Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar mansion keluarga Widjaja, memantul di atas lantai marmer yang mengilat. Di lantai dua, pintu kamar Aurora terbuka lebar. Sang primadona keluar dengan langkah yang begitu bersemangat, seolah-olah lantai yang ia pijak adalah panggung catwalk Milan Fashion Week.
Pagi ini, Aurora mengenakan dress selutut berwarna putih tulang yang simpel namun elegan, dipadukan dengan outer tipis berwarna pastel. Rambutnya digelung modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya dengan sempurna.
Di belakangnya, Mayang berjalan sambil menjinjing tas perlengkapan dan menenteng tablet, tampak kewalahan mengikuti ritme langkah Aurora yang cepat.
"Kak May," Aurora tiba-tiba berhenti dan berbalik mendadak, membuat Mayang hampir menabrak punggungnya.
"Aduh, Ra! Kenapa sih?" keluh Mayang sambil mengerem langkahnya.
Aurora memegang kedua pipinya, memiringkan wajah ke kiri dan ke kanan di depan Mayang. "Coba liat deh. Ini riasan aku bagus kan? Nggak menor? Nggak tebel? Lipstiknya pas nggak sama warna kulit aku sekarang?"
Mayang memutar bola matanya, menarik napas panjang. Ia sudah melihat pertanyaan yang sama di depan cermin kamar tadi sebanyak sepuluh kali. "Nggak, Ra. Ya ampun... lo itu model profesional. Makeup tipis aja udah cantik. Ini pas banget, flawless, natural. Puas?"
"Bener ya? Aku nggak mau kelihatan kayak tante-tante di depan Mas Langit. Aku mau kelihatan segar, ceria, dan... istri-able," Aurora nyengir lebar.
Mereka melanjutkan langkah menuruni tangga melingkar. Di ruang makan, Haura—si bungsu yang baru saja menyesap susu kedelainya—menengadah. Ia memperhatikan kakaknya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Tumben Kakak udah rapi jam segini. Biasanya juga masih gulung-gulung di kasur kalau belum Kak Mayang teriak-teriak," tanya Haura dengan nada datar namun penuh selidik.
Aurora berhenti di depan adiknya, melakukan putaran kecil hingga roknya mengembang. "Iya dong. Hari ini kan hari spesial. Kakak mau diantar sama kesayangan Kakak."
Haura mengerutkan dahi, meletakkan gelasnya. "Kesayangan? Siapa? Bukannya Kakak lagi nggak ada kontrak eksklusif sama brand manapun?"
Aurora mendekatkan wajahnya ke telinga Haura, berbisik namun suaranya tetap terdengar penuh kemenangan. "Kesayangan... Mas Langit!"
Haura langsung mendengus geli. "Oh... Mas Langit? Ajudan Papa yang kaku kayak kanebo kering itu?"
"100 untuk Haura!" Aurora menepuk puncak kepala adiknya gemas. "Udah ya, Kakak berangkat dulu. Jangan kangen. Doain kakaknya biar pulang-pulang dapet restu!"
"Jangan bikin malu Papa, Kak!" teriak Haura saat Aurora sudah berlari kecil menuju pintu depan.
Di area parkir depan, mobil SUV hitam sudah terparkir rapi. Di samping mobil, Pak Bambang sedang berbincang dengan seorang pemuda berpakaian safari rapi yang tampak asing di mata Aurora. Pemuda itu memiliki potongan rambut cepak dan tubuh tegap, khas anggota baru.
Aurora keluar dengan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya. Ia langsung menghampiri mereka.
"Pak Bambang!" seru Aurora.
Pak Bambang langsung berdiri tegap. "Eh, Non Aurora. Sudah siap berangkat?"
"Siap lahir batin, Pak," Aurora tersenyum lebar. Ia kemudian berputar di depan Pak Bambang. "Pak, coba jujur. Aku nggak aneh kan makeup-nya? Bagus nggak menurut Bapak? Kelihatan galak nggak?"
Pak Bambang terkekeh, kumis tebalnya ikut bergoyang. "Non selalu cantik. Kayak Ibu Melati waktu muda dulu. Nggak galak kok, Non, malah kelihatan cerah sekali pagi ini."
"Asyik! Makasih Pak Bambang," Aurora kemudian mengalihkan pandangannya ke pemuda di sebelah Pak Bambang. Ia menurunkan kacamata hitamnya ke hidung, mengamati pria itu dari balik lensa. "Terus ini siapa? Anggota baru ya?"
Pemuda itu langsung memberikan hormat. "Siap, Non! Saya Bintang. Baru ditugaskan membantu pengamanan di kediaman ini mulai hari ini."
"Bintang? Wah, namanya bagus. Pasti nanti bakal bersinar ya?" Aurora menggoda, membuat Bintang sedikit salah tingkah dan menunduk. Aurora terkikik. "Oke, Bintang. Kamu baru kan pasti? Ganteng sih... manis juga kalau senyum."
Bintang tersenyum malu-malu, "Terima kasih, Non."
"Tapi ya..." Aurora menjeda kalimatnya, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum penuh arti. "Tetep ganteng Mas Langit. Mas Langit mah nggak ada tandingannya di hati aku."
Pak Bambang hanya bisa geleng-geleng kepala, sementara Bintang tampak bingung dengan pernyataan jujur sang putri majikan.
"Aurora, ayo jalan! Keburu telat. Perjalanan ke lokasi pemotretan itu satu jam kalau macet," Mayang muncul dari belakang sambil menepuk pundak Aurora, mengingatkan.
"Iya, iya, bawel banget sih Kak May. Orang lagi pemanasan juga," protes Aurora manja.
"Pemanasan apa? Pemanasan godain orang?" ketus Mayang.
Aurora tidak membalas. Matanya justru sibuk mencari-cari ke arah paviliun dan area kemudi mobil. Tak lama kemudian, pintu pengemudi terbuka. Sosok pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku keluar dari mobil.
Langit Ardiansyah.
Wajahnya tetap datar, ekspresinya sedingin es kutub utara. Ia berjalan memutari mobil dan membukakan pintu penumpang belakang untuk Aurora.
"Selamat pagi, Non Aurora. Mobil sudah siap," ucap Langit dengan nada suara yang sangat formal, seolah-olah ia sedang bicara pada komandannya, bukan pada gadis yang baru saja menyebutnya 'kesayangan'.
Aurora tidak langsung masuk. Ia berdiri tepat di depan Langit, sangat dekat hingga hidungnya hampir menyentuh dada bidang pria itu. Ia mendongak, menatap Langit dengan mata yang berbinar-binar.
"Pagi, Mas Langit kesayangan Aurora," sapa Aurora lembut. "Gimana tidurnya semalam? Mimpiin aku nggak?"
Langit tidak bergeming. Ia tetap menatap lurus ke depan, melewati puncak kepala Aurora. "Saya tidur dengan nyenyak tanpa bermimpi apa pun, Non. Silakan masuk, kita harus segera berangkat agar tidak terlambat dari jadwal yang diberikan Bapak."
"Ih, kok jawabannya formal banget sih? Kayak lagi baca teks proklamasi aja," Aurora mengerucutkan bibirnya. Ia kemudian menyentuh lengan Langit yang kokoh. "Mas, coba liat aku dulu bentar. Bagus nggak hari ini?"
Langit akhirnya menurunkan pandangannya, menatap Aurora selama dua detik. "Non selalu tampak rapi dan profesional untuk pekerjaan Non. Silakan masuk."
"Cuma rapi? Cantiknya mana?" kejar Aurora.
"Aurora!" Mayang berteriak dari dalam mobil karena dia sudah masuk lebih dulu lewat pintu sebelah. "Masuk sekarang atau gue tinggal!"
Aurora mendesah kecewa. "Oke, oke. Galak banget sih asisten aku. Mas Langit, ayo jalan. Jangan ngebut-ngebut ya, aku mau lama-lama bareng Mas di mobil."
Langit hanya mengangguk kecil, menutup pintu setelah Aurora masuk, lalu ia sendiri duduk di kursi pengemudi.
Suasana di dalam mobil cukup hening. Mayang sibuk dengan urusannya sendiri, sementara Aurora terus-menerus melirik kaca spion tengah untuk mencuri pandang ke mata Langit.
Setiap kali mata mereka tidak sengaja bertemu di cermin, Langit langsung mengalihkan pandangannya kembali ke jalanan.
"Mas Langit," panggil Aurora.
"Iya, Non?"
"Mas nggak gerah apa pake baju ketutup terus gitu? Mas nggak mau coba sesekali pake kaos biasa gitu kalau lagi anter aku? Biar kayak orang pacaran, bukan kayak bos sama bawahan."
Langit menghela napas pendek, tangannya dengan lihai memutar kemudi. "Saya sedang dalam jam dinas, Non Aurora. Seragam adalah bentuk tanggung jawab dan profesionalisme saya kepada Bapak Anggara."
"Tapi kan Papa nggak liat sekarang," bantah Aurora. "Papa lagi ada rapat di kantor. Jadi sekarang bos Mas itu aku. Dan bos Mas mau Mas lebih santai sedikit. Bisa?"
"Maaf, Non. Peraturan tetap peraturan."
Aurora bersandar ke kursi, melipat tangannya di dada. "Kaku banget sih. Kayak beton. Aku heran deh, kok bisa ya ada orang seganteng Mas tapi nggak punya ekspresi sama sekali? Mas nggak pernah jatuh cinta ya?"
Pertanyaan itu membuat suasana hening sejenak. Mayang bahkan berhenti mengetik di tabletnya, ikut penasaran dengan jawaban si ajudan dingin itu.
Langit tetap fokus pada jalanan di depannya. "Cinta tidak termasuk dalam kontrak kerja saya, Non."
Aurora tertawa renyah, meski hatinya sedikit merasa gemas. "Jawaban Mas itu bener-bener ya... Minta banget aku hancurin temboknya. Liat aja nanti, Mas. Suatu saat nanti, Mas Langit bakal bilang 'Aurora, aku cinta kamu' tanpa bawa-bawa kontrak kerja Papa."
"Saya rasa itu tidak mungkin terjadi, Non."
"Jangan bilang tidak mungkin kalau belum kejadian," Aurora mencondongkan tubuhnya ke depan, di antara celah kursi depan. "Karena aku, Aurora Widjaja, nggak pernah gagal dapet apa yang aku mau. Dan yang aku mau sekarang itu... Mas."
Mayang langsung memukul paha Aurora pelan. "Ra! Inget kasta, inget reputasi! Malu dikit kek jadi cewek!"
"Nggak mau! Malu itu kalau aku nggak jujur sama perasaan sendiri," jawab Aurora santai. "Lagian Mas Langit juga nggak keberatan kan kalau digodain dikit? Anggap aja hiburan di tengah kemacetan Jakarta, ya kan Mas?"
Langit tidak menjawab. Namun, jika Aurora melihat lebih teliti, ada sedikit ketegangan di rahang Langit yang mengeras. Ia sedang sekuat tenaga menjaga benteng pertahanannya agar tidak runtuh oleh serangan ceria sang putri DPR yang tak kenal lelah itu.
"Kita sudah hampir sampai, Non," ucap Langit dingin, mencoba mengakhiri pembicaraan.
Aurora tersenyum penuh kemenangan. Baginya, diamnya Langit bukanlah penolakan, melainkan tanda bahwa sang ajudan mulai terusik. Dan itu adalah awal yang sangat baik untuk misinya.
"Oke, Mas. Tapi nanti pas aku pemotretan, Mas jangan jauh-jauh ya. Harus liatin aku terus. Biar aku semangat gayanya!"
Langit hanya terdiam, namun mobil SUV itu meluncur masuk ke area studio dengan keheningan yang penuh dengan ketegangan yang hanya dirasakan oleh mereka berdua.