Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Kantuk yang berat akhirnya memenangkan peperangan di kelopak mata Ziva. Setelah berjam-jam jarinya lelah menggulir layar ponsel, menatap email penolakan dari berbagai HRD yang seolah sudah bersekongkol untuk membuang lamarannya, ia menyerah. Gadis lulusan ekonomi terbaik itu perlahan memejamkan mata di atas sofa ruang tamu yang empuk, masih mengenakan pakaian santainya yang kusut. Pikirannya yang lelah tentang masa depan dan rasa sesak karena kehilangan Kirana perlahan memudar, digantikan oleh kegelapan tidur yang dalam.
Beberapa jam kemudian, suara deru mobil yang memasuki garasi tidak sanggup membangunkannya. Baskara melangkah masuk ke dalam rumah dengan sisa-isah kelelahan dari jadwal patroli yang padat. Pria itu masih mengenakan seragam polisinya yang kaku, namun raut wajahnya melunak seketika saat melihat sosok mungil Ziva yang meringkuk di atas sofa.
Baskara berdiri mematung sejenak, menatap wajah istrinya yang tampak tenang saat tidur—satu-satunya momen di mana Ziva tidak menatapnya dengan binar kebencian. Ia teringat bagaimana Ziva mengigau hebat semalam karena trauma. Tanpa suara, Baskara mengambil selimut tebal dari kamar bawah dan menyelimuti tubuh Ziva dengan sangat hati-hati, memastikan gadis itu tidak kedinginan oleh embusan AC ruang tamu.
Bukannya naik ke kamar atau beristirahat di ranjang, Baskara justru duduk di lantai, bersandar pada kaki sofa tempat Ziva tertidur. Ia memutuskan untuk tidur di bawah sana, berniat menjaga Ziva kalau-kalau mimpi buruk itu datang kembali dan menghantui tidur istrinya. Dalam posisi yang tidak nyaman bagi tubuh tegapnya, sang polisi itu akhirnya ikut terlelap dalam kesunyian malam.
Sinar matahari pagi yang menembus gorden ruang tamu membuat Ziva mengerjapkan matanya. Ia merasa tubuhnya sangat ringan setelah tidur yang cukup lama, meski ada sedikit rasa kaku di lehernya karena posisi tidur di sofa. Ziva mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia meregangkan kedua tangannya lebar-lebar, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk.
Namun, karena posisinya yang terlalu di pinggir sofa, gerakan meregangkan badan itu justru membuat keseimbangannya hilang. Tubuh Ziva oleng ke arah depan.
"Aduh!"
Brak!
Ziva tidak menghantam lantai yang dingin. Alih-alih marmer, ia justru jatuh tepat di atas sesuatu yang bidang, hangat, dan... bergerak. Ziva tersentak, matanya melotot seketika saat menyadari bahwa ia mendarat tepat di atas dada bidang Baskara yang masih mengenakan kaos dalaman polisinya.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Ziva bisa merasakan napas hangat Baskara yang terkejut karena tertimpa beban mendadak, sementara tangan Baskara secara refleks memegang pinggang Ziva agar gadis itu tidak terguling lebih jauh.
Keheningan yang canggung itu pecah oleh suara kunci pintu yang terbuka dan langkah kaki yang ceria.
"Surprise! Mama bawa sarapan en—"
Langkah kaki Mama dan Papa Baskara terhenti tepat di ambang pintu ruang tamu. Mereka berdiri mematung dengan mata membulat, menatap pemandangan di depan mereka: Ziva yang berada di atas tubuh Baskara di lantai, dengan posisi yang terlihat sangat "intim" bagi siapa pun yang baru datang.
"Duhh... sepertinya kita datang di waktu yang salah ya, Pa?" goda Mama Baskara sambil menutup mulutnya dengan tangan, menyembunyikan senyum lebarnya.
"Iya, Ma. Sepertinya pengantin baru kita ini nggak sabar mau sampai ke kamar," timpal Papa Baskara dengan tawa kecil yang menggoda.
Ziva yang tersadar langsung berusaha bangkit dengan wajah yang memerah padam sampai ke telinga. "Enggak! Ma, Pa! Ini nggak kayak yang kalian liat! Tadi Ziva cuma jatuh!" teriaknya histeris sambil buru-buru berdiri dan merapikan bajunya yang berantakan.
Baskara ikut berdiri dengan tenang, meski wajah kakunya tidak bisa menyembunyikan rasa canggung yang luar biasa. "Ma, Pa, ini cuma kecelakaan. Ziva tadi mau jatuh dari sofa."
"Iya, iya, alasan klasik ya, Bas?" Mama Baskara mendekat sambil menaruh bungkusan makanan di meja makan. "Nggak apa-apa, Mama seneng kok liat kalian mulai akur. Berarti doa Mama biar kalian cepet kasih cucu bakal terkabul ya?"
Ziva merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ia melirik tajam ke arah Baskara, menyalahkan pria itu sepenuhnya dalam hati karena tidur di bawah sofa. Sementara itu, Baskara hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa sandiwara mereka di depan orang tua baru saja mendapatkan bumbu "kemesraan" yang sama sekali tidak ada dalam kontrak perjanjian mereka.
***
Wajah Ziva terasa panas, jauh lebih panas daripada suhu badannya saat mengompres Baskara tempo hari. Ia berdiri mematung di samping meja makan, sementara jemarinya sibuk meremas ujung kaosnya sendiri. Di depannya, Mama Baskara sedang sibuk menata nasi uduk dan berbagai macam lauk-pauk dengan senyum yang tidak kunjung luntur.
"Ayo, Ziva, Baskara, duduk. Masih hangat ini," ajak Mama dengan nada suara yang sengaja dibuat riang.
Baskara, yang sudah kembali ke mode tenangnya meski masih ada sedikit guratan canggung di wajah kakunya, menarik kursi untuk Ziva. "Duduk, Ziv."
Ziva mendengus pelan namun tetap duduk karena tidak ingin memicu kecurigaan lebih jauh di depan mertuanya. Begitu semua sudah duduk melingkari meja, Papa Baskara berdehem, membuka sesi sarapan dengan tatapan jenaka ke arah putra tunggalnya itu.
"Bas, kamu itu polisi, masa tidur di lantai sampai nggak sadar ketiban istri sendiri?" goda Papa sambil menyendok sambal. "Kurang latihan fisik apa gimana?"
"Bukan begitu, Pa. Tadi malam Ziva mengigau lagi, jadi aku jaga di bawah supaya dia nggak jatuh. Eh, malah akunya yang nggak sadar pas dia beneran jatuh," jawab Baskara mencoba memberikan penjelasan rasional.
Mama Baskara tertawa kecil, ia menyodorkan piring berisi telur balado ke arah Ziva. "Duh, manis banget sih anak Mama. Jagain istri sampai tidur di lantai. Tapi Ziva, lain kali kalau mau jatuh kasih kode dong ke Baskara, biar ditangkepnya pas, nggak kaget gitu."
Ziva hampir tersedak air putih yang baru saja ia teguk. "Ma, itu beneran kecelakaan. Ziva nggak sengaja."
"Iya, sayang, Mama tahu. Kecelakaan yang indah, kan?" Mama mengerlingkan mata ke arah Papa. "Dulu Papa kamu juga gitu, waktu awal nikah modusnya banyak banget. Bilangnya takut Mama kedinginan, eh tau-tau udah nempel aja."
"Ma!" potong Baskara dengan suara rendah, mencoba menghentikan nostalgia Mamanya yang semakin liar.
"Loh, kenapa? Wajar dong, namanya juga pasangan baru," timpal Papa Baskara. "Ziva, kamu jangan galak-galak sama Baskara ya. Dia ini meskipun kaku dan om-om—seperti yang kamu bilang kemarin—tapi hatinya lembut kalau sama orang yang dia sayang. Lihat saja semalam, rela punggungnya pegal demi jagain kamu."
Ziva hanya bisa menunduk dalam, menusuk-nusuk nasi uduknya dengan sendok. Kalimat "om-om" yang disebut Papa Baskara membuatnya teringat umpatannya kemarin. Ternyata Baskara melaporkan semuanya, atau mungkin Papa hanya menebak?
"Tapi beneran loh Ziva," Mama kembali membuka suara setelah suasana hening sejenak. "Mama sama Papa nggak sabar pengen rumah ini ramai. Tadi pas liat kalian di lantai, Mama langsung mikir, 'Wah, kode dari alam nih sebentar lagi bakal ada suara tangis bayi di sini'."
Uhuk! Uhuk!
Kali ini Ziva benar-benar tersedak. Baskara dengan sigap mengusap punggung Ziva dan menyodorkan gelas. "Minum dulu pelan-pelan."
Sentuhan tangan Baskara di punggungnya membuat Ziva merasa tersengat listrik. Ia segera menjauhkan badannya sedikit. "Ziva masih mau fokus... cari kerja dulu, Ma," ucap Ziva memberikan alasan yang paling masuk akal bagi lulusan ekonomi terbaik sepertinya.
"Kerja itu bisa nanti, sayang. Baskara kan mampu biayai semuanya," sahut Mama dengan santai. "Lagipula, punya anak di usia muda itu bagus, biar nanti pas mereka gede, kamu masih kelihatan kayak kakaknya."
Ziva melirik Baskara tajam, seolah menuntut pria itu untuk menghentikan pembicaraan ini. Baskara yang mengerti kode tersebut akhirnya berdehem. "Ma, Pa, Ziva masih butuh waktu buat adaptasi. Jangan ditekan soal anak terus ya."
"Tuh, denger kan? Baskara aja protektif banget sama kamu, Ziv," goda Papa lagi. "Baru digoda dikit aja suaminya langsung pasang badan. Emang bener ya, polisi itu tugasnya melindungi dan melayani... apalagi melayani istri."
Tawa Papa dan Mama pecah di ruang makan itu, berbanding terbalik dengan Ziva yang merasa ingin segera lari ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Setiap godaan itu terasa seperti beban tambahan di pundaknya. Bagaimana mungkin mereka membicarakan anak, sementara ia dan Baskara bahkan tidak tidur di kamar yang sama dan ia masih menyimpan dendam atas kematian Kirana?
Sarapan pagi itu terasa seperti ujian mental bagi Ziva. Di satu sisi ia harus tersenyum palsu demi kebahagiaan orang tua Baskara, namun di sisi lain, bayangan jatuh di atas tubuh Baskara tadi pagi terus berputar di kepalanya, membuatnya merasa sangat malu sekaligus kesal pada situasi ini.
"Oh iya, nanti sore Mama mau ajak Ziva belanja perlengkapan rumah sedikit ya? Biar Baskara fokus kerja dulu," ucap Mama mengakhiri sesi sarapan.
Ziva hanya bisa mengangguk pasrah. "Iya, Ma."
Begitu orang tua Baskara beranjak ke ruang tengah, Ziva langsung mendekatkan wajahnya ke arah Baskara dan berbisik dengan nada mengancam, "Gara-gara lo tidur di lantai, mereka jadi mikir macem-macem! Awas ya kalau lo nggak jelasin ke mereka!"
Baskara hanya menatap Ziva dengan pandangan datarnya yang kaku. "Aku sudah coba jelasin, tapi mereka nggak mau denger. Lagian, bukannya kamu yang jatuh ke aku?"
Ziva ternganga, kehilangan kata-kata. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan "om-om polisi" yang kaku ini terkadang sama melelahkannya dengan menghadapi HRD yang selalu menolaknya.