Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.
Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.
Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.
Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.
Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RX King Vs Mic Hajatan
Juned adalah anomali terbesar di dunia hiburan. Visualnya adalah perpaduan antara pendekar kungfu dan model majalah internasional, tapi lidahnya adalah Madura asli yang tidak bisa ditawar. Sementara itu, Kiran adalah sosok high-fashion yang seolah baru saja turun dari panggung Paris Fashion Week, namun sangat menjunjung ketenangan jiwa.
Pagi itu di depan galeri mini milik Kiran, sang desainer sedang duduk tenang di terasnya. Ia sedang melakukan meditasi rutin, mata terpejam, menghirup aroma terapi lavender sambil mencoba menyatukan dirinya dengan alam.
Tiba-tiba, suara knalpot RX King yang menderu memecah keheningan. Sebuah pintu mobil terbuka, dan muncullah Juned dengan kemeja sutra yang kancingnya sengaja dibuka dua di atas, menampilkan dada bidangnya yang sering jadi rebutan sutradara film aksi.
"Kiran! Beremmah kabharreh? (Gimana kabarnya?) Menneng dhibi'an be'en, tak ngerasa sepi? (Diem sendirian kamu, nggak ngerasa sepi?)"
Kiran membuka matanya seketika. Kedamaian yang baru saja ia bangun hancur berkeping-keping. Ia menatap Juned yang berdiri dengan pose bak model iklan parfum, tapi kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar seperti sedang tawar-menawar di pasar loak.
"Juned... sudah seribu kali gue bilang, kalau bicara sama gue pakai bahasa Indonesia yang normal. Jujur nggak ngerti lo ngomong apa!" protes Kiran sambil memijat pelipisnya.
Juned tertawa, suaranya menggelegar. "Duh, Kiran... mon be'en tak ngerteh, pola be'en korang asaha. (Duh, Kiran... kalau kamu nggak ngerti, mungkin kamu kurang usaha.) Padahal wajahmu ini sudah pas kalau pakai baju rancangan saya yang temanya 'Batik Madura'."
"Juned, stop! Jangan sebut-sebut batik Madura dulu. Gue lagi fokus ngerjain koleksi avant-garde buat pameran!" balas Kiran jengkel. Ia berdiri, perawakannya yang tinggi kurus bak model terlihat sangat kontras dengan Juned yang kekar.
Kiran mencoba mengabaikan Juned dengan kembali ke kanvas lukisnya di pojok teras. Ia mulai menggoreskan palet warna abstrak. Baginya, melukis adalah cara berkomunikasi dengan semesta.
Tapi bagi Juned, melukis adalah waktu yang tepat untuk bercerita.
"Lik, jhek se-serius rowa pas melukis. (Lik, jangan terlalu serius gitu pas melukis.) Nanti kepalamu pusing. Mending ikut saya makan sate di pertigaan depan, satena nyaman parah! (Satenya enak parah!)" Juned mendekat, memperhatikan lukisan Kiran dengan dahi berkerut.
Kiran meletakkan kuasnya dengan kasar. "Juned! lo tahu nggak arti meditasi? lo tahu nggak arti zen? Suara kamu itu frekuensinya merusak aura ketenangan di rumah ini!"
"Aura apa, Ran? Mon aura maseh kalah bareng aura gantenggeh buleh. (Kalau aura masih kalah sama aura gantengnya saya.)" Juned malah menyugar rambutnya ke belakang dengan gaya narsis maksimal.
"Sumpah ya, muka lo itu beneran nipu! Kalau orang liat poster film kamu di bioskop, mereka pikir lo itu pangeran yang pendiam dan misterius. Tapi kalau udah buka mulut... Hih! Rasanya gue mau jahit mulut pake pake benang!" cerocos Kiran frustrasi.
Juned hanya cengengesan. Dia tahu betul kalau Kiran sering jengkel padanya, tapi baginya, menggoda desainer galak itu jauh lebih seru daripada latihan akting di depan cermin.
"Bah! Kutengok makin berisik aja blok ini!" Vino tiba-tiba muncul dari balik pagar, "Kak Kiran, janganlah kau layani si Juned itu. Dia itu aktor laga yang jiwanya tertinggal di pulau seberang."
"Vino! Syukurlah lo datang. Tolong bawa pergi temanm lo ini sebelum gue lempar pake cat minyak!" pinta Kiran.
"Gampang itu, Kak. Tapi ada upahnya kan? Makan siang gratis?" tanya Vino dengan wajah tanpa dosa.
"Engko' bayar, Vin! Tak usah minta ke Kiran!" (Saya bayar, Vin! Nggak usah minta ke Kiran!) sahut Juned sambil merangkul bahu Vino.
Juned menoleh kembali ke arah Kiran yang sudah mulai kembali memegang kuas. "Ran, buleh mangkat dhi'. Jhek lopot asahar! (Ran, saya berangkat dulu. Jangan lupa makan siang!)"
Kiran hanya mengibaskan tangan tanpa menoleh. Tapi begitu motor Juned menjauh, Kiran menghela napas panjang dan menatap sisa-sisa aroma parfum Juned yang tertinggal di terasnya.
"Bahasa apa sih itu tadi? Beremmah? Menneng? Kenapa kedengarannya lucu banget pas dia yang ngomong," bisik Kiran pelan, tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat sebelum kembali fokus ke kanvasnya.
Griya Visual hari itu kembali membuktikan: Seberapa pun tingginya selera fashion seseorang, dia akan tetap kalah dengan kegigihan pria Madura berwajah aktor laga.
Ini adalah kisah tentang Genta si penyanyi hajatan kebanggaan warga yang aslinya asbun (asal bunyi), dan Jisel wanita elegan lulusan New York yang auranya seharum parfum mewah koleksinya.
Genta adalah tipikal pemuda Sunda yang ramah tapi kalau ngomong suka ngalor-ngidul. Sementara Jisel adalah definisi wanita berkelas yang hobinya memasak makanan western dan berbicara dengan aksen Amerika yang kental.
Sore itu, Genta baru saja pulang dari panggilan untuk acara hajatan salah satu warga. Ia masih memakai kemeja batik yang sedikit basah keringat, namun semangatnya tetap membara saat melihat Jisel sedang menyiram tanaman di balkon rumahnya.
"Aduh, Teh Jisel! Geulis pisan (cantik banget) sore-sore begini sudah standby di balkon. Lagi healing ya Teh? Jangan healing sendirian, nanti lieur (pusing), mending dengerin Genta nyanyi," seru Genta dari pinggir jalan.
Jisel meletakkan alat penyiramnya, lalu menatap Genta dengan senyum misterius. "Hi, Genta. You look exhausted. Capek ya habis nyanyi? Your voice was so loud, aku sampai kedengaran ke dapur pas lagi bikin creme brulee."
Genta melongo. "Hah? Krim... buluk? Apa itu Teh? Semacam lulur ya? Duh, Teh Jisel mah ada-ada saja, masa makanan disamain sama lulur."
Jisel tertawa renyah, suara tawanya terdengar sangat "mahal". "Itu dessert, Genta. Makanan penutup. By the way, kamu tahu nggak? I think you have a great potential, but you need to improve your aesthetic sense."
Genta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Potensial? Oh, Genta tahu! Itu artinya suara Genta keren kan? Tapi itu... es-te-tik sens? Apa itu Teh? Jenis mic baru ya?"
Jisel yang menyadari kalau Genta sama sekali tidak paham bahasa Inggris, mulai mengeluarkan niat jahilnya. Baginya, mengerjai berondong seperti Genta adalah hiburan tersendiri setelah seharian berkutat dengan kurasi lukisan di galeri.
"Genta, come here. Aku punya 'sesuatu' buat kamu," panggil Jisel sambil melambai anggun.
Genta langsung lari mendekat ke pagar rumah Jisel. "Ada apa Teh? Mau kasih Genta makanan enak ya? Duh, si Teteh mah paling ngerti perut Genta yang sudah kuruyuk (bunyi lapar) ini."
Jisel menyodorkan sebuah botol parfum kecil tanpa label. "Ini parfum baru aku. Try this. It's called 'Social Distancing Essence'. If you wear this, people will be attracted to you instantly."
Genta menerima botol itu dengan mata berbinar. "Wah, Sosial Distansin? Artinya 'Pikat Tetangga' ya Teh? Mantap lah! Biar kalau Genta nyanyi di hajatan, semua orang langsung nempel kayak prangko."
Jisel menahan tawa sampai bahunya bergetar. "Yes, exactly! Spread it all over your body, okay?"
Tepat saat Genta mau menyemprotkan parfum itu, Sarah lewat sambil membawa kamera vlog-nya.
"Woy, bang Genta! Jangan mau dikerjain Teh Jisel! Itu botol isinya minyak kayu putih campur cuka! Lu mau jadi acar komplek?!" teriak Sarah tanpa rem.
Genta langsung menjauhkan botol itu dari badannya. "Hah?! Minyak kayu putih? Teh Jisel, katanya ini parfum pikat tetangga?"
Jisel akhirnya pecah dalam tawa yang kencang. "Hahaha! Oh Genta, you're so gullible! Makanya, belajar bahasa Inggris dong, jangan cuma hafal lirik lagu Sunda aja!"
Genta cemberut, tapi dasar si mood maker, dia tidak bisa marah lama-lama. Ia langsung mengambil posisi tegak, berdehem, dan mulai bernyanyi dengan suara merdu andalannya tepat di depan rumah Jisel.
"Mobil nanas... eh salah, Mobil mewah di New York city... tak seindah senyum Teh Jisel di Griya Visual..." Genta bernyanyi dengan cengkok Sunda yang kental namun nadanya sangat pas.
Jisel tertegun. Suara Genta memang tidak main-main. Meskipun orangnya asbun, tapi kalau sudah bernyanyi, auranya berubah seratus delapan puluh derajat.
"Bah! Kutengok makin berisik aja kau, bang!" Vino muncul dengan tiba tiba "Teh Jisel, janganlah kau kasih dia parfum cuka. Kasihlah dia steak New York itu, biar berhenti dia menyanyi, pening telingaku!"
"Vino! Lu mah gratisan mulu pikirannya!" sahut Genta. "Teh Jisel, biarpun Genta nggak ngerti Inggris, tapi Genta ngerti satu hal... I love you full Teh!"
"Itu mah bahasa Inggris zaman purba, Genta!" teriak Sarah sambil tertawa.
Jisel menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum manis. "Alright, alright. Since you sang for me, I'll give you real food. Tunggu di situ, aku ambilkan Mac and Cheese."
"Mak-en-cis? Apa lagi itu Teh? Nama jenis krupuk?" tanya Genta polos.
"Udah, ikutin aja! Enak itu, Gen!" seru Vino yang sudah paling depan nunggu di depan pagar Jisel.
Griya Visual sore itu kembali ramai. Genta dengan kepolosannya, Jisel dengan kejahilannya, dan warga lain yang selalu punya cara untuk merayakan keramaian di antara pagar-pagar rumah mereka.