NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran yang Terkuak

​Hari-hari berikutnya di mansion Sterling menjelma menjadi rangkaian waktu yang ganjil dan menyesakkan. Bagi Asher, rumah yang biasanya dia masuki dengan aura dominasi mutlak, kini berubah menjadi labirin sunyi yang menguji kesabaran. Seolah ada dinding kaca tak terlihat yang memisahkan dirinya dari seluruh isi mansion.

​Pagi itu, Asher turun ke ruang makan dengan langkah tegap seperti biasanya. Sepasang mata kelabunya menyapu meja makan panjang yang tertata rapi, namun kursi di seberang meja yang biasanya ditempati Chloe—bahkan setelah mereka sempat sarapan bersama beberapa waktu lalu—kini kosong melompong. Hanya ada Bi Mirna yang sedang menyiapkan piring saji untuknya.

​"Di mana dia?" tanya Asher singkat, suaranya terdengar seperti geraman rendah di pagi hari yang masih beku.

​Bi Mirna hanya menunduk dalam, tangannya yang sibuk merapikan serbet perak tampak sedikit gemetar. "Nyonya Muda masih beristirahat di kamarnya, Tuan," jawab wanita tua itu dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar.

​Asher tidak membalas. Dia hanya mendengus sinis, menyambar cangkir kopi hitamnya, lalu menyesapnya dengan perasaan masam yang menjalar ke seluruh tenggorokannya.

​Hari-hari selanjutnya berjalan dalam pola yang sama. Asher pulang larut malam dengan aroma sisa asap rokok dan parfum maskulin yang tajam, tubuhnya letih setelah berurusan dengan perebutan wilayah kekuasaan di dermaga utara. Namun, alih-alih mendapati istrinya yang tertidur di ranjang utama—menunggu dengan ketakutan atau sekadar bernapas teratur di sampingnya—dia justru disambut oleh ranjang yang kosong, dingin, dan sprei yang tertata begitu rapi seolah tidak ada satu pun manusia yang menyentuhnya selama berhari-hari.

​Asher gerah. Bukan karena dia merindukan wanita itu, setidaknya itulah yang terus ia tanamkan dalam benaknya, melainkan karena ia merasa kehilangan kendali atas aset yang seharusnya berada dalam pengawasannya dua puluh empat jam. Namun, di saat yang sama, ia menolak untuk mendatangi sayap barat dan menyeret Chloe kembali ke kamar utama. Harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan itu.

​Setiap kali dia bertanya pada Kenzo melalui lirikan mata atau kode singkat, sang tangan kanan selalu memberikan laporan yang sama: Nyonya ada di kamar tamu, Tuan. Dia hanya keluar untuk makan sedikit, lalu kembali mengunci diri.

​Hingga pada suatu sore, setelah tiga hari berlalu tanpa komunikasi sama sekali, Asher akhirnya merasa dinding pertahanannya retak. Dia sedang berdiri di dekat area dapur saat Bi Mirna hendak membawa nampan berisi bubur hangat dan obat menuju koridor sayap barat.

​Asher mencegat langkah wanita tua itu. Tatapannya tajam, menyelidik, dan penuh tekanan. "Bi Mirna," panggilnya dengan suara bariton yang berat.

​Bi Mirna berhenti, tubuhnya sedikit menegang. "Iya, Tuan Asher?"

​Asher membuang muka, menatap ke arah taman belakang mansion seolah-olah dia sedang tidak membicarakan hal penting. "Bagaimana keadaannya? Maksudku... apakah dia terus-terusan mengurung diri seperti itu? Berapa lama lagi sandiwara ini akan berlangsung?"

​Bi Mirna terdiam sejenak. Keberanian yang tumbuh di hatinya karena rasa kasihan kepada Chloe akhirnya mengalahkan rasa takutnya pada sang bos mafia. "Nyonya Muda sempat mengalami demam tinggi, Tuan. Tubuhnya menggigil hebat setelah pulang dari pameran lukisan malam itu. Dia tidak mau keluar kamar, Tuan. Beliau hanya berpesan... dia tidak akan melangkah keluar dari kamar tamu sebelum Anda sendiri yang datang menjemputnya."

​Asher mengernyitkan dahi. Pikirannya berputar. Pameran lukisan? "Dia pergi ke pameran itu? Tanpa izin dariku?"

​Bi Mirna menghela napas panjang, memutuskan untuk mengeluarkan rahasia yang sejak beberapa hari lalu dititipkan Chloe kepadanya—sebuah rahasia yang sebenarnya sangat dilarang untuk disampaikan.

​"Nyonya melihat sesuatu di sana, Tuan," suara Bi Mirna bergetar. "Dia melihat Anda di balkon galeri itu. Anda tidak sendirian. Ada seorang wanita bersama anda.... wanita itu tampak begitu akrab dan mesra dengan Anda. Nyonya sempat bercerita pada saya sambil menangis, dia merasa... dia merasa tidak ada artinya di mata Anda. Dia melihat bagaimana Anda membiarkan wanita itu menggelayut di lengan Anda tanpa Anda tolak. Nyonya berkata pada saya, dia tidak akan menceritakan hal ini pada Anda karena dia sadar siapa dirinya. Dia hanya bisa jatuh sakit karena terguncang melihat kenyataan itu."

​Dunia di sekitar Asher seolah mendadak hening. Kepala Asher berdenyut kencang, seolah-olah ada palu godam yang menghantam pelipisnya.

​Jadi, itu alasannya?

​Bukan karena Chloe ingin membangkang, bukan karena dia ingin beradu kekuatan dengannya, melainkan karena gadis itu terluka. Asher teringat wanita glamor di galeri malam itu—rekanan bisnis internasional yang sengaja mendekatinya untuk tujuan pengamanan aset. Asher memang tidak menolaknya karena dia tidak ingin memicu keributan di acara publik yang dihadiri banyak kolega penting. Dia membiarkan wanita itu bersikap sok akrab karena itu bagian dari strategi permainannya dalam dunia bisnis yang kejam.

​Namun, dia tidak pernah memperhitungkan bahwa Chloe berada di sana, melihat semuanya, dan mengartikannya sebagai sebuah bentuk pengkhianatan emosional.

​Asher melepaskan napas panjang yang terasa sangat berat, seolah baru saja menghirup udara beracun. Dia tidak tahu harus merasa apa—marah karena Chloe diam-diam pergi ke pameran, atau justru merasakan sensasi aneh di dadanya saat menyadari bahwa gadis itu ternyata memiliki perasaan yang cukup dalam untuk merasa terluka melihatnya bersama wanita lain.

​"Kembalilah ke tugasmu di dapur, Bi," suara Asher terdengar jauh lebih rendah dan lelah daripada biasanya.

​Bi Mirna membungkuk hormat dan bergegas pergi, meninggalkan Asher sendirian di lorong dapur yang temaram. Asher menyandarkan punggungnya ke dinding marmer. Kepalanya berdenyut semakin hebat. Kebenaran ini datang seperti badai yang tak terduga. Sekarang, dia tahu alasan mengapa Chloe bersembunyi di kamar tamu itu. Bukan karena pemberontakan, melainkan karena hati yang retak.

​Asher memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya. Keadaan ini jauh lebih rumit daripada menghadapi musuh dengan senjata di tangan. Menghadapi air mata seorang istri yang merasa terabaikan—dan lebih buruk lagi, merasa terkhianati oleh pemandangan yang salah paham—adalah medan perang yang belum pernah ia pelajari.

​Dia menatap ujung koridor menuju sayap barat, di mana kamar tamu itu berada. Hening. Begitu sunyi, seperti juga hatinya yang mulai merasakan desiran rasa bersalah yang tidak ia kehendaki. Asher menarik napas dalam, memantapkan langkahnya. Apakah dia harus pergi ke sana? Apakah dia harus merendahkan harga dirinya untuk menjemput gadis yang seharusnya menjadi miliknya sepenuhnya?

​Dalam kegelapan mansion yang membisu, Asher Sterling berdiri di persimpangan jalan antara kekuasaan mutlaknya dan sesuatu yang jauh lebih rapuh: perasaan manusia yang baru saja mulai tumbuh di balik dinding-dinding hatinya yang membatu. Dia tahu, langkah selanjutnya akan mengubah dinamika rumah tangga mereka selamanya. Dan untuk pertama kalinya, sang penguasa distrik barat itu merasa ragu untuk melangkah.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!