NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Dunia di Balik Kaca Mata Tebal

Bagi kebanyakan siswa di SMA Nusantara, pukul enam pagi adalah waktu untuk bergelut dengan alarm yang menjengkelkan. Namun bagi Lulu, itu adalah waktu favoritnya. Saat matahari baru saja mengintip malu-malu di balik celah jendela kamarnya yang sempit, Lulu sudah selesai menyiram tanaman kaktus kecil di ambang jendela.

"Selamat pagi, Durio," bisik Lulu lembut pada salah satu kaktusnya yang berduri tajam. Ia tersenyum tulus, sebuah senyum yang tidak pernah ia perlihatkan di sekolah. "Hari ini cuacanya bagus. Jangan lupa tumbuh kuat ya."

Lulu tidak punya banyak teman. Sebenarnya, tidak ada. Dunianya hanya berputar di antara tanaman, buku-buku ensiklopedia lama milik ayahnya, dan sketsa-sketsa bunga yang ia gambar di pojok buku tulisnya. Baginya, manusia itu rumit. Mereka bicara dengan banyak maksud, tertawa untuk hal-hal yang terkadang menyakitkan, dan selalu tampak terburu-buru. Lulu lebih suka diam. Baginya, diam adalah cara terbaik untuk tidak merepotkan orang lain.

Setelah memastikan seragamnya rapi—dikancingkan sampai ke leher hingga terasa sedikit mencekik—Lulu memakai kacamata berbingkai hitamnya yang besar. Kacamata itu adalah perisainya. Di balik lensa tebal itu, ia merasa aman. Ia merasa bisa melihat dunia tanpa perlu dilihat oleh dunia.

"Lulu, sarapannya sudah siap, Nak," panggil ibunya dari dapur.

Lulu turun dengan langkah ringan. Di meja makan kayu yang sudah kusam, tersedia nasi goreng sederhana dengan telur ceplok yang pinggirannya sedikit gosong. Lulu memakannya dengan khidmat, seolah itu adalah hidangan paling mewah di dunia.

"Nanti pulang sekolah langsung pulang, ya? Ibu mau buat kue kembang goyang," ujar ibunya sambil mengusap kepala Lulu.

"Iya, Bu. Tapi Lulu mau mampir ke perpustakaan sebentar, ada buku tentang ekosistem rawa yang belum selesai Lulu baca," jawab Lulu dengan nada bicara yang datar namun jujur.

Lulu tidak pernah berbohong. Baginya, bohong itu melelahkan karena harus diingat terus-menerus. Ia terlalu jujur, terlalu lurus, sampai terkadang ia tidak bisa menangkap maksud terselubung atau sarkasme orang lain.

Gerbang SMA Nusantara tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa saja yang masuk ke dalamnya. Lulu berjalan menunduk, menghitung langkah kakinya sendiri agar tidak perlu bertatapan mata dengan siswa lain yang turun dari mobil-mobil mewah. Baginya, koridor sekolah adalah medan perang yang harus dilalui dengan secepat mungkin tanpa menarik perhatian.

Namun, pagi ini berbeda. Atmosfer di koridor terasa lebih riuh dari biasanya.

"Eh, itu Arlan! Ganteng banget ya ampun!"

"Dia habis ganti parfum ya? Wanginya sampai sini!"

Lulu mendengar bisikan-bisikan itu, tapi ia tidak menoleh. Ia tahu siapa Arlan. Semua orang tahu siapa Arlan. Dalam pikiran polos Lulu, Arlan adalah sosok yang menyerupai matahari—terlalu terang untuk dilihat, dan terlalu jauh untuk digapai. Lulu merasa orang-orang seperti Arlan adalah "manusia kelas atas" yang hidup di dimensi yang berbeda dengannya.

Saat Lulu sedang berjalan menuju lokernya, ia tidak sengaja berpapasan dengan gerombolan Arlan. Lulu refleks meminggirkan tubuhnya hingga menempel ke dinding, memberi jalan seolah-olah seorang raja sedang lewat. Ia menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatunya yang sudah sedikit mengelupas.

Tiba-tiba, langkah kaki yang berat itu berhenti tepat di depannya. Aroma parfum mahal yang kuat—campuran kayu cendana dan jeruk—menusuk indra penciuman Lulu. Itu bukan bau keringat siswa biasa. Itu bau kemewahan.

"Aduh!"

Lulu memekik kecil ketika sebuah tumpukan buku yang ia dekap tidak sengaja jatuh karena seseorang menyenggol bahunya dengan cukup keras. Itu Reno, yang tertawa kecil sambil terus berjalan tanpa meminta maaf.

Buku-buku itu berserakan di lantai koridor yang dingin. Lulu segera berlutut untuk memungutnya satu per satu. Ia merasa malu, merasa menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan. Beberapa siswa yang lewat hanya melirik sambil tertawa kecil, tidak ada yang berniat membantu.

Sampai sebuah tangan yang bersih, dengan jam tangan perak yang berkilau, terulur ke arahnya. Tangan itu memungut buku ensiklopedia botaninya.

Lulu mendongak perlahan. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang karena terkejut. Di hadapannya, Arlan sedang berjongkok. Cowok itu memberikan senyum yang... tidak pernah Lulu lihat sebelumnya. Sebuah senyum yang tampak sangat ramah, sangat tulus—setidaknya bagi mata Lulu yang polos.

"Ini buku kamu?" tanya Arlan. Suaranya terdengar lembut, jauh dari kesan angkuh yang biasanya orang-orang ceritakan.

Lulu mengerjapkan matanya di balik kacamata. Ia terpaku selama beberapa detik. "I-iya. Makasih... Kak Arlan."

Arlan berdiri, lalu mengulurkan tangan satunya untuk membantu Lulu berdiri. "Lulu, kan? Anak kelas XI-IPA 2?"

Lulu menyambut tangan itu dengan ragu. Tangan Arlan terasa hangat dan sangat halus. "Kok... Kakak tahu nama aku?"

Arlan terkekeh pelan, sebuah tawa yang sudah dilatihnya di depan cermin tadi pagi agar terlihat mempesona. "Siapa sih yang nggak tahu cewek pinter yang selalu ranking satu paralel? Aku sering lihat kamu di perpustakaan, tapi kamunya sibuk baca terus, jadi aku segan mau nyapa."

Lulu merasakan pipinya memanas. Ini pertama kalinya dalam tiga tahun sekolah di sini, ada orang "populer" yang bicara padanya dengan nada semanis itu. Ia tidak tahu bahwa di belakang Arlan, Reno dan Gani sedang menahan tawa sambil memberikan jempol secara sembunyi-sembunyi.

"Lain kali hati-hati ya, Lu. Buku-buku berat begini harusnya dibawa sama cowok, bukan cewek mungil kayak kamu," lanjut Arlan sambil mengedipkan sebelah matanya.

Lulu hanya bisa mengangguk kaku, mulutnya terasa terkunci. Ia merasa sangat heran. Kenapa orang sehebat Arlan mau bicara denganku? Mungkin dia memang orang yang sangat baik ya? batin Lulu dengan tulus.

"Duluan ya, Lu. Sampai ketemu nanti!" Arlan melambaikan tangan dan berjalan pergi menyusul teman-temannya.

Lulu berdiri mematung di tengah koridor, mendekap bukunya erat-erat. Ia tidak sadar bahwa di kejauhan, Arlan baru saja menghapus senyum ramahnya dan menggantinya dengan seringai jijik sambil mengelap tangannya yang baru saja menyentuh tangan Lulu ke celananya sendiri.

"Gila, Lan! Akting lu juara!" bisik Reno sambil merangkul Arlan. "Liat tuh mukanya, langsung kayak orang linglung. Pasti dia ngerasa baru aja dapet hidayah dari surga."

Arlan mendengus, matanya menatap tajam ke depan. "Tangannya kasar, pasti sering pegang cangkul. Jijik banget gue. Tapi demi taruhan ini... gue bakal tahan-tahanin sampai dia bener-bener jadi budak cinta gue."

Lulu, yang masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Arlan yang menjauh dengan rasa syukur. "Ternyata Kak Arlan beneran baik ya... Aku harus bilang makasih lagi kalau ketemu nanti."

Kepolosan Lulu telah membuka pintu gerbang neraka yang sudah disiapkan Arlan dengan rapi. Dan Lulu, tanpa rasa curiga sedikit pun, justru berjalan masuk ke dalamnya dengan senyuman kecil di bibirnya

1
Valent Theashef
mreka bakal ketemu lagi tp entah brp th..
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!