Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama
sinar matahari pagi yang hangat dan bersih perlahan menerobos masuk melalui sela-sela gorden abu-abu, membentuk garis-garis terang yang memantul di atas lantai marmer kamar VIP.
Suasana di dalam kamar Rumah Sakit Arka Medika itu terasa jauh lebih hidup dan bersinar dibanding hari-hari sebelumnya. Keberhasilan menembus tes kualifikasi dari Pratama & Co semalam seolah menyuntikkan energi baru yang luar biasa ke dalam tubuh Kayla yang masih ringkih.
Rasa lemas dan sisa-sisa trauma yang biasanya menggelayuti kedua pundaknya kini menguap, digantikan oleh binar fokus yang tajam di sepasang matanya.
Tak lama setelah dr. Raditya menyelesaikan visit paginya dan memastikan kondisi Arsen benar-benar stabil di dalam boks, seorang perawat masuk membawakan nampan sarapan.
kontras dengan hari kemarin—saat Kayla harus dibujuk dan dipaksa hanya untuk menelan beberapa sendok makanan—pagi ini dia justru meraih mangkuk bubur itu sendiri.
Dia menghabiskan setiap suapan sayur dan protein di atas nampan tanpa sisa. Kayla sadar betul, dia tidak boleh membiarkan fisiknya tumbang.
Dia butuh nutrisi yang baik untuk memproduksi ASI yang berkualitas bagi Arsen, sekaligus membutuhkan pasokan energi yang cukup untuk menopang kerja otaknya yang akan diperas habis-habis hari ini.
Begitu perawat membereskan nampan dan berlalu, Kayla langsung meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas. Jemarinya dengan cepat membuka aplikasi m-banking. Begitu layar menampilkan deretan angka nominal saldo barunya yang berjumlah dua puluh lima juta rupiah, dada Kayla bergetar hebat.
Angka itu terasa begitu nyata, begitu berharga, dan menjadi bukti konkret pertama bahwa dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus mengemis sepeser pun dari nafkah keluarga Wijaya yang beracun.
Ting!
Sebuah notifikasi email baru memutus lamunannya. Pengirimnya adalah kepala divisi rekrutmen proyek Pratama & Co.
Yth. Kayla Anindita,
Selamat atas keberhasilan Anda dalam lolos uji kualifikasi khusus. Bersama dengan email ini, kami melampirkan basis data (database) mentah dari PT Mahkota Karya, sebuah perusahaan manufaktur tekstil berskala besar yang saat ini sedang berada di bawah pengawasan audit darurat kami akibat adanya dugaan kuat penggelapan aset oleh jajaran direksi internal.
Tugas pertama Anda adalah memetakan seluruh arus kas keluar selama enam bulan terakhir dan mencari titik kejanggalan dalam metode pencatatan depresiasi mesin-mesin pabrik mereka. Mengingat status Anda sebagai pekerja lepas kontrak jarak jauh, seluruh jalur komunikasi dan pelaporan hanya akan dilakukan melalui email ini. Batas waktu untuk pengiriman draf analisis pertama adalah tiga hari dari sekarang.
Selamat bekerja dan semoga sukses.
Kayla menarik napas panjang, menahannya sejenak di paru-paru sebelum mengembuskannya perlahan. PT Mahkota Karya. Dia tentu tidak asing dengan nama besar itu—salah satu raksasa industri tekstil yang terkenal memiliki birokrasi keuangan yang teramat rumit dan berlapis.
Tugas ini jelas bukan sekadar merapikan pembukuan warung atau toko ritel biasa; ini adalah audit forensik tingkat tinggi yang membutuhkan ketelitian tingkat dewa.
Dia segera menyentuh tautan unduhan untuk membuka lampiran file yang berukuran sangat besar tersebut. Begitu barisan dokumen itu terbuka di layar ponselnya, dahi Kayla seketika berkerut dalam. Ribuan baris angka digital, kode-kode transaksi yang rumit, serta ratusan jurnal penyesuaian yang sengaja dibuat tumpang tindih langsung tersaji acak-acakan di depannya.
Bagi akuntan amatir atau lulusan baru, melihat data yang sengaja diacak-acak seperti labirin buntu ini lewat layar ponsel yang kecil dan retak seribu pasti akan langsung memicu sakit kepala hebat dalam lima menit pertama.
Namun, tidak bagi Kayla. Otak geniusnya yang selama tiga tahun ini dipaksa mati dan terkubur di balik pekatnya asap dapur mansion Adrian, seolah mendadak tersengat listrik.
Ada gairah lama yang bangkit bergolak di dalam dadanya. Matanya bergerak lincah dan taktis, memindai satu demi satu kode akun transaksi, mengabaikan distorsi dari retakan layar kacanya.
Dia mulai meraba kasur, mengambil pulpen yang tadi sempat dia pinjam dari perawat, lalu mulai mencoret-coret lembar kosong di atas kertas memo rumah sakit. Jemari tangannya bergerak dengan ritme yang cepat, teratur, dan penuh kepastian saat memisahkan angka-angka yang mencurigakan.
"Oek... emm..."
Sebuah lenguhan halus disertai gerakan gelisah dari dalam boks bayi seketika memutus fokus total Kayla. Dia menoleh dengan cepat. Di sana, Arsen kecil rupanya sudah terbangun.
Sepasang mata bulat bayinya yang jernih bergerak mengerjap-ngerjap menatap langit-langit kamar yang terang, sementara kedua tangan mungilnya yang bebas dari bedung bergerak ke udara, seolah sedang mencari kehangatan pelukan yang familier.
Seketika itu juga, senyum paling tulus dan hangat terbit di wajah kuyu Kayla.
Dengan gerakan tubuh yang jauh lebih lancar dan tidak lagi sekaku kemarin, Kayla menggeser duduknya ke tepi ranjang, lalu mengangkat tubuh kecil Arsen ke dalam dekapannya dengan sangat hati-hati.
"Anak pintar Ibu sudah bangun, sayang? Hmm?" bisik Kayla lembut, mengecup pucuk kepala Arsen yang berbau minyak telon hangat.
Dia membawa tubuh mungil itu merapat ke dadanya, mulai menyusui bayinya dengan penuh rasa kasih sayang. Sembari mendekap erat sang anak yang kini menjadi seluruh poros hidup dan alasan utamanya untuk bertahan, mata Kayla kembali melirik tajam ke arah barisan angka di layar ponsel yang sengaja dia ganjal di atas bantal.
Di dalam kesunyian kamar rumah sakit yang berbau antiseptik itu, garis nasib seorang Kayla Anindita resmi berputar arah.
Satu tangannya mendekap erat masa depannya yang suci, sementara tangan lainnya bergerak taktis di atas kertas, siap meruntuhkan topeng kebohongan dinasti keuangan korporat demi membangun mahkota kebebasannya sendiri.