NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: RUNTUHAN ISTANA ES

Rumah masa kecil Laluna yang biasanya terasa hangat kini terasa menyesakkan, seolah setiap helai debu di sana menyimpan rahasia kelam selama dua dekade.

Di balik pintu kamar yang terkunci, Laluna meringkuk di atas tempat tidurnya yang lama. Aroma sprei yang sudah lama tidak dicuci itu bercampur dengan bau hujan dari gaunnya yang basah, menciptakan sensasi dingin yang meresap hingga ke tulang.

Di luar, suara mobil Reihan perlahan menjauh, namun keheningan yang ditinggalkannya jauh lebih menyakitkan daripada deru mesin.

Laluna menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang pada momen-momen kecil di apartemen, cara Reihan mengusap jarinya yang terbakar, caranya membelanya di depan Clarissa, dan dukungannya pada ruko "Khay".

Semuanya terasa seperti fatamorgana. Apakah itu semua adalah strategi untuk menjinakkan "putri musuh", ataukah itu sisa-sisa kemanusiaan Reihan yang berjuang melawan dendamnya?

Keesokan harinya, Laluna terbangun dengan mata yang perih dan bengkak. Ia tidak menunggu ayahnya bangun untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia berkemas secara ringkas, hanya membawa barang-barang miliknya yang tersisa di rumah itu.

Namun, saat ia membuka pintu depan, ia menemukan Reihan sudah berdiri di sana. Pria itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan semalam—tuksedo yang kini kusut dan kemeja tanpa dasi. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang luar biasa, dengan bayangan hitam di bawah matanya.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Laluna," ucap Reihan, suaranya parau namun tetap mengandung ketegasan yang sama.

Laluna menatapnya dengan pandangan kosong.

"Kontrak itu sudah tidak berarti, Reihan. Dasar dari kontrak itu adalah kebohongan. Kau menggunakanku sebagai penebusan dosa keluargaku."

"Awalnya memang begitu!" Reihan melangkah maju, menghalangi jalan Laluna.

"Tapi aku sudah membuang dendam itu sejak malam di ruko. Aku memberikan ruko itu bukan untuk Arta Wiguna, tapi untukmu. Agar kau punya tempat untuk lari jika suatu saat kau membenciku. Dan ternyata... hari itu datang lebih cepat dari yang kubayangkan."

Laluna tertawa getir. "Kau memberiku ruko sebagai tempat pelarian dari dirimu sendiri? Betapa ironisnya, Reihan."

"Kembalilah ke apartemen. Kita selesaikan ini sebagai orang dewasa," pinta Reihan.

"Aku akan kembali," jawab Laluna dingin.

"Tapi bukan sebagai istrimu. Aku akan kembali hanya untuk mengambil barang-barangku dan peralatan baking-ku. Setelah itu, aku akan menghilang dari hidupmu dan dari Arta Wiguna."

Perjalanan kembali ke apartemen dilalui dalam keheningan yang mencekam. Sesampainya di lantai teratas, apartemen mewah itu terasa seperti penjara kaca.

Laluna segera menuju dapur, tempat di mana ia merasa paling berdaulat. Ia mulai memasukkan alat-alatnya ke dalam kardus, timbangan digitalnya, mikser yang ia bawa dari rumah, dan kotak kayu kecil berisi resep-resep rahasianya.

Reihan berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikannya dengan tangan bersedekap.

"Kau benar-benar akan meninggalkan semua ini? Ruko itu sudah siap dibuka besok. Pelangganmu menunggu, Laluna."

"Laluna Wijaya bisa memanggang di mana saja, Reihan. Aku tidak butuh marmer mahalmu untuk membuat roti yang enak," sahut Laluna tanpa menoleh.

Tiba-tiba, bel pintu apartemen berbunyi secara agresif. Dimas masuk dengan wajah pucat pasi, memegang tablet di tangannya.

"Tuan... Nyonya... kita punya masalah besar," suara Dimas bergetar.

Reihan merebut tablet itu.

Wajahnya mengeras seketika.

Di layar, terpampang tajuk utama berita nasional: "Skandal Arta Wiguna: Pernikahan Rahasia Sang CEO dan Jejak Darah Kecelakaan Maut 20 Tahun Silam."

Danu tidak hanya membocorkan foto pernikahan mereka, tapi ia telah merilis dokumen penyelidikan kepolisian yang telah lama dipendam, lengkap dengan narasi bahwa Reihan menikahi Laluna untuk "membeli" tutup mulut keluarga Wijaya selamanya.

"Saham perusahaan anjlok 15% dalam satu jam, Tuan. Para investor menuntut penjelasan. Dan dewan komisaris sedang mengadakan rapat darurat untuk mencopot posisi Anda," lapor Dimas.

Laluna tertegun. Ia melihat Reihan yang kini berdiri mematung di tengah ruang tengahnya yang luas. Semua yang diperjuangkan pria itu, posisi CEO, merger, dan stabilitas dinasti sedang hancur berkeping-keping karena kehadirannya.

Reihan melempar tablet itu ke sofa, lalu berbalik menatap Laluna. Tidak ada amarah di matanya, hanya sebuah pengakuan yang pahit.

"Kau ingin pergi, kan?" tanya Reihan pelan.

"Pergilah sekarang. Jika kau tertangkap kamera bersamaku hari ini, media akan menghancurkanmu lebih parah dari ini. Dimas akan membawamu keluar lewat pintu servis."

Laluna menatap kardus peralatannya, lalu menatap Reihan. Di saat kehancuran total di depan matanya, pria ini masih mencoba melindunginya dari kejaran media.

"Reihan, kau akan kehilangan segalanya," bisik Laluna.

"Aku sudah kehilangan apa yang paling penting semalam saat kau melepaskan cincin itu, Laluna," sahut Reihan, suaranya terdengar hampa.

"Sisanya hanyalah angka dan gedung."

Laluna merasakan dorongan kuat untuk tinggal, untuk menggenggam tangan pria itu di tengah badai. Namun, bayangan ayahnya yang menangis dan kenyataan tentang kecelakaan itu kembali menghantamnya. Ia meraih kardusnya, menatap Reihan untuk terakhir kali, dan melangkah mengikuti Dimas menuju pintu keluar.

Saat pintu lift tertutup, Laluna melihat Reihan berdiri sendirian di tengah apartemennya yang dingin, seorang raja yang baru saja kehilangan tahtanya, dan juga hatinya.

Di dalam taksi menuju tempat yang tidak diketahui, Laluna membuka ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

"Pelarian tidak akan mengubah darah yang sudah tumpah, Laluna. Mari kita bicara tentang bagaimana cara membalas dendam yang sesungguhnya pada Arta Wiguna. – C"

Clarissa. Rupanya, badai ini baru saja mencapai level tertingginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!