegas. "Dan sekarang, aku menawarkan ini padamu. Rumah ini, kekayaan yang aku miliki, kekuasaanku... semuanya akan menjadi milikmu. Aku akan memulihkan namamu, aku akan membuatmu menjadi wanita yang paling dihormati dan ditakuti. Dan kita akan melakukan satu hal besar."

Ardiansyah berhenti sejenak, lalu mengucapkan kalimat yang menjadi bahan bakar utama bagi jiwa dendam Salwa.

"Kita akan menghancurkan mereka, Salwa. Sama persis seperti cara mereka menghancurkanmu. Kita akan membuat mereka merasakan sakit, malu, dan keputusasaan yang seribu kali lipat lebih berat dari apa yang pernah mereka timpakan padamu. Yogie Pratama, Joko, dan ibumu sendiri... semuanya harus membayar mahal atas setiap tetes air mata yang kau tumpahkan."

Salwa bangkit berdiri perlahan, kakinya gemetar namun tegap. Ia menatap Ardiansyah ayah kandungnya sendiri dengan pandangan yang setara.

"Saya mau, Ayah..." ucapnya pelan namun tegas, sebutan 'Ayah' meluncur dari bibirnya untuk pertama kalinya dengan rasa hormat sekaligus dendam yang bercampur jadi satu. "Saya mau. Saya tidak akan berhenti sampai mereka semua berlutut di hadapan saya dan memohon belas kasihan yang dulu pernah saya mohonkan tapi mereka tolak. Mulai sekarang, Salwa yang lemah sudah mati. Yang ada hanyalah Salwa Azzahra... wanita yang datang untuk membalas dendam."

Di ruangan itu, di bawah cahaya lampu yang redup, kesepakatan itu terjalin. Dua orang yang terluka oleh masa lalu, kini bersatu dengan satu tujuan yang sama: menghancurkan mereka yang pernah menyakiti dan membuang mereka. Dan permulaan dari pembalasan itu baru saja dimulai.

Keheningan kembali menyelimuti ruang kerja yang luas itu. Hanya terdengar suara napas keduanya yang terasa berat dan penuh emosi. Salwa masih berdiri di tempatnya, matanya menatap lekat-lekat wajah Ardiansyah wajah ayah kandungnya yang baru saja ia temukan keberadaannya setelah sekian lama tersembunyi oleh kebohongan besar.

Segala rahasia yang terungkap tadi, semua kebenaran pahit yang ia dengar, seolah menjadi beban raksasa yang terangkat sekaligus, namun meninggalkan ruang hampa yang luas di hatinya. Ruang yang selama ini kosong, yang selama ini ia isi dengan rasa sakit, penolakan, dan kesepian.

Salwa menatap tangan Ardiansyah yang tergeletak di atas meja tangan yang besar, kuat, dan tampak sama dengan tangannya, ciri fisik yang selama ini ia pikir hanya kebetulan. Perlahan, kakinya melangkah maju mendekat, jarak di antara keduanya semakin menipis. Suaranya yang tadi penuh dengan ketegasan dan api dendam, kini melembut, bergetar, dan kembali terdengar seperti suara anak kecil yang sedang mencari tempat berlindung.

"Ayah..." panggilnya lirih, sebutan itu terasa begitu asing namun sangat indah di bibirnya. "Bolehkah... bolehkah saya memeluk Ayah?"

Salwa menundukkan wajahnya, air mata kembali menetes namun kali ini rasanya berbeda. Bukan air mata kesakitan atau penghinaan, melainkan air mata kerinduan yang tak terlukiskan.

Bersambung ,,,

1
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!