Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 05
**
Sekilas tentang keluarga Something, dia adalah anak pertama dari bapak Raharja dan ibunya bernama Gina Nandang. Ayah dan ibunya yang seorang pengusaha lepas menjadikan sosoknya begitu jauh ketika Some dan Ranu sekolah, tapi mereka selalu punya waktu untuk anak - anak tercintanya. Ayahnya adalah pemilik perusahaan bernama Girila Raharja, dan punya SMP yang saat ini menjadi sekolah Ranu. Kekayaan ayahnya memang tidak dapat dikalahkan karena dia merupakan orang yang gemar mencari uang, juga sosok yang perfeksionis dan jago berbisnis. Jadi tak jarang orang mengenal Something si gadis cantik jelita, dan punya kepribadian yang baik hati. Dia yang pintar dan punya tabungan besar di sekolah menjadikannya sosok yang sempurna. Padahal Something sendiri tak merasa seperti itu, di sekolah juga teman - temannya pada orang kaya. Dan mungkin hanya mereka yang diperbolehkan main dengan Some.
Sedangkan ibunya yang tak kalah sibuk juga, adlah orang yang berkerja di perusahaan keluarganya. Ia jadi pekerja yang bulak - balik dari perusahan lain ke perusahaan bahkan sampai luar negeri. Dia yang terlahir dari keluarga kaya menjadikan dirinya orang yang sangat di tuntut untuk menjadi orang yang sukses. Well meskipun begitu Something tidak pernah punya harapan menjadi seorang pengusaha atau karier yang cemerlang. Dirinya adalah Something gadis penyuka segala hal tentang kemewahan dan kelucuan dari setiap barang yang ia beli.
Saat ini Something sedang memerhatikan jalanan di dalam mobil. Karena saat ini mobil baru masuk kawasan elit dimana ada banyak perusahaan yang menjajar di Jakarta ini. Kantor papa juga ada satu di daerah ini, hanya saja Something tak ada waktu untuk berkunjung dia untuk saat ini merasa waktunya hanya untuk sendirian.
"Non," ujar pak Supratman yang sedang menyetir itu menyadarkan lamunan nonanya yang sedang memikirkan hal yang tidak akan mungkin ada di kepala supirnya itu. Karena sejujurnya hal itu hanya Some yang tahu, dan ia juga tidak berniat memberitahukannya pada supirnya bahkan orang tuanya sekalipun.
Something melihat ke arah supir tersebut sambil menyandarkan tubuhnya ke dalam kursi mobil. "Iya pak ada apa?" tanya balik Some ketika melihat kebingungan di mata supirnya.
"Saya nggak kenapa - napa, kalau non kenapa - Napa atau bege dikit saja pasti gaji saya turun non," jawab pak Supratman dengan sedikit takut - takut. Wajah Some yang sedang judes menandakan kalau cewek riu memang sedang tidak enak hati. Supratman tahu dan disuruh untuk menjaga perasaan nona nya.
"Kenapa sih pak, nggak mungkin dong cuma gara - gara bete bapak nurut aja perintah mama, jangan gitu deh," ujar Something sambil cemberut. Sejujurnya ia kesal dengan peraturan mama yang berlebihan itu, kehidupan Some sebaiknya tidak diganggu oleh pantauannya. Bahkan kalau ia bete sekalipun mama dan papanya tidak perlu tahu.
"Itu kan sudah kebiasaan non dari dulu, bukannya waktu kecil non nggak pernah marah," ucap Supratman sambil tersenyum kecil mengingat dulu ketika nona nya masih SD dan SMP. Gadis itu masih terlihat lucu dan menggemaskan, kesukaannya masih sama.
"Ya tapi tetap saja usia Some udah hede, udah bisa nyetir sendiri dan udah oke sana keluar malam," ucap Some penuh penekanan sekaligus mengingatkan agar Supratman dan para pembantu lain tidak mencarinya kalau kabur lagi. Kabur dalam artian cuma main sebentar di luar.
"Ya jangan dong non, nanti saya kerja non sampai dapat, bukan satu mobil bisa lima lho," ucap Supratman mengingat kerja kerasnya menjadi supir pribadi seorang Some.
"Tuh kan, udah dibilangin Some udah gede," kesal Some sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia memanyunkan bibirnya, untungnya udara masih pagi dan suasana dijalanan masih segar. Jadi tidak mengurangi moodnya yang cerah.
"Maaf non, jangan kesal dan bete kayak tadi lagi, itu standar kerja saya non, untuk memastikan non tetap ceria," kata Supratman sejujurnya agar Some ikut senang atas kata menghiburnya.
"Iya pak, ini," Some menunjukan senyum kecilnya. Itu juga sebagai semangat paginya dalam menjalani hati. Meskipun kadang sepuluh atau dua puluh persen ingatan itu mengganggunya lagi. Tapi dengan sekuat tenaga Some menahan semua itu agar gak muncul ke permukaan.
Some semua itu cuma dalam pikiran loe, itu nggak mungkin terjadi kalau loe emang sehat! Pekik Some dalam hati.
Some akhirnya memerhatikan keluar mobil lagi sejenak, dengan mobil itu membawanya ke sekolah. Hingga sampailah mobil itu ke depan sebuah sekolah yang elit, mobil masuk melalui gerbang dan berhenti di sebuah parkiran. Tahu kalau dirinya sudah sampai Some langsung membereskan peralatannya ke sekolah.
"Aku berangkat ya pak," pamit Some ketika dia membuka pintu mobil sendiri, dan langsung turun dari mobil sebelum pak Supratman membukakan. Rasanya ia sudah dewasa untuk diperlakukan layaknya anak kecil itu.
"Non hati - hati," ujar pak Supratman ketika melihat nona nya sudah berlari kecil menerobos siswa - siswi lain yang sedang berjalan di area sekolah. Butuh beberapa kelas lagi sampai langkahnya tiba di kelas IX - IPA 2.
**
Pandangan siswa - siswi ketika melihat Some berjalan di pelataran sekolah adalah memuja. Memang kecantikan Some sudah dikenal luas oleh semua siswa - siswi SMA nya. Tapi Some selalu bersikap cuek dan berprilaku layaknya seperti biasa, ia tidak mau reputasinya malah membuatnya tidak percaya diri.
Something langsung memasuki kelasnya ketika dirinya sampai di kelas yang jauh dari keramaian, itu adalah kelas IPA yang memang terkenal kalem dan selalu rapih. Termasuk Some penampilannya juga begitu.
"Some!" pekik salah satu teman Some yang bernama Cassie. Dia adalah teman sebangku Some, kedekatan mereka menjadi sosok Cassie begitu mengenal Some begitupun sebaliknya. Makannya Cassie adalah orang paling antusias menyambut Some.
"Ihs cewek OSIS kita udah datang nih," celetuk sekretaris kelas yang bernama Amirah. Dia sedang duduk di bangkunya, setengah berdiri. Dia tidak terlalu menyukai Some, baginya Some hanya pencitraan apalagi pas tahu dia orang rajin di OSIS.
"Hmm seorang yang pendiam karena disibukan dengan ekstrakulikuler," balas Aldo menyambut Some dengan senyum kecil. Sedangkan Aldo duduk di bangku dengan wajah juteknya. Dan Some sendiri tidak tahu apa pria yang sebenarnya ketua kelas itu membencinya atau tidak.
"Atau mungkin seleb yang cantiknya kebangetan," ujar seseorang yang bernama Satyo di belakang Aldo lagi berdiri, dia adalah teman Some yang duduknya di belakang berdekatan dengan Some.
"Enggak Sat gue cewek biasa aja kok," ucap Some sambil berjalan perlahan ke bangkunya yang ada di sebelah Cassie. Lalu duduk di sebelah gadis itu, sambil membuka jaket yang membungkus badannya semenjak datang ke sekolah tadi.
"Padahal followers IG loe udah banyak Some," kata Cassie menyemangati dengan cengir yang pastinya tulus. Karena sejujurnya dk kelas ini mungkin hanya Cassie yang cukup mengenal Some.
"Masih banyak seleb lain di sekolah kita, dan loe tahu gue harus berurusan sama mereka kalau gue emang mau lebih ngetop dari sekarang," ujar Some mengingatkan betapa hidupnya menang tidak seindah drama korea yang ia tonton. Bisa hidup tenang dengan marga dan menjadi seorang seleb juga sudah untung. Dia kan anak orang kaya yang suka di cari - cari.
"Gimana kabar loe Some setelah nggak sekolah kemarin?" tanya Cassie yang pastinya kangen banget pada Some, yang selama ini suka berceloteh di kantin.
"Baik aja, gue udah rapiin akun Ig gue, jadi mereka bisa melihat foto gue lebih nyaman," jawab Some dengan bangga, ia merasa senang karena akun Ignya akhirnya bisa rapih juga. Setelah banyak yang komentar kalau foto yang di krim Some itu terkesan berantakan.
"Bagus dong. Terus komentar nggak baik itu udah loe hapus kan?" tanya Cassie kepo. Dia juga sebanyak seleb hanya saja ia itu cewek rapih banget, jadi semua fotonya di tata dengan apik.
"Hmm selama diri gue nggak sesuai keinginan mereka, terus saja di komentari, gue nggak peduli," jawab Some sambil mengibaskan tangannya ke belakang. Mau gimana lagi, dirinya selalu bahagia menjadi dirinya sendiri. Jadi seleb bukan caranya mendapat uang, tapi kesukaannya terhadap foto - foto selfie candid.
"Hmm dasar nggak pedulian, padahal loe bisa berkarier kayak bintang kita di SMA ini," ujar Cassie sengaja dibesarkan agar perhatian Aldo teralih. Dia sedang melamun dan melirik ke arahnya, karena siapa yang tidak tahu kalau Aldo sedang mendekati bintang SMA itu.
"Gue nggak secantik itu Cassie," ujar Some sambil geleng - geleng kepala. Sudah dibilangin kalau Some itu mau menjadi dirinya sendiri, semakin ia terjerumus dengan hal seperti itu pasti komentar pedasnya semakin banyak.
"Perhatian tolong berhenti banyak bicara, kalian tahu gue ketua kelas!" ucap Aldo mengeraskan volume suaranya yang membuat Some dan Cassie bungkam.
"Loe udah ngerjain PR belum, yang fisika itu lho buk Najwa mau datang," ucap Cassie seperti ketakutan. Dan ia melihat jam padahal masih pagi, dan anak - anak juga baru satu per empat yang datang.
"Udahlah, gue kan suka belajar nggak kayak loe," balas Some lalu terkekeh kecil. Ia mengeluarkan buku Fisika dan alat tulisnya. Karena satu nomer lagi PR Fisika itu belum rampung, mana jawabannya banyak banget lagi.
**