"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Teng! Teng! Teng!
Bel tanda pelajaran usai pun terdengar menggema di ruangan. Pak Anton yang tengah mengajar di kelas Dara bergegas membereskan bukunya. Sementara itu, para murid juga mengikuti hal yang sama.
“Jangan lupa tugasnya dikerjakan dan dikumpulkan besok!” ucap Pak Anton tegas.
“Iya, Pak!” sahut murid-murid dengan kompak.
Dara yang sedang sibuk memasukkan buku ke dalam tas, tidak sengaja memalingkan wajah ke arah pintu dan melihat sosok Braden berjalan bersama Monica. Kelas dia dan Braden bersebelahan, Braden di kelas XII IPA 1 sedangkan dia di IPA 2.
Keduanya terlihat begitu akrab, tertawa bersama, menciptakan harmoni yang ironis serta berbanding terbalik dengan perasaan Dara yang tersiksa.
Tangan Dara pun gemetar, bahkan buku yang sedang dipegangnya nyaris jatuh. Air matanya menyeruak, namun dia berusaha menahannya.
“Lo tega banget, Brad!” batin Dara dengan perih, jiwanya luluh lantak, tak kuasa menahan kepedihan hati.
“Lo pulang sama siapa?” tanya Bebi. Membuat lamunan Dara buyar seketika.
Cepat Dara mengusap kedua matanya dan menoleh ke arah Bebi lalu tersenyum.
“Gue pulang naik ojol. Ini mau pesen,” jawab Dara sambil menunjukkan ponselnya.
Bebi mengangguk dan keduanya berjalan keluar kelas. Mungkin karena penampilan Dara yang terkesan culun, ditambah dengan gosip mengenai dirinya yang mengaku-ngaku sebagai kekasih Braden, teman-teman di kelasnya tidak ada yang mengajak dirinya berkenalan. Hanya Bebi saja, itupun mungkin karena Bebi adalah teman sebangkunya.
Beruntung tadi Bebi juga yang membantunya untuk membersihkan baju seragamnya yang kotor karena tumpahan air jus jeruk dari Monica.
Saat sedang menunggu ojol sendirian, karena Bebi ternyata dijemput oleh ayahnya, tiba-tiba, Braden lewat dengan motor besarnya, membuat Dara menoleh. Di belakangnya, Monica seperti sengaja memeluk Braden erat-erat, lalu menatap Dara dengan seringai mengejek yang muncul di wajahnya.
“Duluan ya, Cupu!” Monica melambaikan tangan lalu kembali memeluk Braden.
Sedangkan Braden? Pemuda itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Entah ekspresinya bagaimana. Karena Braden memakai helm full face.
Dara merasakan hatinya tertusuk. Amat sakit dan sesak. Namun, dia memilih untuk abai dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak lama kemudian, ojol pesanannya datang dan ia pun bergegas untuk pulang.
**
“Diam!”
Begitu Dara menginjakkan kaki di depan pintu, tiba-tiba dia mendengar suara bentakan ayahnya dari dalam rumah. Suara ibunya pun tidak kalah keras, menyusul setelah itu.
“Kenapa aku harus diam, Mas? Kenapa?!”
“Ternyata ini alasan kamu sebenarnya mengajak aku dan Dara pindah lagi ke kota ini. Biar kamu bisa lebih deket sama selingkuhanmu itu, ‘kan?!”
Tangkapan napas Dara terputus, dan tanpa sadar ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bagi Dara, pertengkaran antara orang tuanya memang sudah biasa, tetapi terkait fakta bahwa ayahnya selingkuh, itu cukup untuk mengejutkan dirinya.
Dara memundurkan langkahnya, pandangannya kosong lalu dia memutuskan untuk pergi dari sana dan tidak jadi masuk ke dalam rumah.
Langkah kakinya yang terhuyung-huyung membawanya pergi tanpa arah. Perasaan bingung, marah, dan sedih bercampur menjadi satu di dalam hati Dara. Air mata mulai mengalir deras, menandakan betapa kecewanya dia pada ayahnya.
Kalau ayahnya saja seperti itu, lalu siapa yang bisa dia jadikan pedoman untuk sosok pria idaman masa depannya kelak?
Hingga akhirnya, langkah Dara terhenti di sebuah taman yang ada di dekat rumahnya. Dia berdiri di tepi jembatan kecil yang menghubungkan dua bagian taman, menatap air yang mengalir perlahan di bawahnya.
Selama ini dia selalu menganggap sang ayah adalah sosok pria yang setia. Meski terkadang cekcok dan adu mulut dengan sang ibu, tapi ayahnya tidak pernah sampai meninggikan suara bahkan melakukan kekerasan.
“Kenapa begini? Kenapa semua ini harus terjadi padaku?” gumam Dara sedih.
Biasanya dia selalu bercerita pada Braden kalau sedang merasa sedih seperti ini. Tapi sekarang? Dara malah teringat pada ucapan Braden yang mengatakan kalau pria itu hanya merasa kasihan selama ini padanya.
Hari ini, dia harus merasakan kecewa yang amat sangat dari dua orang pria yang sangat dia cintai dan kagumi. Braden yang ternyata selingkuh darinya, menghinanya bahkan memutuskannya, juga oleh sosok ayahnya yang ternyata sudah menduakan cinta ibunya.
Dara memejamkan mata. Membiarkan ponsel yang ada di saku seragamnya bergetar. Dia sudah tahu siapa yang menghubunginya. Hingga saat dia mendengar suara orang terjatuh di belakang, kelopak matanya langsung terbuka sempurna.
Gegas Dara menghampiri wanita paruh baya yang terjatuh itu dan membantunya untuk bangun.
“Nenek tidak apa-apa?” tanya Dara.
Nenek tersebut menggeleng, langsung terpaku melihat bola mata gadis di depannya yang sungguh indah dan jernih. Belum lagi wajah sang gadis yang mengingatkannya pada seseorang.
“Wajahnya ... mirip sekali dengan …”
Nenek tersebut tersenyum dan mengusap punggung tangan gadis yang memegang tangannya. “Tidak apa-apa, tadi Nenek hanya tersandung. Terima kasih ya, Nak.”
Dara mengangguk dan membawa nenek tersebut untuk duduk di bangku taman. Celingukan menatap sekitar yang hanya terdapat beberapa orang itupun tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing.
“Nenek sama siapa di sini?” tanya Dara.
“Oma!”
“Nyonya!”
Keduanya langsung menoleh. Dara melihat ada dua orang yang menghampiri mereka. Yang satu seorang perempuan memakai seragam perawat, sedangkan yang satu lagi seorang pria memakai setelan jas berwarna hitam.
“Ya ampun, Oma. Saya udah cari Oma kemana-mana lho. Jangan kayak gini lagi, Oma. Kalau Oma kenapa-kenapa, nanti Rafa marah sama saya,” keluh Suster Tiara yang lebih terdengar seperti omelan.
Oma Atira mendengus sebal. “Kamu pikir aku anak kecil? Hanya berkeliling di taman ini saja tentu tidak akan sampai membuatku tersesat!”
Pandangan Oma Atira beralih pada pria yang ada di sebelah Suster Tiara, pria yang merupakan asisten sekaligus sekretarisnya.
“Kamu juga kenapa bisa ada di sini?”
“Maaf, Nyonya. Tapi saya ingin mengabarkan kalau orang yang Anda cari selama ini sudah saya temukan.”
“Benarkah? Dimana dia?” tanya Oma Atira antusias.
“Dia ada di kantornya.”
“Kita ke sana sekarang!” putus Oma Atira.
Dara yang sejak tadi masih berada di sana pun hanya diam mendengarkan. Tidak berani memotong pembicaraan para orang dewasa yang dia sendiri pun tidak mengetahui apa maksudnya. Dan lagi … sepertinya orang yang sudah dia tolong bukan orang sembarangan.
Oma Atira menoleh ke samping, memperhatikan wajah Dara yang menurutnya sangat cantik meski terhalang oleh kacamata tebal.
“Terima kasih sudah menolong Nenek. Kalau boleh tau, nama kamu siapa?”
Dara terkesiap dan tersenyum hangat. Senyum yang kembali membuat Oma Atira tertegun untuk sesaat.
“Nama saya Dara, Nek.”
“Dara,” gumam Oma Atira. “Nama yang cantik seperti orangnya.”
Dara kembali tersenyum hangat mendengarnya. Tidak lupa dia juga mengucapkan terima kasih atas pujian yang diberikan oleh Oma Atira.
“Sekali lagi terima kasih ya. Nenek harus pergi sekarang. Semoga kita bisa bertemu lagi,” ucap Oma Atira kemudian bangun dibantu oleh Suster Tiara.
**
Dara pulang ke rumah setelah dirasa hati dan perasaannya jauh lebih tenang. Dia membuka pintu dan tidak lupa mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam.” Erina, ibu kandung Dara langsung menghampiri putrinya dan memeluk Dara erat. Selang beberapa saat, Erina melepaskan pelukannya dan membingkai wajah Dara dengan kedua tangannya.
“Kamu dari mana saja, Sayang? Kenapa Ibu telpon gak diangkat?” tanya Erina khawatir.
Dara tidak langsung menjawab. Dia tetap diam sambil memperhatikan wajah sang ibu yang terlihat sembab. Terlihat pula raut khawatir dan tatapan penuh sayang di kedua mata sang ibu untuknya. Dara tahu ibunya tengah bersedih, namun tetap mengkhawatirkannya.
“Ibu gak apa-apa?” tanya Dara.
“Hm?” Erina bergumam bingung. “Ibu? Memangnya ibu kenapa?”
“Ibu habis nangis?” tanya Dara lagi.
Erina tersenyum dan menggeleng, “Ibu nangis karena khawatir kamu gak ada pulang padahal udah lewat dari jam pulang sekolah. Takut kamu tersesat.”
Dara menghembuskan napas berat. Tahu kalau ibunya tengah berbohong padanya.
“Maaf udah bikin ibu khawatir. Tadi aku ke taman dulu. Kangen main di sana kayak waktu kecil dulu,” ucapnya.
“Lagipula, mana mungkin aku tersesat? Kita meninggalkan kota ini hanya tiga tahun kurang, dan ternyata tidak banyak yang berubah,” sambungnya.
Erina menghela napas lega dan mengangguk.
“Ya udah gak apa-apa. Lain kali kamu jangan lupa kasih tau Ibu dulu ya. Sekarang kamu naik ke kamar, ganti baju terus makan. Ibu udah masak makanan kesukaan kamu.”
Dara mengangguk patuh. Dia berjalan ke arah undakan tangga dan kembali berhenti saat mendengar pertanyaan ibunya.
“Gimana Braden? Kamu udah ketemu sama dia?” tanya Erina.
Mendengar nama pria itu, hati Dara kembali sakit. Kalau biasanya dia selalu bercerita apapun pada sang ibu, kini dia memilih untuk memendamnya sendiri. Tidak ingin menambah beban sang ibu dengan ceritanya.
“Udah, Bu. Barusan juga aku pulang dianter sama dia, kok. Dia titip salam buat Ibu. Maaf juga katanya gak bisa mampir dulu, dia buru-buru,” jawab Dara penuh dusta.
**
Di kantornya, Aldi duduk di kursi sambil menunduk. Dia tidak berani menatap ke arah wanita paruh baya yang duduk dengan elegan namun ada kesan angkuh di depannya.
“Saya kecewa sama kamu, Aldi. Saya tidak mau tau, kamu harus membayar semua uang yang kamu pinjam sekarang juga!”
Aldi mengangkat kepalanya, wajahnya terlihat sangat shock. Dengan apa dia harus membayar hutang yang jumlahnya tidak sedikit itu? Uang yang dia pinjam pun sudah habis dipakai untuk menyelamatkan usahanya yang hampir bangkrut dan juga dia berikan pada wanita yang jadi selingkuhannya.
“T-Tapi … saya tidak punya uang sebanyak itu sekarang,” ucap Aldi.
“Itu bukan urusan saya!”
Pandangan wanita paruh baya tersebut lalu tertuju pada figura berisi foto yang terletak di meja kerja Aldi. Dengan langkah anggunnya, ia beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati meja Aldi.
Dia mengambil figura tersebut dan menatap foto yang ada di dalamnya. Di balik kaca foto, terpampang wajah cantik seorang gadis yang dia tahu pasti kalau itu adalah putri Aldi.
“Dia putrimu?”
Aldi mengangguk, “Iya. Dia putri saya satu-satunya,” jawabnya.
Seulas seringai muncul di wajah wanita yang tidak lain adalah Oma Atira. Oma Atira semakin yakin, kalau dugaan nya tadi tidaklah salah.
“Saya akan menganggap lunas semua hutangmu, tapi dengan satu syarat,” ucapnya sambil menatap Aldi yang ada di depannya.
Aldi menatap bingung ke arah Oma Atira. “Syarat apa, Nyonya?” tanyanya dengan nada penasaran.
Oma Atira tersenyum, “Putrimu. Biarkan dia menikah dengan cucuku!” ujarnya dengan tegas.
Mendengar hal tersebut, wajah Aldi langsung pucat pasi. “T-tapi … putri saya masih sekolah. Tahun depan dia baru akan lulus SMA.”
“Tidak masalah. Usianya sudah 17 tahun kan? Kita bisa melangsungkan pernikahan secara agama terlebih dahulu. Bagaimana?”
**
Rafa turun dari kamarnya. Dia sudah siap untuk pergi ke tempat yang selalu rutin dia kunjungi setiap bulannya selama lima tahun belakangan ini.
“Mau kemana kamu, Raf?” tanya Oma Atira yang baru pulang dengan Suster Tiara.
“Rafa mau pergi dulu ke suatu tempat,” jawab Rafa.
Oma Atira menghembuskan napas berat. Dia tahu betul dengan tempat yang dimaksud oleh cucu satu-satunya itu.
“Duduk dulu, ada yang ingin Oma bicarakan,” ucap Oma Atira kemudian berjalan melewati Rafa.
Rafa menurut, dia mengikuti langkah sang oma lalu duduk di sofa berbahan bludru halus pilihan mendiang ibunya dulu.
“Apa yang ingin Oma bicarakan?” tanya Rafa.
Oma Atira menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Oma sudah mengambil keputusan. Kamu harus menikah dalam waktu dekat ini.”
Rafa jelas saja kaget. Kedua matanya membola dan raut wajahnya juga terlihat shock.
“Menikah? Kita sudah sering membicarakan hal ini, Oma. Harus berapa kali Rafa bilang? Rafa belum siap dan-”
“Dan belum bisa melupakan Khaylila?” potong Oma Atira.
Mulut Rafa mengatup rapat. Yang dikatakan oleh sang oma memang tidak salah. Mendiang kekasihnya masih berada di tahta tertinggi yang ada di hatinya. Belum lagi perasaan bersalah yang terus menggelayutinya hingga sekarang.
“Mau sampai kapan kamu terus seperti ini? Kamu sama sekali tidak bersalah, dia meninggal bukan karena mu, Rafa.” Oma Atira menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan lalu kembali melanjutkan ucapannya, “Oma tidak mau mendengar penolakanmu. Oma juga sudah menemukan gadis yang cocok untukmu.”
“Mana bisa begitu, Oma? Oma sama sekali tidak berhak mengatur hidupku!” Rafa tidak sadar meninggikan nada suaranya. Raut wajahnya menunjukkan kalau dia benar-benar sedang marah sekarang. Namun, dalam sekejap raut wajah marah itu berganti jadi pucat saat melihat sang oma memegangi dadanya.
“Oma!” seru Rafa panik. “Cepat panggilkan dokter!” titahnya pada Suster Tiara.
**
“Bagaimana keadaan oma saya, Dok?” tanya Rafa.
Dokter yang baru keluar dari kamar Oma Atira pun menghembuskan napas berat. “Kondisi kesehatan jantungnya semakin menurun. Saya sudah katakan berulang kali, bukan? Nyonya Atira tidak boleh terlalu banyak pikiran. Barusan saja tekanan darahnya tinggi sekali,” jelas sang dokter.
Rafa menunduk. Kalau ada yang harus disalahkan dalam situasi ini, tentu itu adalah dirinya. Dialah penyebab kondisi sang oma memburuk seperti sekarang.
Dokter diantar keluar oleh Suster Tiara. Sedangkan Rafa langsung masuk ke kamar sang oma lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur memegang tangan sang oma yang sudah banyak terdapat keriputnya di sana.
“Oma hanya ingin melihatmu memiliki pendamping hidup sebelum oma pergi, Raf. Hati oma selalu sedih dan sakit melihatmu yang terus seperti ini. Apa keinginan oma terlalu berat bagimu? Khaylila pasti sama seperti oma. Dia tidak akan suka melihatmu terus terpuruk seperti ini,” ucap Oma Atira dengan suara lirih.
Rafa menelan ludahnya seketika. “Siapa gadis yang akan oma jodohkan denganku?” tanyanya.
Senyum tipis terbit di wajah Oma Atira. “Ada. Namanya Dara, dia gadis yang baik serta cantik.”
**
Di rumahnya, Dara dan Erina tercengang mendengar apa yang diucapkan oleh Aldi.
“Menikah? Ayah tidak salah bicara, kan?” tanya Dara.
“Mas. Kamu apa-apaan sih? Aku gak setuju ya!” sentak Erina.
Aldi duduk bersimpuh di depan putrinya. Menatap dengan penuh harap agar Dara menyetujui usulnya. “Ayah mohon. Kamu mau ya. Kalau tidak, ayah bisa masuk penjara karena tidak bisa membayar semua hutang ayah padanya.”
Menikah? Yang benar saja. Usianya bahkan baru 17 tahun. Dia masih sekolah. Masih banyak cita-cita yang ingin dia raih. Bukankah dengan menikah, itu artinya dia harus mengubur semua mimpi dan cita-citanya?
Dara menunduk, menahan bulir bening yang sudah memaksa ingin keluar. Dia memang kecewa perihal ayahnya yang ternyata selingkuh dari sang ibu. Tapi, kalau sampai menyaksikan ayahnya berada di balik jeruji besi. Dia tentu tidak ingin hal itu terjadi.
“Aku…”