NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: DUA WANITA DAN SATU GELAS KERAMAT

​Jika dunia bisnis mengenal Adrian Diningrat sebagai predator yang dingin, maka pagi ini, reputasi itu resmi hancur berkeping-keping. Kamar utama yang biasanya menjadi saksi diskusi strategi triliunan rupiah itu kini berubah menjadi medan pertempuran antara ego seorang CEO dan segelas cairan berwarna hijau pekat yang aromanya sanggup membuat tanaman plastik layu seketika.

​Mbok Yem berdiri di sisi kiri ranjang seperti seorang jenderal yang sedang mengawasi eksekusi. Di tangannya terdapat nampan kayu berisi gelas keramat itu, lengkap dengan satu piring kecil berisi madu—yang menurut Ian, hanyalah jebakan Batman untuk menyamarkan rasa pahit yang tidak manusiawi.

​Namun, ancaman sebenarnya bukan Mbok Yem. Melainkan Rhea.

​Gadis itu berdiri tepat di hadapan Ian, kedua tangannya bertolak pinggang. Ia mengenakan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku, dan rambutnya diikat ponytail tinggi. Tatapannya tidak lagi lembut seperti saat mereka berjalan-jalan di kebun teh; kali ini, matanya memancarkan otoritas seorang calon dokter sekaligus aura seorang ibu yang siap mencubit jika anaknya tidak menurut.

​"Adrian," panggil Rhea. Suaranya tenang, namun ada nada rendah yang membuat bulu kuduk Ian meremang. "Minum. Sekarang."

​Ian menarik napas panjang, mencoba menggunakan teknik negosiasi tingkat tinggi. "Rhea, dengar dulu. Secara medis, memar di bahuku ini hanya butuh kompres es dan istirahat. Cairan itu... aku ragu itu sudah teruji secara klinis di laboratorium manapun."

​"Jangan mulai dengan istilah medis denganku, Ian," potong Rhea cepat. Ia mengambil gelas dari nampan Mbok Yem. "Mbok Yem sudah merebus brotowali ini selama dua jam. Ini mengandung zat pahit yang berfungsi sebagai anti-inflamasi alami dan meningkatkan imunitas. Dan sebagai tunanganmu, aku memerintahkanmu untuk meminumnya."

​Ian melirik gelas itu, lalu melirik Mbok Yem yang sedang memberikan tatapan "awas kalau dibuang lagi".

​"Tidak," jawab Ian tegas, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya. "Aku akan meminum obat tablet dari apotek, tapi bukan ini."

​Di pojok kamar, Yusuf berdiri kaku seperti patung pajangan. Ia sengaja menempelkan punggungnya ke dinding, berharap ia bisa menyatu dengan wallpaper agar tidak terlihat. Matanya menatap lurus ke depan, namun telinganya menangkap setiap detail drama itu. Dalam hati, Yusuf berdoa agar ia tidak ditarik masuk ke dalam pusaran maut ini. 'Maaf, Tuan Muda. Dalam hal ini, saya lebih baik menghadapi sepuluh penembak jitu daripada satu Mbok Yem dan satu Nona Rhea yang sedang bersatu,' pikirnya ngeri.

​"Adrian Diningrat," Rhea melangkah maju satu tahap, memperkecil jarak. Ia duduk di tepi ranjang, tepat di depan Ian. "Jangan sampai aku harus menggunakan cara paksa. Kamu mau minum sendiri, atau mau aku yang meminumkannya... dengan cara yang tidak akan kamu lupakan?"

​Ian menelan ludah. Wajahnya memerah. "Itu... itu ancaman atau tawaran?"

​"Itu perintah!" bentak Rhea, meskipun pipinya juga ikut merona. Ia menyodorkan gelas itu ke depan bibir Ian. "Buka mulutmu. Sekarang. Satu... dua..."

​"Tuan Muda," Mbok Yem menyela dengan nada provokatif. "Masak kalah sama anak kecil. Nona Rhea ini sudah repot-rehat bantuin Mbok di dapur tadi. Masa jerih payah calon istri nggak dihargai?"

​Ian melirik ke arah Yusuf, mencari bantuan. Yusuf langsung membuang muka, pura-pura sangat tertarik melihat debu yang menempel di figura foto di pojok ruangan.

​"Yusuf!" panggil Ian setengah berbisik, penuh nada minta tolong.

​Yusuf berdeham kaku, suaranya terdengar seperti robot kehabisan baterai. "Mohon maaf, Tuan Muda. Menurut protokol keamanan kesehatan yang saya pelajari... instruksi Nona Rhea bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat."

​"Pengkhianat," desis Ian.

​Rhea tidak memberikan celah lagi. Ia meletakkan tangan kirinya di tengkuk Ian, memegangnya dengan mantap agar Ian tidak bisa mundur. "Tiga. Buka!"

​Dengan wajah pasrah seolah sedang menuju tiang gantungan, Ian akhirnya membuka mulutnya sedikit. Begitu cairan hijau itu menyentuh lidahnya, seluruh saraf di tubuh Ian menjerit. Rasa pahit yang luar biasa menyengat, membuat wajah tampannya berkerut-kerut tidak karuan. Matanya melotot, dan ia hampir menyemburkannya jika saja Rhea tidak dengan sigap menutup mulut Ian dengan telapak tangannya.

​"Telan, Adrian. Telan!" perintah Rhea seperti sedang menyemangati pasien di IGD.

​Mbok Yem ikut bersorak, "Telan, Tuan! Ayo, telan! Jangan dimainin di mulut!"

​Ian terpaksa menelan cairan itu dengan suara glek yang keras. Begitu gelas kosong, Rhea melepaskan tangannya dan Mbok Yem segera menyodorkan sesendok madu ke dalam mulut Ian untuk menetralisir rasa pahitnya.

​Ian tersedak-sedak, wajahnya merah padam sampai ke telinga. Ia terengah-engah seolah baru saja berlari maraton. "Kalian... kalian benar-benar... jahat."

​Rhea meletakkan gelas kosong itu kembali ke nampan dengan ekspresi puas. Ia mengusap sisa jamu di sudut bibir Ian dengan jempolnya, lalu tersenyum manis—senyum yang bagi Ian terasa seperti malaikat yang baru saja menjatuhkannya ke neraka. "Pintar. Begitu dong. Kan gantengnya kembali lagi kalau nurut."

​Mbok Yem tertawa lebar, merasa misinya telah sukses besar. "Nah, gitu kan enak lihatnya. Mbok mau balik ke dapur dulu, mau masak sup ceker buat makan siang supaya tulang Tuan Muda makin kuat. Mas Yusuf! Ayo bantu Mbok bawa nampannya!"

​Yusuf, yang merasa sudah aman karena eksekusi telah selesai, segera melesat maju. "Siap, Mbok!"

​Namun, saat Mbok Yem sudah berbalik badan dan melangkah menuju pintu, drama kecil kembali terjadi.

​Begitu Mbok Yem membelakangi mereka, Ian langsung meraih lengan Rhea, menariknya hingga gadis itu jatuh ke pelukannya di atas ranjang. Ian menatap pintu dengan tajam, lalu dengan gerakan tangan yang cepat, ia menunjuk ke arah botol air mineral di atas nakas, meminta Rhea mengambilkannya dengan wajah yang memelas luar biasa.

​Rhea tertawa kecil tanpa suara, ia baru saja hendak meraih botol itu ketika Mbok Yem tiba-tiba berhenti di ambang pintu dan menoleh dengan sangat cepat.

​Sret!

​Ian secara instan mengubah posisinya. Ia melepaskan pelukannya pada Rhea dan kembali duduk tegak dengan tangan terlipat rapi di pangkuan, wajahnya kembali datar dan berwibawa, seolah ia sedang bermeditasi. Sementara Rhea pura-pura sedang merapikan seprai di dekat kaki Ian.

​Yusuf yang berada di belakang Mbok Yem hanya bisa menahan napas sampai mukanya biru, mencoba sekuat tenaga agar tidak meledak tertawa.

​"Ingat ya, Tuan Muda," ucap Mbok Yem sambil menyipitkan mata penuh curiga. "Jangan coba-coba minum air putih banyak-banyak setelah minum jamu. Biar jamunya meresap dulu ke darah. Mbok tahu lho ya gelagatmu!"

​"Iya, Mbok. Saya paham," jawab Ian dengan suara yang dibuat seberat mungkin, berusaha terdengar sangat patuh.

​Mbok Yem akhirnya benar-benar pergi, disusul Yusuf yang berjalan cepat sambil menepuk-nepuk dadanya karena sesak menahan tawa.

​Begitu suasana benar-benar sunyi, Ian langsung menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Rhea dan mengerang panjang. "Rhea... rasanya lidahku sudah mati rasa. Aku tidak mau lagi. Sumpah."

​Rhea membelai rambut Ian dengan lembut, tertawa geli melihat sisi rapuh dari pria yang paling ditakuti di Jakarta ini. "Itu namanya cinta, Ian. Cinta itu kadang pahit di awal, tapi menyehatkan di akhir. Sama seperti jamu Mbok Yem."

​Ian mendongak, menatap Rhea dari posisinya yang sedang berbaring. "Kalau cintanya dari kamu, aku mau. Tapi kalau jamunya dari Mbok Yem... kurasa aku lebih memilih masuk penjara Pradikta lagi."

​Rhea mencubit pipi Ian gemas. Di dalam kamar itu, sisa-sisa aroma jamu brotowali mungkin masih tercium, namun kehangatan yang tercipta jauh lebih kuat. Ian menyadari bahwa meskipun ia kehilangan otoritasnya di depan Mbok Yem dan Rhea, ia telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah keluarga yang peduli padanya lebih dari sekadar nama besar Diningrat.

​"Istirahatlah," bisik Rhea. "Nanti siang aku temani makan sup ceker."

​Ian memejamkan mata, merasakan kenyamanan yang luar biasa. "Asalkan tidak ada brotowali di dalamnya, aku setuju."

​Hari itu, sang Macan Diningrat resmi takluk. Bukan oleh peluru atau pengkhianatan, melainkan oleh segelas jamu dan kasih sayang dari wanita-wanita hebat di hidupnya. Sementara di dapur, Yusuf dan Pak Totok sedang merayakan keberhasilan mereka lolos dari tugas meminum jamu sisa, sambil mendengarkan lengak-lenggok Mbok Yem yang bercerita tentang betapa lucunya wajah Tuan Muda mereka saat ketakutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!