NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

[5] Bumi kok gak Masuk ya?

"Bumi kok gak masuk ya? Padahal udah jam 10. Gak mungkin telat kan?" Tatapan Bina melirik bangku Bad Boy yang kosong itu. Langit mengikuti arah pandang Bina dengan dua alis naik.

Iya juga. Si Bumi jarang gak masuk. Paling-paling telat. Tapi ya bakal masuk.

"Dia sakit gak ya?"

"Perhatiaan banget lo sama Bumi," ledek Langit seraya menyeruput air minumnya. Hari ini juga memang tidak ada surat masuk atau izin. Ketiga teman Bumi pun tidak tahu ke mana perginya cowok itu.

"Biasanya pagi-pagi lo udah berantem sama Bumi. Ini sih adem banget." Kalimat Bina menbuatnya tersadar. Memang hari ini sedikit tenang sih. Gak ada yang ganggu.

"Bolos paling."

"Gak mungkin. Bumi gak pernah bolos. Gue jadi khawatir deh."

Langit diam sesaat. Ia melirik bangku itu lama sebelum memutuskan tidak peduli. "Ya

Udah sih yuk kita ke kantin."

"Lo gak penasaran si Bumi ke mana?"

"Gaklah. Gue bahagia banget gak ada yang bikin emosi. Bumi bolos keseringan juga senang gue." Ia berdiri dari bangkunya.

Memilih keluar kelas bersama Bina.

"Kemana ya Bumi. Sepi ah gak lihat wajah ganteng dia." Bina mengerucutkan bibirnya kesal.

Pletak!

Jitakan dia hadiahkan pada sahabatnya itu. Bisa-bisanya.

"Sakit Munah."

"Bumi itu gak ada ganteng-gantengnya."

"Bumi itu ganteng. Lo aja yang tiap hari lihat kesalahan dia."

"Emang banyak salahnya kok dia. Tiap gue ketemu. Bikin emosi."

"Lo gak suka Bumi apa? Dia itu cowok terpopuler di High School Internasional. Urutan pertamanya juga dalam hal ketampanan."

Langit menggeleng malas. Dulu sih iya. Awal lihat muka dia, Langit sempat memuja.

Tapi kali ketemu itu juga ia langsung mencap Ghabumi sebagai cowok menyebalkan sedunia. Waktu itu, saat mereka baru masuk sekolah. Masa ospek.

"Bumi itu bencana."

"Jodoh rasain!"

"Hii gak bakal. Gue gak akan bayangin dapat jodoh model Bumi." Ia menggeleng keras. Membayangkan saja dia sudah geli. "Kalau dia jodoh gue. Bukannya harmonis kita ya gak akur mulu."

"Itu sih menarik."

"Menarik dari mana?"

"Cinta yang bermula dari benci."

"Itu mitos. Gak akan pernah seumur hidup. Lagipula Jodoh gue kan Kak Albiru. Gue mau ajukan berkas ta'aruf ah habis tamat."

"Jangan lupa kalau lo sering cerita udah ditolak berkali-kali sama Kak Biru." Bina tersenyum lalu merotasikan matanya. Senyum Langit luntur. Iya Bina tahu Langit sukanya siapa. Karena Bina teman dekat, jadi dia sering cerita.

"Bin lo mah sebagai bestie jangan gitu."

"Kita hidup harus realitas."

"Lihat gue nanti nikah sama Kak Biru. Sore nanti gue juga bakal mampir cari hadiah. Mau kasih kak Biru hadiah. Gue bakal berjuang," Langit menghentak kepalan tangannya semangat ke udara.

"Hem ya ya. Kita lihat siapa jodoh lo Langit."

***

"Si Bum Bum ke mana sih?" Lihat. Katanya bodo amat tapi Langit juga jadi kepo sendiri. Tumben rivalnya itu izin segala.

Tiga cowok yang lagi nongkrong di salah satu meja kantin mendongak. Ketiganya tengah asik main games.

Liam komentar. "Bumi maksud lo?"

"Iya dong Liam. Yang namanya Bumi di sekolah ini kan cuman atu." Langit mengambil duduk depan Hugo. Samping Alden.

"Mobil Lagends kan? Ikutan dong."

"Kangen ya sama Bumi?" Dua alis Hugo naik turun menggoda. "Sampai dicariin."

"Kangen?" Langit terbahak. Ia mengibaskan tangannya. "Seorang Langit

Kangen sama Bumi? Musuh gue? Ya gak mungkinlah." Kepalanya menggeleng keras.

"Kalau kangen bilang aja kali. Gak usah malu-malu." Liam mencibir.

"Siapa yang gak kangen? Heran aja sekelas Bumi bisa juga libur. Lo pada tahu gak sih? Kalau sakit gak mungkinkan? Dia kan kebal."

"Kalau emang sakit mau apa?"

"Hah?"

"Kalau dia sakit mau datangin?"

"Ogah. Siapa dia?"

"Musuh berkedok ada perasaan?"

"Ngaco! Udah ah gue nanya Bumi aja. Gue ikutan main dong."

Ia menjulurkan kepalanya pada layar ponsel Alden yang memberi anggukan. Sedang Hugo Liam lekas berkata," Gak!"

dengan serempak.

"Ih kok gitu sih. Alden bolehin kok."

"Lo gak bisa main. Gak usah ikutan." Itu Hugo.

"Bener." Liam menjetikkan jarinya. "Gak asik kalau lo ikutan."

"Jahat banget mulutnya," dia mencibir dan melipat tangannya kesal. Netra Langit melirik jus orange di atas meja yang masih utuh di banding dua lainnya. Ia tarik gekas itu dan meminumnya.

"Astaga itu punya gue Langiit!" Liam melotot kesal.

"Bagi Yam. Haus. Bina lama banget."

"Yam yam. Lo pikir gue ayam?" decaknya jadi kesal.

"Nama lo sebelas duabelas sih sama Ayam. Liam dan Ayam." Langit menyampaikannya dengan ringan sekali. Hugo terbahak. Alden menarik kedua sudut bibirnya. Liam yang tidak terima manatap datar.

"Ayam Liam beda jauh."

"Beda tipis."

"Ahaha tapi cocok kok Yam." Hugo yang di samping Liam menepuk pundak sahabatnya terbahak.

"Ye lo jangan ikutan." Liam menjeplak kepala Hugo. Cowok itu meringis.

"Anjir! Kasar lo Yam."

"Bangke!"

Langit tertawa. Ia terus menyeruput minum punya Liam sampai sisa dikit.

Netranya kemudian melirik sekitar. Di mana banyak mata menatap ke arah meja tempatnya duduk.

Beberapa jenis tatapan tertuju. Mulai dari tatapan memperhatikan level standar hingga ada yang sampai lirik sinis dengan muka tidak enak. Langit sih sudah tahu kaum cewek yang rata-rata menatap seperti itu adalah fans ketiga cowok di sebelahnya ini.

Memang keempatnya ditambah Bumi terkenal di kalangan sekolah. Selain wajah keempatnya yang tampan. Mereka juga disegani karena bergabung dengan geng motor di luar sekolah yang sangat terkenal.

Geng motor itu diisi anak-anak dari berbagai sekolah di Jaksel. Hanya orang tertentu yang bisa bergabung. Alden, Bumi, Hugo dan Liam perwakilan HIGH INTERNATIONAL SCHOOL yang menjadi anggota dalam geng tersebut.

Tidak sembarang orang yang bisa dekat dengan keempatnya. Hanya saja karena Langit yang apa adanya dengan sikapnya, apalagi mereka sekelas. Dia selalu santai saja. Karena itulah ada tatapan kesal, sinis dan muka julid

"Oke udah datang nih nasi goreng spesialnya." Bina datang menbawa nampan. Dua nasi goreng dan dua gelas jus jeruk. Bina beda tipis sama Langit. Dia ikut saja.

"Ini bagian gue." Liam langsung rebut jus jeruk milik Langit.

Langit mendengus. Ia menarik piring nasi gorengnya. Dia dan Bina makan, sedangkan tiga cowok itu lanjut main.

"Kalian tuh bestie Bumi apa gak sih? Masa gak tahu Bumi kenapa gak bisa masuk."

"Kita sahabat. Tapi Bumi banyak privasi," celetuk Liam.

"Privasi apa?" Bina mencondongkan wajahnya menatap ketiganya bergantian. Langit pilih menyimak saja.

"Gini konsepnya. Walaupun kalian berdua dekat, pasti ada hal yang gak bisa kalian ceritakan atau kasih tahu kan sama lain?" Hugo menunjuk Bina dan Langit gantian.

Dua gadis itu mengangguk serempak.

Yang lihat ke arah mereka. Itu sih ditujukan sama Langit.

Dibanding yang lain Langit bisa dekat dengan mereka.

"Oke udah datang nih nasi goreng spesialnya." Bina datang menbawa nampan. Dua nasi goreng dan dua gelas jus jeruk. Bina beda tipis sama Langit. Dia ikut saja.

"Ini bagian gue." Liam langsung rebut jus jeruk milik Langit.

Langit mendengus. Ia menarik piring nasi gorengnya. Dia dan Bina makan, sedangkan tiga cowok itu lanjut main.

"Kalian tuh bestie Bumi apa gak sih? Masa gak tahu Bumi kenapa gak bisa masuk."

"Kita sahabat. Tapi Bumi banyak privasi," celetuk Liam.

"Privasi apa?" Bina mencondongkan wajahnya menatap ketiganya bergantian. Langit pilih menyimak saja.

"Gini konsepnya. Walaupun kalian berdua dekat, pasti ada hal yang gak bisa kalian ceritakan atau kasih tahu kan sama lain?" Hugo menunjuk Bina dan Langit gantian.

Dua gadis itu mengangguk serempak.

"Sama kayak kami. Kita masih punya privasi yang gak bisa dibagi. Ada beberapa hal yang gak pernah Bumi ceritain. Contohnya tentang keluarga dia. Bumi gak pernah bahas itu, kami juga gak pernah nanya buat hargain dia. Jadi ya gue pikir dia ada urusan keluarga makanya gak masuk."

Bina membulatkan mulutnya. "Tapi si Bumi gak sakit kan?"

"Enggak. Kalau sakit dia bakal tetap masuk. Kalau emang gak bisa masuk, dia bakal ngomong di grup."

Langit terdiam akan penuturan Hugo.

Privasi

Dipikir-pikir juga selama ini ia hanya kenal Bumi sebagai musuh. Bad boy paling menyebalkan. Sedang ia tidak pernah tahu sisi Bumi di luar sekolah selain anak motoran.

Kok dia jadi kepo?

***

Pulang sekolah hari ini, Langit tidak langsung pulang ke rumah. Dia mampir dulu ke Gramedia beli novel yang dijanjikan papanya. Sekalian dia bakal cari hadiah buat Albiru.

Langit pergi sendiri. Bina les tiap senin sampai jumat. Kerajinan karena udah kelas 12. Katanya persiapan masuk Universitas. Langit jadi heran apa dia yang kelewat santai atau Bina yang terlalu rajin sih?

Jika kebanyakan temannya naik mobil atau motor, Langit kalau gak dijemput dia naik angkutan depan halte sekolah. Siang ini, bersama teman-teman yang juga mau pulang, ia berdiri menunggu angkutan lewat.

Keluarga Langit sebenarnya cukup mampu untuk membelikannya motor atau mobil. Ia bisa punya supir pribadi pulang pergi. Langit punya Oma Opa yang kaya raya. Punya perusahaan terkenal hingga ke berbagai cabang. Tidak jarang sampai buka perusahaan di luar negeri. Bekerja sama dengan perusahaan lain.

Papanya, Ezhar yang merupakan seorang dosen rangkap pengusaha juga punya banyak uang. Hanya saja orang tuanya tidak mau memanjakannya dengan fasilitas.

Langit pernah ditawari Opa Gabian, ayah papa Ezhar untuk diberikan mobil sekaligus supir. Tapi gak dibolehin Papa.

Ezhar menekankan pada anak-anaknya untuk hidup sederhana. Papanya sendiri yang

Antar jemput anaknya kalau kosong, kalau tidak bisa terkadang ya begini. Naik angkutan umum. Kalau kata papa kita gak tahu gimana roda kehidupan kedepannya, jadi jangan biasakan nyaman sama apa yang kita punya.

Di rumah saja gak ada pembantu. Mama yang kerja di rumah dibantu papanya langsung. Kesederhanaan keluarganya walau banyak uang membuat Langit cukup bersyukur akan keluarganya.

Di saat teman-temannya memamerkan kekayaan. Dia cukup bahagia menjadi apa adanya.

Angkutan umum berwarna blue sky yang mendekat membuat beberapa siswa siswi yang dari tadi nunggu lekas naik. Langit duduk di paling pojok belakang. Dekat speaker yang berbunyi keras bersama alunan lagu 'Jiwa yang bersedih'

Mulut Langit sih seketika ikutan bernyanyi.

MenangislahKan kau juga manusia Mana ada yang bisaBerlarut-larut Berpura-pura sempurna

Sampaikan pada jiwa yang bersedihBegitu dingin dunia yang kau huniJika tak ada

Tempatmu kembaliBawa lukamu biar aku obatiTidak kah letih kakimu berlariAda hal yang tak mereka mengerti Beri waktu tuk bersandar sebentarSelama ini kau hebatHanya kau tak didengar

Angkutan terus berjalan. Bau keringat mendominasi angkutan yang jadi sesak itu.

Berbagai obrolan lewat dari para penumpang.

Semakin jauh mobil melaju, semakin berkurang penumpang di dalam.

Karena ini jamnya pulang sekolah. Langit jadi butuh 20 menit ke Gramedia. Sedikit lama karena macet.

"Kiri Bang."

Dia berseru dari posisinya. Suara musik yang keras dan dia paling belakang membuat suaranya tak didengar.

"Kiri Bang!"

"Bang sopir di sini! Langit turun di sini! Kiri!" Langit sampai meninggikan suaranya. Beberapa pasang mata langsung mengarah padanya. Angkutan baru merapat ke tepi jalan. Sedikit lewat dari Gramedia. Gak didengar sih.

Ia kekas turun dan membayar ongkos tiga ribu rupiah. Tarif pakai baju sekolah. Coba

Kalau dia pakai baju umum. Bisa lima ribu rupiah.

"Makasih Neng."

"Oke Bang!" Ia memberi anggukan. Kala dia akan berbalik menuju Gramedia yang kelewatan. Dua alisnya menyatu melihat sosok laki-laki duduk di dekat taman kota.

Cowok itu duduk dengan kaki ditekuk.

Tatapannya lurus pada ponsel yang dia pegang. Dia memakai kaus abu-abu dan jeans hitam, sedang rambut yang biasanya terlihat rapi tampak acakan.

"Bumi gak sih itu?" Langit menyipit. Ia lalu membentuk bulatan dari tangannya seakan itu teropong.

"Lah dia bolos tapi nangkring di sini?" Tangannya kembali turun. Langit memiringkan kepalanya. "Ke sana gak ya?" monolognya.

"Tapi ngapain? Musuh bebuyutan kok ditanya." Kepalanya menggeleng. Ia pilih berjalan pergi saja. Tujuannya kan ke Gramedia. Tapi sepertinya Bumi yang duduk di sana dan kebetulan mendongak bisa melihat Langit.

"Lare." Teriakan itu membuat Langit

Mengernyit. Ia menghentikan langkah.

"Langit rese!"

Langit kan namanya. Lah? Bola matanya langsung berotasi ke arah sumber suara di sebelah kanan. Kornea hitam milik Bumi menatapnya. Cowok itu mengulum senyum dan melambaikan tangan.

"Hoo dia yang manggil." Ia berkacak pinggang "Lare, Lare. Enak aja dia main ganti nama gue," omelnya.

"Lare!!" Bumi teriak lagi.

"Ngapain lo teriak panggil gue? Lare? Apa tadi? Nama gue Langit woi." Dia mendengus begitu berdiri dihadapan Bumi yang terkekeh.

Langit terdiam menyadari bola mata Bumi memerah. Cowok itu menepuk tempat sebelahnya.

"Duduk sini."

Dua alisnya naik. Nada Bumi lebih lembut dari biasanya. Apa cowok itu ada masalah? Mulutnya membuka ingin bertanya, tapi ia urungkan.

"Lo bolos ya?" Langit ikut duduk.

"Sehari."

"Tumben bolos."

Bumi tidak menjawab lagi.

"Manggil gue kenapa sih?"

"Gue kurang asupan karena gak bikin lo marah hari ini."

"Ye salah sendiri. Ngapain gak masuk?"

"Tadi ada dikasih tugas gak?" Bumi mengalihkan pembicaraan. Langit menyadari. Ia memberi anggukan.

"Apa?"

"Gue lupa. Pokoknya ada."

"Lo dengar guru gak sih?" Bumi berdecak.

"Gak. Mata gue keburu redup."

"Kapan pinternya lo sih Langit."

"Gak usah perhatian sama gue."

"Gue gak perhatian. Kelewat pede lo bocil."

Langit mendelik kesal dipanggil Bocil. Albiru juga bilang dia bocil. Bumi juga. "Gue gak bocil Mamat!"

"Lo bocil!"

"Gal ya!"

"Iya Bocil!"

"Ada ya orang baru ketemu ngajak ribut terus?"

Bumi tertawa.

"Gak lucu!"

"Lo kesal makin cantik deh." Bumi mengedipkan sebelah matanya.

"Gue pites ya lo!" Matanya melotot galak.

Tangannya siap memukul Bumi yang lekas membuat tameng.

"Lo ngapain bengong di sini?"

"Mikirin lo?" Kedua sudut bibir Bumi naik.

"Haha lucu," tawanya dengan ekspesi datar.

"Lo sendiri ngapain di sini? Rumah lo kan jauh. Mau kabur lo ya? Atau lo sengaja cari gue karena kangen?"

"Dih lo gak spesial itu kali." Dia mencibir. Lalu menunjuk Gramedia. "Gue mau ke Gramed. Lo sih ganggu aja. Udah ah gue mau pergi. Sekalian mau cari hadiah buat kak Biru." Ia bangkit dari posisinya.

"Kakak lo?"

"Calon imam gue."

Bumi tertawa.

"Ngapain lo ketawa?"

"Ada gitu yang mau sama lo?"

"Wah kurang ajar. Modelan gini gue banyak yang naksir."

"Itu sih Bencana."

"Sumpah ya. Baru beberapa menit ketemu lo bawaannya gue mau emosi terus."

Bumi terkekeh lalu ikut berdiri. "Yuk!"

"Apanya sih yang yuk?"

"Katanya mau ke Gramed."

"Ya kan gue. Lo ngapain yuk segala."

"Gue temenin."

"Males banget. Lo di sini aja."

"Gak gue ikut. Gabut." Bumi menarik tas Langit membuat gadis itu ikut tertarik.

"BUMI LUKNUT GUE BISA JATОН!" pekiknya jengkel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!