"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sesi belanja bersama Mama Sofia ternyata jauh lebih melelahkan daripada mengajar tiga kelas berturut-turut. Runa merasa seperti manekin hidup. Setiap kali ia keluar dari ruang ganti, Mama Sofia akan bertepuk tangan antusias dan meminta pelayan toko mengambilkan warna lain.
"Ma, ini sepertinya sudah terlalu banyak," bisik Runa saat melihat tumpukan kantong belanjaan di tangan supir yang mengikuti mereka. "Runa bingung mau pakai ini ke mana kalau di sekolah."
"Sayang, kamu itu sekarang istri CEO. Sesekali kamu pasti harus menemani Azel ke acara resmi, atau sekadar makan malam berdua," Mama Sofia mengedipkan sebelah mata. "Lagipula, melihatmu memakai baju-baju cantik ini membuat Mama senang. Azel itu kaku sekali, rumah jadi sepi kalau tidak ada pemandangan manis seperti kamu."
Runa hanya bisa tersenyum canggung. Ia merasa seperti berada di dunia mimpi yang terlalu silau.
Sore harinya, saat mereka sampai di rumah, Runa merasa kepalanya mulai berdenyut. Bukan karena pusing biasa, tapi perutnya mulai memberikan sinyal protes. Ia baru ingat kalau tadi saat makan siang di mall, ia terlalu sungkan untuk bilang pada Mama Sofia bahwa ia tidak bisa makan salad dengan saus yang terlalu asam.
Runa masuk ke kamar dengan langkah gontai. Ia berniat untuk segera berbaring sebelum Azel pulang. Namun, saat ia membuka pintu kamar, ia mendapati Azel sudah ada di sana, duduk di sofa dekat balkon sambil membaca beberapa berkas.
"Berapa banyak toko yang Mama kuras hari ini?" tanya Azel tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.
"Banyak, Zel... aku sampai merasa nggak enak hati," jawab Runa sambil meletakkan tasnya. Ia mencoba mengatur napasnya yang mulai pendek karena rasa perih di ulu hati.
Azel menutup berkasnya dan berdiri. Ia berjalan mendekati Runa, matanya menatap tajam ke arah wajah Runa yang mulai memucat. "Kamu makan apa tadi siang?"
"Cuma salad... sama jus," jawab Runa pelan, mencoba menahan rasa mual.
"Saus saladnya? Asam?"
Runa terdiam. Ia tidak menyangka pertanyaan Azel akan se-spesifik itu. "Dikit... kayaknya pakai lemon."
Azel mendengus kasar. Ia berjalan ke arah kulkas kecil yang ada di sudut kamar—yang Runa baru sadari sudah terisi penuh. Azel mengambil sebuah botol kecil berisi cairan putih dan sebuah gelas.
"Minum ini. Ini obat lambung cair yang biasa kamu... maksudku, ini obat yang bagus untuk maag," Azel meralat kalimatnya dengan cepat, lalu menyodorkannya pada Runa.
Runa menerimanya dengan bingung. "Kok kamu sedia obat ginian di kamar?"
"Aku sering telat makan kalau di kantor. Kadang lambungku juga bermasalah," bohong Azel dengan wajah sedatar papan tulis.
Runa meminumnya, dan ajaibnya, rasa perih itu perlahan mereda. Ia duduk di pinggir kasur sambil memijat keningnya. "Zel, aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kenapa kamu tahu kalau aku lagi sakit lambung? Tadi pagi juga kamu larang aku minum kopi. Padahal aku belum bilang apa-apa soal GERD-ku ke kamu."
Azel terdiam sejenak. Ia memutar otak, mencari alasan yang paling masuk akal bagi seorang pria kaku sepertinya. "Kamu itu kurus kering, Runa. Orang kurus yang kerjanya sibuk dan mukanya gampang pucat biasanya kalau nggak kurang darah ya punya maag. Itu logika sederhana."
Runa mengangguk-angguk pelan. "Oh... masuk akal sih."
Azel menghela napas lega dalam hati. Ia hampir saja keceplosan bilang kalau ia punya daftar "Pantangan Makanan Runa" di ponselnya.
"Satu lagi," Azel berjalan ke arah lemari dan mengambil sebuah kotak kecil. "Tadi aku suruh orang beli ini."
Runa membukanya. Isinya adalah sebuah power bank berkapasitas besar dan kabel data yang cukup panjang.
"Buat apa?"
"Kamu itu pelupa. Aku yakin ponselmu sering mati karena kamu lupa charge malam hari, lalu bingung saat di sekolah," kata Azel sambil kembali ke mejanya. "Mulai sekarang, pastikan itu selalu ada di tasmu. Aku nggak mau asistenku gagal menghubungimu hanya karena masalah sepele seperti baterai habis."
Runa menatap benda di tangannya. Benar, ponselnya memang sering mati dan ia sering ditegur Pak Haris karena susah dihubungi saat jam pulang sekolah.
"Makasih ya, Zel. Kamu teliti banget ya orangnya."
"Aku pengusaha, Runa. Ketelitian adalah uang bagiku," jawab Azel dingin, padahal hatinya sedikit mencelos melihat senyum tulus Runa.
Baru saja Runa ingin merebahkan tubuhnya, suara petir menggelegar dari luar. Langit Jakarta yang tadinya cerah mendadak berubah gelap total. Kilatan cahaya putih menyambar di balik jendela balkon.
DEZIG!
Runa langsung berjengit. Ia menarik kakinya ke atas kasur dan menutup telinganya dengan kedua tangan. Tubuhnya gemetar hebat. Overthinking-nya langsung bekerja: Bagaimana kalau petirnya menyambar gedung ini? Bagaimana kalau lampunya mati?
Azel yang sedang memegang pulpen, berhenti bergerak. Ia melirik Runa yang sudah meringkuk seperti bola di sudut tempat tidur. Tanpa berkata-kata, Azel bangkit. Ia menutup gorden balkon rapat-rapat hingga tidak ada cahaya kilat yang masuk.
Ia kemudian berjalan ke arah sound system di kamarnya, memutar sebuah playlist lagu-lagu instrumen alam dengan suara gemericik air yang cukup kencang untuk meredam suara guntur dari luar.
"Jangan ditutup telinganya, nanti malah makin kerasa getarannya di kepala," ucap Azel. Ia duduk di sisi ranjang yang kosong, tidak terlalu dekat tapi cukup untuk membuat Runa tahu bahwa ia ada di sana.
"Zel... petirnya kencang banget," bisik Runa dengan suara bergetar.
"Gedung ini punya penangkal petir terbaik. Kamu aman," sahut Azel datar. Ia membuka laptopnya dan meletakkannya di pangkuan, pura-pura sibuk bekerja di samping Runa.
Runa perlahan membuka matanya. Melihat punggung tegap Azel yang begitu tenang di sampingnya membuat rasa takutnya sedikit berkurang. Di tengah suara petir yang masih bersahut-sahutan, Runa merasa aneh. Azel seolah-olah sudah menyiapkan segalanya untuk "menghadapinya". Dari obat lambung, power bank, sampai cara mengatasi ketakutannya pada petir.
Tapi, Runa yang denial segera membatin: Mungkin karena dia memang orangnya sangat teratur dan perfeksionis. Iya, pasti itu alasannya.
Runa tidak tahu, bahwa di bawah meja, tangan Azel sebenarnya sedang menggenggam ponsel, memeriksa prakiraan cuaca untuk memastikan berapa lama lagi badai ini akan berlangsung, agar ia tahu kapan harus tetap duduk di sana menjaga istrinya.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣